• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

5. Dukungan Kebijakan Pemerintah

Pemerintah daerah Propinsi Jawa Barat sebagai pihak yang berwenang dalam mengambil kebijakan telah memutuskan beberapa peraturan yang mengatur agribisnis. Peraturan-peraturan tersebut meliputi kebijakan perbenihan dan budidaya pertanian, kebijakan investasi pada sektor agribisnis dan kebijakan peredaran dan perdagangan tumbuhan dan bibit. Secara umum kebijakan-kebijakan pemerintah tersebut tidak memberatkan atau tidak menghambat justru membantu dalam pelaksanaan perdagangan paprika agar berjalan lancar dan tertib.

Selama ini masalah permodalan masih menjadi persoalan bagi petani paprika. Pemerintah diharapkan dapat mengeluarkan kebijakan yang mampu mendorong sektor perbankan mengucurkan dananya kepada petani. Saat ini baru ada beberapa kebijakan pemerintah pusat yang mendukung petani, seperti program kredit usaha rakyat (KUR). Tetapi program tersebut masih kurang bisa membantu petani paprika yang membutuhkan modal besar dalam budidaya paprika.

4.2.5. Sumber Daya Rantai Pasokan 1. Fisik

Sumber daya fisik rantai pasokan paprika meliputi, lahan pertanian dataran tinggi, kondisi jalan transportasi, dan infrastruktur lainnya seperti stasiun, bandara, dan sarana dan parasarana pengangkutan. Lahan paprika di Indonesia berkisar 47,5 hektar yang tersebar di Kabupaten Bandung, Cianjur, Bogor, Garut, Wonosobo, Malang, Bali dan Nusa Tenggara Barat. Lahan paprika ini tergolong sangat sempit, dibandingkan dengan lahan sayuran dataran tinggi yang lain. Lahan paprika di Desa Pasir Langu, kecamatan Cisarua, Bandung seluas 24 hektar atau lebih dari separuh lahan paprika di Indonesia.

Sumber daya fisik yang perlu mendapat perhatian adalah kondisi jalan transportasi. Desa Pasir Langu terletak 34 kilo meter dari ibukota Kabupaten Bandung. Kondisi jalan yang menghubungkan Desa Pasir Langu dengan daerah-daerah di sekitarnya tergolong rusak dan berlubang serta sempit yang mengakibatkan kelancaran distribusi paprika terganggu.

Untuk sumberdaya fisik yang lain pada rantai pasokan paprika seperti saluran air dan armada angkutan di Desa Pasir Langu sudah cukup baik. Saluran air dibangun menggunakan pipa besi, sehingga kokoh dan tahan lama. Sumber air di Desa Pasir Langu berasal dari sumur Bandung di daerah Lembang, yang dapat mengalir sepanjang tahun. Armada angkutan yang digunakan untuk mengangkut paprika adalah truk dan mobil pick up. 2. Teknologi

Penerapan teknologi yang tepat sangat penting untuk mendapatkan produk paprika yang berkualitas. Teknologi penyiraman dan pengendalian hama adalah teknologi yang sangat mempengaruhi kualitas paprika yang dipanen. Beberapa petani menggunakan penyiraman otomatis dengan sistem irigasi tetes. Sistem penyiraman ini merupakan sistem paling tepat karena petani dapat memberikan nutrisi kepada tanaman sesuai kebutuhannya. Teknologi pengendalian hama banyak diadopsi dari Belanda, seperti penggunaan kertas penangkap serangga, penggunaan musuh alami dari hama paprika dan cara-cara lainnya.

Namun demikian, tidak semua petani menerapkan teknologi yang sama, sehingga kualitas paprika yang dihasilkan pun tidak sama. Banyak petani masih menggunakan teknologi konvensional dalam budidaya paprika. Keterbatasan modal yang dimiliki serta keterbatasan pengetahuan mengenai teknologi tanam merupakan faktor yang menyebabkan petani tidak dapat menggunakan teknologi yang tepat.

Upaya peningkatan mutu paprika dari petanisudah dilakukan melalui transfer informasi teknologi oleh koperasi dan Balitsa. Balitsa secara berkala memberikan pelatihan-pelatihan kepada petani mengenai teknik budidaya yang baik serta teknologi pengendalian hama yang aman dan efektif.

3. Petani

Sumber daya yang terlibat dalam agribisnis paprika jumlahnya cukup banyak. Petani yang terdapat di Desa Pasir Langu mencapai sekitar 130 petani. Setiap petani memiliki beberapa green house, dan setiap green house mempekerjakan sedikitnya dua orang. Selain itu terdapat beberapa

bandar besar yang mempekerjakan 10-15 orang dan koperasi yang mempekerjakan 11 orang karyawan. Dengan demikian, pengembangan usaha agribisnis paprika berdampak positif terhadap penduduk di sekitar sentra produksi karena dapat menyerap tenaga kerja.

