I.4. Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian
6.2. Dugaan Model Ekonometrika
Setelah melakukan beberapa uji alternatif model, akhirnya diperoleh model produksi dan konsumsi beras Kabupaten Siak. Untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dilihat dari dua persamaan yaitu persamaan luas
areal panen dan persamaan produktivitas padi. Sedangkan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi dilihat dari persamaan konsumsi dan harga beras di Kabupaten Siak. Model tersebut dijabarkan sebagai berikut:
6.2.1. Luas Areal Panen Padi
Luas areal panen padi Kabupaten Siak dipengaruhi oleh harga riil gabah di tingkat petani, harga riil pupuk urea, curah hujan, luas areal irigasi dan harga komoditi kompetitif (jagung). Harga riil gabah di tingkat petani, curah hujan dan luas areal irigasi berpengaruh positif terhadap luas areal panen, sedangkan harga riil pupuk urea dan harga riil jagung berpengaruh negatif terhadap luas areal panen. Hasil estimasi parameter luas areal panen padi Kabupaten Siak dapat dilihat pada Persamaan 6.1 berikut ini.
t
LAP = -5791,58 + 68,46486 HGt - 115,653HPUt + 123,5993LAIt +
0,04 0,04 0,06
2,325991CHt – 2,70236HJGGt ...(6.1) 0,08
R-square = 94,82%, Adj-R square = 81,86% dan Prob (F-statistik) = 0,12
Keterangan:
t
LAP : Luas areal panen padi tahun ke t (ha)
t
HG : Harga riil gabah di tingkat petani tahun ke t (Rp/kg)
t
HPU : Harga riil pupuk urea tahun ke t (Rp/kg)
t
LAI : Luas areal irigasi tahun ke t (ha)
t
CH : Curah Hujan tahun ke t (mm/th)
t
HJGG : Harga jagung tahun ke t (Rp/kg)
Berdasarkan hasil analisis, nilai koefisien determinasi R-square dari model luas areal panen padi adalah sebesar 0,9482 artinya 94,82% luas areal panen padi
dapat diterangkan oleh keragaman variabel-variabel eksogen dalam model yakni harga riil gabah di tingkat petani, harga riil pupuk urea, curah hujan, luas areal irigasi dan harga jagung. Hal ini menunjukkan bahwa luas areal panen padi sangat ditentukan oleh lima variabel tersebut. Sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat di dalam model.
Dengan menggunakan uji statistik F menunjukkan bahwa variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap luas areal panen padi Kabupaten Siak pada taraf nyata 0,15. Artinya bahwa seluruh variabel yang terdapat dalam model secara bersama-sama mempengaruhi luas areal panen padi di Kabupaten Siak. Dari hasil uji statistik t, menunjukkan bahwa variabel harga riil gabah di tingkat petani, harga riil pupuk urea, curah hujan dan luas areal irigasi berpengaruh nyata terhadap luas areal panen pada taraf nyata masing-masing 0,10. sedangkan untuk variabel harga jagung tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan pada taraf nyata 10%.
Variabel harga riil faktor produksi pupuk urea berpengaruh negatif terhadap luas areal panen dengan nilai sebesar -115,65. Artinya jika terjadi kenaikan harga pupuk urea sebesar satu rupiah, maka luas areal panen akan berkurang sebesar 115,65 hektar. Sebaliknya, jika harga pupuk turun sebesar satu rupiah maka luas areal panen akan meningkat sebesar 115,65 hektar, cateris
paribus. Hasil ini sesuai dengan kriteria ekonomi bahwa jika harga input produksi
meningkat maka penggunaan terhadap faktor produksi akan berkurang. Faktor produksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pupuk urea yang merupakan pupuk utama yang umum digunakan oleh petani. Kenyataannya, apabila terjadi kenaikan harga pupuk urea, maka petani akan mengurangi jumlah pembelian
pupuk urea yang akhirnya juga akan berkurangnya jumlah penggunaan pupuk urea, sehingga produksi padi berkurang dan luas areal panen juga berkurang. Begitu pula sebaliknya jika terjadi penurunan harga pupuk urea. Jika harga pupuk urea murah, maka petani akan mudah mendapatkan pupuk, sehingga petani menambah jumlah penggunaan pupuk dan akan meningkatkan lahan garapannya yang pada akhirnya dapat meningkatkan luas areal panen padi.
