• Tidak ada hasil yang ditemukan

Efek Pengganda Komoditi Basis

FAKTOR-FAKTOR KUNCI INTERNAL

ANALISIS POTENSI PEREKONOMIAN LOKAL DAN HIERARKI PUSAT PERTUMBUHAN DAN PELAYANAN

VI. Perdagangan, hotel &

6.2. Efek Pengganda Komoditi Basis

Efek pengganda adalah suatu teknik analisis yang dapat memperlihatkan pengaruh yang ditimbulkan dari perkembangan suatu sektor atau aktivitas ekonomi terhadap pertumbuhan dan perkembangan sektor lainnya. Jadi koefisien pengganda akan menunjukkan potensi perubahan kesejahteraan yang disebabkan karena suatu aktivitas ekonomi di suatu wilayah.

Tabel 18. Efek Pengganda Komoditi Basis di Wilayah Kabupaten Situbondo Tahun 2004

NNo Sektor Basis Pendapatan Non Basis Pendapatan Basis Pengganda Pendapata n 1 Pertanian 49.481,82 644.572,88 1,1335 2 Perdagangan hotel dan restoran 78.447,38 587.824,55 1,0767 3 Pengangkutan dan komunikasi 6.294,57 147.275,68 1,0427

Sumber: PDRB Situbondo, 2004 (diolah)

Secara umum efek pengganda yang dihasilkan dari komoditi basis pada setiap sektor di wilayah Kabupaten Situbondo nilainya berkisar antara 1,0427 pendapatan terbesar adalah sektor pertanian dengan nilai pengganda 1,1335, kemudian sektor yang memiliki efek pengganda terkecil adalah sektor pengangkutan dan komunikasi yaitu 1,0427. jika suatu wilayah memperoleh surplus pendapatan yang besar dari komoditi basis tetapi wilayah tersebut memperoleh pendapatan dari komoditi non basis yang sangat kecil maka nilai dari efek penggandanya akan kecil, demikian juga sebaliknya.

Karena nilai efek pengganda menggambarkan dampak dari suatu komoditi basis terhadap pendapatan suatu sektor secara keseluruhan, maka nilai efek pengganda sebesar 1,1335 di sektor pertanian berarti bahwa kabupaten yang memperoleh peningkatan pendapatan dari komoditi basisnya sebesar Rp. 10.000 akan memberikan peningkatan pendapatan total komoditi pertanian sebesar Rp. 11.335. hal ini berarti terjadi peningkatan pendapatan dari komoditi non basisnya sebesar Rp. 1335. jadi pengembangan komoditi non basis di Kabupaten Situbondo dapat mendorong pembangunan pertanian di wilayah ini selanjutnya melalui mekanisme pengganda pendapatan.

6.3. Hirarki Pusat Pertumbuhan dan Pelayanan Kabupaten Situbondo

Suatu wilayah tidak dapat tumbuh dan berkembang dalam intensitas yang sama di semua tempat. Beberapa tempat atau daerah terkadang lebih berkembang daripada daerah lainnya. Hal ini umumnya berkaitan dengan adanya pusat pertumbuhan dan pelayanan yang memiliki daya sentrifugal dan sentripetal terhadap wilayah sekitarnya. Keberadaan pusat pertumbuhan dan pusat pelayanan ini tergantung pada ketersediaan sarana dan prasarana pembangunan wilayah tersebut.

Keberadaan pusat pertumbuhan dan pusat pelayanan dalam suatu wilayah akan memberikan keuntungan-keuntungan dari adanya aglomerasi fasilitas pelayanan di pusat-pusat tersebut seperti konsentrasi produksi yang lebih efisien, keuntungan bagi penyediaan fasilitas pelayanan sentral dan kemudahan dalam memperoleh pelayanan yang beragam serta hubungan antar wilayah yang lebih intens dan akan menyebabkan konsentrasi penduduk yang tersusun dalam suatu hierarki pusat pertumbuhan dan pelayanan.

Dalam menentukan hierarki pusat-pusat pertumbuhan dan pelayanan dapat dilihat dari keberadaan sarana dan prasarana dengan menggunakan metode skalogram. Hirarki tertinggi diberikan pada wilayah yang memiliki jumlah jenis dan unit sarana prasarana terbanyak, sebaliknya hirarki terendah diberikan pada wilayah yang mempunyai jumlah jenis dan unit prasarana paling sedikit.

