• Tidak ada hasil yang ditemukan

Filsafat Ontologi

Dalam dokumen FILSAFAT ILMU P K L H (Halaman 32-39)

I. DASAR-DASAR FILSAFAT ILMU

1.2. Filsafat Ontologi

Dari sudut pandang ilmu semantik atau etimologi, istilah “ontologi” berasal dari kata Yunani onto yang berarti “yang ada secara nyata”, “kenyataan yang sesungguhnya”. Sedangkan istilah “logi” berasal dari kata Yunani “logos” yang berarti “studi tentang” atau “uraian tentang”.

Sedangkan dari sudut pandang terminologi ontologi adalah ilmu yang membahas sesuatu yang telah ada, baik secara jasmani maupun secara rohani. Dalam aspek ontologi diperlukan landasan-landasan dari sebuah pernyataan-pernyataan dalam sebuah ilmu. Landasan-landasan itu biasanya disebut dengan istilah metafisika. Secara etimologi metafisika bermakna sesuatu yang ada pada sesudah fisika. Oleh karena itu maka Delfgaauw membedakan antara ontologi dan metafisika melihat dari objeknya. Objek yang bisa ditangkap dengan panca indra termasuk masalah ontologi, sedangkan objek yang tidak dapat ditangkap denga panca indra termasuk bidang metasifika. Memang pada mulanya ontologi dan metafisika adalah satu, yaitu dibahas dalam kajian metafisika. Kemudian pada abad ke-17 para filsuf membedakan antara metafisika dan ontologi pada pemilahan kajian atau objek yang ditelaah.

Selain metafisika juga terdapat sebuah asumsi dalam aspek ontologi ini. Asumsi ini berguna ketika akan mengatasi suatu permasalahan ilmiah. Dalam asumsi juga terdapat beberapa paham yang berfungsi untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tertentu, yaitu: (1) determinisme (suatu paham pengetahuan yang sama dengan empiris), (2) probabilistik (paham ini tidak sama dengan determinisme, karena paham ini ditentukan oleh sebuah kejadian terlebih dahulu), (3) fatalisme (sebuah paham yang berfungsi sebagai paham penengah antara determinisme dan pilihan bebas), dan (4) paham pilihan bebas. Setiap ilmuan memiliki asumsi sendiri-sendiri untuk menanggapi sebuah ilmu dan mereka mempunyai batasan-batasan sendiri untuk menyikapinya. Apabila dalam mengatasi suatu permasalahan ilmiah, dipakai suatu paham yang salah dan berasumsi yang salah, maka akan diperoleh kesimpulan yang berantakan.

Ontologi merupakan cabang utama dari ilmu filsafat, yang mengkaji mengenai kategorisasi benda-benda di alam dan hubungan antara satu dengan lainnya. Ahli metafisika juga berupaya memperjelas pemikiran-pemikiran manusia mengenai dunia, termasuk keberadaan, kebendaan, sifat, ruang, waktu, hubungan sebab akibat, dan kemungkinan.

Pengertian ontologi dari sudut pandang terminologi, dikemukakan oleh beberapa ahli, diantaranya adalah :

1. Aristoteles; mengatakan The ontology is first philosophy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda.

2. Noeng Muhajir; dalam bukunya Filsafat Ilmu mengatakan ontology membahas tentang yang ada yang universal dan tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu.

3. Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.

4. Jujun S. Suriasumatri (1985) ; dalam bukunya Pengantar ilmu dalam Perspektif, mengatakan bahwa ontologi membahas apa yang ingin diketahui, seberapa jauh keingintahuan itu, atau dengan perkataan lain, suatu pengkajian mengenai teori tentang ada. Telaah ontologis akan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :

1) apakah obyek ilmu yang akan ditelaah,

2) bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut, dan 3) bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya

tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan.

5. A. Dardiri ; dalam bukunya Humaniora, Filsafat dan Logika mengatakan ontologi adalah menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental dan cara yang berbeda dimana entitas dari kategori-kategori yang logis yang

berlainan (objek-objek fisis, hal universal, abstraksi) dapat dikatakan ada.

6. Sidi Gazalba; dalam bukunya Sistematika Filsafat mengatakan, ontologi mempersoalkan sifat dan keadaan terakhir dari kenyataan.

7. Amsal Bakhtiar; dalam bukunya Filsafat Agama I mengatakan, ontologi adalah teori/ilmu tetang wujud, tentang hakikat yang ada.

8. Menurut Soetriono & Hanafie (2007); Ontologi yaitu merupakan azas dalam menerapkan batas atau ruang lingkup wujud yang menjadi obyek penelaahan (obyek ontologis atau obyek formal dari pengetahuan) serta penafsiran tentang hakikat realita (metafisika) dari obyek ontologi atau obyek formal tersebut, dan dapat merupakan landasan ilmu yang menanyakan apa yang dikaji oleh pengetahuan dan biasanya berkaitan dengan alam kenyataan dan keberadaan.

