• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prinsip-Prinsip Motivasi Belajar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Motivasi Belajar Siswa

3. Prinsip-Prinsip Motivasi Belajar

Peranan motivasi begitu besar bagi tercapainya tujuan yang diinginkan dalam proses belajar mengajar. Oleh kerena itu, motivasi juga perlu didesain sebaik mungkin, dengan mengedepankan kepentingan-kepentingan siswa dalam proses belajar mengajar. Adapaun prinsip-prinsip dalam menumbuhkan motivasi dikemukakan oleh Abdul Haling (2007 : 100) sebagai berikut:

a. Pujian lebih efektif dari pada hukuman

b. Pemahaman yang jelas terhadap tujuan akan merangsang motivasi c. Semua pebelajar mempunyai kebutuhan psikologis tertentu yang

harus mendapat kepuasan

d. Motivasi yang berasal dari dalam diri individu lebih efektif dari pada motivasi yang dipaksakan dari luar

e. Motivasi yang besar erat kaitannya dengan kreativitas pebelajar.

Sementara itu Ahmad Rohani (2004 : 14-15) mengemukakan beberapa prinsip dalam menumbuhkan motivasi yakni sebagai berikut:

a. Peserta didik dibangkitkan minatnya antara lain dengan cara:

1) Membangkitkan kebutuhan pada dirinya seperti kebutuhan psikis, sosial dan lain sebagainya.

2) Menyadarkan dirinya akan pengalaman-pengalaman yang sudah dimiliknya.

3) Memberinya kesempatan berpartisipasi dalam hal-hal yang menjadi keinginannya, sesuai tingakat kemampuannya.

4) Menggunakan alat-alat peraga dan berbagai metode dalam mengajar.

b. Guru menetapkan tujuan-tujuan yang terbatas dan pantas serta tugas-tugas yang terbatas jelas dan wajar.

c. Mengusulkan agar peserta didik selalu mendapat informasi tentang kemajuan dan hasil-hasil yang dicapainya.

d. Dengan memberikan hadiah kepada siswa yang berprestasi, dan menggunakan beberapa jenis hukuman bagi yang bersalah.

e. Memanfaatkan cita-cita, sikap-sikap dan rasa ingin tahu peserta didik.

f. Menumbuhkan rasa percaya diri pada siswa yang sukses dan mendorongnya ke arah tercapainya kesuksesan.

g. Menciptakan suasana yang menggembirakan dalam kelas, sehingga proses belajar mengajar berlangsung dengan baik.

h. Memberikan perhatian penuh terhadap setiap individu siswa.

i. Menyarankan peserta didik agar dapat memotivasi diri sendiri sehingga muncul usaha-usaha belajar.

Selanjutnya lebih jauh dan terperinci Rivai dan Murni (2009 : 738-739) menjelaskan tentang prinsip-prinsip motivasi antara lain:

a. Interest (ketertarikan)

Guru hendaknya menggunakan novel, konflik atau kejadian paradox. Atensi hendaknya di munculkan ketika mereka berpindah tugas saat status Quo. Selain itu, guru memberi kesempatan kepada murid untuk belajar lebih banyak tentang segala sesuatu yang telah mereka ketahui, tetapi juga memberi pengetahuan yang belum di mengerti oleh mereka. Kemudian membimbing murid dalam proses pertanyaan dan inkuiri serta menggunakan analog untuk bahasa asing yang dikenal dan mengenal bahasa asing.

b. Relevansi (hubungan)

Dalam hal ini motivasi seseorang akan berkembang ketika individu menerima perintah, yang akan memberikan keperluan tersendiri, seperti kebutuhan akan berprestasi, kekuatan atau afiliasi. Untuk meningkatkan motivasi personal strategi yang perlu dilakukan adalah:

1) Meningkatkan motivasi dengan menambahkan kesempatan untuk menilai standar prestasi, saat berada pada kondisi di bawah dan saat menghadapi resiko yang berat.

2) Membuat perintah yang responsive dengan memberi kesempatan dalam memilih, bertanggung jawab dan kelancaran interpersonal.

