SERTA PELUANG PENGGUNAAN TEMPORARY
IMMERSION SYSTEM PADA PERBANYAKAN
KOPI ARABIKA
Abstrak
Kultur in vitro memerlukan sukrosa sebagai sumber karbon dan agar untuk memadatkan media. Mahalnya harga sukrosa dan agar merupakan kendala tersendiri dalam perbanyakan tanaman menggunakan teknik embriogenesis somatik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji kemungkinan penggunaan gula pasir dan agar komersial dalam embriogenesis somatik kopi Arabika. Penelitian tahap pertama menggunakan media dasar yang diberi kinetin 9.30 µM. Perlakuan yang diuji : sukrosa 35 g L-1 + phytagel 2.5 g L-1, gula pasir 35 g L-1 + phytagel 2.5 g L-1, dan gula pasir 2.5 g L-1 + agar komersial (Swallow) 9 g L-1. Tahap kedua, embrio fase torpedo dipindahkan ke medium perkecambahan dengan media dasar yang diberi BAP 1.33 µM. Perlakuan yang diuji adalah media dengan sukrosa 40 g L-1 + phytagel 2.5 g L-1, sukrosa 40 g L-1 + phytagel 1.5 g L-1, gula pasir 40 g L-1 + phytagel 2.5 g L-1, gula pasir 40 g L-1 + agar komersial 9 g L-1. Tahap ketiga embrio fase torpedo dipindahkan ke dalam Temporary Immersion System (merek RITA). Hasil penelitian tahap pertama memperlihatkan bahwa regenerasi kalus kopi Arabika mengalami penurunan yang nyata ketika menggunakan gula biasa dan agar komersial. Pada penelitian tahap kedua perkecambahan embrio tidak menunjukkan beda nyata ketika diberi gula pasir, baik pada phytagel 2.5 dan 1.5 g L-1 dan menunjukkan penurunan yang nyata ketika mengunakan agar komersial. Pemakaian RITA dengan penggunaan gula pasir tidak memberikan hasil yang berbeda nyata untuk semua karakter yang diamati.
Kata kunci : Agar komersial, Coffea arabikaL, embriogensis somatik, gula pasir, RITA
6. THE EFFICIENCY OF SUCROSE AND PHYTAGEL APPLICATION AND THE POTENCY OF TEMPORARY IMMERSION SYSTEM
USAGE FOR ARABICA COFFEE PROPAGATION
Abstrak
In vitro culture requires sucrose as carbon source and seaweed gel for condensing media. However, the price of sucrose and agar were quite expensive, causing difficulties in plant propagation using somatic embryogenesis technique. The purpose of this study was to examine the possibility to utilize sugar table and commercial agar in somatic embryogenesis of Arabica coffee. The first stage was testing basic media supplemented with kinetin 9.30 µM. Treatments tested were medium added with sucrose 35 g L-1 + Phytagel 2.5 g L-1, sugar table 35 g L-1 + Phytagel 2.5 g L-1, and sugar table 2.5 g L-1 + commercial agar powder (Swallow) 9 g L-1. In the second one, the torpedo stage embryos were transferred into germination medium which was basic media added with BAP 1.33 µM. The treatments examined were germination medium basic media + BAP 1.33 µM combined with sucrose 40 g L-1 + Phytagel 2.5 g L-1, sucrose 40 g L-1 + Phytagel 1.5 g L-1, sugar table 40 g L-1 + Phytagel 2.5 g L-1, sugar table 40 g L-1 + commercial agar 9 g L-1. Furthermore, on the third stage, the torpedo stage embryos were transferred into Temporary Immersion System (merck RITA). From the first stage, it revealed that the application of sugar table and commercial agar inhibited the regeneration of Arabica coffee callus. However, result from the second stage indicated that the application of sugar (supplemented both with Phytagel 2.5 or 1.5 g L-1) gave no significant effect on embryo germination. However, the application of commercial agar significantly hampered embryo germination. The use of sugar table in RITA had no significant effect on all parameters observed.
