Satu
semester sudah adikku Dita resmi jadi mahasiswi, dijurusan yang memang Dita mau, psikologi. Ilmu yang sesungguhnya. Dan, bukan mahasiswi persiapan bahasa lagi. Jadi, saking bangganya ia sering sekali memperlihatkan kartu mahasiswanya di hadapanku sambil tersenyum bangga.“Bahasa adalah cara makhluk hidup untuk berkomunikasi dan menjelaskan apa yang ada dalam perasaannya dan keinginannya.”
Bahasa sifatnya sangat primer. Faktor bahasa adalah masalah nomor wahid dalam keseharian manusia pada umumnya, termasuk Dita disini. Maklum bahasa masih acak kadut, juga aksen medok jawanya
[43]
yang kadang-kadang muncul secara tidak langsung dan membuat orang Rusia berpikir Dita sedang berbicara dalam bahasa Indonesia, padahal ia sedang berusaha berbicara dalam bahasa Rusia .
Kalau di kelas, ia sering sendirian duduk dibarisan terdepan, menyiapkan telinga lebar-lebar, agar dapat menyerap seluruh kosakata yang tertangkap daun telinga dengan jelas, tapi tetap saja ia gagal mencerna apa yang di jelaskan oleh guru. Karena, yang terdengar oleh telinganya itu, bukan suara manusia. Tapi, seperti bunyi suara radio yang tidak dapat frekwensi gelombang fm…krsekszz#@%%&*i&%zzzzkska….
Selama ini, Dita berusaha untuk mencoba mengerti apa yang para guru ucapkan dengan rumus kira-kira dan sepertinya, hal itu lumayan manjur. Tapi, kadang juga meleset jauh dari perkiraan. Hehe.
Kalau mereka bertanya ‘sesuatu’ jawaban yang disediakan sudah pasti, adalah mata yang di buat belo’,
[44]
wajah yang dibuat se-innocent mungkin, serta senyum paling manis di bibir, plus ucapan,
“Izvinite ya ne ponimayu, mozna esheras pavtarit, maaf aku tidak mengerti, bolehkah di ulang sekali lagi.” Nah, kalau sudah begitu mulai memikirkan jurus perkiraan lagi. Beginilah nasib mahasiswa asing dengan keterbatasan ‘bahasa’. Seminggu kemarin ini adalah minggu zachot yaitu ujian tapi tidak di beri nilai untuk hasilnya hanya passed atau tidak.
Zachot pertama Dita adalah mata kuliah logika,
disini kita harus menjelaskan peranan logika dalam suatu kalimat atau keadaan tertentu yang tentu saja dalam bahasa Rusia. Untuk mata kuliah ini, sepertinya Dita harus ikut ujian ulang dua kali, karena tidak lulus dalam ujian pertama. Nasib.
Tapi. Pada akhirnya bisa juga diluluskan karena dosennya terlihat mengasihani Dita. Nilai tambah
[45]
untuk seorang WNA yang sedang dalam masa sekarat ujian.
Zachot kedua adalah mata kuliah bahasa Rusia untuk orang asing. Sebenarnya, tidak susah tapi kami, para mahasiswa asing hukumnya wajib ikut ujian susulan jika kami tidak melakukan ujian pada waktunya. Tentu saja. Waktu tes ia tertidur. Alasan tidur telat, memang menjadi jawaban paling manjur untuk mata kuliah yang satu ini, belajar untuk tes mata kuliah lain yang lebih berat dan susah minta ampun. Hehe.
Tapi hasilnya tidak memalukan juga, dapat nilai paling bagus diantara mahasiswa asing lain. Bisa berbangga kali ini meskipun harus terpaksa menggunakan jurus maut. Yaitu, alas an tertidur karena harus begadang. Begadang jangan begadang.
Syalala..
Selanjutnya, zachot untuk mata kuliah dasar-dasar profesi untuk psikolog. Kalau yang ini gampang saja,
[46]
pikirnya. Hanya diberi tugas yang di copy kedalam disk kemudian disetor kepada dosen dan dapet, deh.
Zachot. Padahal, belum tentu juga dosennya
mengetahui, apakah didalam disk yang dikumpulkan ada isinya atau nggak.
Dan, akhirnya matematika adalah zachot yang paling bikin kepala senut-senut diantara semua zachot untuk semester ini. Masalahnya, otak kami para mahasiswa humaniora. Termasuk juga otak milik Dita tidak diciptakan untuk matematika. Hmm, sebenarnya untuk dapat zachot Dita harus ikut tes, lagi-lagi dua kali. Tetapi kali ini Dita baru mengerjakan satu kali tes. Waktu dosennya kasih tanda tangan dan tulisan
zachot di buku rapor teman-teman, kita harus
mengantri, maka dengan cuek adikku, Dita ikut mengantri. Padahal, seharusnya Dita belum boleh dapet tandatangan tersebut, untungnya waktu giliran Dita, dosennya lagi konsentrasi sama tanda tangan di buku rapor tanpa melihat itu buku rapor, milik siapa. Sesaat setelah selasai tanda tangan, sang dosen baru
[47]
“ngeh” dan menyadari, jika buku rapor Dita termasuk
kedalam barisan buku rapor yang ikut tertanda tangani.
Maka sebelum semuanya tersadar, dengan senyum selebar senyum kuda, maka adikku Dita langsung saja mengucapkan ‘terimakasih’. Dan sejurus kemudian kabur. Sebelum sang dosen berubah pikiran dan bertanya tentang tes yang mengerikan tersebut.
