BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
4) Respons Terhadap Homili Imam
Penulis bertanya kepada semua responden tentang apa yang mereka lakukan ketika Imam memberikan homili saat Ekaristi serta apakah mereka mendapatkan sesuatu dari setiap homili yang baru mereka dengarkan dalam perayaan Ekaristi. Secara keseluruhan responden memberi jawaban yang berbeda-beda. Berikut tanggapan responden masing-masing.
Responden 1 yang terlihat masih ragu-ragu dengan apa yang ia sampaikan dengan mengatakan:
Oh oke, kalau aku sih jujur kalau di gereja kalau pas misa aku selalu kayak berusaha untuk mengurangi ini ngobrol jadi kayak gitu aku bener-bener kayak ya ini cuma berapa jam ini cuma berapa menit sih yaudah mbok wes nanti aja kalau udah selesai kamu baru ngobrol jadi kayak berusaha mengurangi ngobrol, tapi kadang kalau misale tiba-tiba ada cowok ganteng ya langsung ini lah ada topik obrolan. Terus kalau homili itu aku terkadang tergantung romonya itu cara menyampaikan homilinya kayak gimana kalau misalnya terlalu kayak terlalu pakai bahasa rohani banget dan gak kayak kurang mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari itu malah aku gak gak bisa gak dapet, jadi aku lebih suka kayak yang romo pas homili jadi kayak mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari dan nyata dan yang bisa dibayangin itu baru aku bisa ngerti itu homilinya tentang apa dan aku harus bagaimana nantinya gitu. [Wawancara R1, 19 Juli 2017]
Responden 2 terlihat yakin menyampaikan jawaban yang diberikan dengan mengatakan:
63
Kalau aku, cenderung subyektif e jadi ngeliat romonya tu enak enggak gitu. Yang pertama kalau saya kenal wah ini romonya enak ya tak dengerin kalau enggak kenal kayak cuma teori tok ngono kui yowis mending ngelamun kalau enggak kadang ketiduran gitu terus kalau misalnya romonya belum kenal tapi ternyata ngomongnya mantep gitu tak dengerin kalau enggak mantep ya podo, tidur aja. [Wawancara R2, 19 Juli 2017]
Responden 3 dengan yakin menjawab dengan mengatakan:
Saya kalau mislanya ya aku mendengarkan homili dari romo pasti aku dengerin pertama aku dengerin tapi akhir-akhir ini, ini jadi cerita ya sungguh-sungguh ee jadi kadang aku seminggu ini entah misalnya dalam dalam ada masalah permasalahan dalam studi mungkin atau mungkin dalam hidup atau dalam percintaan seperti itu mesti ada aja di minggu itu terus di hari saat perayaan Ekaristi tu mesti homilnya itu seperti memberikan apa ya seperti peringatan Tuhan tu seperti memberikan peringatan-Nya lewat homili hari itu terus Dia memberikan motivasi-Nya misalnya saya merasa seminggu ini merasa saya kok gak ada apa-apanya kenapa aku dipilih ternyata didalam homili itu tu dijelaskan oh kamu tu dipilih karena aku mampu misalnya seperti itu jadi ya kalau apa ya saya dengarkan dulu oh kenapa sesuai dengan apa yang saya alami lalu saya alami lalu saya lakukan. [Wawancara R3, 24 Juli 2017]
Responden 4 terlihat bingung akan jawaban yang ia sampaikan dengan mengatakan:
Kalau homili, romo mengatakan eee mengatakan ee misalnya perumpamaan atau semua ajaran-ajaran-Nya itu saya mendengarkan. Eee setiap homili itu mempunyai pesan masing-masing, emm kalau setiap minggu sih kadang kalau saya lagi gak fokus gitu bisa (sambil ketawa) bisa ngebleng gitu. Tapi kalau misalnya lagi fokus mendengarkan tu eee pasti ada pesan yang disampaikan eee romo untuk umat-Nya ada pasti dan itu saya saya aa eee selalu apa ya yo enggak inget-inget banget sih yo selalu menghayati dalam diri saya, wo saya harus gitu-gitu-gitu. [Wawancara R4, 3 Agustus 2017].
