• Tidak ada hasil yang ditemukan

5 AKTIVITAS PEMASARAN SAYURAN DI PANGALENGAN

6 EFISIENSI SALURAN PASAR TRADISIONAL DAN MODERN

Pengukuran efisiensi pemasaran baik di pasar tradisional maupun modern pada keempat komoditas sayuran dilihat dari efisiensi operasional yang terdiri dari marjin pemasaran dan farmer’s share, serta efisiensi harga yang dianalisis dengan integrasi pasar antara harga sayuran di tingkat pengecer terhadap harga di tingkat petani.

Marjin Pemasaran dan Farmer’s share Kentang

Marjin pemasaran terbagi sesuai dengan jumlah saluran pemasaran pada setiap komoditas. Adapun penetapan marjin pemasaran pada pasar modern kentang dibagi menjadi saluran 4a, 4b, 4c adalah berdasarkan harga jual yang dilakukan terhadap eksportir. Hal ini disebabkan karena kentang yang dijual kepada eksportir terdiri dari beberapa kualitas dengan harga yang berbeda. Oleh karena itu diberlakukan 3 ketentuan harga yaitu: (1) saluran 4a adalah ketika pedagang III dikenakan harga paling rendah dari ekportir yaitu kentang kualitas DN-TO sebesar Rp4 000 per kilogram; (2) saluran 4b adalah saluran dengan harga rata-rata dari semua grade kentang yang dijual pedagang III ke eksportir yaitu rata-rata harga jual dari kualitas super, medium, DN, dan TO sebesar Rp4 600 per kilogram; serta (3) saluran 4c menggunakan harga jual tertinggi dari kentang kualitas super yang dijual ke eksportir yaitu Rp5 500 per kilogram. Adapun rincian marjin pemasaran kentang dapat dilihat pada Lampiran 1.

Marjin pemasaran terbesar diantara keempat saluran pemasaran kentang yang terjadi di Pangalengan adalah pada saluran pemasaran pertama untuk saluran pemasaran tradisional dan saluran pemasaran 4c untuk saluran pasar modern yang berturut-turut nilainya Rp1 575 per kilogram dan Rp1 000 per kilogram. Total marjin pemasaran pada saluran kedua sebesar Rp1 325 per kilogram dan saluran ketiga sebesar Rp1 250 per kilogram. Marjin pemasaran pada saluran pertama paling besar terjadi di pedagang pengecer yaitu Rp500 per kilogram. Saluran kedua memiliki marjin pemasaran yang tersebar merata per lembaga yaitu sebesar Rp500 per kilogram. Marjin pemasaran terbesar di saluran ketiga juga terjadi di pedagang pengecer. Nilai marjin yang besar mengindikasikan adanya biaya pemasaran yang besar.

Mengkaji marjin di pasar modern, terdapat marjin yang nilainya paling kecil yaitu Rp500 pada saluran pasar 4a yang berlaku untuk asumsi kentang dengan kualitas dan harga jual paling rendah. Dengan demikian, pedagang III pada saluran tersebut lebih banyak mengeluarkan biaya pemasaran dibandingkan penerimaannya sehingga mengalami kerugian sebesar Rp25 per kilogram. Namun hal ini tertutupi dengan jumlah marjin pada saluran 4b dan 4c untuk kentang dengan kualitas rata-rata dan paling tinggi, dimana mendapatkan keuntungan berturut-turut sebesar positif Rp375 dan Rp475 per kilogram. Secara ringkas marjin dari pasar modern dan tradisional dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14 Marjin pemasaran dan farmer’s share kentang di Pangalengan periode

Januari-April 2013

Uraian Saluran Pemasaran (Rp/Kg)