Harga riil gabah ditingkat petani menunjukkan pengaruh yang positif sebesar 68,46. Artinya apabila harga gabah di tingkat petani meningkat sebesar satu rupiah maka luas areal panen akan meningkat sebesar 68,46 hektar dan apabila harga gabah di tingkat petani menurun sebesar satu hektar, maka luas areal panen akan menurun sebesar 68,46 hektar cateris paribus. Dari hasil tersebut dapat diambil keputusan bahwa kenaikan harga padi ditingkat petani akan merangsang petani untuk meningkatkan luas lahan garapannya, sehingga luas areal panen padi akan meningkat. Sebaliknya jika harga gabah di tingkat petani turun, maka petani tidak mempunyai insentif atau gairah untuk menanam padi, sehingga luas panen padi akan berkurang. Hasil uji hipotesis parameter regresi, variabel harga gabah di tingkat petani berpengaruh nyata pada taraf 0,5, sehingga memberikan jaminan bahwa terdapat pengaruh yang nyata kebijakan harga padi terhadap luas areal panen.
Dugaan yang kuat bahwa kegiatan usaha tani padi sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor teknis budidaya seperti curah hujan. Hasil analisis persamaan menunjukkan koefisien estimasi variabel curah hujan sebesar 2,32. Hasil menunjukkan bahwa faktor curah hujan berpengaruh positif. Artinya jika curah hujan meningkat sebesar satu mm per tahun maka ketersediaan air bagi tanaman
padi akan meningkat sehingga luas areal panen akan meningkat sebesar 2,32 hektar dan jika curah hujan menurun sebesar satu mm per tahun, maka luas areal panen akan turun sebesar 2,32 hektar, cateris paribus. Berdasarkan hasil tersebut, diambil kesimpulan bahwa dengan curah hujan yang tinggi maka ketersediaan air untuk mencukupi kebutuhan tanaman padi meningkat. Sehingga dapat dimungkinkan petani untuk memperluas lahan garapannya.
Selain faktor curah hujan, untuk mendukung ketersediaan air diperlukan adanya pembangunan areal irigasi. Pulau jawa yang merupakan daerah penghasil beras terbesar di Indonesia, memiliki luas areal irigasi yang sangat besar selain didukung oleh curah hujan dan struktur tanah yang baik untuk tanaman padi. Sehingga pada saat musim kemarau, petani masih memungkinkan untuk menanam padi karena kebutuhan air tersedia. Oleh karena itu dalam penelitian digunakan variabel areal irigasi sebagai salah satu faktor pendukung peningkatan luas areal irigasi. Hasil analisis menunjukkan koefisien variabel luas areal irigasi berpengaruh positif sebesar 123,60. Artinya jika terjadi peningkatan luas areal irigasi sebesar satu hektar maka luas areal panen akan meningkat sebesar 123,60 hektar. Begitu juga jika terjadi sebaliknya yakni terjadi penurunan luas areal irigasi sebesar satu hektar, maka luas areal panen akan menurun sebesar 123,60 hektar, cateris paribus. Sehingga perlu adanya peningkatan sarana irigasi agar luas panen padi semakin meningkat.
Selain keempat variabel di atas, luas areal panen juga ternyata dipengaruhi oleh harga jagung sebagai komoditi kompetitif padi sebesar -2,70. Artinya bahwa jika harga jagung meningkat sebesar satu rupiah, maka kemungkinan petani akan beralih menanam jagung, sehingga luas panen padi akan berkurang 2,70 hektar.