Motto untuk melalui hari-hari zachot yang cukup membuat mati kutu adalah,
“Jangan lihat caranya. Tapi lihat hasilnya”
Zachot ke-lima adalah zachot untuk mata kuliah “olahraga”, zachot yang sebetulnya tidak penting-penting amat. Tapi tetap masuk kedalam kurikulum dan harus di hadiri. Tanpa melalui ujian ini. Tetap saja DO adalah jawabannya. Meski seluruh zachot bahkan
ekzamen telah terlewati. Bahkan dengan nilai
[48]
Untuk ujian yang ini, ada sedikit masalah karena rupanya Dita sama sekali tidak pernah hadir untuk ikut pelajaran olah raga. Sebetulnya ini juga kesalahanku yang mengajarinya untuk tidak menghadirinya. Memang cukup sesat yang aku nasehatkan. Tapi, tetap saja dibalik itu semua, aku tetap memberikan semangat yang luar biasa kepada Dita, agar dapat melewatinya. Tentu saja dengan banyak advise yang cukup sesat yang tidak masuk akal tapi akhirnya bias menyelamatkannya.
Akhirnya, setelah sedikit berargumen dan diberikan omelan hangat kurang lebih limabelas menit, dapat juga zachot dengan cuma-cuma.
Zachot terakhir adalah zachot untuk mata kuliah
praktek psikologi, zachot yang paling asik dan lucu, jujur saja untuk mata kuliah ini, Dita benar benar tidak mengerti. Normalnya, minggu lalu Dita sudah bisa dapat tanda tangan, tapi karena Dita tidak mengerti apa-apa, jadi Dita menghadap dosennya langsung dan meminta solusi secara basa-basi.
[49]
Awalnya, ia betanya apakah Dita berbicara dalam bahasa portugal? Hah? Portugal? Memangnya Dita ada tampang orang Portugis? Hingga dapat berbahasa Portugal. Maka, Dita hanya menjawab jika ia, hanya bisa bahasa inggris. Meski diyakini oleh dirinya sendiri bahasa Inggris yang ia kuasai itu hancur lebur.
Tak disangka, mata sang dosen yang mengajar praktek psikologi itu langsung berbinar dan mengucapkan kata yang tadinya Dita pikir sebuah mantra, “I speak english too”. Ooh, ternyata ia berbicara dalam bahasa inggris dengan ritme terpatah patah. Akhirnya ia memberikan Dita tugas dalam bahasa istov yang kejam ternyata masih ada orang yang percaya pada kekuatan basa-basi seperti ini.
Tugas yang ia beri ternyata susah di cari di internet, selama seminggu itu aku membantu Dita serta mengerahkan teman-teman yang berbahasa Inggris untuk mencarikan tugas terkutuk itu.
[50]
Setelah mendapatkan materinya dari internet. Meski tidak sempurna, sekalian Dita berlatih untuk menjelaskan dalam bahasa inggris, dibantu kawan-kawan yang memang terlatih fasih berbahasa Inggris. Ini semua demi meyakinkan sang dosen. Sempat-sempatnya aku memberikan masukan gila pada Dita,
“Kalau kamu gak bisa jawab, kamu ngomong aja pake bahasa Indonesia yang di logatin inggris tapi yang cepet, toh gurunya juga gak bakal ngerti, ato kamu bilang aja lirik lagu dalam bahsa inggris, yang penting kan bahasa inggris” nasehat super untuk situasi super. Tapi aku akui, aku memang aneh binti edan. Hihi.
Hari ini, adalah saat menghadap sang dosen yang katanya speak English too. Setelah memberikan aji-aji
porogapit kepada Dita agar lebih pede dan keyakinan
akan lulus hari ini. Maka, dengan kepercayaan diri yang di set maksimal dan hapalan lirik lagu untuk keadaan terdesak, adikku Dita, nekad bertemu empat mata dengan sang dosen itu.
[51]
Tanpa diduga sebelumnya, ternyata ia senang sekali bertemu Dita, waktu Dita menyerahkan tugas itu tangannya bergetar menerima dari tangannya, mukanya memerah padam dan napasnya tidak teratur, serasa mulai ada yang aneh dengan dosen ini. Apakah dia akan mati? Yang seharusnya begitu adalah Dita. Bukan sebaliknya.
Sejurus kemudian, ia menge-cek pekerjaan Dita, dan dimulailah kejadian yang ditunggu-tunggu itu. Ia mulai mengeluarkan suara-suara aneh yang Dita tangkap sebagai bahasa inggris, dosen itu, ternyata sedang berusaha sekuat tenaga untuk berbicara dalam bahasa inggris kepada Dita.
Meskipun selama di jelaskan itu, Dita mengaku sama sekali tidak mengerti apa yang ia bicarakan. Tapi, demi menjaga kesopanan Dita berusaha untuk berkata,
‘yes i understand’. Maafkan ya Allah, adikku telah
berbohong!. Sang dosen terlihat senang sekali berbahasa inggris, walaupun terpatah-patah dan
[52]
sekuat tenaga. Ia, bahkan tidak tahu kalau bahasa inggris Dita tidak lebih baik daripadanya. Hihi.
Setelah semua selesai, dengan muka sangat puas ia menatap Dita dengan sorot matanya yang berwarna hijau, lalu berkata
“Sorry my english is bad, bcause i never have time to practice”
Maka, dengan santainya Dita menjawab,
“Ah, its not a big thing, the important thing is i understand about psychology practice now. Thank you so much! My dear Teacher.”
Akhir cerita, Dita mendapatkan tanda tangan untuk
zachot terakhir sebagai penutupan, karena bahasa
[53]