METODE PENELITIAN
C. Subjek Penelitian
2. Instrumen Penelitian
Sugiyono (2013) mengemukakan bahwa dalam penelitian kuantitatif, peneliti akan menggunakan instrumen untuk mengumpulkan data. Instrumen dalam penelitian kuantitatif dapat berupa tes, pedoman wawancara, pedoman observasi, dan kuesioner.
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis pada responden untuk dijawab (Sugiyono, 2013). Kuesioner cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan 3 instrumen berupa 2 kuesioner dan 1 soal tes dengan berbagai model seperti pada penjelasan di bawah ini.
a. Tes karakter bergaya hidup sehat
Winkel dan Hastuti (2004) mengatakan bahwa terdapat beberapa tipe penilaian, antara lain skala numerik, skala penilaian grafis, dan daftar
cek. Daftar cek menyerupai item dalam tes hasil belajar, bentuk obyektif dengan tipe pilihan berganda (multiple choice). Artinya, data penelitian dapat dianalisis setelah scoring. Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan berupa tes karakter bergaya hidup sehat yang disusun dalam bentuk pilihan ganda dengan alternatif jawaban bergradasi mulai dari 1 hingga 4 dan masing- masing alternatif jawaban memiliki level kebenaran. Skor 4 diberikan untuk alternatif jawaban yang sungguh sangat mewakili pengaplikasian nilai karakter bergaya hidup sehat. Sedangkan skor 1 untuk mewakili alternatif jawaban yang kurang mewakili nilai karakter bergaya hidup sehat. Instrumen disusun oleh peneliti sendiri dengan arahan tim dosen Strategis Nasional, dalam hal ini berperan Dr. Gendon Barus, M.Si. Menurut Arikunto (2006:175) teknik pengumpulan data adalah cara yang digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan tes yang disebarkan dalam bentuk pilihan ganda dengan alternatif jawaban bergradasi mulai dari 1–4 dan dari keempat alternatif jawaban tersebut mengandung nilai kebenaran. Skor 4 diberikan untuk alternatif jawaban yang sungguh mewakili penerapan nilai karakter berrgaya hidup sehat. Sedangkan skor 1 untuk mewakili alternatif jawaban yang sangat kurang mewakili nilai karakter bergaya hidup sehat. Instrumen yang berupa test disusun oleh peneliti sendiri dengan arahan dosen pembimbimg dalam tim penelitian Stranas (Strategis Nasional).
Soal tes dengan ragam pilihan ganda diberikan pada awal dan akhir perlakuan. Diberikan sebelum perlakuan/pretest dimaksudkan untuk mengetahui gambaran umum tingkat karakter bergaya hidup sehat. Sedangkan soal tes dengan ragam pilihan ganda yang diberikan pada akhir setelah perlakuan/posttest, bertujuan untuk mencari data yang diperlukan untuk mengetahui keefektivitasan pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning untuk meningkatkan karakter bergaya hidup sehat siswa kelas VII F SMP Negeri Sukaresik terlampir pada lampiran 1. Dalam membuat soal tes peneliti terlebih dahulu membuat kisi-kisi dengan menentukan aspek-aspek karakter bergaya hidup sehat dan indikator siswa yang memiliki karakter bergaya hidup sehat yang divisualisasikan dalam table berikut ini.
Tabel 3. 2
Kisi-kisi Tes Karakter Bergaya Hidup Sehat N
o Aspek Indikator No item
1
Pendidikan kesehatan
Memiliki kesadaaran akan arti hidup
sehat 14, 13, 17
Melakukan kebiasaan hidup sehat 2
Gizi yang baik Memiliki kebiasaan makan makanan
sehat 2, 4, 16
3 Program dan layanan kesehatan
Mengikuti dan menjalankan program
hidup sehat 9, 10
4
Kebersihan
Memiliki kesadaran akan arti
kebersihan diri 11, 15
Memiliki kesadaran akan arti
kebersihan lingkungan 8, 12
5 Pengamatan kesehatan Mengumpulkan Informasi Kesehatan 1, 3 6
Olahraga teratur Memiliki kebiasaan untuk
berolahraga 5, 6
7
Aktivitas sosial Memilih kegiatan sosial yang positif
bersama oranglain 20
8 Management stres Mampu mengelola pola hidup 7 9 Kesehatan masyarakat Mencegah penyakit 18, 19
b. Kuesioner penilaian diri (self assessment scale)
Kuesioner penilaian diri dalam penelitian ini berbentuk pernyataan checklist (√) dengan menggunakan model skala Likert. Sugiyono (2013) menjelaskan bahwa skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial.
Jawaban setiap item dalam kuesioner penilaian diri memiliki gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata sangat selalu (s), sering (sr), kadang-kadang (kd), dan tidak pernah (tp).
Kuesioner penilaian diri dibagikan kepada siswa setiap akhir sesi atau topik bahasan. Kuesioner ini digunakan untuk mengukur peningkatan karakter bergaya hidup sehat yang menjadi fokus penelitian untuk setiap topik. Kuesioner penilaian diri/self assessment scale (disusun oleh Tim Penelitian Stranas) terlampir pada lampiran 2.
Berikut kisi-kisi Kuesioner penilaian diri/self assessment scale. Tabel 3.3
Kisi-kisi kuesioner Self Assessment Karakter Bergaya Hidup Sehat
No Aspek Indikator No item
1
Pendidikan kesehatan
Memiliki kesadaaran akan arti
hidup sehat 16
Melakukan kebiasaan hidup sehat 2
Gizi yang baik Memiliki kebiasaan makan
makanan sehat 1
3 Program dan layanan kesehatan
Mengikuti dan menjalankan
program hidup sehat 4
4
Kebersihan
Memiliki kesadaran akan arti
kebersihan diri 11, 12, 13
Memiliki kesadaran akan arti
kebersihan lingkungan 14, 15, 17 5 Pengamatan kesehatan Mengumpulkan Informasi Kesehatan 4, 7 6
Olahraga teratur Memiliki kebiasaan untuk
berolahraga 2, 5
7
Aktivitas sosial Memilih kegiatan sosial yang
positif bersama oranglain 18, 19, 20 8 Management stres Mampu mengelola pola hidup 3, 6 9 Kesehatan
masyarakat Mencegah penyakit 8
c. Kuesioner validasi efektivitas model (responden siswa)
pernyataan checklist with Guttman scale. Sugiyono (2013) menerangkan bahwa skala pengukuran tipe ini, akan menghasilkan jawaban tegas, yaitu “ya-tidak”, “benar-salah”, “positif-negatif”, dan lain-lain. Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau rasio dikotomi (dua alternatif). Jadi kalau pada skala Likert terdapat 3, 4, 5, 6, 7 interval, dari kata “sangat setuju” hingga “sangat tidak setuju”, maka dalam skala Guttman hanya terdapat dua interval, yakni setuju dan tidak setuju. Dalam penelitian ini, “ya dan tidak”. Biasanya, skala Guttman digunakan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan atau ingin diketahui oleh peneliti. Validasi efektivitas model dengan responden siswa digunakan untuk melihat efektivitas dari program yang dilaksanakan berdasarkan penilaian siswa. Kuesioner terlampir pada lampiran 3.
E. Validitas, Reliabilitas dan Uji Normalitas