1 2 3 4a 4b 4c

a. Harga Jual Petani 3 925 4 275 4 500 4 000 4 600 5 500

b. Marjin Pedagang I 400 - - - - -

c. Marjin Pedagang II 375 480 - - - -

d. Marjin Pedagang III - - 450 500 900 1 000

e. Marjin Grosir 300 345 300 - - -

f. Marjin Pengecer 500 500 500 - - -

g. Harga Jual konsumen 5 500 5 600 5 750 - - -

h. Eksportir - - - 4 500 5 500 6 500

Total Marjin 1 575 1 325 1 250 500 900 1 000

Rata-rata Marjin Tradisional: Rp1 383.33 Modern: Rp800

Marjin rata-rata dari saluran pasar tradisional adalah Rp1 383.33 per kilogram sedangkan dari saluran pasar modern rataannya adalah Rp800 per kilogram. Berdasarkan hasil tersebut, jika dinilai dari segi marjin pemasaran saja, maka pemasaran kentang di kecamatan Pangalengan lebih efisien terjadi di saluran pasar modern dibandingkan pasar tradisional karena menghasilkan marjin lebih kecil. Adapun marjin pemasaran terbesar di pasar tradisional dinikmati oleh pengecer. Hal ini terjadi karena para pedagang baik I, II, dan III mengandalkan kuantitas atau tonase kentang dalam penjualannya. Berbeda halnya dengan pengecer yang biasanya menjual dengan volume yang sedikit sehingga marjin yang dikenakan terhadap kentang per kilogramnya menjadi tinggi. Adapun di saluran pasar modern, marjin terbesar dinikmati oleh pedagang III karena melalukan fungsi pemasaran lebih banyak dalam menambah nilai guna produk.

Ukuran efisiensi operasional lain yang dilakukan pada penelitian ini adalah bagian harga yang diterima petani atau farmer’s share. Nilai farmer’s share tertinggi komoditi kentang di saluran pasar tradisional adalah pada saluran pasar 3 yaitu petani  pedagang III  grosir pasar  pengecer  Konsumen Dalam Negeri. Bagian yang diterima petani pada saluran pasar tersebut adalah 78.26 persen. Adapun pada saluran pasar modern, nilai farmer’s share tertinggi adalah pada saluran 4a yaitu petani  pedagang III  Eksportir  Konsumen Luar Negeri. Nilai bagian yang diterima petani pada saluran pasar tersebut mencapai 88.89 persen dengan asumsi penetapan harga kentang dengan kualitas terendah yaitu Rp4 500 per kilogram. Adapun nilai rata-rata farmer’s share pada saluran pasar tradisional adalah 75.32 persen sedangkan pada saluran pasar modern rataannya mencapai 85.71 persen. Berdasarkan nilai marjin pemasaran dan farmer’s share tersebut, maka pemasaran kentang di saluran pasar modern dapat dikatakan lebih efisien dibandingkan pasar tradisional. Adapun secara ringkas, farmer’s share kentang disajikan pada Gambar 9.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 1 2 3 4a 4b 4c i ii

Tradisional (i) modern (ii) Rataan

Farmer's Share 71.36 76.34 78.26 88.89 83.64 84.62 75.32 85.71 P er sent a se (%) Marketing Channels

Gambar 9 Farmer’s share kentang di Pangalengan periode Januari-April 2013

Tomat

Marjin pemasaran tertinggi pada saluran pasar tradisional adalah pada saluran satu yaitu petani Pedagang I  Pedagang II  Pedagang II  Grosir pasar induk  Pengecer  Konsumen dengan total marjin mencapai Rp1 550 per kilogram tomat. Adapun marjin tertinggi pada saluran pemasaran tomat modern adalah saluran keempat yaitu petani Pedagang III Eksportir  Konsumen yaitu Rp750 per kilogram. Sama halnya seperti kentang, pada komoditi tomat juga diberlakukan 3 harga pada saluran kelima. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa grade tomat yang diperjualbelikan ke restoran. Adapun 5a memberlakukan harga tomat paling rendah sebesar Rp4 500, 5b merupakan harga dengan kualitas rata- rata yaitu Rp7 237.50 dan 5c dengan kualitas super dengan harga jual Rp11 600. Saluran pemasaran kelima yaitu 5a, 5b dan 5c memiliki marjin bernilai nol karena merupakan pemasaran langsung dari petani ke restoran. Jika hanya dilihat pada indikator marjin pemasaran, maka saluran pemasaran tomat modern lebih efisien dibanding tradisional. Berdasarkan saluran pemasaran yang terbentuk, baik tradisional maupun modern maka marjin pemasaran tomat di kecamatan Pangalengan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 6. Adapun ringkasannya disajikan pada Tabel 15.