3) Kepuasan untuk berafiliasi dengan memberikan kepercayaan dan memberikan kesempatan tanpa resiko interaktif kooperatif.

c. Ekspektasi (harapan)

Untuk mengembangkan sukses keluar, ada empat strategi yang perlu dilakukan yaitu:

1) Mengembangkan percobaan dengan sukses (tugas yang berarti tidak dalam kepentingan atau tugas yang mudah).

2) Menjadikan jelas mengenai kebutuha tentang kesuksesan pribadi.

3) Menggunakan teknik dengan mengontrol kesuksesan pribadi.

4) Memakai alat timbal balik dan rencana lain yang dapat membantu murid yang berhubungan dengan keberhasilan, pengembangan diri dan kemampuan.

d. Setisfaction (kepuasan)

Beberapa strategi untuk mengembangkan kesempatan dari (outcome) untuk memelihara kepusan yang ada di dalam adalah dengan menggunakan instruksi rekomendasi utamaya adalah menggunakan tugas endogenous dari pada tugas exogenous dan menggunakan nilai verbal informasi timbal balik dari pada ancaman.

Uraian di atas menunjukkan tentang empat dimensi utama motivasi dalam proses belajar mengajar yang hendaknya senantiasa menjadi acuan guru, dalam profesi apapun dia, apakah dia sebagai guru (teacher), pelatih (coach), manajer belajar (learning manajer), pembimbing dan lain-lain.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah Field research (penelitian lapangan), yakni peneliti turun langsung ke lokasi penelitian untuk memperoleh data yang konkrit. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif yaitu sumber dari hasil angket, interview, observasi dan dokumentasi, guna memperoleh hasil data yang betul-betul akurat dan dapat dipertanggung jawabkan.

B. Lokasi dan Obyek Penelitian

Penelitian akan dilakukan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bontoharu Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar karena peneliti ingin mengetahui keefektifan metode kerja kelompok dalam pembelajaran khusunya Pendidikan Agama Islam. Adapun dan obyek penelitian dalam penelitian ini adalah para guru dan siswa.

C. Variabel Penelitian

Agung (2010 : 46) mengemukakan bahwa:

Variabel adalah Karakteristik yang akan diobservasi dari satuan pengamatan dengan kata lain variabel adalah faktor yang apabila diukur akan memberikan nilai yang bervariasi dan menjadi sesuatu yang menjadi penentu.

Sementara Sugiono (2009 : 38) mengemukakan bahwa variabel adalah suatu atribut, sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang

mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Definisi lain dikemukakan oleh Setyosari (2010 : 109-110) yang menyebutkan macam-macam variabel ada delapan, dua diantaranya variabel bebas dan variabel terikat. Menurutnya:

Variabel bebas adalah variabel yang menyebabkan atau mempengaruhi yaitu faktor-faktor yang diukur, dimanipulasi atau dipilih oleh peneliti untuk menentukan hubungan antara fenomena yang diobservasi atau diamati. Sedangkan variabel terikat atau tergantung adalah faktor-faktor yang diobservasi dan diukur untuk menentukan adanya pengaruh variabel bebas, yaitu faktor yang muncul atau berubah sesuai dengan yang diperkenalkan oleh peneliti ini.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa variabel bebas dalam penelitian ini adalah efektifitas metode kerja kelompok di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bontoharu Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah motivasi belajar siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bontoharu Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar.

D. Definisi Operasional

1. Efektifitas metode kerja kelompok adalah terlaksananya semua tugas pokok, tercapainya tujuan, waktu, dan adanya partisipasi aktif dari anggota dalam hal ini siswa untuk memecahkan suatu masalah atau untuk menyerahkan suatu pekerjaan yang perlu dikerjakan bersama-sama.

2. Motivasi belajar siswa adalah daya penggerak yang berasal dari dalam dan luar diri seseorang untuk belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

E. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi merupakan keseluruhan yang menjadi sumber data dan informasi agar penelitian lebih terarah. mengenai sesuatu yang ada hubungannya dengan penelitian yang dibutuhkan. Suharsimi Arikunto (2004: 102) mendefinisikan populasi adalah:

Keseluruhan objek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah peneliti maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Studi atau penelitiannya juga disebut studi populasi atau studi kasus.

