VI. ANALISIS EKONOMI TWA GUNUNG MEJA
6.1. Pasar Wisata Alam dan Elastisitas Permintaan
6.1.3. Elastisitas Permintaan
Elastisitas permintaan menunjukkan sejauh mana jumlah permintaan atau kunjungan wisatawan merespon perubahan harga dalam hal ini perubahan biaya perjalanan. Permintaan disebut elastis jika jumlah kunjungan merespon perubahan biaya perjalanan, sebaliknya disebut inelastis jika jumlah kunjungan tidak merespon perubahan biaya perjalanan.
Pengukuran elastisitas permintaan atau jumlah kunjungan ke TWA Gunung Meja diukur berdasarkan kegiatan utama wisata alam, dengan prinsip untuk memprediksi kegiatan wisata utama di TWA Gunung Meja yang sangat berekasi atau merespon perubahan biaya perjalanan yang dikeluarkan. Adapun rumus elastisitas permintaan dapat ditulis sebagai berikut :
�= � � � � � � � � � � atau �= − − di mana :
Q1 = Jumlah kunjungan terendah pada 1 tahun terakhir Q2 = Jumlah kunjungan tertinggi pada 1 tahun terakhir P1 = Biaya perjalanan pada jumlah kunjungan terendah P2 = Biaya perjalanan pada jumlah kunjungan tertinggi
Berdasarkan rumus di atas, maka perhitungan elastisitas permintaan berdasarkan kegiatan utama wisata alam secara rinci dijabarkan pada tabel berikut :
86
Tabel 16. Elastisitas Permintaan Wisata Alam TWA Gunung Meja berdasarkan Kegiatan Utama Wisata
No. Kegiatan Utama Wisata Alam Jumlah Kunjungan (Q) Biaya Perjalanan (P) %ΔQ %ΔP Elastisitas 1. Hiking 2 Rp. 195.000,- 100 (62,56) (1,60) 4 Rp. 73.000,- 2. Menikmati panorama/ Photo Hunting 2 Rp. 80.000,- 200 (18,75) (10,67) 6 Rp. 65.000,- 3. Penelitian/ studi banding 2 Rp. 92.000,- 150 (21,20) (7,08) 5 Rp. 72.500,-
4. Pengamatan flora dan Fauna 2 Rp. 90.000,- 100 (23,33) (4,29) 4 Rp. 69.000,- 5. Kunjungan Situs Bersejarah 2 Rp. 116.667,- 200 (40) (5) 6 Rp. 70.000,- 6. Caving 3 Rp. 212.000,- 66,67 8,49 7,85 5 Rp. 230.000,- Sumber : Data diolah (2011)
Kolom jumlah kunjungan (Q) menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan berdasarkan masing-masing kegiatan wisata alam di TWA Gunung Meja selama 1 tahun terakhir, yang menggambarkan jumlah kunjungan terendah dan tertinggi. Sedangkan kolom biaya perjalanan menunjukkan jumlah biaya yang dikeluarkan wisatawan untuk berkunjung ke TWA Gunung Meja pada kunjungan terendah dan tertinggi. Besarnya perubahan jumlah kunjungan (ΔQ) diperoleh dari jumlah kunjungan tertinggi dikurangi dengan kunjungan terendah, dibagi dengan kunjungan terendah kemudian dikalikan dengan 100 sebagai bentuk persentase, demikian juga dengan perhitungan perubahan biaya perjalanan (ΔP) diperoleh dari biaya perjalanan yang dikeluarkan untuk kunjungan tertinggi dikurangi dengan kunjungan terendah, dibagi dengan biaya perjalanan untuk kunjungan terendah kemudian dikalikan dengan 100 sebagai bentuk persentase.
Berdasarkan perhitungan elastisitas permintaan berdasarkan tujuan wisata pada Tabel 16, maka terlihat bahwa permintaan wisata untuk hiking, menikmati panorama/photo hunting, penelitian/studi banding, pengamatan flora dan fauna serta kunjungan ke situs bersejarah elastis terhadap biaya perjalanan yaitu elastis negatif. Sedangkan untuk permintaan wisata untuk kegiatan caving memiliki elastisitas positif, dimana kenaikan biaya perjalanan justru meningkatkan jumlah kunjungan, dengan kata lain permintaan terhadap caving tidak berpengaruh dengan kenaikan harga atau biaya perjalan. Hal ini menggambarkan dua hal yaitu : (1). Kegiatan caving merupakan kegiatan yang ekslusif dibanding dengan
87 kegiatan wisata lain di TWA Gunung Meja, karena Goa alam tidak terdapat pada objek wisata lain di Kota Manokwari sehingga kegiatan wisata alam ini hanya dapat dilakukan di TWA Gunung Meja; (2). Kegiatan caving menjadi “Snobbish demand of tourism” yaitu kegiatan ekowisata yang didasarkan pada sebuah kebanggaan jika melakukan kegiatan ini karena selain kegiatan ini hanya dapat dilakukan di TWA Gunung Meja, untuk menuju ke goa alam dalam kawasan ini harus menempuh jalan yang cukup sulit karena terletak di dalam hutan dan tidak ada jalan setapak menuju goa alam, sehingga menjadi sebuah tantangan bagi para wisatawan yang pada umumnya adalah pecinta alam. Kegiatan Caving juga merupakan satu-satunya kegiatan ekowisata di TWA Gunung Meja yang dilakukan dari sore hari hingga malam hari sehingga dibanding dengan kegiatan lainnya, kegiatan Caving membutuhkan waktu hingga 4 jam. Karena itu, tambahan biaya untuk Caving menjadi lebih besar baik karena sulitnya medan biaya juga dibutuhkan untuk tambahan konsumsi, jasa pemandu wisata dan masyarakat lokal, serta jasa penginapan losmen yang terletak di kaki gunung.