Keywords : Coffea arabika L, somatic embryogenesis, sugar table, commercial agar, RITA
Pendahuluan
Kultur in vitro memerlukan nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangan sel, jaringan maupun organ. Komponen yang diperlukan tidak hanya unsur hara
makro, hara mikro, dan vitamin saja, namun harus dilengkapi oleh sukrosa. Pemberian sukrosa dalam media kultur sangat diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan biakan kultur in vitro. Sejumlah species tanaman pada kultur in vitro melalui aktivitas fotosintesis hanya mampu menyediakan karbohidrat dalam jumlah sedikit. Hal ini dikarenakan planlet yang dihasilkan bersifat autotropik (George 1993; George et al. 2008).
Sukrosa merupakan salah satu jenis karbon yang digunakan sebagai sumber energi dan telah digunakan dalam perbanyakan kultur in vitro untuk berbagai tujuan. Selain sebagai sumber energi, sukrosa juga berperan dalam senyawa osmotikum, pelindung stress, molekul sinyal pada tanaman (Lipavska & Konradora 2004; George et al. 2008), ploriferasi tunas dan daya hidup eksplan (Priyakumari et al. 2002), serta pada species tanaman yang sulit diperbanyak secara in vitro dapat memaksimalkan aktivitas zat pengatur tumbuh (Ramage & Williams 2002). Pada kultur in vitro sukrosa pada umumnya diberikan dalam jumlah 2-5% (Bridgen 1994; George et al. 2008), sementara dalam kultur kopi melalui embriogensis somatik, sukrosa diberikan pada kisaran 2-4% tergantung pada tahap perkembangan kultur (Etienne 2005; Samson et al. 2006; Rezende et al. 2012).
Selain sukrosa, jenis dan konsentrasi pemadat (agar) di dalam kultur in vitro dilaporkan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan (Cardoso et al. 2007). Keberadaan agar diperlukan untuk memadatkan media dengan tujuan supaya eksplan tetap bisa berada dipermukaan media. Konsentrasi agar yang diperlukan sangat tergantung dari jenis agar yang digunakan. Dalam kultur in vitro beberapa jenis pemadat yang biasa digunakan diantaranya adalah Agar, Bacto agar, Agarose, Gellan gum, dan Gelrite (George et al. 2008).
Peneliti terdahulu telah menggunakan berbagai jenis agar untuk kultur in vitro kopi. Rezende et al. (2012) menggunakan phytagel sebanyak 3.4 g L-1 pada kultur in vitro kopi. Etienne (2005) menggunakan phytagel 2.5 g L-1 untuk menginduksi kalus embriogenik kopi. Gatica-arias (2008) menggunakan Gelrite 2 g L-1 untuk perkecambahan biji, dan 2.5 g L-1 untuk induksi kalus dan perkembangan embrio. Rezende et al. (2012) menggunakan agar 5 g L-1 untuk induksi kalus dan perkembangan embrio kopi, sementara Fernandez-Da Silva et al. (2005) menggunakan agar 8 g L-1 dalam menginduksi embrio somatik primer dan sekunder kopi.
Biaya komponen media yang tinggi sering menjadi kendala didalam perbanyakan kopi melaui embriogenesis somatik. Pembiayaan untuk pembelian bahan kimia yang tergantung dengan nilai tukar rupiah dan masa indent yang lama menjadi faktor pembatas yang terkadang sangat menyulitkan dalam proses kultur in vitro. Salah satu bahan kultur yang paling banyak diperlukan dalam pembuatan media adalah sukrosa. Sumber karbon seperti sukrosa berkontribusi sekitar 34% dari biaya produksi. Tidak hanya sukrosa, agar pemadat seperti phytagel juga dibutuhkan dalam jumlah yang tidak sedikit. Penggantian sukrosa menjadi gula pasir dan phytagel menjadi agar komersial diharapkan dapat menekan biaya dalam pembuatan media kultur.
Dalam perbanyakan massal disamping harga media, penggunaan alat tertentu untuk tujuan mempermudah penanganan kultur biasanya akan menjadi pertimbangan tersendiri. Di laboratorium ternama penggunaan Temporary Immersion System sudah diaplikasikan untuk perbanyakan kultur kopi, namum dalam aplikasinya belum ada yang menggunaan gula pasir.