Selain itu, pengembangan sektor agribisinis di sentra paprika Desa Pasir Langu diharapkan mampu memberikan contoh (role model) bagi sistem usaha agribisnis yang lain. Petani juga didorong untuk berinisiatif untuk mengembangkan budidaya paprika secara intensif dan lebih maju untuk meningkatkan kondisi perekonomiannya.

D. Permodalan

Budidaya paprika merupakan usaha agribisnis yang memerlukan banyak modal. Modal yang diperlukan untuk budidaya paprika berkisar antara 30-250 juta, tergantung berapa jumlah pohon paprika yang ditanam. Petani memerlukan dana 25-30 juta untuk menanam 1.000 pohon paprika. Pembiayaan, khususnya di sektor pertanian masih cukup sulit. Pihak perbankan menilai sektor pertanian merupakan sektor yang berisiko tinggi (high risk). Selain itu dilihat dari aspek kelayakan usaha (kondisi fisik, sarana produksi dan penjualan) juga masih banyak yang bermasalah. Risiko keterlambatan pengembalian dan kredit macet merupakan faktor utama perbankan dan lembaga keuangan lainnya sulit untuk menyalurkan kredit kepada sektor pertanian.

4.2.6. Proses Bisnis Rantai Pasokan 1. Pola Distribusi

Pola distribusi yang dibangun oleh anggota rantai pasokan memiliki pola yang berbeda. Pola tersebut dibangun berdasarkan kemudahan aplikasi di lapangan dan upaya untuk menghemat biaya. Menurut Chopra dan Meindl (2004) ada enam pola jaringan distribusi yang berbeda untuk memindahkan produk dari produsen ke konsumen, yaitu:

Manufacturer storage with direct shiping, yaitu produk dikirim secra langsung dari produsen ke konsumen akhir tanpa melalui perantara ritel.

Manufacturer storage with direct shiping and in-transit merge, yaitu produk dikirim ke konsumen akhir dengan sebelumnya disimpan di gudang transit.

Distributor storage with package carrier delivery, yaitu produk dikirim ke konsumen akhir melalui jasa kurir atau perusahaan ekspedisi. Persediaan disimpan di gudang distributor atau ritel sebagai perantara.

Distributor storage with last mile delivery, seperti pada pola distribusi sebelumnya namun pihak ekspedisi memiliki tempat penyimpanan yang menyebar dan berdekatan dengan lokasi konsumen (hanya beberapa mil)

Manufacture/distributor storage with customer pickup, yaitu produk dikirim ke lokasi penjemputan sesuai dengan yang diinginkan konsumen.

Retail storage with costumer pickup, yaitu stok disimpan secara lokal di toko-toko retail. Konsumen dapat memesan produk dengan menelpon atau mendatangi secara langsung toko-toko ritail.

Pola distribusi yang terjadi di sentra produksi paprika di Desa Pasir Langu tidak sepenuhnya sama dengan pola-pola ditribusi di atas, tetapi secara umum pola distributor storage with package carrier delivery lebih banyak dipakai. Paprika yang dihasilkan umumnya disimpan di gudang distributor atau ritailer di daerah Lembang sebelum sampai ke konsumen akhir. Ilustrasi distribusi paprika di sentra paprika Desa Pasir Langu dijelaskan dalam Gambar 8.

Gambar 8. Pola distribusi paprika di Desa Pasir Langu

Petani paprika akan menjual hasil panennya kepada koperasi atau bandar paprika. Selanjutnya paprika tersebut disimpan dalam gudang milik koperasi atau bandar. Paprika akan disortir sesuai dengan tingkatan kualitas yang telah ditetapkan dan dikirim ke pedagang pemasok hotel/restoran dan pemasok supermarket. Sedangkan ekportir akan mengambil sendiri paprika yang dipesannya dengan menggunakan mobil truk yang memiliki pendingin (cool truck). Paprika dikirim ke pasar swalayan atau ke negara tujuan ekspor dengan menggunakan jasa ekspedisi.

Hal penting yang perlu diperhatikan dalam distribusi paprika adalah masalah biaya (efisiensi) dan daya tahan produk yang pendek (perishable product). Setelah paprika dipanen maka hanya tersisa 5-14 hari (tergantung cara penyimpanan) untuk memasarkannya mulai dari produsen sampai ke konsumen. Peran distributor sangat penting untuk dapat mendistribusikan paprika dengan efisien dan kualitas baik dalam waktu yang relatif singkat.

Pasar Tradisional

Super Market Negara Tujuan Hotel/Restoran

Pedagang Pemasok hotel/ Restoran Pemasok Supermarket Eksportir Petani Anggota Koperasi

Petani Non Anggota

Dokumen terkait