Sebaliknya jika harga jagung turun sebesar satu rupiah, maka petani akan lebih menanam padi sehingga luas areal panen padi semakin meningkat 2,70 hektar,
cateris paribus. Akan tetapi pengaruh tersebut tidak signifikan secara statistik
pada taraf nyata 0,20. Hal ini sesuai dengan kondisi di lapangan bahwa meskipun terjadi peningkatan harga jagung, maka tidak mungkin secara langsung petani akan beralih menanam jagung.
6.2.2. Produktivitas
Persamaan produktivitas padi dipengaruhi oleh harga gabah di tingkat petani, luas areal irigasi, upah tenaga kerja, penggunaan pupuk dan trend. Keempat variabel tersebut yaitu harga gabah di tingkat petani, luas areal panen, penggunaan pupuk dan trend berpengaruh positif terhadap produktivitas padi di Kabupaten Siak. Sedangkan variabel upah tenaga kerja berpengaruh negatif terhadap produktivitas padi. Nilai koefisien determinasi R-square dari model produktivitas adalah sebesar 0,9350, artinya 93,50% produktivitas padi dapat diterangkan oleh keragaman variabel-variabel eksogen dalam model yakni harga gabah di tingkat petani, luas areal irigasi, upah tenaga kerja, penggunaan pupuk dan trend. Sedangkan sisanya dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak terdapat di dalam model. Dari hasil uji statistik F menunjukkan bahwa variabel eksogen secara bersama-sama berpengaruh nyata pada taraf 0,20 terhadap produktivitas padi Kabupaten Siak. Sedangkan hasil uji statistik t, menunjukkan bahwa variabel luas areal irigasi, upah tenaga kerja, penggunaan pupuk dan trend berpengaruh nyata terhadap luas areal panen pada taraf nyata 0,20. Sedangkan variabel harga gabah di tingkat petani tidak berpengaruh secara signifikan pada
taraf nyata 0,20. Hasil estimasi parameter produktivitas padi di Kabupaten Siak dapat dilihat pada Persamaan 6.2 berikut.
t
Q = 7,72 + 3,51E-04HGt + 5,71E-05LAPt – 4,21E-04LUTKt +
0,18 0,06
7,59E-03LPGUt + 0,17TRENt...(6.2)
0,09 0,18
R-square = 93,5%, Adj-R square = 77,3% dan Prob (F-statistik = 0,15)
Keterangan:
t
Q : Produktivitas padi tahun ke t (ton/ ha)
t
HG : Harga riil gabah di tingkat petani tahun ke t (Rp/kg)
t
LAP : Luas areal panen padi tahun ke t (ha)
t
LUTK : Lag upah tenaga kerja tahun ke t (Rp/HOK)
t
LPGU : Lag Penggunaan pupuk urea tahun ke t (kg/ha)
t
TREN : Trend waktu
Hasil analisis menunjukkan bahwa koefisien estimasi variabel harga gabah ditingkat petani sebesar 3,51E-04. Artinya bahwa variabel tersebut berpengaruh positif terhadap produktivitas padi, yaitu apabila terjadi kenaikan harga gabah di tingkat petani satu rupiah maka akan meningkatkan produktivitas padi sebesar 3,51E-04 ton per hektar. Sebaliknya apabila terjadi penurunan harga gabah di tingkat petani sebesar satu rupiah maka produktivitas padi akan berkurang sebesar 3,51E-04 ton per hektar, cateris paribus.
Nilai koefisien variabel luas areal panen padi sebesar 5,71E-05, artinya bahwa variabel tersebut berpengaruh positif terhadap produktivitas padi di Kabupaten Siak. Jika terjadi peningkatan luas areal panen padi satu hektar, maka produktivitas padi akan meningkat sebesar 5,71E-05 ton per hektar. Begitu pula
sebaliknya jika terjadi penurunan luas areal panen padi satu hektar, maka produktivitas padi akan berkurang sebesar 5,71E-05 ton per hektar, cateris
paribus.