Berdasarkan jumlah jenis dan unit sarana dan prasarana atau fasilitas pelayanan sosial ekonomi pada pusat pelayanan dapat disusun skalogram untuk Kabupaten Situbondo seperti yang disajikan pada lampiran 5, dari tabel skalogram tersebut dapat diketahui informasi tentang hirarki atau tingkat pusat pertumbuhan dan pelayanan dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah seperti pada Tabel 19.

Data pada tabel skalogram menunjukkan bahwa pusat pengembangan yang mempunyai fasilitas paling lengkap dibandingkan dengan kecamatan lain adalah Kecamatan Situbondo dengan 23 jenis (100 persen) sarana prasarana dan Kecamatan Panji dan Kecamatan Panarukan sebanyak 21 (91,30 persen) jenis sarana prasarana dan Kecamatan Banyuputih 20 (86,96 persen) jenis sarana prasarana. Sedangkan kecamatan yang memiliki jenis sarana prasarana terbatas adalah Kecamatan Jatibanteng 14 (60,87 persen) jenis sarana dan Kecamatan Sumbermalang 16 jenis sarana prasarana (69,57 persen), Kecamatan Mangaran 16 jenis sarana prasaranan (69,57).

Untuk jumlah unit sarana dan prasarana pembangunan, Kecamatan Situbondo menempati posisi tertinggi dalam hirarki pusat pelayanan dengan jumlah sarana dan prasarana sebanyak 596 unit yang diikuti oleh Kecamatan Panarukan sebanyak 519 unit sarana prasarana dan Kecamatan Panji sebanyak 506 unit sarana prasarana.sedangkan kecamatan dengan hirarki pusat pelayanan terendah adalah Kecamatan Banyuglugur yang hanya memiliki 298 unit sarana prasarana.

Tabel 19. Hirarki Sarana Prasarana Pelayanan di Pusat-Pusat Pertumbuhan dan Pelayanan Kabupaten Situbondo Tahun 2004

N o Kecamatan Jumla h Penduduk Jumla h Jenis Jumla h Unit Pering kat 1 Sumbermalang 26916 16 266 16 2 Jatibanteng 21561 14 301 13 3 Banyuglugur 21582 19 241 17 4 Besuki 57487 19 415 7 5 Suboh 24952 19 298 14 6 Mlandingan 22202 17 418 6 7 Bungatan 24931 18 445 4 8 Kendit 27692 18 381 10 9 Panarukan 49927 21 519 2 1 0 Situbondo 45414 23 596 1 1 1 Mangaran 30120 16 317 12 1 2 Panji 61089 21 506 3 1 3 Kapongan 35266 18 434 5 1 4 Arjasa 39361 17 378 11 1 5 Jangkar 36058 17 284 15 1 6 Asembagus 48011 18 405 8 1 7 Banyuputih 49055 20 393 9

Sumber : BPS Kabupaten Situbondo, 2004 (diolah).

Secara umum keberadaan dan kelengkapan sarana prasarana pembangunan di wilayah Kabupaten Situbondo termasuk memadai, tetapi akses masyarakat terhadap sarana prasarana tersebut masih sangat terbatas, terutama untuk masyarakat pedesaan. Ini disebabkan karena sebagian besar sarana prasarana tersebut masih terakumulasi di daerah-daerah perkotaan seperti: Kota Situbondo, Panarukan, Panji sehingga daerah sentra produksi pertanian yang umumnya berada di pedesaan cenderung mengalami kesulitan dalam memperoleh pelayanan dari fasilitas-fasilitas tersebut, karena interaksinya sangat terbatas ke pusat-pusat pelayanan tersebut. Hal ini kemudian berdampak pada terjadinya kesenjangan antar daerah perkotaan dan pedesaan sebagai daerah belakangnya.