Tabel 15. Marjin pemasaran dan Farmer’s Share tomat di Kecamatan

Pangalengan periode januari-april 2013

Uraian Saluran Pemasaran (Rp/Kg)

1 2 3 4 5a 5b 5c

a. Harga Jual Petani 3950 4125 4600 5250 4500 7238 11600

b. Marjin Pedagang I 325 - - - -

c. Marjin Pedagang II 325 400 - - - - -

d. Marjin Pedagang III - - 500 750 - - -

e. Marjin Grosir 400 450 400 - - - -

f. Marjin Pengecer 500 600 400 - - - -

g. Harga Jual konsumen 5500 5575 5900 - - - -

h. Eksportir - - - 6000 4500 - -

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 1 2 3 4 5a 5b 5c i ii

Tradisional (i) modern (ii) Rataan

Farmer's Share 71.82 73.99 77.97 87.50 100.00 100.00 100.00 74.59 96.88 P er sent a se (%) Marketing Channels

Marjin pemasaran tertinggi pada saluran pasar tradisional tomat di Kecamatan Pangalengan dinikmati oleh pedagang pengecer. Hal ini terjadi karena pedagang pengecer menjual tomat dalam jumlah yang sedikit sehingga mengandalkan marjin yang cukup tinggi sedangkan pedagang I, II, dan III lebih mengandalkan kuantitas tomat atau volume penjualan. Total marjin pemasaran tertinggi terjadi di saluran pertama sebesar Rp1 550 per kilogram dimana marjin terbesar juga dinikmati oleh pedagang pengecer. Adapun di saluran pasar modern yaitu eksportir, nilai marjin lebih kecil bahkan bernilai nol untuk saluran kelima yaitu ke restoran.

Saluran pasar modern terdiri dari saluran 4, 5a, 5b, dan 5c. Adapun marjin pada saluran pasar modern yang paling tinggi adalah yang disalurkan ke eksportir yaitu mencapai Rp750. Hal ini terjadi karena pasokan ke eksportir hanya tomat dengan kualitas super saja. Oleh karena itu, petani menjual ke pedagang III yang juga memasarkan tomatnya ke pasar tradisional. Adapun marjin saluran kelima yang bernilai nol disebabkan petani langsung menjual langsung tomatnya ke restoran sehingga tidak ada lembaga perantara yang lain.

Berdasarkan indikator marjin pemasaran, dapat diketahui bahwa saluran pasar modern pada dasarnya merupakan saluran yang menguntungkan petani. Namun di sisi lain, permintaan tomat yang sedikit dari restoran menyebabkan petani harus menjual produksi tomatnya ke saluran pasar tradisional. Walaupun demikian, pada dasarnya pasar modern masih terbuka peluang yang cukup besar terutama untuk ekspor. Oleh karena itu, petani tomat harus dapat menghasilkan tomat dengan yang kualitasnya sesuai dengan spesifikasi kualitas ekspor. Hal tersebut dapat ditempuh dengan penerapan good agriculture practices melalui budidaya dan sistem pemasaran yang baik.

Adapun farmer’s share pada komoditi tomat secara ringkas ditunjukkan oleh Gambar 10.

Gambar 10 Farmer’s share tomat di Pangalengan periode Januari-April 2013 Nilai farmer’s share tertinggi yaitu 100 persen dihasilkan pada saluran kelima yang memasok ke pasar modern yaitu restoran. Farmer’s share rata-rata untuk saluran pasar tradisional adalah 74.59 persen sedangkan di saluran pasar modern adalah 96.57 persen. Pada dasarnya nilai farmer’s share pada penelitian ini tinggi karena harga tomat sedang mengalami peningkatan bahkan merupakan

harga tertinggi di sepanjang musim selama sepuluh tahun terakhir. Pada kondisi sebelumnya, harga tomat pernah mengalami penurunan mencapai angka Rp300 per kilogram sehingga biaya produksi petani dalam mengusahakan tomat pun tidak tertutupi. Oleh karena itu, di pembahasan selanjutnya dilakukan analisis integrasi pasar antara harga di tingkat petani dan harga di tingkat pengecer untuk komoditi tomat di Pangalengan.

Kubis

Komoditi selanjutnya yang menjadi pembahasan adalah kubis. Berdasarkan saluran pemasaran yang terbentuk, baik tradisional maupun modern maka marjin pemasaran kubis di kecamatan Pangalengan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 7. Adapun ringkasannya disajikan pada Tabel 16.

