B. WILAYAH ADMINISTRASI PEMERINTAHAN
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.6. Konsep dan Definisi Strategi
Menurut Salusu 1996 mendefinisikan strategi adalah suatu seni menggunakan kecakapan dan sumber daya suatu organisasi untuk mencapai sasarannya melalui hubungannya yang efektif dengan lingkungan dalam kondisi yang paling menguntungkan. Strategi itu penting untuk dipahami oleh setiap eksekutif, manager, pejabat tinggi, kepala atau ketua, direktur, pejabat menengah, dan rendah. Hal ini harus dihayati karena strategi dilaksanakan oleh setiap orang pada setiap tingkat, bukan hanya oleh pejabat tingkat tinggi.
Dengan merujuk pada pandangan Charles Hover, Higgins (1985) menjelaskan ada empat tingkatan strategi. Keseluruhannya disebut Master
Strategy, yaitu ; enterprise strategy, corporate strategy, business strategy, dan functional strategy. Masing-masing akan dibahas sebagai berikut:
a) Enterprise Strategy; strategi ini berkaitan dengan respon masyarakat. Setiap organisasi mempunyai hubungan dengan masyarakat, dalam strategi enterprise terlihat relasi antara organisasi dan masyarakat luas, sejauh interaksi itu akan dilakukan sehingga dapat menguntungkan organisasi. Respon terhadap keinginan masyarakat perlu diberi perhatian dengan pertimbangan-pertimbangan etis.
b) Corporate Strategy; strategi ini berkaitan dengan misi organisasi sehingga sering disebut grand strategy yang meliputi bidang yang digeluti oleh suatu organisasi.
c) Business Strategy; strategi pada tingkat ini menjabarkan bagaimana merebut pasaran ditengah masyarakat. Bagaimana menempatkan organisasi di hati para masyarakat. Semua itu dimaksudkan untuk dapat memperoleh keuntungan-keuntungan strategik yang sekaligus mampu menunjang perkembangan organisasi ke tingkat yang lebih baik.
d) Functional Strategy; strategi ini merupakan strategi pendukung dan untuk menunjang suksesnya strategi lain. Ada tiga jenis strategi fungsional yaitu,
1) Strategi fungsional ekonomi, yaitu mencakup fungsi-fungsi yang memungkinkan organisasi hidup sebagai satu kesatuan ekonomi yang sehat, antara lain yang berkaitan dengan keuangan, pemasaran, sumber daya, penelitian dan pengembangan.
2) Strategi fungsional manajemen, yaitu mencakup fungsi-fungsi manajemen, yaitu planning, organizing, implementing, controlling,
staffing, leading, motivating, communicating, decision making, representing dan integrating.
3) Strategi isu strategic, fungsi utamanya adalah mengontrol lingkungan, baik situasi lingkungan yang sudah diketahui maupun situasi yang belum diketahui atau yang selalu berubah.
Dalam mencoba menjelaskan tentang tipe-tipe strategi, Koteen (1991) dalam Salusu (1996) mengakui bahwa tipe-tipe strategi yang dikemukakan sebagai berikut sering pula dianggap sebagai suatu hierarki. Konsep koteen mirip dengan konsep Higgins, meski berbeda dalam pemberian istilah. Tipe-tipe strategi yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Corporate Strategy (Strategi organisasi). Strategi ini berkaitan dengan perumusan misi, visi, tujuan, nilai-nilai, dan inisiatif strategik yang baru. Pembatasan-pembatasan diperlukan yaitu apa yang dilakukan dan untuk siapa. 2. Program Strategy (Strategi Program). Strategi ini lebih memperhatikan pada
implikasi strategic dari suatu program tertentu. Apa kira-kira dampaknya apabila suatu program tertentu dilancarkan atau diperkenalkan, apa dampaknya bagi sasaran organisasi.
3. Resource Support Strategy (Strategi Pendukung Sumberdaya). Strategi sumber daya ini memusatkan perhatian pada memaksimalkan pemanfaatan sumber-sumber daya essensial yang tersedia guna meningkatkan kualitas kinerja organisasi. Sumber daya itu dapat berupa tenaga, keuangan, teknologi dan sebagainya.