Sedangkan Sugiyono (2009 : 80) mengartikan “populasi adalah generalisasi yang terdiri atas, objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”.

Menurut Masyhuri dan M. Zainuddin (2009 : 152):

Populasi didefinisikan sebagai sekelompok subyek yang hendak dikenai generaslisasi hasil penelitian. Sekelompok subyek ini harus memiliki ciri-ciri atau karakteristik bersama yang membedakanya dari kelompok subyek lainnya. Ciri yang dimaksud tidak terbatas hanya sebagai ciri lokasi, akan tetapi dapat terdiri dari karakteristik-karakteristik individu.

Definisi lain dikemukakan oleh Mardalis (2009 : 53) bahwa

“populasi adalah semua individu yang menjadi sumber pengambilan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa populasi adalah sekelompok subyek yang akan diteliti yang mempunyai ciri-ciri dengan memberikan informasi baik itu mencakup benda, manusia, kejadian, atau hal-hal yang ada kaitannya dengan urgensi guru Agama Islam dalam membentuk mental spiritual siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bontoharu Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar. Dalam kaitannya dengan penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh guru dan siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bontoharu Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar.

Tabel 1

Keadaan populasi guru Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bontoharu Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar

tahun ajaran 2012 / 2013

No Guru dan siswa Jenis kelamin Jumlah

Laki-laki Perempuan

1 Guru 8 14 22

2 Kelas VII 25 30 55

3 Kelas VIII 29 29 58

4 Kelas IX 21 20 41

Jumlah 83 93 176

Sumber data : Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bontoharu Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar tahun ajaran 2012 / 2013

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah guru dan siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bontoharu Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar tahun ajaran 2012 / 2013 adalah 176 orang.

2. Sampel

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2009 : 740) disebutkan bahwa:

Sampel merupakan sesuatu yang dipergunakan untuk menunjukkan sifat suatu kelompok yang lebih besar, sampel juga diartikan sebagai bagian dari populasi statistik yang cirinya dipelajari untuk memperoleh informasi tentang seluruhnya.

Definisi sampel dikemukakan oleh Mardalis (2009 : 55) bahwa

“sampel sebagai contoh, yaitu sebagian dari seluruh individu yang menjadi obyek penelitian”. Sementara itu Ahmad (2003 : 104-105) mengemukakan tentang teknik pengambilan sampel dalam penelitian kualitatif deskriptif tidak ditekankan pada penarikan besarnya jumlah yang mewakili populasi melainkan keterwakilan berdasarkan karakteristik populasi.

Sedangkan Sugiyono (2009 : 215) berpendapat bahwa:

Sampel adalah Sebagian dari Populasi itu. Pengambilan sebahagian dari keseluruhan individu atau populasi yang menjadi obyek penelitian itu, karena mengingat biaya, waktu dan pikiran yang begitu banyak diperlukan jika harus diteliti secara keseluruhan.

Adapun Beni Ahmad Saebani (2008 : 169-170) menguraikan cara-cara penarikan sampel adalah sebagai berikut:

a. Tentukan batasan yang tegas tentang sifat-sifat populasi kemudian tetapkan sampelnya.

b. Tentukan sumber-sumber informasi tentang populasi c. Tetapkan besar kecilnya sampel.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa sampel adalah contoh atau sebahagian dari subyek yang hendak diteliti, dan juga merupakan

yakni menentukan jumlah populasi yang ada dan menentukan batasan dari populasi kemudian menentukan besar kecilnya sampel.

Tabel 2

Keadaan sampel kepala sekolah, guru dan siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bontoharu Kecamatan Bontoharu Kabupaten

Kepulauan Selayar Tahun ajaran 2012 / 2013

No Guru Siswa Jenis Kelamin

Jumlah Sampel Laki-laki Perempuan

1 Guru 8 14 22 4

2 Kelas VII 25 30 55 11

3 Kelas VIII 29 29 58 12

Kelas IX 21 20 41 8

Jumlah 83 93 176 35

Tabel di atas menunjukkan bahwa sampel secara keseluruhan dari kepala sekolah, guru dan siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bontoharu Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar berjumlah.35 orang.

