• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potensi Sumberdaya Alam a.Sektor Pertanian

FAKTOR-FAKTOR KUNCI INTERNAL

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

5.3. Potensi Sumberdaya

5.3.1. Potensi Sumberdaya Alam a.Sektor Pertanian

Potensi sektor pertanian Kabupaten Situbondo yang memberi kontribusi terbesar diantaranya adalah produksi pertanian tanaman pangan, perkebunan, perikanan laut, tambak, hatchery, peternakan dan kehutanan, utamanya hutan jati di Kecamatan Banyuputih, Kecamatan Kendit dan sebagian tersebar di beberapa kecamatan lainnya.

Produksi tanaman pangan diantaranya adalah padi, jagung, ubi kayu, kacang tanah, kacang hijau, kedele, buah-buahan utamanya mangga dan sayuran. Produksi tanaman pangan di tahun 2004 dibandingkan dengan tahun

sebelumnya mengalami kenaikan dan beberapa komoditi mengalami penurunan. Komoditi yang mengalami kenaikan hanyalah komoditi jagung dan kedele. Komoditi yan mengalami penurunan prodksi diantaranya meliputi padi, ubi kayu, kacang tanah, dan kacang hijau.

Bila dilihat besarnya penurunan produksi untuk beberapa komoditi tersebut, masing sebagai berikut; produksi padi sawah dan padi gogo masing-masing turun 8,09 persen dan 26,20 persen, ubi kayu turun 6,27 persen, kacang tanah turun 61,66 persen. Komoditi yang mengalami kenaikan produksi, jagung meningkat 23,18 persen dan kedele naik sebesar 40,54 persen. Bila dilihat dari luas panen masing-masing komoditi , diantaranya yang mengalami kenaikan adalah jagung, kacang hijau dan kedelai, masing-masing mengalami kenaikan luas panen sebesar 5,78 persen, 3,66 persen dan 23,28 persen. Sedangkan komoditi yang mengalami penurunan luas panen adalah komoditi padi sawah, padi gogo, ubi kayu dan kacang tanah. Masing-masing padi sawah turun 8,39 persen, ubi kayu 17,13 persen dan kacang tanah turun sebesar 78,22 persen.

Produksi sayuran mengalami kenaikan yang bervariasi untuk beberapa komoditi bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya utamanya komoditi seperti bawang merah, bawang daun, cabe, ketimun dan melon. Sedangkan produksi lainnya mengalami penurunan produksi, diantaranya kacang panjang, terong dan semangka.

Produksi bawang merah mengalami kenaikan 61,44 persen, cabe mangalami kenaikan 21,18 persen, tomat juga mengalami kenaikan 81,25 persen. Produksi buah-buahan yang menjadi komoditi unggulan dan cukup dikenal adalah penghasil mangga yang merupakan ciri khas daerah, dengan memasyarakatnya tanaman mangga hampir di setiap pekarangan rumah. Produksi mangga di tahun 2004 mengalami kenaikan dari 157.718 Kw menjadi 335.732 Kw atau naik

sebesar 122,87 persen, sedangkan komoditi buah-buahan lainnya juga mengalami kenaikan diantaranya alpukat, rambutan, pisang dan nangka, namun tidak sebanyak tanaman mangga.

b. Sektor Perkebunan

Tanaman perkebunan yang mampu memberikan kontribusi terhadap nilai tambah di sektor ini adalah komoditi kelapa, kopi, tebu, tembakau, kapuk, kapas, asam jawa, siwalan, cengkeh, jambu mente, pinang dan biji jarak.

Produksi kelapa pada tanaman perkebunan rakyat pada tahun 2004 mengalami kenaikan dari 4.661 ton menjadi 4.676 ton atau naik sebasar 0,32 persen. Kopi atau ose kering produksinya stabil, sementara produksi tanaman tebu mengalami kenaikan dari 37.391 ton menjadi 37.720 ton atau naik sebesar 0,88 persen. Sedangkan produksi tanaman perkebunan lainnya seperti cengkeh, jambu mente, kapuk randu, siwalan, pinang, asam jawa, nilam, melinjo dan jarak perubahannya cukup bervariasi dan tidak terlalu besar kontribusinya terhadap nilai tambah sub sektor perkebunan.

Dari sub sektor perkebunan yang dikelola oleh PTPN XI diantaranya produksi tebu mengalami kenaikan dari 6.872 ton menjadi 6.878 ton atau naik 0,09 persen, sedangkan yang dikelola oleh perusahaan swasta juga mengalami kenaikan dari 915 ton menjadi 920 ton atau naik 0,55 persen. Sementara produksi kopi tahun 2004 dibandingkan dengan tahun 2003 juga mengalami kenaikan dari 338 ton menjadi 339 ton atau naik 0,30 persen sedangkan tanaman kapuk randu produksinya turun dari 78 ton menjadi 66 ton atau turun 18,18 persen.

Produksi sub sektor peternakan dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang bervariasi sesuai dengan tingkat kebutuhan konsumsi masyarakat.

Populasi ternak tahun 2004 menunjukkan perkembangan yang positif antara lain dapat ditunjukkan dengan kenaikan populasi sapi dari 134.799 menjadi 135.068 atau naik 0,20 persen, sapi perah naik 0,71 persen, populasi kambing naik satu persen, populasi domba naik 0,29 persen, ayam kampung atau buras naik sampai 0,69 persen, ayam ras turun 2,41 persen dan itik naik 1,18 persen.