Pada penelitian terdahulu penggunaan beberapa bahan pemadat seperti phytagel, gelrite, gellan gum, dan agar telah digunakan dalam pementukan kalus dan perkembangan embrio kopi, sementara penggunaan gula pasir dan agar komersial (Swallow) untuk meminimalkan pengeluaran belanja kultur belum pernah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji kemungkinan penggunaan gula pasir dan agar komersial dalam embriogenesis somatik kopi Arabika. Disamping penggunaan media padat, kemungkinan penggantian sukrosa menjadi gula pasir dalam media cair pada Temporary Immersion System (merek RITA®) juga dicobakan.
Bahan dan Metoda
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman, Unit Pengembangan Benih Unggul Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Indonesia. Penelitian berlangsung dari Mei 2013 sampai Mei 2015. Penelitian terdiri atas 3 kegiatan yaitu :
1. Respon kalus embriogenik terhadap penggunaan sukrosa dan phytagel Kalus embriogenik disubkultur ke media MS 1/2 konsentrasi garam makro dan mikro, vitamin B5 (yang dimodifikasi) yang diberi penambahan zat pengatur tumbuh kinetin 9.30 µM. Perlakuan yang diuji adalah media dengan pemberian sukrosa 35 g L-1 dan phytagel 2.5 g L-1, gula pasir 35 g L-1 dan phytagel 2.5 g L-1, dan gula pasir 35 g L-1 dengan agar komersial (Swallow) 9 g L-1. Perlakuan diulang sebanyak 10 kali, dimana setiap ulangan terdiri atas satu botol yang berisi klam kalus dengan berat masing-masing ± 0.2 g kalus, sehingga untuk masing- masing perlakuan dikulturkan sebanyak ± 5 g kalus. Kultur diinkubasi dalam ruangan gelap yang bersuhu 25 °C. Peubah yang diukur adalah berat kalus dan persen kalus yang membentuk embrio somatik.
2. Daya regenerasi efisiensi penggunaan sukrosa dan phytagel.
Embrio fase torpedo dipindahkan ke medium perkecambahan yaitu 1/2 konsentrasi garam makro dan mikro MS, vitamin B5 (yang dimodifikasi), zat pengatur tumbuh BAP 1.33 µM, sukrosa 40 g L-1. Perkecambahan embrio dilakukan di bawah penyinaran lampu selama 16 jam dengan intensitas penyinaran 1000-1500 luks, pada suhu 25 oC dengan kelembaban relatif ± 60%. Perlakuan yang diuji adalah media dengan pemberian sukrosa 40 g L-1 dan phytagel 2.5 g L-1, sukrosa 40 g L-1 dan phytagel 1.5 g L-1 (semi padat), gula pasir 40 g L-1 dan phytagel 2.5 g L-1, gula pasir 40 g L-1 dengan agar komersial (Swallow) 9 g L-1.
Perlakuan diulang sebanyak 10 kali, dimana setiap ulangan terdiri atas satu botol yang berisi sepuluh embrio somatik fase torpedo, sehingga untuk masing- masing perlakuan dikulturkan sebanyak 100 embrio somatik. Peubah yang diamati adalah jumlah torpedo, jumlah kecambah, jumlah planlet, tinggi planlet, jumlah daun, jumlah buku, jumlah akar dan panjang akar.
Dua bulan setelah kultur, kecambah yang tumbuh kemudian disubkultur ke media yang sama. Perlakuan diulang sebanyak 20 kali. Satu botol terdiri dari satu kecambah. Peubah yang diamati adalah tinggi planlet, jumlah daun, jumlah buku, jumlah akar dan panjang akar.
3. Aplikasi penggunaan gula pasir dalam Temporary Immersion System
Embrio somatik fase torpedo dipindahkan ke dalam alat Temporary Immersion System merek RITA. Media perkecambahan yang digunakan adalah media MS dengan konsentrasi 1/2 garam makro dan mikro MS, vitamin B5 (yg dimodifikasi), dan ZPT BAP 1.33 µM. Perlakuan yang diuji adalah penambahan sukrosa dan gula pasir sebanyak 40 g L-. Sebanyak 150 ml media dituangkan ke peralatan RITA. Media disterilkan menggunakan autoklaf pada suhu 121oC selama 20 menit dengan tekanan 1.5 atm.