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam penelitian karena berfungsi sebagai alat atau sarana pengumpulan data. Karena itu dalam menentukan instrumen atau alat penelitiannya, harus relevan dengan masalah dan aspek yang diteliti agar dapat memperoleh data yang akurat. Adapun instrumen penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pedoman Observasi

Observasi yaitu pengamatan dan pencatatan secara langsung ke objek penelitian dengan sistematika fenomena-fenomena yang diselidiki.

Menurut Zaenal Arifin (2011 : 153):

Observasi adalah suatu proses pengamatan dan pencatatan secara sistematis , logis, obyektif dan rasional mengenai berbagai fenomena baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan untuk mencapai tujuan tertentu.

Sedangkan Wirawan (2010 : 253) mengemukakan bahwa:

Observasi adalah proses untuk menjaring data dengan menggunakan peneliti sebagai instrumennya. Peneliti menjaring data melalui pancaindera dengan melihat, mendengar, dan merasakan sendiri proses terjadinya suatu fenomena ilmu pengetahuan.

Sementara itu Margono (2005 : 159) membagi jenis observasi yaitu Observasi langsung adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap segala yang banyak pada objek penelitian, pengamatan dan pencatatan yang di lakukan terhadap objek tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa sehingga observasi berada bersama obyek yang di selidiki, sedangkan observasi tidak langsung adalah pengamatan yang di lakukan tidak pada saat berlangsungnya peristiwa yang akan di selidiki, misalnya di amati melalui film, rangkaian slide atau rangkaian foto.

Dalam arti luas Sutrisno Hadi dalam Sugiyono (2009 : 145) menjelaskan bahwa observasi merupakan proses yang kompleks, suatu proses biologis dan psikologis. Dua diantaranya yang terpenting adalah proses pengamatan dan ingatan.

Dengan demikian tujuan utama observasi adalah untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai suatu fenomena baik yang

berupa persitiwa, maupun tindakan serta untuk mengukur perilaku kelas baik perilkau guru maupun perilaku peserta didik.

Dalam kaitannya dengan penelitian ini maka peneliti akan melakukan pengamatan secara langsung tentang kondisi objektif siswa sebagai obyek, guru sebagai pendidik sekaligus motivator meliputi jenis kelamin pendidikan dan jabatan serta guru bidang studi,

Teknik tersebut dilakukan untuk mengumpulkan informasi yang akurat terhadap obyek penelitian khususnya yang berkaitan dengan efektivitas metode kerja kelompok dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam terhadap peningkatan motivasi belajar siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bontoharu Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar.

2. Pedoman Wawancara

Menurut Moleong Lexi (2010 : 186) menurutnya:

wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Maksud menyadarkan wawancara disini yaitu antara lain untuk mengkontruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain-lain.

Lebih jauh Beni Ahmad Saebani (2008 : 191) mengemukakan bahwa ada dua macam wawancara yaitu wawancara terstruktur, dan tidak terstruktur.

a. Wawancara terstruktur (Structured Interview)

Dalam melakukan wawancara pengumpul data telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah dipersiapkan. Dalam wawancara terstuktur ini

pengumpul data dapat menggunakan beberapa pewawancara sebagai pengumpul data. Agar setiap pewawancara mempunyai keterampilan yang sama, diperlukan training kepada calon pewawancara.

b. Wawancara tidak terstuktur (Unstructured Interview)

Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas yaitu peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.

Dalam hal ini peneliti akan melakukan percakapan langsung dengan Kepala Sekolah untuk melengkapi data-data yang diperlukan dalam penelitian dan dialog dengan para guru mata pelajaran untuk mengetahui kinerja mereka selama kegiatan belajar mengajar berlangsung di sekolah untuk kemudian direkonstruksi menjadi data-data penelitian yang akurat.

3. Pedoman Angket

Sebagian besar penelitian umumnya menggunakan kuesioner sebagai metode untuk mengumpulkan data. Kuesioner atau angket memang mempunyai banyak kebaikan sebagai instrumen pengumpul data.