Ketersediaan fasilitas pelayanan sosial ekonomi di suatu wilayah juga berkaitan dengan jumlah masyarakat yang dilayaninya, yang memanfaatkan

sarana prasarana tersebut. Suatu daerah dengan jumlah penduduk yang relatif besar membutuhkan fasilitas pelayanan yang relatif besar dibandingkan dengan kecamatan yang mempunyai jumlah penduduk lebih sedikit. Jadi alokasi sarana prasarana pembangunan akan berbanding lurus dengan jumlah penduduk di wilayah yang bersangkutan. Faktor jumlah penduduk ini juga menyebabkan rendahnya tingkat ketersediaan sarana prasarana pembangunan di beberapa pusat pertumbuhan.

Kecamatan Panji yang seharusnya menempati urutan pertama dalam hirarki pusat pertumbuhan dan pelayanan berdasarkan jumlah penduduk yang dilayaninya, ternyata hanya menempati peringkat ketiga dalam jumlah unit sarana yang dimilikinya. Namun demikian kecamatan ini mempunyai jumlah jenis sarana prasarana yang paling lengkap dibandingkan dengan kecamatan lain di Kabupaten Situbondo.

Berbeda halnya dengan Kecamatan Situbondo, walaupun menempati urutan ke enam dalam jumlah penduduknya tetapi kecamatan ini menempati urutan pertama dalam hirarki pembangunan dengan jumlah jenis sarana prasarana relatif besar. Hal ini disebabkan karena Situbondo dikembangkan sebagai pusat pemasaran dan pertumbuhan utama di wilayah Kabupaten Situbondo sehingga memungkinkan daerah ini memiliki sarana prasarana yang lebih lengkap dibandingkan dengan kecamatan lainnya dengan jumlah penduduk yang lebih besar.

Ternyata dari hasil analisis tersebut hirarki puast-pusat pertumbuhan dan pelayanan yang didasarkan pada ketersediaan fasilitas pelayanan sosial ekonomi tidak tersusun atas dasar pertimbangan jumlah penduduk. Hal ini menunjukkan distribusi sarana prasarana di suatu wilayah tidak hanya memperhitungkan indikator jumlah penduduk, tetapi ada indikator lain yang juga penting seperti; topografi, luas wilayah, sistem transportasi dan komunikasi.

Kecamatan-kecamatan dengan peringkat sarana prasarana yang lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat jumlah penduduknya, akan lebih mudah dalam memenuhi kebutuhan atau permintaan masyarakat akan pelayanan dari sarana prasarana pembangunan tersebut, dibandingkan dengan kecamatan yang jumlah penduduknya lebih tinggi daripada peringkat sarana prasarana pembangunan yang dimiliki. Kecamatan yang mempunyai peringkat sarana prasarana pembangunan yang lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah penduduknya yaitu kecamatan; Situbondo, Bungatan, Panji dan Kecamatan Panarukan. Namun kondisi ini tidak menjadikan kecamatan-kecamatan tersebut mempunyai permintaan terhadap sarana prasarana pelayanan akan seimbang dengan penawarannya. Hal ini juga dipengaruhi oleh luas wilayah dan penyebaran sarana dan prasarana tersebut di wilayah kecamatan.

Selain menunjukkan hirarki pusat-pusat pengembangan di suatu wilayah analisis skalogram juga memperlihatkan hirarki sarana prasarana pembangunan yang terdapat dalam tata ruang wilayah pembangunan. Hirarki ini menggambarkan jenis prasarana pembangunan yang tingkat ketersediaannya tinggi, sedang atau rendah, sehingga dapat membantu dalam perencanaan selanjutnya untuk alokasi sarana prasarana baru.

Tabel 20. Fasilitas-fasilitas Pelayanan Utama di Wilayah Kabupaten Situbondo Tahun 2004 N o Jenis Fasilitas Jumla h Peringkat 1 Langgar 3184 1 2 Musholla 1057 2 3 Masjid 598 3 4 SD 460 4 5 Koperasi 316 5 6 Dukun bayi 308 6 7 Kantor desa 136 7 8 Restoran/Rumah makan 105 8 9 Pondok pesantren 92 9 1 0 Puskesmas 57 10 1 1 Pasar 54 11 1 2 SLTP 49 12 1 3 Kantor pos 30 13 1 4 Gereja 23 14 1 5 Dokter 22 15

Sumber : BPS,2004 (diolah) Lihat Tabel Lampiran 5.