Alat RITA diprogram untuk memompa media setiap 15 menit sekali dengan periode 4 jam. Setiap satu bulan sekali dilakukan sub kultur ke media yang sama. Perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Masing- masing ulangan terdiri dari 30 torpedo. Sehingga dalam 1 ulangan ada 90 embrio fase torpedo. Perkecambahan embrio dilakukan dalam penyinaran selama 16 jam dengan intensitas penyinaran 1000-1500 luks pada suhu 25 oC dengan kelembaban relatif ± 60%.
Analisis Data
Pada kegiatan satu dan dua, data yang diperoleh diuji secara statistik dengan metode racangan acak lengkap. Jika terdapat perbedaan yang nyata akan dilakukan uji lanjut mengunakan uji jarak dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf uji 5%. Pada kegiatan ketiga data diuji menggunakan T test.
Hasil dan Pembahasan
1. Respon kalus embriogenik terhadap penggunaan sukrosa dan phytagel Tiga bulan dalam media regenerasi pemberian sukrosa 35 g L-1 dan gula pasir 35 g L-1 memberikan pengaruh terhadap berat kalus dalam proses regenerasi kalus embriogenik kopi Arabika. Hasil analisis statistik menunjukkan bobot kalus menurun secara nyata ketika media diberi perlakuan gula pasir 35 g L-1, baik yang dikombinasikan dengan phytagel 2.5 g L-1 maupun dengan agar komersial 9 g L-1. Berat terendah 0.74 g didapatkan pada perlakuan gula pasir 35 g L-1+ agar komersial 9 g L-1. Penekanan terhadap panambahan bobot basah kalus kemungkinan besar dikarenakan adanya cemaran logam yang tergandung dalam gula pasir yang berdampak buruk terhadap pertumbuhan dan perkembangan kalus kopi Arabika.
Gambar 28. Rataan bobot basah kalus kopi Arabika dalam media regenerasi 3 bulan setelah kultur
Gambar 29. Rataan jumlah torpedo kopi Arabika dalam media regenerasi 6 bulan setelah kultur
Enam bulan dalam media regenerasi, embrio globular telah tumbuh dan berkembang menjadi embrio somatik fase torpedo. Sejalan dengan pertambahan berat kalus, jumlah embrio somatik fase torpedo yang dihasilkan juga berbeda nyata ketika media diberi perlakuan gula pasir yang dikombinasikan dengan phytagel atau agar komersial. Jumlah torpedo terendah sebanyak 43.40 didapatkan pada perlakuan gula pasir 35 g L-1 + agar komersial 9 g L-1. Penurunan ini menandakan bahwa pemberian sukrosa 35 g L-1 dan phytagel 2.5 g L-1 belum dapat digantikan oleh penggunaan gula pasir 35 g L-1 dan agar komersial 9 g L-1.
Penurunan jumlah torpedo yang dihasilkan ini antara lain disebabkan oleh perbedaan tingkat kemurnian antara gula pasir dan sukrosa. Gula konsumsi juga mengandung beberapa bahan kimia seperti belerang dioksida dan cemaran logam berat seperti ; timbal (pb) sebanyak 2.0 mg kg-1, tembaga (Cu) 2.0 mg kg-1, dan Arsen (A s)1.0 mg kg-1 (Standar Nasional, 2010). Belerang dioksida dan cemaran
logam berat yang masih diperbolehkan dalam kandungan gula pasir ternyata memberikan dampak buruk terhadap daya regenerasi kopi Arabika. Kemungkinan terbesar dari dampak yang ditimbulkan adalah dalam proses akumulasi pati dalam sel-sel kalus. Akumulasi pati dalam sitoplasma sel merupakan hal yang diperlukan untuk terjadinya marfogenesis pembentukan kalus dan regenerasinya. Pati berasal dari sukrosa yang ditambahkan ke medium kultur bertindak sebagai sumber energi cadangan sel yang sangat dibutuhkan dalam proses marfogenesis (George 1993; Saji dan Sujatha 1998 ; Trope et al 1986).