Demikian pula bila dilihat dari produksinya, produksi daging di tahun 2004 mengalami kenaikan 3,06 persen, produksi telur naik sampai 3,19 persen, produksi susu naik 9,22 persen, kulit sapi turun 0,10 persen, kulit kambing naik 2,80 persen dan kulit domba turun 1,76 persen.

Dari data RPH (Rumah Potong Hewan) dipeloleh jumlah ternak yang dipotong, diantaranya sapi mengalami kenaikan dari 7.987 ekor menjadi 8.019 ekor atau naik 0,40 persen, kambing naik 2,75 persen dan domba turun 0,90 persen, ayam kampung dan ayam ras naik masing-masing 0,74 persen dan 2,17 persen.

d. Sektor Perikanan

Potensi strategis yang dimiliki Kabupaten Situbondo adalah membentangnya laut atau pantai hampir di setiap kecamatan, kecuali Kecamatan Sumbermalang, Kecamatan Jatibanteng dan Panji.

Sub sektor perikanan laut yang memberikan kontribusi yang besar terhadap nilai tambah sektor perikanan, antara lain disumbang oleh peranan budidaya

tambak dan hatchery serta hasil dari perikanan laut baik yang diusahakan secara tradisional maupun modern oleh masyarakat sekitar maupun pengusaha swasta.

Produksi budidaya tambak, kolam dan penangkapan ikan di peraoran umumnya mengalami kenaikan dari 322,9 ton menjadi 539,70 ton dengan nilai produksi di tahun 2004 mencapai 25,32 milyar rupiah. Beberapa hasil produksi yang diantaranya jenis ikan lele, mujair, udang windu putih, bandeng, gurame, tombro, nila gift, tawas dan ikan lainnya. Sementara itu untuk produksi ikan olahan diantaranya ikan pindang dan ikan kering mengalami kenaikan.

Cukup dibanggakan seharusnya dari potensi perikanan yang ada di Situbondo, jumlah pengusaha tambak dan hatchery yang ada di sepanjang pantai dari ujung barat (Kecamatan Banyuglugur) sampai ujung timur (Kecamatan Banyuputih) mencapai 155 tambak baik yang dikelola secara intensif, semi intensif maupun tradisional.

Sedangkan banyaknya pengusaha hatchery sebanyak 38 buah yang tersebar di lima kecamatan diantaranya di Kecamatan Banyuglugur, Bungatan, Kendit, Panarukan dan Kapongan dengan luas areal 292.660 m2. Potensi ini sangat memberikan peluang bagi masyarakat sekitarnya dalam mengangkat kesejahteraannya. Bila dikaitkan dengan upaya meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) tentunya merupakan sumber yang strategis, karena pendapatan yang dihasilkan oleh pengusaha tambak/hatchery sangat besar.

Produksi sub sektor kehutanan yang paling dominan berada di Kecamatan Banyuputih, yaitu hutan jati di perbatasan Taman Nasional Baluran dengan Banyuwangi Utara. Selain itu juga di Kecamatan Kendit dan sebagian pula di Kecamatan Bungatan serta sebagian kecil tersebar di kecamatan lainnya. Produksi sub sektor kehutanan diantaranya berupa kayu jati dan kayu rimba, kayu bakar, lak cabang dan getah pinus. Produksi kayu jati gelondongan, pada tahun 2004 sebesar 3.995 m3 dengan nilai produksi 7,51 milyar rupiah, sedangkan produksi kayu bakar jati sebanyak 34 m3 nilai produksi 2,07 juta rupiah. Produksi hasil hutan lainnya yang cukup menunjang berupa lak cabang dengan produksi 908 ton dengan nilai 182,52 juta rupiah, sedangkan produksi lainnya seperti getah pinus, kedawung dan hasil hutan lainnya dan juga meningkat dari tahun ke tahun.

f. Sektor Pariwisata

Sarana pariwisata di Kabupaten Situbondo yang telah dikenal luas adalah Pantai Pasir Putih dan Taman Nasional Baluran. Selain kedua lokasi tersebut, masih terdapat beberapa obyek wisata yang potensial dan dapat dikembangkan antara lain Pantai Pathek, Obyek Wisata Taman Istana Dewi Rengganis dan situs Cikasur di Kecamatan Sumbermalang merupakan obyek wisata yang belum dapat tersentuh dan dikelola dengan baik sehingga keberadaannya belum dapat termanfaatkan dengan optimal di samping obyek wisata religius berupa tempat tetirah, Agrowisata di Desa Kayumas Kecamatan Arjasa berkaitan dengan segitiga emas Kawah Ijen antara Situbondo-Bondowoso-Banyuwangi.

Dalam mendukung pengembangan pariwisata Kabupaten Situbondo telah tersedia sarana pendukungnya antara lain hotel melati sebanyak 20 hotel dengan

jumlah kamar 518 buah dan jumlah tempat tidur sebanyak 910 buah serta menyerap tenaga kerja sebanyak 270 orang.

5.3.2. Potensi Sumberdaya Manusia