4. Institutional Strategy ( Strategi Kelembagaan). Fokus dari strategi institusional ini adalah mengembangkan kemampuan organisasi untuk melaksanakan inisiatif-inisiatif strategik.
Salah satu domain dari keputusan yang strategik yang penting adalah perumusan misi, tujuan, dan sasaran. Dimana misi adalah suatu pernyataan tentang tujuan organisasi yang diekspresikan dalam suatu produk dan pelayanan yang dapat ditawarkan, kebutuhan yang dapat ditanggulangi, kelompok masyarakat yang dapat dilayani, nilai-nilai yang dapat diperoleh, serta aspirasi dan cita-cita di masa depan ( Kotler et al, 1987). Misi dibuat dalam jangka tiga sampai lima tahun dan dapat berubah. Perubahan itu dapat dilakukan jikalau terjadi perubahan penting dalam lingkungan, misalnya ada peluang yang harus dikejar, ada ancaman, atau tantangan yang sangat berarti.
Misi cukup singkat dengan rumusan KISS yaitu keep it short and simple. Secara singkat pedoman perumusan misi dapat diuraikan sebagai berikut (Knauf,et al., 1991), misi diringkas dalam satu dua kalimat dalam satu paragraf, realistic dalam artian sejauh mana kemampuan organisasi mengantisipasi sumber keuangan dan sumberdaya manusia, harus spesifik agar dapat digunakan sebagai dasar dalam mengembangkan tujuan dan program untuk merealisasikan misi itu. Dengan demikian haruslah operasional, artinya mampu menggambarkan hasil yang dapat dicapai, bukan hanya slogan atau keinginan belaka yang tidak akan pernah tercapai.
Kalau misi menggambarkan kehendak suatu organisasi maka berbeda dengan visi yang menjelaskan mengenai bagaimana rupa dan bentuk yang seharusnya dari suatu organisasi kalau berjalan dengan baik. Perumusan visi
merupakan tanggung jawab dari manajemen tingkat atas. Namun itu haruslah merupakan proses interaksi yang memberikan peluang untuk mendapatkan umpan balik dari semua tingkatan manajemen (Salusu, 1996). Visi menggambarkan masa depan yang lebih baik, memberi harapan dan juga menggambarkan hasil-hasil yang memuaskan. Visi yang efektif adalah visi yang hidup, menantang, menghargai prestasi masa lampau, dan sebagai pengantar ke masa depan.
Tujuan suatu organisasi diturunkan dari misi dan sasaran diturunkan dari tujuan.tujuan sesungguhnya merupakan gejala yang kompleks, tujuan dapat diartikan sebagai kondisi jangka panjang yang diinginkan, yang dinyatakan dalam istilah yang umum dan kualitatif, dan yang mungkin hanya sebagian yang dicapai. Ditinjau dari ilmu sosial goals dapat dibagi dalam enam kategori (Perrox, 1968 dalam Salusu 1996) yaitu :
1. Societal goals (Tujuan masyarakat). Tujuan ini diarahkan pada masyarakat, yaitu apa yang akan diperbuat untuk kepentingan masyarakat, apa fungsinya terhadap masyarakat.
2. Output goals (Tujuan yang berorientasi luaran). Dengan mengenal luaran dan tipe produk serta pelayanan jasa maka organisasi itu dapat dibedakan satu dengan yang lain. Ada empat tipe kelompok yang mendapatkan keuntungan, yaitu anggota, pemilik, klien dan masyarakat itu sendiri.
3. Investor goals (Tujuan berorientasi investor). Maksud tujuan kategori ini adalah berbuat sesuatu untuk kepentingan dan kebahagiaan investor. Keuntungan untuk para investor ini tidak mutlak dalam bentuk finansial, tetapi bisa dalam bentuk immateriil, misal dalam bentuk penghargaan.
4. System goals (Tujuan sistem). Kategori ini menyangkut keseluruhan sistem dalam organisasi yang ditetapkan oleh pihak eksekutif atau para investor melalui pengambilan keputusan organisasi.
5. Product goals (Tujuan produk). Kategori ini memegang peranan yang sangat penting karena menyangkut luaran dari produk dan jasa yang ditawarkan ke luar.