Responden 5 menjawab dengan tegas dan yakin dengan mengatakan:
Sebenarnya gini sih, kalau homili tu situasional ya. Ini jeleknya saya, saya orangnya judgement ya kalau misalkan liat romonya, romonya homilinya mbelutuk gitu maksudnya gak jelas ngomong apa, saya gak ngobrol dengan orang cuman saya lebih banyak diem, entah itu tertidur entah itu
baca teks misanya kan ada pengumuman ada bacaan apa terus saya baca bacaannya lagi. Gitu, tapi kalau tertidur itu kalau pas gak bener-bener ngantuk ya ora. Gak sengaja tidur bukan niatnya tidur loh ya. Kalau homili pas aku dengeri pasti akan saya dengerin ya, keep the point artinya ada beberapa point yang akan saya terima ya paling enggak setidaknya minimal dalam sehari itu saya akan mengendapkan artinya misalkan ni homilinya tentang damai, kita berbelas kasih terus kita keluar gereja gelut opo ngomel sama yang ke gereja bareng sama kakak atau sama pacar gitu kan, artinya saya berusaha untuk baik dan melakukan. [Wawancara R5, 4 Agustus 2017].
Responden 6 ketika menjawab pertanyaan terbatah-batah dan jawaban yang diberikan berputar-putar, jadi R6 masih terlihat bingung dengan apa yang disampaikan dengan mengatakan:
Banyak sih, hampir disetiap misa itu pasti homilinya romo tu nggak tau kenapa pas sama aku terus langsung apa yo, yo nggak langsung aku laksanakan pas pulang dari gereja tapi aku terapin aja jadi misale kayak pas ada kondisi seperti itu aku ingat oo romo kita pernah homili seperti ini situasinya sama ni, bolehlah kita ambil. Tapi kalau emang pas wis mentok kayak emosi apa gimana gitu, yo langsung mesti homili romo wis lali kayak gitu. Bergantung situasi, soale ya piye yo Mer, wong ki sabare bedo-bedo e ada batasan e, tapi nanti pas kayak udah kebangeten banget inget lagi, o iya ya ok ngene kan padahal udah diajarke ngene ya nyesel lagi, kayak gitulah. [Wawancara, Jumat, 4 Agustus 2017]
Untuk menguji kebenaran data, penulis menggunakan sistem member check sehingga data yang disajikan di atas adalah valid. Semua data wawancara divalidasi kembali dengan cara meminta responden melihat kembali hasil wawancara yang didapatkan. Sehingga penulis menilai bahwa jawaban dan pernyataaan yang diungkapkan oleh responden sungguh dapat dipercaya kebenarannya.
Dari hasil pengamatan bulan Mei dan bulan Agustus 2017 yang dilakukan kepada responden 1 sampai dengan responden 6, bahwa mereka hanya melihat dari unsur subyektivitas yakni melihat jika Imam yang memberi homili itu baik
65
atau sudah dikenal dan bahasa bisa dimengerti mereka akan mendengarkan, jika tidak mereka akan asyik sendiri, ngobrol dengan teman yang di sampingnya atau malah tertidur.
Menurut wawancara bersama Informan 1 yang mengenal responden, ia memberi pernyataan bahwa memang karena mereka mengenal Romo atau bahasa romo mudah dipahami, maka responden mau mendengarkan dengan baik homily dari Romo. Tetapi kalau romo tidak asyik, bahasa terlalu tinggi itu mambuat mereka ngantuk ataupun melakukan aktivitas lain yang lebih asyik bagi mereka.
Menurut Informan 2, ia memberi pernyataan bahwa pertama-tama responden tidak melihat sisi homily itu sendiri. Tetapi yang menjadi pertimbangan mereka memperhatikan homily adalah karena Romonya. Misalkan R2, R5 juga melakukan demikian, mereka melihat romonya terlebih dahulu. Bagi mereka kalau homilinya nyenengke dan bisa membuat tertawa maka mereka senang. Padahal dalam homili itu terlebih pesan yang dapat diambil bukan semata karena bisa membuat tertawa. Namun ada beberapa responden yang berusaha mendengarkan dengan baik yaitu R6.