Variabel lag upah tenaga kerja berpengaruh negatif terhadap produktivitas dengan nilai koefisien sebesar -4,21E-04. Apabila lag upah tenaga kerja meningkat satu rupiah, maka produktivitas padi akan berkurang sebesar 4,21E-04 ton per hektar. Jika lag upah tenaga kerja turun satu rupiah, maka produktivitas padi akan meningkat sebesar 4,21E-04 ton per hektar, cateris paribus.
Nilai koefisien variabel lag penggunaan pupuk urea yang diperoleh dari hasil analisis sebesar 7,59E-03. Varibel tersebut berpengaruh positif terhadap produktivitas. Jika lag penggunaan pupuk urea ditingkatkan satu Kg per hektar, maka produktivitas akan meningkat sebesar 7,59E-03 ton per hektar, apabila lag penggunaan pupuk urea dikurangi satu Kg per hektar, maka produktivitas padi akan berkurang sebesar 7,59E-03 ton per hektar, cateris paribus. Peningkatan ini dalam arti bahwa tingkat penggunaan pupuk di daerah tersebut belum optimal. Sehingga penambahan penggunaan pupuk terhadap tanaman padi, akan meningkatkan produktivitas padi. Nilai koefisien trend waktu yang dihasilkan dari analisis adalah 0,17 dan berpengaruh nyata pada taraf 0,20. Artinya bahwa terdapat pengaruh positif perkembangan teknologi yang diwakili oleh variabel trend waktu.
6.2.3. Konsumsi Beras
Konsumsi beras di Kabupaten Siak dipengaruhi oleh PDRB, jumlah penduduk, harga beras dan harga jagung sebagai komoditi substitusi pangan. Nilai koefisien determinasi R-square dari model konsumsi beras adalah sebesar 0,9634,
artinya 96,34% konsumsi beras dapat diterangkan oleh keragaman variabel-variabel eksogen dalam model yakni harga riil beras, jumlah penduduk, PDRB dan harga jagung. Sedangkan sisanya dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak terdapat di dalam model. Dengan menggunakan uji statistik F diperoleh bahwa variabel eksogen secara bersama-sama berpengaruh terhadap konsumsi beras Kabupaten Siak sebesar pada taraf nyata 0,05.
Hasil analisis persamaan menunjukkan variabel harga beras berpengaruh negatif tehadap konsumsi beras. Koefisen estimasi variabel harga eceran beras adalah sebesar -28,63. Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi harga beras, maka konsumsi terhadap beras akan menurun. Jika harga eceran besar naik satu rupiah, maka konsumsi beras akan turun sebesar 28,63 ton dalam satu tahun dan jika harga beras turun satu rupiah maka konsumsi beras akan meningkat sebesar 28,63 ton dalam satu tahun, cateris paribus. Akan tetapi pengaruhnya tidak nyata secara statistik. Artinya dapat dilihat kondisi di lapangan bahwa berapa pun harga beras, karena beras merupakan bahan pangan pokok, maka penduduk akan berusaha untuk memenuhinya.
Variabel harga jagung menunjukkan tanda koefisien positif terhadap konsumsi beras sebesar 18,54. Dengan hasil ini maka keputusan yang diambil adalah kenaikan harga jagung akan mengurangi konsumsi terhadap jagung dan akan meningkatkan konsumsi terhadap beras. Artinya apabila harga jagung meningkat satu rupiah, maka konsumsi jagung akan berkurang dan beralih ke konsumsi beras sehingga konsumsi beras akan meningkat sebesar 18,54 ton dalam satu tahun. Begitu pula sebaliknya jika terjadi penurunan harga jagung sebesar satu rupiah, maka konsumsi beras meningkat sebesar 18,54 ton dalam satu tahun,
cateris paribus. Berdasarkan hasil uji statistik menunjukkan bahwa variabel harga
jagung tidak berpengaruh secara nyata. Hal ini sesuai dengan keadaan di lapangan bahwa persepsi masyarakat terhadap bahan pangan beras masih sangat kuat, sehingga konsumsi terhadap bahan pangan selain beras (jagung) masih sangat rendah.