2. Pengecambahan Embrio Somatik dan Regenerasi Tanaman
Embrio somatik fase torpedo terlihat mulai berkecambah pada umur 2 bulan setelah di kulturkan dalam media perkecambahan. Pada pengamatan di bulan ke 4 kecambah mulai berkembang menjadi kotiledon dan planlet, namun masih dijumpai adanya torpedo yang belum berkecambah (Gambar 30). Jumlah torpedo yang paling banyak ditemukan pada media yang diberi gula pasir dan agar komersial tidak berbeda nyata dengan gula pasir dan phytagel. Bertolak belakang dengan jumlah torpedo, jumlah kecambah dan planlet justru lebih tinggi pada perlakuan sukrosa dan phytagel (padat dan media semi padat).
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa jumlah torpedo, jumlah kecambah dan planlet tidak berbeda nyata antara media yang mengunakan sukrosa dan gula pasir, akan tetapi berbeda nyata ketika diaplikasikan dengan agar komersial. Ini memperlihatkan bahwa dalam proeses perkecambahan kopi Arabika penggunaan gula pasir 40 g L-1 dapat menggantikan sukrosa 40 g L-1. Akan tetapi pengaplikasian gula pasir 40 g L-1 dan agar swallow 9 g L-1 dapat menekan perkembangan embrio somatik. Ini terlihat dari perkembangan torpedo menjadi kecambah dan planlet yang menurun secara nyata ketika diberikan gula pasir dan agar komersial.
Gambar 30. Rataan jumlah torpedo, kecambah dan planlet kopi Arabika 4 bulan setelah kultur.
Gambar 31. Rataan karakter agronomi (A). Rataan tinggi (cm) dan panjang akar (cm), (B). Rataan jumlah daun, jumlah buku, dan jumlah akar planlet kopi Arabika 4 bulan setelah kultur.
Jumlah daun, buku, dan akar, hasil analisis statistik juga menurun secara nyata pada perlakuan gula pasir dan agar komersial 4 bulan setelah kultur. Untuk tinggi tanaman, mengurangi dosis phytagel (1.5 g L-1) membuat media menjadi semi padat, ternyata dapat mempercepat tinggi tanaman, akan tetapi tidak berpengaruh nyata pada panjang akar (Gambar 31A).
Setelah 4 bulan, kecambah yang dihasilkan kemudian di subkultur ke media yang sama, masing-masing kecambah ditanam di dalam satu botol. Sejalan dengan pengamatan dibulan ke empat, pada saat enam bulan setelah kultur tinggi tanaman yang tertinggi juga diperoleh pada perlakuan semi padat dan terendah pada perlakuan gula pasir dan agar komersial.
B A
Gambar 32. Rataan karakter agronomi.(A). Rataan tinggi (cm) dan panjang akar (cm), (B). Rataan jumlah daun, jumlah buku, dan jumlah akar planlet kopi Arabika 6 bulan setelah kultur
Jumlah daun, jumlah buku, jumlah akar dan panjang akar tertinggi diperoleh pada perlakuan sukrosa dan phytagel, sementara yang terendah pada perlakuan gula pasir dan agar komersial (Gambar 32). Analisis statistik menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata antara sukrosa (40 g L-1) dan phytagel (2.5 g L-1) dengan gula (40 g L-1) dan phytagel (2.5 g L-1) untuk semua karakter agronomi yang diamati pada saat 6 bulan setelah kultur. Hasil ini menunjukkan bahwa gula pasir yang dipadatkan dengan phytagel dapat digunakan untuk media pertumbuhan planlet kopi Arabika.