6. Derived goals (Tujuan yang bersumber pada organisasi). Tujuan ini sesungguhnya tidak secara murni berkaitan dengan hakikat organisasi. Ada tujuan lain yang terkandung di dalamnya tetapi tujuan itu dicapai dengan manfaat kekuasaan dari organisasi. Itulah sebabnya tujuan ini disebut dengan derived goals karena kemampuan untuk mencapai suatu keinginan bersumber pada eksistensi dan prilaku organisasi, tetapi tidak dipandang sebagai tindakan essensial dari organisasi.
Didalam organisasi terdapat juga sasaran, sasaran dapat diartikan sebagai suatu aspirasi perseorangan atau suatu nilai yang akan dicapai melalui pelaksanaan dari beberapa kegiatan. Dalam organisasi dikenal sasaran primer dan sasaran skunder. Sasaran primer adalah sasaran yang hendak dicapai oleh organisasi secara umum, sedangkan sasaran skunder ialah yang dilaksanakan oleh unit-unit kecil dalam organisasi untuk merealisasikan sasaran primer.
Suatu sasaran dapat dikatakan baik apabila paling tidak memenuhi beberapa kriteria yang secara umum diterima oleh kebanyakan penulis, sebagai berikut:
1) Sasaran harus mengandung arti; 2) Sasaran harus masuk akal;
3) Sasaran haruslah menantang;
4) Sasaran hendaknya dikaitkan dengan sistem ganjaran atau upah; 5) Sasaran harus spesifik dan dapat diukur;
6) Sasaran harus konsisten satu terhadap yang lain. 2.7. Hasil Penelitian Terdahulu
Telah banyak penelitian yang menggunakan pendekatan basis ekonomi untuk mengukur pertumbuhan ekonomi suatu daerah dalam menganalisis pembangunan suatu wilayah. Pendekatan ini menentukan keberadaan suatu sektor basis terhadap peningkatan pendapatan suatu wilayah dan efek pengganda yang ditimbulkan terhadap pendapatan suatu daerah.
Metode LQ juga digunakan oleh Suprapti (2001) untuk menganalisis basis ekonomi terhadap penataan ruang Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Hasil penelitian yang dilakukan Suprapti ini menunjukkan bahwa komoditas jagung merupakan komoditi pertanian yang diprioritaskan untuk dikembangkan di Kabupaten Sumenep dikarenakan nilai koefisien spesialisasinya paling besar dibandingkan komoditi basis lainnya dibeberapa kecamatan.
Hasil penelitian mengenai analisis pembangunan wilayah pertanian dalam menghadapi otonomi daerah di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat telah dilakukan oleh Afianto (2000). Salah satu analisisnya menggunakan LQ dengan indicator pendapatan. Hasil penelitiannya menunjukkan terdapat beberapa komoditi basis di setiap kecamatan. Dilihat dari efek penggandanya, komoditi basis tersebut berkisar antara 0 sampai 4,854. sedangkan surplus pendapatan yang dihasilkan diseluruh kecamatan relatif besar.
Penelitian M. Arif Rahman tahun 2003 menganalisis peranan basis sektor pertanian Kabupaten Kuningan. Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa masing-masing kecamatan di Kabupaten Kuningan memiliki beberapa komoditi basis pertanian yang jumlahnya berbeda-beda. Secara keseluruhan surplus pendapatan komoditi basis yang dihasilkan relatif besar sehingga dapat digunakan untuk membeli komoditi non-basis yang masih kurang untuk pendapatan masyarakat setempat. Efek pengganda pendapatan yang dihasilkan di beberapa kecamatan tahun 2001 berkisar antara 1,0186 sampai 1,8997. hasil analisis kuosien lokalisasi dan spesialisasi menunjukkan hampir semua komoditi pertanian menyebar dan tidak ada spesialisasi kegiatan pertanian atau cenderung menghasilkan komoditi yang beragam.