Variabel PDRB menurut hasil analisis juga menunjukkan pengaruh yang positif terhadap konsumsi beras di Kabupaten Siak. Artinya semakin tinggi pendapatan maka konsumsi terhadap beras semakin meningkat, sebaliknya jika pendapatan turun, maka konsumsi terhadap beras juga akan turun. Nilai koefisien variabel PDRB yang diperoleh dari hasil analisis sebesar 1,32E-03 artinya jika pendapatan naik sebesar satu juta rupiah, maka konsumsi beras naik sebesar 1,32E-03 ton dalam satu tahun dan jika terjadi penurunan pendapatan sebesar satu juta rupiah, maka konsumsi terhadap beras akan berkurang sebesar 1,32E-03 ton dalam satu tahun, cateris paribus. Akan tetapi pengaruh tersebut tidak signifikan secara statistik maka dapat diambil kesimpulan bahwa beras yang merupakan bahan pangan pokok bagi penduduk Kabupaten Siak khususnya dan Indonesia pada umumnya, sehingga pengaruh pendapatan seseorang tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi beras yang merupakan bahan pangan pokok, bahkan cenderung tetap.
Salah satu variabel yang cukup signifikan mempengaruhi konsumsi beras di Kabupaten Siak adalah jumlah penduduk. Hasil analisis menunjukkan pengaruh positif terhadap konsumsi beras, yang berarti bahwa semakin tinggi jumlah penduduk, maka konsumsi terhadap beras semakin meningkat. Koefisien variabel jumlah penduduk sebesar 0,11. Artinya jika terjadi jumlah penduduk di
Kabupaten Siak bertambah satu jiwa, maka konsumsi terhadap beras akan meningkat sebesar 0,11 ton dalam satu tahun, sebaliknya jika jumlah penduduk berkurang satu jiwa, maka konsumsi beras akan turun sebesar 0,11 ton dalam satu tahun, cateris paribus. Dengan demikian, secara umum konsumsi beras di Kabupaten Siak sangat ditentukan oleh jumlah penduduk dan tidak terpengaruh terhadap perkembangan harga beras, harga jagung sebagai komoditi substitusi dan PDRB. Hasil estimasi parameter konsumsi beras di Kabupaten Siak dapat disajikan pada Persamaan 6.3 berikut.
t
KB = 62132,72 - 28,63HBt - 18,54HJGGt + 0,11PDDt + 0,04
1,32E-03PDRBt...(6.3)
R-square = 96,34%, Adj-R square = 91,45% dan Prob (F-statistik = 0,02)
Keterangan:
t
KB : Konsumsi beras di Kabupaten Siak tahun ke t (ton)
t
HB : Harga riil beras tahun ke t (Rp/Kg)
t
PDRB : PDRB tahun ke t (Rp/tahun) t
PDD : Jumlah penduduk tahun ke t (jiwa) t
HJGG : Harga jagung tahun ke t (Rp/Kg)
6.2.4. Harga Eceran Beras
Berdasarkan hasil analisis persamaan dalam penelitian ini, diperoleh bahwa variabel harga eceran beras di Kabupaten Siak dipengaruhi oleh suplai beras yang dicerminkan oleh produksi beras, permintaan beras yang dicerminkan oleh konsumsi beras dan lag harga eceran beras. Variabel konsumsi beras dan lag harga beras menunjukkan pengaruh yang positif terhadap harga eceran beras,
sedangkan lag produksi beras berpengaruh negatif terhadap harga eceran beras. Nilai koefisien determinasi R-square dari model harga eceran beras adalah sebesar 0,8242. Artinya bahwa 82,42% model harga eceran beras dapat diterangkan oleh keragaman variabel-variabel eksogen dalam model yakni konsumsi beras, lag produksi beras dan lag harga eceran beras, sedangkan sisanya dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak terdapat di dalam model. Dengan menggunakan uji
statistik-F terlihat bahwa faktor-faktor tersebut secara bersama-sama
mempengaruhi harga beras di Kabupaten Siak pada taraf nyata 0,05. Dari hasil uji statistik-t terlihat bahwa hanya variabel lag harga eceran beras yang menunjukkan pengaruh yang nyata pada taraf 0,10 sedangkan variabel lainnya yaitu konsumsi beras dan lag produksi beras tidak menunjukkan pengaruh yang nyata secara statistik. Hasil estimasi parameter harga eceran beras di Kabupaten Siak dapat dinyatakan pada Persamaan 6.4 berikut ini.