Tabel 16 Marjin pemasaran dan farmer’s share komoditi kubis di Kecamatan

Pangalengan periode Januari-April

Uraian Saluran Pemasaran (Rp/Kg)

1 2 3

a. Harga Jual Petani 1 940.00 2 050.00 2 500.00

b. Marjin Pedagang I 360.00 - -

c. Marjin Pedagang II 400.00 650.00 -

d. Marjin Grosir 300.00 300.00 -

e. Marjin Pengecer 500.00 500.00 -

f. Harga Jual Konsumen 3 500.00 3 500.00 -

g. Restoran - - 2 500.00

Total Marjin 1560.00 1450.00 0

Hasil analisis marjin pemasaran kubis menunjukkan bahwa di saluran pasar pertama, nilai marjin terbesar dinikmati oleh pedagang pengecer yaitu sebesar Rp500 per kilogram. Selanjutnya di saluran pasar kedua, marjin tertinggi juga dinikmati oleh pedagang pengecer yaitu sebesar Rp500 per kilogram. Adapun di saluran pasar modern, nilai marjinnya adalah nol karena petani langsung memasarkan produknya ke restoran. Jika dilihat hanya berdasarkan nilai marjin pemasaran ini, efisiensi pemasaran di saluran pasar modern lebih baik dibandingkan saluran pasar tradisional.

Nilai farmer’s share tertinggi di saluran pasar tradisional kubis adalah pada saluran pasar modern yaitu petani langsung menjual kubis ke restoran. Bagian yang diterima petani pada saluran pasar tersebut adalah 100 persen karena tidak ada lembaga pemasaran lain yang terlibat. Adapun pada saluran pasar tradisional baik satu maupun dua menghasilkan farmer’s share berturut-turut adalah 55.43 persen dan 58.57 persen. Berdasarkan nilai farmer’s share tersebut, maka pemasaran kubis di saluran pasar modern lebih efisien dibandingkan pasar tradisional. Nilai farmer’s share tomat secara lengkap dapat dilihat pada Gambar 11.

0 20 40 60 80 100 Tradisio nal 1 Tradisio nal 2 modern Farmer's Share 55.43 58.57 100.00 P er sent a g e (%) Marketing Channels

Gambar 11 Farmer’s share kubis di Pangalengan periode Januari-April 2013

Hal yang menarik untuk dianalisis pada pemasaran kubis ini adalah pada sistem tebasan yang dilakukan petani. Hal tersebut dipilih petani karena dianggap mudah dan simple karena petani tidak melakukan kegiatan pemasaran. Namun fakta yang terjadi petani justru mengeluarkan biaya lebih banyak karena harus membayar jasa peyedia informasi (calo) kepada pedagang I atau pedagang II. Terlihat pada saluran I dan II petani mengeluarkan biaya terbesar adalah untuk membayar penyedia jasa tersebut sedangkan biaya lainnya hanya sepertiga dari total biaya pemasaran yang dikeluarkan petani. Berbeda dengan petani yang memasok ke saluran pasar modern, biaya pemasaran yang dikeluarkan tidak mencakup biaya untuk penyedia jasa perantara karena kerjasama sudah terjalin sebelumnya melalui kontrak kerjasama. Biaya pemasaran pun lebih rendah jika dibanding dengan saluran II, yaitu Rp300 per kilogram dibanding Rp321.35 per kilogram.

Wortel

Komoditi keempat yang menjadi pembahasan adalah wortel. Wortel merupakan satu-satunya sayuran pada penelitian ini yang hanya dipasarkan ke pasar tradisional. Analisis marjin pemasaran pada wortel menunjukkan bahwa marjin tertinggi pada kedua saluran dinikmati oleh pedagang II yang berturut-turut nilainya adalah Rp533.33 per kilogram dan Rp542.82 per kilogram. Hal ini disebabkan oleh biaya pemasaran yang dilakukan oleh pedagang II merupakan yang paling tinggi dibanding lembaga pemasaran lainnya. Wortel bahkan juga dilakukan pencucian, sortasi dan pengepakan sehingga kualitas wortel di pasar tradisional sudah cukup baik.

Sama halnya seperti komoditi kubis, wortel juga dipasarkan oleh petani dengan dua cara yaitu dengan sistem tebas dan sistem abress atau per kilogram. Petani biasanya menjual wortel dengan sistem tebasan kepada pedagang I yang biasanya membutuhkan jasa perantara (calo). Pada saluran pertama dan kedua berturut-turut nilainya adalah Rp143.80 dan Rp42.86. Hal ini dilakukan petani dengan beberapa alasan. Pertama adalah alasan kepraktisan karena kegiatan pemanenan wortel membutuhkan waktu yang lama yang berbanding lurus dengan biaya tenaga kerja. Oleh karena itu, jika diserahkan kepada pedagang dalam penanganannya, maka petani tidak perlu mengeluarkan biaya untuk tenaga kerja atau tidak repot mencari tenaga kerja yang memang sulit dicari. Alasan kedua adalah karena petani yang sibuk. Petani tersebut biasanya memiliki pekerjaan lain

