Chart Title
4. Efektivitas Implementasi Model Pendidikan Karakter Berbasis Bimbingan Klasikal dengan Pendekatan Experiential Learning untuk
Meningkatkan Karakter Bergaya Hidup Sehat Menurut Penilaian Siswa Kelas VII SMP Negeri Sukaresik Jawa Barat.
Siswa yang mengikuti kegiatan layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan Experiential Learning untuk meningkatkan karakter bergaya hidup sehat diberikan kesempatan untuk memberikan penilaian terkait dengan efektivitas model pendidikan karakter bergaya hidup sehat pada akhir pertemuan. Terdapat 30 butir pernyataan yang tersedia dan siswa diminta untuk mencentang kolom ya (artinya setuju terhadap isi pernyataan) atau mencentang kolom tidak (artinya menolak isi pernyataan) atau kolom tidak tahu (artinya tidak dapat memberi pendapat atas nilai efektivitas yang tertuang dalam pernyataan)
hasilnya sebagai berikut:
Tabel 4. 5
Efektivitas Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Bimbingan Klasikal dengan Pendekatan Experiential Learning Menurut Penilaian Partisipan
N o
Dalam kegiatan bimbingn karakter ini,
saya mengalami/ memperoleh/ merasa: Ya %
1 Semangat untuk mengikuti kegiatan 30 100 2 Keberanian untuk tampil/melakukan sesuatu 24 80 3 Gembira/senang dalam melaksanakan kegiatan 28 93
4 Berani berpendapat 28 93
5 Lebih kreatif 27 90
6 Berani mencoba melakukan sesuatu 25 83
7 Takut salah dalam melakukan permainan 9 30
8 Malu dalam permainan kelompok 8 27
9 Dihargai oleh teman-teman 26 87
10 Tertarik untuk mengikuti semua kegiatan 26 87
11 Kemudahan bagi siswa dalam mengikuti kegiatan 28 93
12 Manfaat bagi perbaikan perilaku 28 93
13 Kemudahan bagi siswa dalam menangkap materi 25 83
14 Keinginan untuk menolong orang lain 30 100
15 Puas terhadap bimbingan yang diberikan 29 97
16 Tertantang untuk mencoba 21 70
17 Capek/lelah/bosan dalam mengikuti semua kegiatan 10 33
18 Berkesan terhadap kegiatan yang diikuti 28 93
19 Terdorong untuk terlibat aktif 29 97
20 Berani bertanggung jawab 30 100
21 Menghargai teman 29 97
22 Kesediaan bekerja sama/kekompakan tim 29 97
23 Mempererat rasa persaudaraan/persahabatan 28 93
24 Ketaatan terhadap norma/peraturan/petunjuk 29 97
25 Memotivasi siswa untuk berusaha/daya juang 29 97
26 Membangun kepedulian/kesetiakawanan 29 97
27 Peningkatan keingintahuan siswa 29 97
28 Peningkatan keingintahuan kesadaran siswa memperbaiki diri
28 93
29 Mendorong siswa lebih disiplin 27 90
30 Membuat hubungan guru-siswa akrab/hangat/dekat 28 93 Keterangan: item 7, 8, dan 17 merupakan pernyataan negatif
Mencermati tabel 4.5 terlihat bahwa sebagian besar siswa yang turut serta dalam implementasi model pendidikan karakter bergaya hidup sehat berbasi bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning menilai model ini efektif. Pada 27 aspek positif lebih dari 80% siswa menilai bahwa implementasi model ini sangat efektif karena semua siswa menajadi semangat mengikuti kegiatan, menjadi memliki keinginan intuk menolong, menjadi berani bertanggung jawab dan berbagai nilai positif lainnya didapatkan siswa, artinya model implementasi pendidikan karakter ini sangat efektif digunakan untuk meningkatkan karakter siswa. B. Pembahasan
1. Peningkatan Hasil Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Layanan Bimbingan Klasikal dengan Pendekatan Experiential Learning untuk Meningkatkan Karakter Bergaya Hidup Sehat Siswa Kelas VII SMP Negeri Sukaresik Jawa Barat Sebelum dan Sesudah Implementasi.
Berdasarkan data yang dihasilkan melalui pretest dan posttest mengenai tingkat karakter bergaya hidup sehat, ditemukan peningkatan yang cukup baik karena mengalami peningkatan sebesar 20% dari pretest ke posttest di kategori sangat tinggi dan sedang namun stabil pada pretest ke posttest di kategori tinggi, dan tidak ada hasil yang mengkategorikan siswa di kategori rendah dan sangat rendah. Pada pretest siswa sudah mencapai hasil
kategori sedang, tinggi dan sangat tinggi. Menurut Notoatmodjo (2007) hal ini dipengaruhi oleh 3 faktor yakni faktor predisposisi, faktor pendukung, dan faktor pendorong siswa, faktor-faktor ini memang sangat kuat kaitannya dan menjadikan sebagian siswa sudah cukup memiliki karakter bergaya hidup sehat yang baik sebelum implementasi dilakukan. 10 siswa sudah meendapatkan skor sangat tinggi pada pretest karena faktor predisposisi, faktor pendukung, dan faktor pendorong siswa dalam melakukan gaya hidup sehat sangat kuat, tercermin dari pengetahuan siswa dalam menjawab berbagai pertanyaan dan mampu mengambil nilai dari setiap diskusi sehingga kepercayaan mereka menjadi lebih tinggi dan kuat terutama dalam melakukan komitmen. Meskipun pretest sudah memiliki hasil yang baik, namun dalam posttest terdapat hasil yang lebih menggembirakan. Hasil posttest yang lebih baik daripada pretest terjadi karena implementasi pendidikan karakter ini memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri yakni berbasis bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning.