t
HB = 783,14 + 0,01KBt – 2,78E-03LQBt + 0,67LHBt...(6.4)
0,056
R-square = 82,42%, Adj-R square 69,23% dan Prob (F-statistik = 0,05) Keterangan:
t
HB : Harga riil eceran beras tahun ke t (Rp/Kg)
t
KB : Jumlah konsumsi beras tahun ke t (Kg)
t
LQB : Lag Produksi beras tahun ke t (ton)
t
LHB : Lag harga riil eceran beras tahun t (Rp/Kg)
Konsumsi beras berhubungan positif dan tidak berpengaruh nyata terhadap harga eceran beras. Nilai koefisien variabel sebesar 0,01 yaitu apabila terjadi peningkatan konsumsi terhadap beras sebesar satu ton, maka harga eceran beras akan meningkat sebesar 0,01 rupiah dan apabila terjadi penurunan konsumsi beras
sebesar satu ton, maka harga eceran beras akan turun sebesar 0,01 rupiah, cateris
paribus. Dengan tingkat konsumsi beras yang tinggi, mengakibatkan harga beras
di Kabupaten Siak semakin tinggi.
Nilai koefisien variabel suplai atau dalam hal ini ditunjukkan oleh lag produksi beras menunjukkan pengaruh negatif terhadap harga beras sebesar -2,78E-03. Artinya bahwa jika suplai atau produksi beras meningkat sebesar satu ton maka harga beras akan turun sebesar 2,78E-03 rupiah. Sedangkan apabila suplai atau produksi turun sebesar satu ton, maka harga beras akan meningkat sebesar 2,78E-03 rupiah, cateris paribus. Hasil analisis ini sesuai dengan kondisi di lapangan bahwa jika terjadi panen raya, produksi beras meningkat dapat menurunkan harga eceran beras dan jika pada saat musim paceklik, harga beras meningkat karena produksi beras atau ketersedian beras menurun. Akan tetapi berdasarkan analisis statistik, variabel tersebut tidak signifikan, sehingga dapat disimpulkan bahwa meskipun jumlah produksi beras meningkat, namun karena jumlah permintaan terhadap beras lebih besar daripada produksi, dapat di katakan bahwa produksi beras tidak dapat mempengaruhi harga beras di Kabupaten Siak.
Harga eceran beras dipengaruhi pula oleh harga eceran beras tahun sebelumnya dengan nilai koefisien varibel sebesar 0,67 dan berpengaruh nyata pada taraf 0,10. Hal ini mengindikasikan bahwa harga eceran beras cenderung
lambat dalam merespon berbagai perubahan situasi ekonomi yang
mempengaruhinya dan dibutuhkan waktu untuk bisa menyesuaikan harga eceran beras secara tepat pada saat terjadinya perubahan berbagai faktor ekonomi. Trend waktu yang mewakili perkembangan teknologi berhubungan positif dan berpengaruh tidak nyata terhadap harga eceran beras.
6.3. Analisis Simulasi Perubahan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi