• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mabok janda

Dalam dokumen Dinda Hidayanti, 2013 (Halaman 64-73)

Selama

menjalani hari-hariku sebagai maha-siswi jurusan psikologi, aku banyak belajar membaca karakter orang, mungkin ini karena keterbatasanku dengan bahasa. Meskipun aku sudah lulus podfak (sekolah persiapan bahasa) dengan nilai cumlaude, tapi sepertinya universitas sesungguhnya tidak kalah susah.

Aku adalah satu-satunya mahasiswa asing di tingkatku, tak ada satupun yang bisa berbahasa inggris, setidaknya itu yang aku tahu sampai aku melewati semester pertama dengan penuh darah dan airmata. Hampir setiap hari aku menangis sepulang kuliah, aku merasa menjadi manusia bodoh yang dungu. Tak seorangpun dikelas yang mengerti dengan ucapanku, dan parahnya, terlalu susah untuk

[60]

mengerti bahasa dari orang Rusia yang tidak pernah berkomunikasi dengan orang asing. Parah!

Setiap hari aku hanya bisa meraba-raba bahasa, satu-satunya pedoman belajarku adalah buku. Hanya buku! Text book banget. Di luar text book, aku sangat lemah, apa mungkin pemahamanku yang lambat?? Dan sejujurnya, aku adalah manusia yang susah untuk bisa duduk lama di dalam kelas. Susah untuk berkonsentrasi lama sambil mendengarkan ucapan dosen berbahasa Rusia. Yang masuk ketelingaku hanya suara cempreng, bising dan dengan tempo yang sangat cepat. Mirip radio yang tak menemukan frekusensi gelombang.

Susah berkonsentrasi dan bahasa yang tak kumengeti, membuat pikiranku mengembara. Mungkin hanya sepuluh menit saja aku mampu berkonsentrasi, sedangkan tigapuluh menit sisanya, aku hanya memperhatikan dengan detail dosen-dosenku : nada bicara, gerak tubuh, pose saat

[61]

mengajar, hingga make up yang menempel di wajah mereka.

Hari ini ada pelajaran mishlenie I rech. Saat pelajaran berlangsung, ada pertemuan untuk pengenalan seluruh jurusan di fakultasku. Di fakultasku, ada subjurusan bagi mahasiswa tingkat dua. Dan subjurusan itu akan diperdalam di tingkat tiga dan empat. Di fakultasku ada tujuh subjurusan psikologi antara lain:

1. Psikologi klinis dan psikofisiologi (kliniceskaya

psikologia i psikofiologia)

2. Psikologi sosial (sosialnaya psikologia) 3. Psikologi kepribaian (psikologi litsnosti) 4. Psikologi perkembangan (psikologi razvitia) 5. Psikologi hokum (yuridiceskaya psikologia) 6. Psikologi umum (obshaya psikologia) 7. Psikologi kesehatan (psikologi zdarovia)

[62]

Dari ketujuh subjurusan itu, akhirnya aku memililh masuk ke psikologi perkembangan, dengan tema yang menyangkut perkembangan mental anak-anak usia prasekolah. Walaupun aku tidak terlalu suka dengan anak-anak, namun dengan mempelajarinya, aku rasa akan bisa menyukai mereka. Itu harus!

Dosen untuk pelajaran mishlenie I rech adalah madam Irina Kaidanovskaya. Ia adalah dosen yang hiperaktiv, di usianya yang sudah tak lagi muda dan seharusnya masuk pensiun, ia aktif sekali. Tanpa basa basi, ia mengambil kapur dan memulai menulis di papan tulis auditoria. Ruang kelas yang besar itu membuatnya kehabisan suara untuk menjelaskan dengan suara lantang. Ia terus asik memunggung dan menulis di papan tulis tentang jadwal mata kuliah tambahan yang di wajibkan, yaitu mempelajari secara umum seluruh kinerja subjurusan psikologi.

Setelah asyik menulis dengan membelakangi kita semua, ia asyik menjelaskan semua materi seorang

[63]

diri. Padahal masih ada banyak dosen lain yang datang untuk memberi pengarahan, tapi sama sekali tak digubrisnya. Yang seru dari seorang madam Irina Kaidanovskaya adalah cara menerangkan sesuatu didepan kelas. Raut wajahnya lucu. Dengan kulit kriputnya, ia selalu tertawa dengan sangat lebar, hingga matanya melotot.