Experiential learning merupakan sebuah pendekatan dalam penyelengaraan bimbingan kelompok, dengan menggunakan dinamika kelompok yang efektif. Suatu dinamika kelompok dikatakan efektif ketika dapat menghadirkan suasana kejiwaan yang sehat diantara peserta kegiatan, meningkatkan spontanitas, munculnya perasaan positif (seperti senang, rileks, gembira, menikmati, dan bangga), meningkatkan minat atau gairah untuk lebih terlibat dalam proses kegiatan, memungkinkan terjadinya katarsis,
serta meningkatnya pengetahuan dan keterampilan sosial (Prayitno, dkk, 1997:90). Sejalan dengan pendapat Prayitno tersebut peneliti mengunakan dinamika kelompok dengan permainan-permainan yang mendukung topik bimbingan, sehingga peserta didik dapat mengalami secara langsung, merefleksikan pengalaman dalam berdinamika, dan merelefankan dengan pengamalan hidup sehari-hari sebagai peserta didik yang bergaya hidup sehat yang dapat diambil untuk dipraktekan dalam kehidupan nyata.
Secara keseluruhan terjadi peningkatan skor dari pretest ke posttest. Sumber kekuatan utamanya adalah experiential learning, para siswa belajar memanfaatkan pengalaman dunia nyata untuk mencapai tujuan belajarnya kemudian merumuskannya kedalam refleksi pribadi. Zubaedi (2011) juga mengungkapkan bahwa salah satu faktor keberhasilan pendidikan karakter adalah adanya banyak corak refleksi sikap. Refleksi sikap akan menghasilkan tindakan-tindakan dan motivasi dari dalam diri dan tentunya dimotori oleh naluri dalam diri seseorang. Beberapa refleksi siswa menyebutkan bahwa mereka sangat terinspirasi dan menjadi sadar bahwa hidup sehat itu sangat penting. Mereka menjadi sadar dan beberapa menuliskan ingin meniru gaya hidup sehat yang telah mereka praktekan didalam layanan bimbingan. Ada siswa yang merefleksikan bahwa dirinya terlalu banyak meminum minuman bersoda dan ingin menguranginya, beberapa diantaranya ingin mengatur pola makan dan minum menjadi lebih teratur.
Pendekatan experiential learning juga memiliki keunggulan untuk semakin memotivasi siswa sehingga dapat terlibat aktif, lebih berani untuk mengatasi persoalan belajar dan menjadi pelopor baik itu untuk pribadi yang lebih sehat atau mempolopori hidup sehat bersama pribadi lain, sehingga siswa lebih mudah memahami dan mengaplikasikan hasil dari proses pendidikan karakter ini melalui berbagai eksperimen yang dirancang sesuai dengan ketiga topik karakter bergaya hidup sehat.
Pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning untuk meningkatkan karakter bergaya hidup sehat sesuai dengan prinsip-prinsip belajar sebagai berikut (Ortigas, 1990, dalam Supratikya, 2011); (a) belajar adalah pengalaman yang terjadi dalam diri pembelajar, (b) belajar adalah penemuan makna dan relevansi dari ide, konsep, atau prinsip bagi kehidupan pribadi maupun masyarakat luas, (c) belajar sebagai perubahan tingkah laku adalah hasil pengalaman, (d) belajar berlangsung lewat proses bekerja sama dan berperan serta dalam suatu aktivitas, (e) belajar adalah proses yang bersifat evolusioner atau perubahan yang berlangsung secara pelan-pelan dan berkesinambungan, (f) belajar kadang-kadang merupakan proses yang menyakitkan, (g) sumber belajar yang sangat kaya adalah diri pembelajar sendiri, (h) proses belajar melibatkan baik pikiran maupun emosi atau perasaan, dan (i) proses belajar bersifat sangat pribadi dan unik. Kualitas belajar experiential learning mencakup:
keterlibatan siswa secara personal, berinisiatif, evaluasi oleh siswa sendiri dan adanya efek yang membekas pada siswa.
Peningkatan dari pretest ke posttest berdasarkan implementasi pendidikan karakter melalui bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning di SMP N Sukaresik, Jawa Barat, dapat disimpulkan bahwa implementasi ini mampu meningkatkan karakter bergaya hidup sehat. Padahal siswa hanya mengikuti bimbingan selama 2 hari dengan 3 topik mengenai karakter bergaya hidup sehat dan terjadi perubahan yang baik di pretest ke posttest. Jika kegiatan ini dapat berlangsung secara terus menerus dan berkelanjutan maka siswa dimungkinkan akan terus berkembang terutama terkait karakter yang positif. Maka model ini pantas menjadi inovasi pembelajaran yang lebih baik untuk dilakukan dalam implementasi layanan bimbingan klasikal.
2. Signifikansi Peningkatan Pendidikan Karakter Bergaya Hidup Sehat