B A
Penggunaan gula pasir juga telah digunakan pada penelitian ; Swamy et al. (2010) pada tanaman Pagostemon Cablin Benth, Hapsari et al. (2011) pada tanaman Zingiber officinale Rosc, Ogero et al. (2012) pada tanaman Manihot esculeta Crantz, Sharma et al. (2013) pada tanaman Stevia rebaudiana, dan Rajavel dan Stephan (2014) pada tanaman Tylophora indica (Burm f.) Merrill. Hasil penelitian tersebut diatas juga mendapatkan hasil yang sama baik, dimana tidak ada perbedaan yang nyata antara media tumbuh yang diberi sukrosa dengan gula pasir.
Pemberian agar komersial seperti swallow yang diberikan bersamaan dengan gula pasir dalam media kultur jaringan kopi secara statistik belum mampu menggantikan phytagel. Perbedaan tingkat kemurnian agar kemungkinan besar merupakan faktor penghambat dalam pertumbuhan kultur. Perbedaan tingkat kemurnian terlihat dari tingkat transparansi media. Media yang dipadatkan dengan phytagel terlihat lebih transparan dibandingkan dengan agar komersial. Semakin tinggi kemurnian agar yang digunakan, semakin sedikit jumlah agar yang dibutuhkan dalam membuat media (Priadi et al. 2008). Perbedaan respon tumbuh agar tidak hanya terlihat antara agar komersial dan phytagel saja, juga ditemui antara agar (Sigma), bacto agar (Sigma), gelan gum (Gelrite), phytagel (Sigma), potato dextrose agar, corn starch, dan oatmeal agar ketika diabplikasikan pada tanaman Syngonium podophyllum L. (Teixeira Da Silva 2015).
Terjadinya penurunan dalam karakter agronomi yang dihasilkan selain dikarenakan oleh tingkat kemurnian agar yang digunakan, juga disebabkan oleh adanya penambahan vanili untuk pengharum dan pewarna buatan pada agar komersial. Adanya vanili yang merupakan produk metabolisme sekunder dan pewarna buatan tersebut berdampak negatif pada pertumbuhan kultur. Selain itu dilaporkan produk phytagel hasil Typical ICP Analysis (%) menandung unsur Ca sebanyak 0.85, Mg 0.35, kalium 1,70, pospor 0.15, dan Natrium 0.45. Adanya senyawa yang merupakan unsur makro yang diperlukan dalam kultur jaringan tanaman dapat mendukung pertumbuhan kultur in vitro kopi.
Gambar 33. Keragaan planlet kopi Arabika 6 bulan setelah perlakuan. A. Sukrosa dan phytagel. B. Sukrosa dan phytagel (semi solid).
Planlet yang dihasilkan pada media semi solid terlihat lebih besar dengan warna daun yang lebih muda dibandingkan dengan media padat. Ciri semacam ini biasanya menunjukkan adanya gejala vitrifikasi pada planlet yang dihasilkan. Vitrifikasi pada kultur jaringan sering dijumpai pada media cair, akibat kelebihan air dalam sel tanaman. Pada kultur kopi gejala vitrifikasi juga ditemukan pada perlakuan semi padat namun tidak sampai menimbulkan keabnormalan. Hal ini sejalan dengan pernyataan dari sigma yang melaporkan bahwa penggunaan phytagel dapat menyebabkan vitrifikasi. Keragaan planlet setelah 6 bulan di media kultur yang diuji dapat dilihat pada gambar 33.
3. Aplikasi penggunaan gula pasir dalam Temporary Immersion System Embrio somatik yang dikulturkan mulai berkecambah pada saat 2 bulan dalam Temporary Immersion System (merek RITA). Tiga bulan dalam RITA jumlah planlet yang diperoleh tidak berbeda nyata antara media perkecambahan yang diberi sukrosa maupun gula pasir (Gambar 34). Jumlah planlet yang terbentuk jika dibandingkan dengan penggunaan botol kultur pada kegiatan sebelumnya, terlihat bahwa penggunaan RITA dapat mempercepat pertumbuhan kultur. Jika pada ada kegiatan sebelumnya jumlah planlet yang dihasilkan pada perlakuan sukrosa dan gula dengan penambahan phytagel pada 4 bulan setelah kultur hanya mencapai 50% dari jumlah torpedo yang ditanam, pada percobaan menggunakan RITA jumlah planlet yang ditanam pada saat 3 bulan mencapai 80 %. Ini berarti pengunaan Alat RITA dapat mempercepat proses perkecambahan dan pertumbuhan planlet.
