• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive sampling) di tiga desa di Kecamatan Pangalengan yaitu Desa Pangalengan, Desa Margamekar, dan Desa Margamukti. Pemilihan ketiga desa tersebut adalah berdasarkan produksi tertinggi di Kecamatan Pangalengan. Data produksi keempat komoditas di Kecamatan Pangalengan dapat dilihat pada Tabel 3. Adapun komoditas sayuran yang diteliti adalah kentang, kubis, wortel, dan tomat. Komoditas yang masuk ke pasar modern dan pasar tradisional pada penelitian ini adalah kentang, tomat dan kubis, sedangkan wortel hanya memasuki pasar tradisional. Alasan pemilihan keempat komoditas sayuran tersebut adalah karena merupakan sayuran di Jawa Barat dengan produktivitas yang tinggi. Pengambilan data primer dilakukan dari bulan Maret sampai April 2013.

Tabel 3 Data produksi kentang, tomat, wortel, dan kubis di kecamatan Pangalengan tahun 2010

Nama Desa Total Produksi (Ton)

Kentang Tomat Wortel Kubis

Pangalengan 12 236 3 725 5 786 11 661 Margamukti 12 236 4 300 4 094 7 514 Margamekar 18 690 3 576 4 730 14 976 Sukaluyu 3 600 40 112 2 246 Margaluyu 6 012 2 160 2 420 7 032 Warnasari 8 200 1 700 2 774 8 918 Pulosari 2 600 2 415 0 2 425 Margamulya 9 636 4 176 4 324 10 332 Tribaktimulya 600 0 0 0 Banjarsari 3 420 380 480 2 100 Sukamanah 9 658 3 344 3 927 11 151 Wanasuka 2 088 320 620 2 375 Total 89 054 26 152 29 267 80 730

Sumber: Kecamatan Pangalengan, 2010

Jenis dan Sumber Data

Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan dari petani, pedagang, dan lembaga pemasaran sayuran yang ada di Kecamatan Pangalengan. Jumlah petani dalam penelitian ini adalah 31 orang yaitu 13 petani dari Desa Margamekar, 10 petani dari Desa Pangalengan, dan 8 petani dari Desa Margamukti. Jumlah petani responden dari masing-masing komoditas adalah berbeda. Jumlah petani kentang adalah 12 orang untuk pasar tradisional dan 4 orang untuk pasar modern; Petani tomat berjumlah 19 orang untuk pasar tradisional dan 5 orang untuk pasar modern; Petani kubis berjumlah 17 orang untuk pasar tradisional dan 1 orang untuk pasar modern; serta petani wortel berjumlah 10 orang yang keseluruhannya memasok ke pasar tradisional.

Jumlah responden tersebut berbeda karena setiap petani mengusahakan sayuran dengan sistem tumpang sari dengan komposisi yang berbeda. Adapun jumlah pedagang yang diwawancara adalah 15 orang yang mana 10 orang terlibat di perdagangan kentang, 7 orang di perdagangan tomat, 7 orang di perdagangan kubis, dan 4 orang di perdagangan wortel. Selain itu, data terkait didapatkan dari kantor kecamatan setempat. Data sekunder didapatkan dari Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Publikasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, FAO, serta publikasi ilmiah lain yang relevan dengan penelitian.

Data dikumpulkan dengan menelusuri informasi dari petani, pedagang, dan lembaga pemasaran lain yang terlibat dalam pemasaran sayuran di lokasi penelitian melalui wawancara. Populasi petani adalah mereka yang menanam salah satu atau gabungan dari sayuran berupa kubis, kentang, wortel, dan tomat. Petani dikelompokkan berdasarkan luas kepemilikan lahan dan setiap kelompok dipilih secara acak (stratified sampling) yaitu skala kecil, menengah, dan besar. Adapun pedagang pada umumnya dibagi menjadi pedagang pengumpul, pedagang besar dan pedagang pengecer. Pedagang yang dipilih adalah berdasarkan penelusuran informasi proses pemasaran. Pengumpulan informasi saluran pemasaran sayuran dengan menelusuri saluran pemasaran yang terjadi. Penelitian juga dilakukan di pasar modern yang merupakan salah satu saluran pemasaran di Pangalengan. Pasar modern dalam penelitian ini adalah eksportir dan restoran.

Selain cross section data yang dilakukan di lokasi Pangalengan, penelitian ini juga mempergunakan time series data mingguan dari bulan April 2012 sampai dengan Maret 2013 (n = 49). Data rentang waktu tersebut berupa data harga sayuran yaitu kentang, tomat, kubis dan wortel di tingkat petani dan konsumen akhir di pasar tradisional. Data tersebut diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, dan instansi terkait yang relevan dengan tujuan penelitian.

Metode Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan data dilakukan dengan bantuan komputer yaitu Microsoft Excel dan software Eviews. Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk mengetahui karakteristik petani, karakteristik pedagang, lembaga pemasaran sayuran yang terlibat, aktivitas pemasaran, fungsi- fungsi pemasaran yang terjadi dan dampak saluran pasar modern terhadap petani serta saluran pasar tradisional. Adapun analisis kuantitatif melalui Microsoft Excel dilakukan untuk menganalisis tingkat keuntungan petani terkait dampak saluran pemasaran modern, serta analisis efisiensi pemasaran yang terdiri dari efisiensi operasional berupa marjin pemasaran dan farmer’s share. Analisis kuantitatif lainnya menggunakan Eviews adalah untuk mengkaji efisiensi harga berupa integrasi pasar. Data yang dihasilkan dari pengolahan software tersebut kemudian diintrepetasikan secara ekonomi dari sudut pandang agribisnis.