0 10 20 30 40 50 60 Tradisional 1 Tradisional 2 Farmer's Share 47.88 58.95 P er sent a se (%) Marketing Channels

yang membutuhkan penanganannya secara langsung. Oleh karena itu, untuk kegiatan pemanenan diserahkan langsung kepada pedagang. Marjin pemasaran secara terperinci dapat dilihat pada Lampiran 4 sedangkan ringkasan dari marjin pemasarannya dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17 Marjin Pemasaran dan Farmer’s share komoditi wortel di Kecamatan Pangalengan periode Januari-April

Uraian

Saluran Pemasaran (Rp/Kg)

1 2

a. Harga Jual Petani 1 532.04 1 928.57

b. Marjin Pedagang I 434.63

c. Marjin Pedagang II 533.33 542.86

d. Marjin Grosir 300.00 300.00

e. Marjin Pengecer 400.00 500.00

f. Harga Jual Konsumen 3 200.00 3 271.43

Total Marjin 1 667.96 1 342.86

Farmer's Share 47.88 58.95

Wortel adalah sayuran yang pada penelitian ini hanya dipasok ke pasar tradisional. Berdasarkan saluran yang terbentuk, nilai bagian yang diterima petani wortel adalah 47.88 persen dan 58.95 persen. Nilai ini merupakan nilai yang

paling rendah dibandingkan nilai farmer’s share pada komoditas lain seperti

kentang, tomat, dan kubis. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kegiatan pemasaran atau pasca panen yang menambah nilai produk, sebagian besar dilakukan oleh pedagang sedangkan petani hanya sampai pemanenan saja. Nilai farmer’s share wortel di Pangalengan periode Januari-April 2013 disajikan pada Gambar 12.

Gambar 12 Farmer’s share wortel di Pangalengan periode Januari-April 2013 Secara umum, jika dilihat dari nilai marjin pemasaran dan farmer’s share, dapat disimpulkan bahwa saluran pasar modern komoditas sayuran yaitu kentang, tomat, dan kubis lebih efisien dibandingkan saluran pasar tradisional. Adapun komoditi wortel yang dipasok hanya ke pasar tradisional memiliki farmer’s share kurang dari 60 persen.

Integrasi Pasar Sayuran di Pangalengan

Integrasi pasar vertikal merupakan pengukuran seberapa jauh pembentukan harga suatu komoditi pada satu tingkat lembaga atau pasar dipengaruhi oleh harga di tingkat lembaga lainnya. Secara sederhana adalah bagaimana harga di pasar lokal dipengaruhi oleh harga di pasar acuan dengan mempertimbangkan harga pada waktu yang lalu dengan harga yang terjadi pada saat ini. Perubahan harga pada pasar lokal dapat disebabkan oleh adanya perubahan marjin pada pasar lokal dan pasar acuan pada waktu yang sebelumnya (lag-time). Analisis integrasi pasar vertikal yang dianalisis yaitu integrasi jangka pendek dan integrasi jangka panjang.

Analisis integrasi pasar sayuran baik kentang, tomat, kubis, maupun wortel pada jangka pendek dianalisis dengan menggunakan Indeks Keterpaduan Pasar (IKP) atau Index of Market Connection (IMC). Nilai Indeks Keterpaduan Pasar (IKP) pada jangka pendek memperlihatkan hubungan antara pasar lokal dengan pasar acuan. Adapun analisis yang dilakukan pada penelitian ini adalah hubungan antara petani dengan pedagang eceran atau ritel saja. Hasil output komputer eviews keempat komoditas dapat dilihat pada Lampiran 5, 6, 7, dan 8. Secara ringkas intrepetasi hasil integrasi pasar dapat ditunjukkan oleh Tabel 18.

