Berarti(kel) catatan pendidikan
EKPEKTASI MERAIH MIMPI DI PERGURUAN TINGGI
Encep Nurkholis, M.Pd
Guru Matematika SMAN 1 Karangnunggal
ita lupakan sejenak urusan pilpres dan segala kepentingannya. Kini, saatnya kita mencermati perjuangan anak-anak bangsa yang tengah berjuang masuk ke perguruan tinggi. Sebagaimana diketahui bersama setidaknya ada tiga pintu masuk menuju PTN. Yakni, SNMPTN, SBMPTN, dan jalur Mandiri. Masuk UIN se-Indonesia menggunakan istilah SPANPTKIN. Sedangkan untuk masuk ke politeknik sekarang dikenal dengan PMDKPN dan jalur tulis, untuk masuk poltekes dikenal dengan istilah PMDP dan jalur tulis. Selain perguruan tinggi negeri, kedinasan, politeknik, poltekes, siswa pun mempunyai kesempatan di perguruan tinggi swasta.
Kuota perguruan tinggi yang belum mampu menampung banyaknya siswa pendaftar menjadi masalah yang menjadikan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi di Jawa barat masih dibawah APK nasional. Berbagai usaha telah dilakukan pemerintah provinsi untuk meningkatkan APK, diantaranya dengan menjadikan perguruan tinggi swasta menjadi perguruan tinggi negeri.
Kesadaran masyarakat terutama di daerah, masih sangat kurang dalam menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi. Jarak yang jauh, biaya kuliah yang tinggi menjadi alasan yang digunakan orang tua. Apalagi masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah dan ekonomi yang lemah. Program bidik misi yang telah digulirkan oleh pemerintah belum dapat dipahami oleh masyarakat secara utuh.
Sosialisasi dari pemerintah di tingkat desa, kecamatan menjadi sangat penting dalam memberitahukan program-program pendidikan. Sekolah sebagai orang tua kedua mempunyai peranan yang sangat besar dalam memotivasi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Rapat orang tua melalui komite sekolah menjadi salah satu sarana untuk mensosialisasikan mengenai perguruan tinggi.
Peranan guru, terutama guru BK menjadi sangat dibutuhkan dalam mendata siswa yang mempunyai kesempatan dan memberikan peluang bagi siswa di sekolahnya. Sekolah dalam hal ini guru, seharusnya mampu mengarahkan dan memetakan siswa untuk masuk ke perguruan tinggi, baik siswa reguler atau bidik misi.
Untuk lolos SNMPTN, siswa harus memperhatikan rekam jejak alumni di universitas tersebut dengan memilih jurusan dengan peluang terbesar berdasarkan nilai rapor yang dimilikinya. SNMPTN hendaknya tidak dijadikan satu-satunya pintu masuk perguruan tinggi, siswa harus mempersipkan rencana sebanyak-banyaknya dari kesempatan yang ada. Apalagi jatah yang bisa ikut SNMPTN dari sekolah yang terakreditasi A saja hanya 40%, ini artinya semua siswa tetap harus mempersiapkan SBMPTN atau ujian mandiri dengan belajar maksimal. Selain itu, siswa mendaftarkan diri
ke politeknik, poltekes atau sekolah kedinasan yang sesuai dengan minatnya.
Jika siswa terlalu yakin dengan mengandalkan 1 pilihan, misalkan SNMPTN saja, maka apabila tidak lolos, persiapan untuk daftar jalur lain (jalur tulis) akan kurang dalam persiapannya. Dengan persiapan tes yang relatif singkat, dikhawatirkan hasilnya tidak akan maksimal.
Harapan untuk lolos perguruan tinggi merupakan harapan setiap siswa yang akan melanjutkan pendidikan sesuai dengan minatnya, namun kenyataannya masuk perguruan tinggi tidak semudah seperti yang diinginkan. Usaha siswa untuk menggapai harapan, harus didukung komponen lain yang ikut menjembatani ekspektasi mereka. Ketersediaan kuota perguruan tinggi, arahan guru di sekolah, kualitas sekolah, biaya dan dorongan dari orang tua serta peran aktif pemerintah agar ekspektasi mereka menjadi realita.
DAMPAK COVID-19 DI SEKTOR PENDIDIKAN Encep Nurkholis, M.Pd
Guru Matematika SMAN 1 Karangnunggal
ebih dari 91% populasi siswa di dunia telah dipengaruhi oleh penutupan sekolah karena pandemi covid-19. Kementerian di berbagai Negara telah mengambil langkah di setiap sekolah dan universitas untuk melakukan pembelajaran melalui internet. Sebulan yang lalu, sebagian besar sekolah-sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi di Indonesia telah menutup sistem PBM (Proses Belajar Mengajar) yang dilakukan seperti biasanya menjadi sistem pembelajaran daring.