Sarana prasarana dengan tingkat ketersediaan paling tinggi (jumlah unit paling banyak) menempati peringkat atas dan sarana prasarana dengan tingkat ketersediaan rendah menempati hirarki yang lebih rendah.sarana dengan peringkat yang lebih tinggi adalah merupakan sarana prasarana pembangunan yang paling dibutuhkan oleh masyarakat suatu wilayah. Pada Tabel 20 diidentifikasi 15 jenis sarana prasarana pembangunan yang menempati urutan peringkat tertinggi.

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar sarana prasarana pembangunan yang terpenting dan yang terbanyak dibutuhkan masyarakat adalah sarana prasarana yang menyediakan kebutuhan dasar manusia

yaitu; sarana perekonomian (pasar, restoran/rumah makan, koperasi) untuk menyediakan kebutuhan sehari-hari masyarakat, sarana pendidikan (SD, SLTP, Pondok pesantren) dan sarana kesehatan (dokter, puskesmas, dukun bayi). Selain itu fasilitas lain yang juga menempati urutan atas adalah sarana peribadatan (masjid, langgar, musholla, gereja) dan fasilitas pemerintahan (kantor desa).

Penyebaran fasilitas-fasilitas tersebut di wilayah Kabupaten Situbondo dapat diketahui dengan melihat beberapa jumlah kecamatan yang memiliki fasilitas tersebut. Beberapa fasilitas utama dimiliki oleh semua atau sebagian besar kecamatan di Kabupaten Situbondo. Fasilitas ini derajad penyebarannya dikategorikan tinggi (besar dari 90 persen), fasilitas yang derajat penyebarannya cukup adalah fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh 30-90 persen kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Situbondo, dan fasilitas dengan derajad penyebaran rendah ketersediaannya kurang dari 30 persen. Pada Tabel 21 Disajikan pengklasifikasian fasilitas tersebut berdasarkan derajad penyebarannya di wilayah Kabupaten Situbondo.

Setelah diidentifikasi ternyata sebagian besar fasilitas pelayanan yang ada di wilayah Kabupaten Situbondo, derajat penyebarannya termasuk tinggi. Fasilitas-fasilitas ini merupakan Fasilitas-fasilitas dasar yang sangat dibutuhkan oleh penduduk dan tingkat permintaan penduduk terhadap fasilitas-fasilitas ini sangat tinggi, sehingga dibutuhkan keberadaannya disetiap kecamatan untuk memudahkan dalam perolehan pelayanannya.

Tabel 21. Jenis Fasilitas Pelayanan Berdasarkan Derajat Penyebarannya di Wilayah Kabupaten Situbondo Tahun 2004

Derajat Penyebaran Jenis Fasilitas Tinggi (> 90 %) - Masjid - Restoran - Langgar - KUA - Musholla - Dokter - SD - Pasar - SLTP - Koperasi - Puskesmas - Kantor pos - PUSTU - Dukun bayi Cukup (30-90 %) - Gereja - Pondok pesantren - SMU - Panti asuhan - Hotel Rendah (< 30 %) - SMK - Bidan - RSU - Bank Sumber : BPS, 2004 (diolah)

Fasilitas-fasilitas yang keberadaannya terbatas di beberapa kecamatan saja (derajat penyebaran rendah) umumnya dalah fasilitas pelayanan yang jangkauan pelayanannya relatif luas atau jumlah penduduk yang memerlukan pelayanan

tersebut juga sedikit, sehingga tidak dibutuhkan untuk berada di setiap kecamatan. Fasilitas-fisilitas ini umumnya dibangun di pusat-pusat pemukiman atau pusat pengembangan utama atau di lokasi-lokasi khusus yang potensial dan perlu untuk dibangun fasilitas tersebut.

Dari hasil analisis skalogram maka dapat diketahui pada saat ini pusat-pusat pertumbuhan dan pelayanan di Kabupaten Situbondo masih mengumpul di daerah perkotaan, dengan perumusan strategi pembangunan diharapkan pusat-pusat pertumbuhan tidak hanya mengumpul di satu titik. Selain itu implementasi dari strategi pembangunan dapat menentukan daerah-daerah mana saja yang harus mengalami pembangunan fasilitas pelayanan, sehingga dapat tercipta pemerataan pembangunan.

BAB VII