Pendekatan basis ekonomi yang menggunakan metode LQ pada penelitian-penelitian diatas menunjukkan begitu luasnya kegunaan dari metome ini. Namun demikian terdapat keberagaman dalam menggunakan metode tersebut untuk tujuan menganalisis sektor basis dan sektor non-basis di suatu wilayah. Perbedaan tersebut antara lain pada indikator yang digunakan, luasan yang diteliti, dan sektor ekonomi yang diteliti.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Sumedi terhadap Fungsi Ekonomi Kota dalam Pembangunan Wilayah adalah koya kecamatan berfungsi sebagai pusat pemukiman penduduk, pusat aktivitas ekonomi dan penyediaan fasilitas pelayanan sosial ekonomi yang memberi pengaruh pada pertumbuhan desa-desa sekitarnya. Aksesibilitas pusat pertumbuhan kecil terhadap pusat lain atau kota yang hirarkinya lebih tinggi berpengaruh positif pada pertumbuhan pusat dan pada pertumbuhan wilayah layanannya.
Penelitian yang dilakukan oleh Gunawan dalam penelitiannya mengenai Analisis Pembangunan Ekonomi Lokal Kabupaten Tasikmalaya menyimpulkan bahwa potensi ekonomi Kabupaten Tasikmalaya tidak terlepas dari poyensi pertumbuhannya yang melebihi tingkat pertumbuhan Propinsi Jawa Barat, yang dikompilasi dengan adanya perkembangan tiap sektor yang termasuk dalam kategori progresif. Oleh karena itu Kabupaten Tasikmalaya mempunyai potensi pengembangan lokal yang cukup progresif, sedang sektor basis Kabupaten Tasikmalaya terletak pada sektor pertanian, peternakan, perikanan dan kehutanan, sektor bangunan, perdagangan hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, keuangan persewaan dan jasa perusahaan serta sektor jasa. Keenam sektor ini memberikan efek pengganda dan surplus pendapatan bagi perekonomian Kabupaten Tasikmalaya sehingga berperan sebagai sektor potensial.
Penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Misbah (2005) dalam analisis Strategi Pengembangan Bisnis Gula (Studi Kasus PT Madu Baru, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta) berdasarkan matrik EFI sebagai alat analisis kondisi internal perusahaan, PT Madu Baru memiliki empat faktor kekuatan yang memiliki nilai tertinggi yang sama pada matriks EFI tersebut adalah mempunyai pelanggan fanatik, semua produk yang terjual habis, mempunyai SDM yang pengalaman, kompeten dan inovatif serta situasi kerja kondusif. Sedangkan tiga faktor kelemahan dengan nilai terendah yang sama pada matriks EFI yaitu, supplesi BBM tinggi, HPP masih tinggi dan waskat belum dilaksanakan dengan baik.
Berhubungan dengan kondisi eksternal, PT Madu Baru menganggap ada empat faktor yang paling berpengaruh pada bisnis gula perusahaan. Pada matriks EFE ditampilkan keempat faktor tersebut memiliki bobot terbesar yang sama 0,085.secara seimbang faktor-faktor tersebut terbagi menjadi faktor peluang sebanyak dua faktor dan faktor lainnya dianggap sebagai faktor ancaman bagi perusahaan jika tidak diantisipasi dengan baik.
Mengacu pada penelitian terdahulu, maka penelitian ini bermaksud untuk merumuskan strategi-strategi pembangunan wilayah dan melihat bagaimana implementasi dari strategi pembangunan tersebut dengan menggunakan analisis SWOT serta melihat penyebaran sarana dan prasarana dalam mengidentifikasi sektor apa saja yang menjadi basis dalam perekonomian dalam pembangunan wilayah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur dengan menggunakan metode Kuosien Lokasi (LQ). Sedangkan indikator yang digunakan adalah indikator pendapatan. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui ketersediaan dan penyebaran sarana fasilitas pendukung pembangunan dengan menggunakan metode skalogram, selain itu juga menganalisis kebijakan pembangunan yang seperti apa yang dapat mendukung perekonomian Kabupaten Situbondo.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah penelitian ini lebih terfokus pada penetapan strategi-strategi pembangunan dengan melihat penyebaran sarana dan fasilitas pendukung pembangunan melalui analisis sektor basis perekonomian dan melihat kebijakan-kebijakan pembangunan yang mendukung perekonomian serta implementasi strategi kebijakan tersebut terhadap pembangunan wilayah penelitian, sedangkan penelitian terdahulu lebih banyak menganalisis peranan sektor basis pertanian dalam perekonomian suatu daerah
dalam pembangunan wilayah dan serta analisis strategi pengembangan perusahaan.