Wirawan (2010 : 251) mengemukakan bahwa:

Kuesioner atau angket adalah instrumen untuk menjaring persepsi dan pendapat responden mengenai data kuantitatif (kuesioner terstruktur) dan kualitatif (kuesioner tidak terstruktur). Untuk mengembangkan kuesioner penelitian dimulai denga

Sementara itu Natsir (2006 : 246) mengemukakan bahwa:

Angket adalah kuesioner atau tidak lain dari sebuah pertanyaan yang secara logis berhubungan dengan masaalah penelitian dan pertanyaannya merupakan jawaban-jawaban yang mempunyai makna dan menguji hipotesa.

Dari angket ini peneliti berharap dapat mengumpulkan data-data yang dibutuhkan berhubungan dengan efektivitas metode kerja kelompok dalam pengajaran pendidikan agama islam terhadap peningkatan motivasi belajar siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bontoharu Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar dan pertanyaannya merupakan jawaban-jawaban yang mempunyai makna dan menguji hipotesa.

4. Pedoman Dokumentasi

Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data melalui bahan-bahan tertulis baik berupa buku, majalah, jurnal yang dianggap penting.

Menurut Moleong (2010 : 216-217) dokumen adalah setiap bahan tertulis maupun film yang bersifat dokumen pribadi maupun dokumen resmi. Dari dokumen ini peneliti berharap dapat mengumpulkan data-data yang yang ada hubungannya dengan efektivitas metode kerja kelompok dalam pengajaran pendidikan agama islam terhadap peningkatan motivasi belajar siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bontoharu Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar.

G. Teknik Pengumpulan Data

Teknik selanjutnya dalam melaksanakan penelitian yaitu dengan metode penelitian lapangan (Field Research) yang mengharuskan peneliti untuk terjun langsung ke lokasi penelitian di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bontoharu Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar.

Oleh karena itu data yang dikumpulkan ini bersifat empiris Adapun metode-metode yang digunakan dalam pengumpulan data ini adalah sebagai berikut:

1. Observasi

Instrumen observasi dilakukan dengan mengamati langsung dan mencatat gejala-gejala yang diselidiki terhadap obyek penelitian utamanya mengamati efektivitas metode kerja kelompok dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam terhadap peningkatan motivasi belajar siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bontoharu Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar. Kemudian peneliti melakukan pencatatan terhadap hasil pengamatan untuk dijadikan data-data penelitian yang akurat.

2. Wawancara

Instrumen wawancara mengharuskan peneliti melakukan wawancara secara langsung dengan mengajukan beberapa pertanyaan secara lisan kepada informan yang ditetapkan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dengan responden yang dipilih yaitu guru Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bontoharu Kecamatan Bontoharu

3. Angket

Instrumen angket megharuskan peneliti melakukan pengumpulan data dengan cara memberikan sejumlah pertanyaan tertulis kepada responden terpilih untuk dijawab tentang efektivitas metode kerja kelompok dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bontoharu Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar.

4. Dokumentasi

Instrumen dokumentasi mengharuskan penulis mengumpulkan data melalui bahan tertulis berupa buku-buku, majalah-majalah, jurnal-jurnal penting yang terdapat di kantor atau di instansi pemerintah tentang efektivitas metode kerja kelompok dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bontoharu Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar.

H. Teknik Analisis Data

Setelah data-data seluruhnya terkumpul, penulis kemudian mengolah data-data tersebut dengan menggunakan teknik sebagai berikut:

1. Kuantitatif yakni, bentuk analisis dengan menggunakan angka-angka yang disajikan dalam bentuk tabel. Adapun data-data yang dianalisis secara kuantitatif adalah data-data tentang efektivitas metode kerja kelompok dalam pengajaran Pendidikan Agama

Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bontoharu Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar.

2. Kualitatif yakni, bentuk analisis yang menginterpretasi data-data yang diperoleh. Dalam kaitan ini peneliti akan menganalisis tentang efektivitas metode kerja kelompok dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bontoharu Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar.

3. Deduktif yaitu metode pengolahan data yang berangkat dari hal-hal yang bersifat umum kepada hal-hal-hal-hal yang bersifat khusus atau kesimpulan.