9. Menurut Pandangan The Liang Gie; Ontologi adalah bagian dari filsafat dasar yang mengungkap makna dari sebuah eksistensi yang pembahasannya meliputi persoalan-persoalan :

1) Apakah artinya ada, hal ada ?

2) Apakah golongan-golongan dari hal yang ada ? 3) Apakah sifat dasar kenyataan dan hal ada ?

4) Apakah cara-cara yang berbeda dalam mana entitas dari kategori-kategori logis yang berlainan (misalnya objek-objek fisis, pengertian universal, abstraksi dan bilangan) dapat dikatakan ada ?

10. Menurut Ensiklopedi Britannica; yang juga diangkat dari konsepsi Aristoteles, Ontologi yaitu teori atau studi tentang being (ujud), seperti karakteristik dasar dari seluruh realitas.

untuk menentukan sifat nyata yang asli (real nature) dari suatu benda untuk menentukan arti, struktur dan prinsip benda tersebut. (Filosofi ini didefinisikan oleh Aristoteles abad ke-4 SM).

Jadi secara sederhana menurut penulis bahwa, ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis.

Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan orang belum membedakan antara penampakan dengan kenyataan. Dari pendekatan ontologi dalam filsafat mencullah beberapa paham (Ali Mudhofir, 1997), antara lain :

(1) Paham monoisme yang terpecah menjadi idealisme atau

spiritualisme;

(2) Paham dualisme, dan

(3) Pluralisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologik.

Ada beberapa pertanyaan mendasar yang berputar sekitar persoalan-persoalan ontologis di antaranya adalah :

Apa yang dimaksud dengan ada, keberadaan atau eksistensi itu ?

Bagaimanakah penggolongan dari ada, keberadaan, atau eksistensi ?

Apa sifat dasar (nature) kenyataan atau keberadaan ? Selanjutnya bagaimana dengan ontologi ilmu atau pengetahuan ilmiah. Oleh Ali Mudhofir (1997) dijelaskan bahwa Ontologi Ilmu adalah mengkaji apa hakikat ilmu atau pengetahuan

ilmiah yang seringkali secara populer banyak orang menyebutnya dengan ilmu pengetahuan, apa hakikat kebenaran rasional atau kebenaran deduktif dan kenyataan empiris yang tidak terlepas dari persepsi ilmu tentang apa dan bagaimana (yang) “ada” itu (being Sein, het zijn).

Ontologi ilmu menurut Mudhofir (1997), membatasi diri pada ruang kajian keilmuwan yang bisa dipikirkan manusia secara rasional dan yang bisa diamati melalui panca indera manusia. Wilayah ontologi ilmu terbatas pada jangkauan pengetahuan ilmiah manusia. Sementara kajian objek penelaah yang berada dalam batas prapengalaman (seperti penciptaan manusia) dan pasca pengalaman (seperti surga dan neraka) menjadi ontologi dari pengetahuan lainnya di luar ilmu. Ilmu adalah bagian kecil dari serangkaian pengetahuan yang dapat ditemukan dan di pelajari serta dibutuhkan dalam mengatasi berbagai dilema dunia dan isinya.

Dengan kata lain ilmu yang banyak orang mengatakan dengan sebutan pengetahuan ilmiah, hanya merupakan salah satu pengetahuan dari sekian banyak pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan, dengan melakukan berbagai penafsiran tentang hakikat realitas dari objek ontologi. Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang (Ali Mudhofir, 1997), yakni :

1) Aspek kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?, dan

2) Aspek kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.

Beberapa aliran dalam bidang ontologi (Ali Mudhofir, 1997), yakni ; realisme, naturalisme, empirisme.

Naturalisme di dalam seni rupa adalah usaha menampilkan objek realistis dengan penekanan seting alam? Istilah- istilah terpenting yang terkait dengan ontologi adalah: yang ada (being), kenyataan/realitas (reality), eksistensi (existence), esensi (essence), substansi (substance), perubahan (change), tunggal (one) dan jamak (many).

Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, telaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme. Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira cukup banyak. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. Yang natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh Aristoteles dalam bukunya De Anima. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya dipahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme, tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental.

Ada beberapa manfaat ontologi yang merupakan salah satu kajian filsafat ilmu, di antaranya sebagai berikut:

1. Membantu untuk mengembangkan dan mengkritisi berbagai bangunan sistem pemikiran yang ada.

2. Membantu memecahkan masalah pola relasi antar berbagai eksisten dan eksistensi.

3. Bisa mengeksplorasi secara mendalam dan jauh pada berbagai ranah keilmuan maupun masalah, baik itu sains hingga etika.

Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang

merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka, sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri.

Dalam dokumen FILSAFAT ILMU P K L H (Halaman 32-39)

Dokumen terkait