Kudengar
dari Arta, salah satu junior yangsedang kuliah di medisinski. Bahwa, ia juga sedang berada di rumahsakit saat itu. Maka sengaja saja aku menelponnya, berbertanya dimana posisi Arta. Maklum Arta, Angel dan Ompong adalah mahasiswa
medisinski jadi ga jauh dari bau-bau rumahsakit. Tapi
setelah aku, mbak Leli dan Angel sudah dapat meninggalkan Ompong dengan tenang untuk opname, aku mengajak mereka untuk melihat keadaan Arta juga di rumahsakit ini juga, karena kami tidak tahu sedang apa ia disini.
Sejurus kemudian kami melihat sesosok kurus dan jangkung itu, sedang berdiri dibalik sebuah ruangan. Entah, kami sendiri tidak tahu fungsinya. Sepertinya
[69]
ruang rawat inap. Ia sedang berdiri sambil membawa sebuah buku ditangan kurusnya, wajah manisnya langsung sumringah saat tahu kedatangan kami bertiga.
“Halo Arta. Lagi apa disini?” Sapaku ramah
“Alo Kak. Aku lagi ujian nih,” jawabnya sambil mencium pipi kami bertiga secara begiliran
“Hah? Ujian emang ujian apa Artha? Praktek?” Tanya Angel keheranan
“Engga kak angel, dosen aku lagi sakit dan di opname disini coba liat temen-temen aku, itu? Mereka juga lagi bersiap mau ujian lisan”
Dan benar, saat aku longokkan ke dalam ruangan terlihat sesosok perempuan setengah baya dengan infus ditangan kirinya, sedang berbaring dengan posisi tempat tidur yang dibuat sedikit tegak dalam ruangan isolasi. Sedang seseorang lagi yang terlihat adalah
[70]
seorang mahasiswa, terlihat sedang menjawab dengan mimik wajah serius meskipun ada batas ruang yang diberi kaca hingga mirip sekali, dengan suasana tahanan penjara.
Sampai sebegitukah, Rusia dalam menjunjung kedisiplinan? Iya, aku sendiri secara pribadi hanya bias berdecak kagum. Dalam dunia pendidikan di Rusia memang tidak mengenal kata absent. Maka jangan pernah mengharap ada dosen yang malas mengajar atau akan ada jam kosong dikelas yang telah terjadwalkan.
Karena, meskipun bahkan sampai dosen telah tergeletak lemah di rumahsakit. Jika masih memungkinkan maka mereka akan menyuruh mahasiwanya untuk datang ke rumah sakit seperti yang dilakukan Artha dan kawan-kawannya saat ini. Ini semua sebagai bentuk dari tanggung jawab mereka terhadap apa yang telah mereka deklarasikan sebagai seorang pengajar.
[71]
Aku jadi ingat tentang dosen bahasa Rusia ku yang sangat disiplin, suatu hari dikelas bahasa hanya ada aku yang masuk kelas aku seorang diri. Seluruh teman-temanku sekelas yang lain tidak dapat hadir, karena satu hal dan hal lainnya, biasa alasan para mahasiswa yang malas bangun pagi. Aku, yang sudah gembira karena berpikir kelas hari ini akan ditiadakan ternyata harus gigit jari karena dosenku ternyata tak perduli dengan para mahasiswa malas tersebut. Dan kegiatan kuliah tetap berjalan seperti biasa. Hanya ada aku dan Dosen. Buset!
Betul, hanya aku dan seorang kakek yang menjabat sebagai dosen didalam kelasku ini. Terbesit dalam hati, untuk berkeinginan kabur dari kelas bahasa kal itu. Mengikuti teman-temanku yang pemalas itu.
Tapi kali ini, hati kecilku menolak secara kuat. Entah mengapa. Aku tahu betul dosenku yang satu ini, meskipun sudah sepuh, usianya kira-kira sudah berkepala enam. Masih saja aktif mengajar dan setiap mengajar sangat semangat sekali mengajar hingga
[72]
seakan tak peduli ada badai maupun salju. Ini yang membuat suasana semngat dipagi hari yang sering sekali aku mencarinya ketika sudah mulai fatigue. Aku salut sekali.