4. Metode komparatif yaitu membandingkan antara pendapat yang satu dengan pendapat yang lainnya, kemudian mengambil suatu kesimpulan dengan argumentasi penulis sendiri.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Selayang Pandang Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar

Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar didirikan oleh pemerintah Daerah pada tahun 2001 dan mendapat perubahan pada tahun 2004 terletak di Desa Bontoharu kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar dengan kepala sekolah sekarang Amiruddin.

Adapun visi dan misi Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar yaitu:

a. Visi sekolah : unggul dalam mutu, berpijak pada iman dan taqwa serta berwawasan bahari

b. Misi sekolah : 1. Melaksanakan pembelajadan dan bimbingan serta efektif sehinga setiap siswa berkembang secara optimal,sesuai dengan potensi yang dimiliki.

2. Menumbuhkan semangat keunggulan serta intensif kepada seluruh warga sekolah

3. Menyediakan dan menfaatkan sarana dan prasarana secara maksimal sehingga tercipta pembelajaran yang cerdas dan menyenangkan

4. Menumbuhkan dan mendorong keunggulan dalam penerapan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni

5. Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang diikuti dan budaya bangsa sehingga terbangun siswa yang kompeten berakhlak mulia 6. Mendorong lulusan yang berkualitas,

berprestasi, berakhlak tinggi dan bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa.

a. Keadaan guru

Guru adalah merupakan salah satu faktor pendukung dalam meningkatkan kualitas para peserta didik, oleh karena itu profesionalisme guru sangatlah diperlukan oleh setiap sekolah terutama Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar.

Kemampuan guru dalam menguasai materi serta metode mengajar sangatlah penting untuk mewujudkan tercapainya tujuan. Dan untuk mengetahui keadaan guru SMP Negeri 2 Bontoharu Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3

Keadaan Guru SMP Negeri 2 Bontoharu Tahun Ajaran 2012 / 2013

No Nama Status / Jabatan Bidang studi yang

diajarkan 1 Amiruddin, S. Pd Kepala sekolah Matematika

2 Jalaluddin Guru IPS

3 H.Solihing, S. Pd Guru Bhs. Inggris

4 Abd. Rahman Guru IPA

5 A.Rukma, A. Md, Pd Guru Kertakes

6 Nurhayati Guru Kertakes

7 Julia Intang, S. Pd Guru IPA

8 Mei Asti Adam, S. Pd Guru PKN

9 Bunga Daeng, S. Pd Guru IPS

10 Kartia, S. Ag Guru IPA

11 A.Rusnawati, S.Pd Guru Mulok

12 Sucitrawati, S. Pd Guru Bhs.Indonesia

13 Ali Nur, S. Pd Guru TIK

14 Nur Huda, S. Pd Guru Pend.Al Quran

15 Karmila Guru Bhs. Indonsia

16 Abd.Haling Guru TIK

17 Roswanti Guru Pend.Al Quran

18 Ahmad Rifai, A. Ma Guru Mulok

19 Puspa Julia, S. Pd Guru Bhs.Inggris

20 Muhadi, A. Md.Pd. OR Guru Penjas

21 Andi Sulaeha, S. Pd.I Guru Pendais

22 Nur Fitriani Nasir, S. Pd Guru Bhs. Inggris Sumber Data: SMP Negeri 2 Kecamatan Bontoharu Kabupaten

Kepulauan Selayar 2012 / 2013

b. Keadaan Siswa.

Keadaan siswa yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah mengenai banyaknya siswa sebagai responden. Untuk lebih jelasnya keadaan siswa SMP Negeri 2 Bontoharu Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar tahun ajaran 2012 / 2013, dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4

Keadaan Siswa SMP Negeri 2 Bontoharu Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar Tahun Ajaran 2012 / 2013

No Kelas Jenis Kelamin Jumlah

Laki-laki Perempuan

1 Kelas VII 25 30 55

2 Kelas VIII 29 29 58

3 Kelas IX 21 20 41

Jumlah 75 79 154

Sumber Data: SMP Negeri 1 Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar 2012 / 2013

Tabel di atas, menunjukkan bahwa jumlah siswa SMP Negeri 2 Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar dalam tahun ajaran 2012 / 2013 sebanyak 154 orang.

c. Keadaan sarana dan fasilitas belajar.

c. Keadaan sarana dan fasilitas belajar.

Dokumen terkait