Pembelajaran online ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan dan proses menghentikan penyebaran virus melalui interaksi langsung di antara orang banyak. Peralihan proses pembelajaran yang dulunya melalui tatap muka menjadi online tentunya memaksa berbagai pihak untuk dapat mengikuti proses dan alurnya, supaya sistem pembelajaran tetap berjalan dengan baik. Namun ternyata, sistem ini tidak berjalan se-efektif yang kita bayangkan, bahkan seluruh pihak mengalami kesulitan, tidak hanya siswa, orang tua, guru, dan pemerintah ikut merasakannya.
Pembelajaran online ini memberikan dampak yang
L
negatifnya. Seperti yang kita lihat, dari seluruh masyarakat tidak seluruhnya melek teknologi, baik guru, siswa, dan orang tua masih ada yang dalam tahap adaptasi dengan kemajuan teknologi saat ini, apalagi masyarakat yang ada di desa atau pedalaman juga para masyarakat yang lahir di zaman tahun 1960-an tentu sangat susah untuk mempelajarinya lagi terutama guru, masih banyak guru-guru yang belum mahir dalam mengaplikasikan teknologi zaman ini.
Sama halnya dengan siswa/siswa, masih amatir dalam menggunakan teknologi, diakibatkan oleh kurangnya sarana teknologi pendukung pembelajaran di sekolah mereka, sehingga sistem daring ini kurang efektif bagi mereka, bukan menambah pengetahuan melainkan kurang memahami pembelajaran yang mereka terima.
Namun di sisi lain, kegagapan teknologi ini menjadi suatu pemacu untuk setiap pihak yang terkait pembelajaran online ini, menjadi lebih serius dan mendalami sistem teknologi agar semakin mahir dalam menggunakannya, tidak hanya untuk pembelajaran daring, namun juga untuk kehidupan sehari-hari.
Terlepas dari kegagapan teknologi, ternyata yang ikut menjadi masalah adalah kurangnya sarana dan prasarana yang dimiliki oleh setiap pihak. Banyak guru dan juga siswa yang tidak bisa memenuhi fasilitas teknologi ini, jangankan untuk memenuhi bagian ini, bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari juga masih kesulitan. Dan masalah ini, kerap dirasakan oleh masyarakat kita yang berada di perekonomian menengah hingga bawah.
Seperti contoh, adanya kuliah daring mengharuskan siswa memiliki laptop dan juga handphone. Namun ternyata masih ada siswa yang tidak memiliki laptop hanya memiliki
handphone, sedangkan untuk mengerjakan tugas kuliah dan sebagainya harus sistem ketik dan kirim lewat softcopy, maka siswa yang tidak memiliki laptop akan kesulitan, dan warung internet di berbagai daerah saat ini pasti tutup akibat adanya kebijakan PSBB, tidak hanya merasakan kesulitan, mungkin saja siswa tersebut bisa berhenti kuliah.
Masalah lain yang ikut menjadi dampak pembelajaran online ini adalah jaringan internet dan biaya. Di Indonesia khususnya, masih banyak daerah-daerah yang tidak memiliki atau kurang akses internetnya, sehingga para siswa yang bertempat tinggal di wilayah ini akan merasa kesulitan dalam mengikuti kelas online.
Sehingga tidak sedikit para siswa yang rela untuk memanjat pohon atau pergi ke bukit-bukit agar tetap bisa mengikuti kelas online. Selain itu, jaringan internet tidak akan berjalan jika tidak ada biaya. Namun, tidak semua orang memiliki biaya yang cukup untuk membeli kuota, apalagi pada saat ini, harga kuota juga semakin melonjak tinggi akibat meningkatnya permintaan masyarakat akan kuota karena interaksi masyarakat saat ini telah beralih kepada sistem online. Kembali kepada masyarakat yang memiliki ekonomi yang rendah, akan kesulitan untuk membeli kuota.
Akibat adanya pembelajaran online, pemerintah akhirnya membuat kebijakan untuk meniadakan UN bagi siswa SMA, SMP, dan SD. Kebijakan ini dilakukan selain untuk memutus rantai penyebaran COVID-19, juga dilakukan karena banyak siswa yang kesulitan menghadapi UN.
Di sisi lain, ada juga dampak positif yang ditimbulkan oleh pembelajaran online sendiri. Melalui pembelajaran online ini, seluruh pihak atau bahkan masyarakat akan ikut
adalah pendukung dalam berjalannya Revolusi Industi 4.0, dengan begitu masyarakat sedikit demi sedikit akan mulai mempersiapkan diri menghadapi Revolusi yang akan kita hadapi nantinya.
Sisi positifnya yang lain adalah para siswa akan lebih santai dalam mengikuti pembelajaran online ini, juga dapat mengulang-ulang pembelajaran tersebut. Pembelajaran online ini, memang tidak asing lagi untuk dilakukan, terutama di Negara maju. Namun, untuk Indonesia sendiri hal ini masih sangat mula untuk dilakukan karena masih banyak aspek yang harus dipertimbangkan.
Apresiasi layak diberikan kepada guru, sekolah, dan peserta didik karena mereka bisa beradaptasi dengan cepat. Namun, seiring berjalannya waktu semua pihak perlu mengevaluasi pembelajaran daring tersebut agar tujuannya bisa tercapai secara optimal.
PENDIDIKAN KEPRAMUKAAN SEBAGAI