Analisis keuntungan petani yang dilakukan dalam penelitian ini didapatkan dari rincian biaya dan penerimaan petani dengan satuan rupiah per hektar. Namun dalam analisis biaya usahatani atau on farm sayuran tidak dilakukan secara terperinci melainkan hanya dicantumkan secara keseluruhan. Analisis lebih dalam dilakukan pada biaya pasca panen atau biaya pemasaran. Keuntungan petani didapatkan dari total penerimaan dikurangi total biaya.

Analisis efisiensi operasional pemasaran sayuran dalam penelitian ini dilakukan dengan mengukur marjin pemasaran dan analisis farmer’s share. Marjin pemasaran total adalah perbedaan harga antara pembayaran konsumen akhir dengan harga yang diterima petani. Adapun marjin pemasaran di setiap tingkat lembaga pemasaran merupakan selisih harga beli dengan harga jual dari masing-masing tingkat lembaga pemasaran yang bersangkutan. Dalam bentuk matematika sederhana dirumuskan menjadi:

Dimana:

Mmi = marjin pemasaran pada setiap tingkat lembaga pemasaran Ps = harga jual pada setiap tingkat lembaga pemasaran

Pb = Harga beli pada setiap tingkat lembaga pemasaran

Bagian harga yang diterima (farmer’s share) merupakan perbandingan harga yang diterima oleh petani dengan harga di tingkat konsumen yang dinyatakan dalam presentase. Farmer’s share dirumuskan sebagai berikut:

Dimana: Fs = Farmer’s share

Pf = Harga di tingkat petani Pr = Harga di konsumen

Integrasi pasar merupakan analisis seberapa jauh pembentukan harga suatu komoditas pada tingkat lembaga atau pasar dipengaruhi oleh harga di tingkat lembaga lainnya. Analisis keterpaduan pasar dalam penelitian ini mengacu pada model yang dikembangkan oleh Ravallion (1986) dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Perubahan harga di tingkat konsumen seharusnya ditransfer dengan baik ke tingkat petani secara terintegrasi.

Adapun persamaan yang akan digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 4 persamaan karena terdapat 4 jenis komoditas yang dilihat hubungan integrasi pasarnya. Adapun persamaan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah:

Pf(i) = (1+b1) Pf(i)1 + b2 Pr(i)FD + (b3-b1) Pr(i)1 + C Dimana:

Pf(i) : harga sayuran di tingkat petani interval April (Minggu pertama) 2012 sampai dengan Maret (Minggu Pertama) 2013

Pr(i) : harga sayuran di tingkat ritel interval April (Minggu pertama) 2012 sampai dengan Maret (Minggu Pertama) 2013

Pf(i)1 : harga di tingkat petani interval Maret (Minggu keempat) 2012 sampai dengan Februari (Minggu keempat) 2013

Pr(i)1 :harga di tingkat ritel interval Maret (Minggu keempat) 2012 sampai dengan Februari (Minggu keempat) 2013

C : faktor musim dan faktor lain

(1+b1) : koefisien lag harga sayuran di tingkat petani b2 : koefisien lag harga sayuran di tingkat ritel

(b3-b1) : koefisien lag harga sayuran di tingkat ritel antara April (Minggu pertama) 2012 sampai Maret (Minggu Pertama) 2013; dengan Maret (Minggu keempat) 2012 sampai Februari (Minggu keempat) 2013 FD : First Difference atau perbedaan harga sayuran di tingkat ritel i : Sayuran yang terdiri dari kentang, tomat, kubis, wortel

IMC (Index of Market Connection) atau indeks hubungan pasar merupakan perbandingan antara koefisien pasar lokal pada periode sebelumnya dengan koefisien pasar acuan pada periode sebelumnya. Berikut rumus matematikanya:

IMC

=

1 b1

(b3-b1)

atau

b1

b3

Adapun ketentuan suatu pasar dikatakan terintegrasi dengan kuat atau lemah ditunjukkan pada Tabel 4.

Tabel 4 Kriteria integrasi pasar

Keterangan Jangka Pendek Jangka Panjang

Integrasi Kuat IMC mendekati 0 atau IMC < 1 b2 mendekati 1 (> 0.5) Integrasi Lemah IMC > 1 b2 mendekati 0 (< 0.5) Tidak terintegrasi IMC tinggi b2 sangat mendekati 0 Sumber: Ravallion (1986)

Nilai Index of Market Connection (IMC) menggambarkan sejauh mana keterpaduan pasar antara pasar lokal dalam hal ini harga di tingkat petani, dengan pasar acuan atau harga di tingkat pedagang eceran. Jika nilai IMC lebih kecil dari satu atau b1 < b3, maka harga yang terjadi di pasar acuan di waktu sebelumnya sangat mempengaruhi pembentukan harga di pasar lokal pada saat ini. Hal tersebut mengindikasikan derajat keterpaduan pasar jangka panjang antara kedua pasar relatif tinggi. Namun jika nilai IMC lebih besar dari 1 maka dapat dikatakan bahwa pasar lokal dan pasar acuan kurang terpadu atau kurang terintegrasi.

Dokumen terkait