Tabel 18 Integrasi pasar komoditas sayuran Komoditas Koefisien Output IMC Integrasi b1 b2 b3 Jangka Pendek Jangka Panjang Kentang 0.779 0.112 -0.059 13.201 Tidak Terintegrasi Lemah

Tomat 0.372 0.660 0.503 0.739 Kuat Kuat

Kubis 0.699 0.258 0.208 3.359 Lemah Lemah

Wortel 0.727 0.349 0.165 4.403 Lemah Lemah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada komoditi kentang, petani tidak memiliki integrasi dengan pedagang eceran dalam jangka pendek. Hal ini ditunjukkan dengan nilai IMC yang tinggi. Artinya, perubahan harga kentang di tingkat ritel pada waktu sebelumnya tidak memengaruhi harga kentang di tingkat petani pada saat ini. Adapun pada komoditas kubis dan wortel, nilai IMC adalah lebih besar dari satu namun tidak tinggi terlalu tinggi. Hal ini menujukkan bahwa dalam jangka pendek integrasi yang terjadi antara petani dan pedagang pengecer bersifat lemah. Dengan kata lain, harga kubis dan wortel ditingkat petani saat ini dipengaruhi oleh harga kubis ditingkat ritel pada waktu sebelumnya meskipun hubungannya lemah. Adapun pada komoditas tomat, nilai IMC lebih besar dari 0.5 dan kurang dari 1, yaitu 0.739. Hal ini berarti integrasi jangka pendek yang terjadi bersifat kuat atau perubahan harga tomat di tingkat ritel pada waktu sebelumnya sangat memengaruhi harga tomat di tingkat petani. Namun pada komoditi tomat ditemukan permasalahan asumsi BLUE yang menyebabkan hasil analisis menjadi kurang representatif. Hal ini dimungkinkan karena beberapa hal, diantaranya terkait dengan data dan informasi dan cara pengambilan sampel. Pada komoditas sayuran lain juga ditemukan permasalahan asumsi BLUE, namun dengan mentransformasi model, beberapa permasalahan tersebut dapat diselesaikan. Secara lengkap koreksi model dapat dilihat pada Lampiran 5, 6, 7, 8.

Adapun hubungan jangka panjang antara pasar lokal dengan pasar acuan dapat dilihat dari nilai koefisien b2. Analisis yang dilakukan adalah melihat hubungan antara pasar lokal (petani) dengan pasar acuan (ritel). Nilai b2 yang kurang dari 0.5 pada komoditas kentang, kubis, dan wortel menunjukkan bahwa dalam jangka panjang petani memiliki integrasi pasar yang lemah dengan pedagang eceran. Hal yang berbeda terjadi pada komoditi tomat di mana hubungan antara petani dengan ritel dalam jangka panjang bersifat kuat yang ditunjukkan oleh nilai b2 lebih besar dari 0.5. Berdasarkan hasil analisis terkait integrasi pasar sayuran di Pangalengan, dapat diketahui bahwa secara umum sayuran di pasar tradisional belum terintegrasi dengan baik. Hal ini terjadi karena informasi pasar baik terkait dengan harga maupun volume sayuran di pasar yang dituju tidak dapat diakses oleh petani. Petani pangalengan umumnya mendapatkan informasi dari para pedagang besar dan itu pun selang beberapa waktu.

Harga yang berubah di pasar acuan, dalam hal ini harga ritel sangat dipengaruhi oleh pasokan nasional. Pada kasus kentang misalnya, ketika seorang petani ingin memasarkan kentangnya, pedagang yang hendak membeli hasil panen kentang akan mencari informasi terlebih dahulu terkait volume sayuran yang kira-kira akan masuk ke pasar tradisional seperti pasar induk Kramat Djati. Informasi tersebut diperoleh bukan dari dinas setempat melainkan mengandalkan koneksi dengan pedagang atau petani di daerah lain yang mungkin akan memasok kentang ke pasar Kramat Djati. Pedagang yang dihubungi tersebut berasal dari Dieng, Sumatera, Garut, dan daerah sentra produksi kentang lainnya. Oleh karena itu, integrasi harga pada komoditas kentang tidak terjadi pada jangka pendek, dan lemah pada jangka panjang.

Penurunan harga yang terjadi pada sayuran juga dipengaruhi oleh waktu panen dari petani. Jika panen petani dilakukan secara bersamaan, baik saling mengetahui satu sama lain antar petani ataupun tidak, maka pasokan akan melimpah dan menurunkan harga pasar. Oleh karena itu, diperlukan sebuah sistem informasi yang merekam data faktual terkait luas lahan sayuran di setiap daerah sentra produksi sayuran. Diharapkan dengan data tersebut, petani dapat terkoordinir dan terjadwal waktu panennya. Lebih jauh, dengan adanya informasi tersebut petani juga dapat merencanakan waktu tanam dan komoditas sayuran yang akan ditanamnya.

Dokumen terkait