Akhirnya, kami bertiga berpamitan pulang kepada Arta. Karena merasa tak enak mengganggunya yang sedang ujian. Didalam perjalanan pulang, Angel juga sempat bercerita padaku tentang kejadian yang di alaminya empat tahun yang lalu. Tepat satu tahun sebelum kedatanganku ke Rusia. Waktu itu, pada bulan Januari 2006 kota Rostov-on-don di landa badai salju selama tiga hari berturut-turut.
Udara turun drastis hingga mencapai titik minus 30 dibawah 0 derajat, suhu yang belum pernah di alami oleh kota Rostov juga kota-kota di Rusia bagian selatan yang cendrung hangat selama ini.
“Kegiatan kuliah tidak diliburkan Din, bahkan kami masih melaksanakan ujian diantara tiga hari itu, Kamu bisa bayangkan bagaimana kita harus berangkat kuliah
[73]
dengan salju setinggi dengkul dan angin yang super dasyat sangat kencang. Bahkan, wajahku serasa tercabik-cabik dan tertampar dinginnya angin, rasa sakit serta dingin yang menggigit, menusuk, Din!”
Mataku terbelalak tak percaya. Sadis, kalo kataku. Angel tetap melanjutkan kisahnya yang terkesan brutal itu, matanya menerawang seakan kejadian itu, baru saja ia alami. Penuh dengan ketakutan dan sangat traumatis.
“Terus, selama badai salju itu. Apa kamu bisa bayangkan jika di asramaku listrik mati selama tiga hari juga. Semenjak badai, di hari pertama kabel-kabel listrik diasrama putus. Sehingga ga ada lagi listrik. Semua perlatan listrik bahkan yang dapat membantu kami untuk menghangatkan diri tidak dapat dijalankan.
Kami sudah berkali-kali meminta pihak asrama untuk menghubungi perusahaan listrik Negara agar membantu kami, setidaknya agar mati listrik saat itu
[74]
tidak berkepanjangan.” Napas Angel terputus, tak lama kemudian, ia mulai kembali mengisahkannya
“Tapi ternyata nihil. Dalam keadaan badai seperti saat itu semua alat transportasi lumpuh. Sehingga, kami harus tidur dalam keadaan berpakaian lengkap dengan jaket double, untuk menghindari hipotermia.” Kami semua yang mendengarkan kisahnya, hanya bisa menganga dan membisu, seakan kami semua ikut terlempar kedalam keadaan yang Angel alami.
“Kami tidur lengkap dengan menggunakan sepatu boot, sarung tangan serta topi diatas tempat tidur. Mengingat keesokan harinya, kami masih harus menempuh ujian. Ga ada pilihan selain terus menghadapi hidup. Aku sempat berpikir, apakah aku mampu menjalani ini?
Aku sebenarnya sempat mengalami hipotermia. Tapi, keburu diketahui teman satu kamarku dan mereka lansung membantuku sekuat tenaga agar suhu tubuhku menghangat. Air diasrama juga sudah tak
[75]
dapat keluar karena membeku dalam pipa. Pokoknya sangat mengerikan Din. Beruntung, kamu dan kawan-wan lain yang dating setelah kamu tak mengalaminya!” tupnya.
u, sama sekali ga bisa membayangkan bagaimana mbak Leli dan Angel yang mengalami langsung saat-saat mencekam itu semua. Alhamdulillah, Tuhan mengirimku disaat yang sudah tepat. Ketika Rostov sudah ga lagi sedingin itu. Yang kudengar juga, di Moskva cuaca lebih dari itu. Banyak para lansia yang tinggal sendiri serta para tunawisma yang meninggal, karena kedinginan. Miris.
Sedangkan di kota Moskva selain metro, stasiun bawah tanah. Tak ada transportasi lain yang bisa digunakan, semua membeku ditelan cuaca.
Kebijakan pendidikan di kota Rostov-on-don saat itu adalah sampai suhu mencapai tiga puluh dibawah nol derajat. Maka kegiatan belajar mengajar sampai pada usia sekolah di liburkan. Kecuali, universitas yang
[76]
tak memiliki kebijakan sehingga kegiatan belajar mengajar masih tetap berjalan seperti jadwal.
Bagiku hanya satu kalimat untuk Rusia “Disiplin yang ga tanggung-tanggung!” Kapan negara kita bisa begitu ya?
[77]