Keteganganku mencair seketika, karena aku menemukan sesuatu yang hal yang menarik, yaitu aku baru tersadar bahwa sebagian besar penduduk Rusia memang memiliki wajah kencang, akibat jarang tersenyum. Hehe. Kenyataan yang menarik. Di sudut matanya, aku melihat ada kekosongan. Tapi, mimik wajahnya seperti tak ingin menunjukannya. Ia terus menjelaskan hingga tak seorang pun mendengar. Oh, madam. Saat kelas seminar, aku juga pernah dibuatnya kebingungan. Karena saat itu kelasku memang tak siap untuk seminar, tapi ia malah mengadakan seminar secara mendadak. Hmm.

[64]

Sistem perkuliahan di kampusku memang sangat unik. Setidaknya itu menurutku, yang tak pernah mengalami dunia kuliah di tanah air. Setiap dua kali pertemuan kuliah, maka akan ada satu kelas seminar atau kelas praktek. Di kelas ini, kita harus menyiapkan materi, membahas dan menjawab. Tapi sayangnya terkadang kelas kurang efektif. Misalnya, disatu seminar kita akan membahas satu bab, maka dosen seminar akan memberikan spisok1 pertanyaan dan literature-nya atau referensinya. Tugas kita hanya mempersipakan dan maju untuk menjelaskan. Tapi sangat disayangkan karena disetiap bab tidak banyak pertanyaan yang muncul, paling hanya sepuluh pertanyaan, sedangkan jumlah mahasiswa setiap grupnya lebih dari 20 orang. Jika mau disebut sportif, sepertinya hanya mahasiswa yang ingin kuliah saja yang mengambil pertanyaan dan mempersiapkannya. Sisanya? hanya mendengarkan, atau bolos.

[65]

Aku sendiri bingung, kadang jika sudah terlambat meminta soal, maka aku tidak akan kebagian, dan akua hanya datang ke seminar seperti sapi ompong, melompong! Hoooaamm..

Tapi seminar kali ini agak berbeda dari biasanya, karena aku memang sudah sangat matang mempersiapkannya. Aku sudah membaca berulang kali, dan latihan didepan cermin. Meskipun untuk latihan saja, tubuhku sudah bergetar dari ujung rambut sampai ujung jempol. Apalagi kalau mengingat wajah teman-temanku yang memandangku dengan penuh rasa kasihan atau justru meremehkan. Aku memang sudah lulus kelas persiapan bahasa, tapi tetap saja, membayangkan kelas seminar, aku mendadak gagap! Memang, sih. Nervous membuat segalanya hancur.

Aku terdiam dikursi belakang, duduk mendengarkan Kaidanovkaya menjelaskan dengan seksama. Wajahnya yang memainkan mimik-mimik wajah, membuatku semakin serius meraba arti dari

[66]

bahasan yang ia sampaikan. Terkadang tanpa sadar, aku sampai mengikuti gerakan tubuhnya di depan kelas. Apa mungkin karena koordinasi tubuhku mulai error? Otakku sepertinya bekerja terlalu berat hingga tidak bisa mengontrol konsentrasi yang lain. Asyik mendengarkan dosen hiperaktif itu, tiba-tiba aku berpikir hal yang sama sekali lain tak nyambung. Bagiku, orang setua Kaidanovkaya, semestinya sudah istirahat dirumah dan bermain dengan cucu, tapi sepertinya itu tidak bisa dilakukannya.

Hidupnya terlalu sepi untuk berdiam dirumah, ia lebih senang mengajar di kampus daripada kesepian dirumah. Memang yang bisa dibanggakan dari orang Rusia adalah kemandiriannya. Dan kabarnya, madam Irina Kaidanovskaya sengaja mengabdikan dirinya ke fakultas psikologi walaupun memiliki masa lalu yang sangat kelam.

Ceritanya dimulai ketika Ia masih menjadi dosen muda yang cantik dan sexi. Suaminya juga dosen di fakultas ini. Tapi sayangnya, suaminya kabur dengan

[67]

salah satu mahasiswinya, kemudian meninggalkan Irina Kaidanovskaya begitu saja. Sebenarnya nama dari Irina Kaidanovskaya ini diambil dari nama familiya (surename) suaminya : Kaidanovskiy. Dan sebagai rasa cinta yang tak pernah padam, Irina mengganti surnamenya dengan nama suaminya.

Irina Kaidanovskaya tetep berdiri tegap melewati bayang-bayang suaminya di fakultas ini, untuk berpuluh-puluh tahun lamanya, ia habiskan waktunya untuk mengajar di fakultas ini. Mungkin ia masih berharap suatu saat nanti suaminya akan kembali kepelukannya. Aku hanya bisa memandang Irina Kaidanovskaya dan berguman dalam hati

[68]

Dalam dokumen Dinda Hidayanti, 2013 (Halaman 64-73)

Dokumen terkait