BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
8) Ekaristi dan Persoalan Hidup
Penulis bertanya kepada semua responden tentang apa yang mereka lakukan ketika mereka mempunyai masalah dalam hidup bagaimana mereka
75
menyelesaikan ataupun memecahkannya. Secara keseluruhan responden memberi jawaban yang berbeda-beda. Berikut tanggapan responden masing-masing.
Responden 1 terlihat bingung dan bimbang akan jawabannya dengan mengatakan: Ohh, kalau itu aku sering datangnya ke Tuhan, apanya pertama aku cerita ke orangtua ku terus kedua aku bakalan berdoa itu udah pasti pokoknya kalau aku mengalami kesulitan aku selalu berdoa entah itu doa di di rumah atau pas emang deket gereja ya aku dateng ke gereja doa kayak cerita Tuhan aku begini begini begini tolong kalau misalnya tunjukin jalan aku harus gimana dan apa ya dan pokoknya terberkati aku bener-bener terberkati terus pasti tu tiap aku doa tiap aku berserah diri itu pasti selalu ada jalan jadi secara gak langsung Tuhan selalu memberi jalan-Nya. [Wawancara R1, 19 Juli 2017)]
Responden 2 terlihat masih ragu-ragu dan belum yakin dengan jawaban yang diberikan dengan mengatakan:
Hmm, cerita dulu sama orang lain curhat dulu gimana ini enaknya yo no masak ga cerita, nah kalau udah plong gitu kan ya mestinya juga yaudah pastilah tiap orang tu bilang doa itu tu salah satunya yaudah pasti itu tapi yo yo aku juga berdoa tapi juga enggak tinggal diam mosok yo cuma doa tok emang Yesus tau-tau terjun ngono kui to medeni ya jadi dengan cerita itu aku bisa tau solusinya selain dengan doa juga ada isinya gitu. Ora et labora. [Wawancara R2, 19 Juli 2017]
Responden 3 masih bingung dalam memecahkan masalah dalam hidupnya, namun ia mencoba menjawab pertanyaan ini dengan menyatakan:
Saya juga masih bingung untuk memecahkan itu tapi saya berusaha untuk ya tadi seperti tadi kalau saya punya masalah hidup selain saya cerita kepada teman-teman mungkin orang-orang terdekat saya juga cerita ke Tuhan lewat doa mungkin saya datang mungkin pagi-pagi dalam keadaan sejuk bangun tidur saya datang berdoa di situ ikut perayaan Ekaristi misa harian seperti itu. [Wawancara R3, 24 Juli 2017]
Responden 4 terlihat masih bingung dan ragu-ragu dengan apa yang ia sampaikan dengan mengatakan:
Kalau saya mempunyai masalah dalam hidup, eeeee pertama saya eeeee saya merenungi dulu apa sih kesalahan yang ada dalam diri saya, oh saya salahnya ini ini ini, oke saya introspeksi diri saya dulu, baru saya eeee mencari solusi gimana mengatasi kesalahan dalam diri saya dengan biasanya kalau enggak eee apa curhat kepada orang tua, kalau engga kepada saudara, kalau enggak ya eeeee kepada teman-teman kadang-kadang iya kadang-kadang-kandang enggak sih ya. Ya gitu-gitu sih. Setiap masalah dalam hidup saya, eeeee saya, saya selalu bawa dalam doa, saya selalu libatkan Tuhan dalam setiap masalah saya selain berkonsultasi dengan orangtua, saudara, dan teman-teman gitu. [Wawancara R4, 3 Agustus 2017]
Responden 5 menjawab ragu-raguan dengan mengatakan:
Kalau saya sih, ee nah ini tadi sudah aku singgung ya mengenai masalah tu sebenernya tu salah satu caranya ke gereja tu juga membantu loh sejauh ini saya, karena ada kesempatan buat kita merenung, berpikir secara tenang jernih itu yang pertama, yang kedua mungkin pas bacaan atau homilinya itu kontekstual dengan masalah kita, nah jadi kita bisa implementasiin dimasukin gitu loh masalahnya gimana bacaannya, itu mungkin kan karena gak selamanya pas kan karena gak selalu sering kayak gitu. [Wawancara R5, 4 Agustus 2017]
Responden 6 memberikan jawaban yang berputar-putar dengan mengatakan: Aku seringe nek ada masalah itu aku nggak langsung cerita, aku mesti cari jawabanne sendiri dulu gitu to nek misale aku rasa ketoke aku perlu, perlu kayak gini, ketoke aku bakal ngerasain itu deh, yaudah aku jalanin. Jadi nggak minta bantuan orang lain. Tapi nek aku udah bingung, dah bingung sama pie yo, iki yo nek ngene aku baru minta tolong, minta tolonge kadang-kadang karena aku udah punya pacar yo aku nanyane pendapat ke mas dulu. Tapi dia kan jauh to kita kan LDR, jadi aku pengenne dia nggak mikirke, aku ke keluarga. Nek enggak ke keluarga misale kayake keluarga gak perlu tau gitu kan aku ke temen deket, udah kayak gitu doang Mer. Kalau dalam doa tu aku pas nyelesain sendiri, duh Tuhan iki penake pie yo, nek kayak gini menurut Tuhan kayak gimana. Jadi sering sih, dalam doa nek misale permasalahane dalam keluargaku sendiri, aku nggak mungkinkan akan cerita ke mereka, mesti aku sendiri, carane aku ngomong ke Tuhan. Tapi ntah kenapa Tuhan menuntun kita. [Wawancara R6, 4 Agustus 2017]
77
Data wawancara diatas telah diuji kebenarannya dengan melakukan member check kepada semua responden. Data wawancara dicek ulang oleh masing-masing responden. Oleh karena itu, penulis menilai bahwa pernyataan-pernyataan yang disajikan di atas sungguh benar dan dapat dipercaya kebenarnya. Dari hasil wawancara yang dilakukan kepada Informan 1, sejauh ia mengenal para responden bahwa para responden itu pertama-tama lebih curhat ke teman-teman bahkan orang tua. Mereka hampir semua juga curhat kepada Informan 1 mengenai masalah dalam hidupnya. R3 terlihat membawa permasalahannya ke dalam Ekaristi karena Informan sering melihat R3 sering misa harian dan jumat pertama.
Wawancara bersama Informan 2 memberikan pernyataan bahwa mereka ketika dihadapkan dalam persoalan hidup, mereka belum menggunakan Ekaristi sebagai kesempatan untuk menimba kekuatan, untuk menimba daya dari Ekaristi sebagai sumber dan puncak. Misalnya dari beberapa responden ketika ada masalah mereka pertama lari ke teman dan orangtua.