• Tidak ada hasil yang ditemukan

Eksistensi PKLH

Dalam dokumen FILSAFAT ILMU P K L H (Halaman 87-91)

II. EKSISTENSI DAN ESENSI PKLH

2.4. Eksistensi PKLH

Masalah lingkungan adalah persoalan yang timbul sebagai akibat dari berbagai gejala alam. Dalam hal ini masalah lingkungan adalah sesuatu yang melekat pada lingkungan itu sendiri, dan sudah ada sejak alam semesta ini, khususnya bumi dan segala isinya diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Masalah kependudukan dan masalah lingkungan hidup merupakan masalah yang cukup mendapat perhatian dunia. Masalah kependudukan mendapat perhatian karena dikhawatirkan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan manusia itu sendiri beserta lingkungannya. Kelestarian lingkungan hidup yang menyangkut kawasan laut, darat dan udara dipantau terus karena pada akhir-akhir ini menunjukkan gejala kemerosotan makin

untuk mengatasi masalah kependudukan tersebut, diantaranya program keluarga berencana dan pendidikan kependudukan.

Sejak awal dalam perkembangan budayanya manusia telah berusaha untuk mengelola dampak kegiatannya terhadap lingkungan hidup. Makin berkembang kegiatan ekonomi dan teknologinya, makin besar dirasakan perlunya untuk mengelola dampak kegiatannya pada lingkungan hidup. Pengelolaan lingkungan hidup diartikan sebagai usaha sadar dan berencana untuk mengurangi dampak kegiatan terhadap lingkungan hidup sampai pada tingkat yang minimum dan untuk mendapatkan manfaat yang optimum dari lingkungan hidup untuk mencapai kesejahteraan yang berkelanjutan.

Semua kegiatan manusia mempunyai dampak pada lingkungan hidup. Kegiatan hayatinya, seperti pembuangan limbah manusia yang metabolismenya dalam bentuk air seni dan tinja, berdampak pada lingkungan hidup. Pada waktu jumlah manusia masih kecil, dampak itu kecil pula. Dengan pertumbuhan jumlah manusia dampak kumulatif kegiatan hayati manusia makin besar. Dampak itu makin besar lagi dengan berkembangnya kegiatan ekonomi dan teknologi yang memberikan kemampuan kepadanya untuk melakukan rekaya dan meningkatkan penggunaan energi.

Faktor yang menghubungkan antara manusia dengan lingkungan hidup, tidak lepas dari pola manusia di dalam mengelola sumber daya alam yang disediakan oleh lingkungan hidup. (Otto Soemarwoto, 2001),

Peningkatan angka pertumbuhan penduduk berdampak pada semakin meningkatnya kemerosotan kualitas lingkungan. Akibat ulah manusia, penurunan kualitas lingkungan berlangsung terus menerus. Lalu, seiring dengan perkembangan teknologi yang ditandai oleh penggunaan beragam produk teknologi

menyebabkan tingginya akselerasi kerusakan lingkungan terutama di beberapa negara berkembang seperti Indonesia.

Untuk mengatasi permasalahan kependudukan dan lingkungan hidup, perlu pengenalan program Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup baik terhadap masyarakat umum maupun terhadap peserta didik di jalur pendidikan formal (jalur pendidikan sekolah). Pada masyarakat umum, Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup dapat diperkenalkan melalui jalur pendidikan informal seperti melalui kegiatan keagamaan, perkumpulan profesi, karang taruna, atau penjelasan dan informasi melalui media cetak dan elektronik, bahkan dapat pula ditempuh jalur pendidikan non-formal, melalui kursus-kursus, sarasehan, dan lain sebagainya. Dengan adanya pengenalan Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup tersebut, diharapkan manusia bisa lebih bijak di dalam memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam yang ada. Sekaligus dapat menanamkan pada setiap individu khususnya peserta didik dalam Pendidikan

Kependudukan dan Lingkungan Hidup pengertian, kesadaran, sikap dan perilaku rasional serta bertanggung jawab terhadap berbagai

aspek kehidupan manusia khususnya hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan hidupnya.

Sebagaimana yang telah dijelaskan pada Bab II bahwa PKLH memiliki landasan filosofis yang sangat jelas dan spesifik, sehingga tidak dapat disangkal lagi bahwa PKLH adalah sebuah cabang ilmu, yang memiliki cakupan yang cukup luas, serta mempunyai entitas dan identitas tersendiri. PKLH bukan kumpulan ilmu-ilmu, yang hanya menjadi keranjang teori-teori yang berkembang pada bidang ilmu lain, karena PKLH memiliki objek kajian, metode ilmiah untuk pengembangannya, dan standar nilai yang spesifik. Hanya karena begitu luasnya cakupan ilmu pengetahuan yang terkait dengan

berdasarkan sudut pandang bidang ilmu yang dimilikinya. Oleh sebab itulah maka dalam penyajian materi PKLH kepada anak didik, harus dirumuskan secara fokus sehingga pembahasan dan diskusinya tidak membias kemana-mana, sehingga tidak memberikan manfaat yang real kepada peserta didik.

Salah satu dampak dari luasnya cakupan materi PKLH sehingga pemerintah cenderung menetapkan model pendekatan pembelajaran PKLH secara integratif, karena diharapkan agar semua guru yang materi ajarnya terkait dengan kependudukan dan lingkungan hidup dapat menyelipkan materi PKLH di dalam pembelajarannya. Namun setelah 28 tahun penerapan pendekatan integratif tersebut, harus objektif diakui oleh semua pihak kalau pembelajaran PKLH tidak banyak memberikan perubahan sikap, perilaku, dan partisipasi pada peserta didik. Dalam hal ini penulis berpendapat perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap semua komponen pembelajaran PKLH yang gagal itu, kemudian segera dilakukan pembenahan berdasarkan hasil evaluasi tersebut. Hal ini menjadi penting mengingat begitu mendesaknya penerapan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dalam segala bidang, untuk menjamin keseimbangan alam semesta.

Penulis berpendapat bahwa bukan pembelajaran PKLH yang integratif, melainkan yang perlu dilakukan secara terintegrasi adalah pengembangan ilmu PKLH, karena satu persoalan lingkungan atau kependudukan, dapat berdampak beragam berdasarkan bidang ilmu yang dipergunakan mengkajinya. Hal ini penting dipahami karena jika persepsi yang berkembang selama ini terus dipelihara, yaitu PKLH diajarkan oleh sembarang guru asal terkait dengan masalah lingkungan dan kependudukan, maka PKLH tidak ubahnya seperti keranjang ilmu, yang diisi dengan materi yang berkembang berdasarkan kacamata bidang ilmu yang dipergunakan guru tersebut. PKLH harus disajikan dengan suatu

“materi sumber” yang standar dan berkembang dinamis berdasarkan perkembangan yang terjadi di dalam bidang ilmu PKLH.

Singkatnya penulis berpendapat bahwa ilmu PKLH harus menjadi mata air yang siap dialirkan kepada semua bidang ilmu yang terkait, yang dikembangkan berdasarkan karakteristiknya, yaitu multi-disiplin, inter-disiplin, dan trans-disiplin.

Dalam dokumen FILSAFAT ILMU P K L H (Halaman 87-91)

Dokumen terkait