Hasil pengamatan terhadap parameter agronomi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah buku, jumlah akar, dan panjang akar, pada umur 3 bulan dalam media pendewasaan, menunjukkan bahwa penggunaan sukrosa tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan gula pasir terhadap semua karakter (Gambar 35).
.
Gambar 35. Keragaan karakter agronomi. A. Tinggi planlet dan panjang akar, B. Jumlah daun, jumlah buku dan jumlah akar planlet kopi Arabika 3 bulan dalam alat RITA.
Sejalan dengan pengamatan di bulan ke 3, pada bulan ke lima juga memperlihatkan hal yang sama (Gambar 36). Penggantian sukrosa dengan gula pasir menyebabkan penurunan rataan tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah buku, jumlah akar, dan panjang akar namun secara statistik tidak berbeda nyata. Hasil ini mengindikasikan bahwa penggunaaan gula pasir komersial dapat digunakan dalam media pendewasaan embrio somatik kopi Arabika dengan mengunakan alat RITA. Keragaan planlet kopi Arabika dalam alat RITA ditampilkan pada Gambar 37.
A
Gambar 36. Keragaan karakter agronomi. A. Tinggi planlet dan panjang akar. B. Jumlah daun, jumlah buku dan jumlah akar planlet kopi Arabika 5 bulan dalam alat RITA.
Penggunaan gula pasir pada media menggunakan RITA dalam penelitian ini, memberikan alternatif baru dalam penghematan biaya pembuatan media. Penggunaan RITA juga telah dilaporkan oleh Alabarrán et al. (2005) pada perbanyakan kopi Arabika, dan Etienne (2005) pada perbanyakan kopi Arabika dan Robusta melalui embriogenesis somatik. Penggunaan RITA dilaporkan dapat mengurangi gejala vitrifikasi dalam perkembangan embrio somatik kopi yang terjadi ketika menggunakan media cair (Etienne et al. 2006). Penelitian penggunaan RITA pada juga dilaporkan lebih baik dibandingkan dengan media cair dan media semi padat pada tanaman Saccharum officinarum (Yang et al. 2010), Eucalyptus grandis, and hybrids (McAlister et al. 2005), Ananas comosus (pineapple) (Scheidt et al. 2009).
B A
Gambar 37. Keragaan perkecambahan embriogenesis somatik kopi Arabika memakai RITA. A. Media dengan sukrosa 1 bulan setelah perlakuan. B. Media dengan gula pasir 1 bulan setelah perlakuan. C. Media dengan gula pasir 3 bulan. D. Planlet yang berkembang di media dengan gula pasir siap untuk diaklimatisasi.
Simpulan
Penggunaan gula pasir 35 g L-1 yang dikombinasikan dengan phytagel 2.5 g L-1 dan agar komersial 9 g L-1 pada media regenerasi dapat menurunkan berat kalus dan jumlah embrio somatik yang dihasilkan. Berat terendah (0.74 g) dan jumlah embrio torpedo terkecil (43.40) didapatkan pada media yang diberi gula pasir 35 g L-1 dan agar komersial 9 g L-1. Penurunan daya berkecambah pada media perkecambahan tidak berbeda nyata ketika diberi perlakuan gula pasir 40 g L-1, baik pada phytagel 2.5 dan 1.5 g L-1 dan baru menunjukkan penurunan yang nyata ketika mengunakan agar komersial 9 g L-1. Tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah buku, jumlah akar dan panjang akar menurun secara nyata pada media perkecambahan yang diberi gula pasir 40 g L-1 dan agar komersial 9 g L-1. Penggunaan RITA dalam tahapan perkecambahan dengan media gula pasir 40 g L-1 secara statistik tidak berbeda nyata dengan sukrosa 40 g L-1 untuk tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah buku, jumlah akar dan panjang akar.
Daftar Pustaka
Alabarrán J, Bertrand B, Lartaud M, Etienne H. 2005. Cycle characteristics in a temporary immersion bioreactor affect regeneration, morphology, water and