Dari elastisitas masing-masing tujuan wisata, terlihat tujuan wisata ke TWA Gunung Meja untuk menikmati panorama/photo hunting memiliki elastisitas tertinggi dibanding dengan tujuan lainnya yaitu 10,67. Hal ini berarti bahwa respon perjalanan untuk menikmati panorama/photo hunting terhadap perubahan harga dalam hal ini biaya perjalanan lebih tinggi dibanding dengan tujuan lainnya. Besarnya elastisitas berikutnya adalah perjalanan wisata ke TWA Gunung Meja dengan tujuan untuk penelitian/studi banding yaitu 7,08, kemudian tujuan untuk berkunjung ke situs bersejarah sebesar 5, diikuti dengan tujuan untuk pengamatan flora dan fauna dengan besar elastis sebesar 4, 29 dan yang terakhir adalah tujuan wisata untuk hiking dengan besar elastis adalah 1,60.
Kunjungan ke TWA Gunung Meja dengan tujuan hanya untuk menikmati panorama/photo hunting memiliki reaksi atau respon yang sangat tinggi terhadap perubahan biaya perjalanan yaitu sebesar 10,67 yang berarti persentase perubahan jumlah kunjungan 10,67 kali lebih besar dari perubahan biaya perjalanan. Hal ini disebabkan karena adanya substitusi objek wisata lain, dimana kegiatan untuk menikmati panorama/photo hunting bisa dilakukan di tempat atau objek wisata lainnya, sehingga sangat merespon adanya perubahan harga atau biaya kunjungan.
88
Tambahan biaya untuk kegiatan menikmati panorama/photo hunting juga lebih kecil dibanding kegiatan ekowisata lainnya karena kegiatan yang hanya sekedar menikmati panorama alam /photo hunting tidak membutuhkan biaya yang besar.
Sementara kunjungan ke TWA Gunung Meja dengan tujuan utama hiking
memiliki respon yang sangat kecil terhadap perubahan harga atau biaya perjalanan yaitu sebesar 1,60 yang berarti besarnya persentase jumlah kunjungan untuk kegiatan ini 1,60 kali lebih besar dari persentase perubahan biaya kunjungan. Kecilnya respon jumlah kunjungan terhadap perubahan biaya terhadap kunjungan hiking disebabkan tidak adanya substitusi untuk kegiatan ini, karena TWA Gunung Meja merupakan satu-satunya tempat wisata hutan dalam Kota Manokwari sehingga hanya kawasan ini yang menarik dijadikan tempat untuk kegiatan hiking. Selain itu, tambahan biaya untuk kegiatan ini juga lebih besar dibanding dengan kegiatan wisata lainnya, misalnya biaya konsumsi untuk kegiatan ini lebih besar dibanding kegiatan lain karena kegiatan hiking membutuhkan waktu yang lebih lama dengan luasan kawasan yang digunakan lebih luas. Hiking di kawasan ini biasanya dilakukan oleh kelompok pecinta alam, kelompok pemuda gereja dan mahasiswa/siswa, dengan rute dimulai dari pintu masuk daerah Amban, sepanjang jalan setapak dalam kawasan, keluar pintu gerbang di daerah Sarinah, kemudian berjalan sepanjang jalan di pinggir kawasan TWA Gunung Meja melewati Kampung Ayambori dan Susweni dan berakhir di Pantai Pasir Putih.
Kegiatan wisata alam untuk pengamatan flora fauna memiliki elastisitas sebesar 4,29 yang berarti persentase perubahan jumlah kunjungan 4,29 kali lebih besar dari perubahan biaya perjalanan. Kegiatan ini pada umumnya dilakukan oleh dosen beserta mahasiswa dari Fakultas MIPA dan Kehutanan, yang dilakukan pada beberapa titik dalam kawasan. Kegiatan wisata alam untuk kunjungan ke situs bersejarah memiliki elastisitas sebesar 5 yang berarti persentase perubahan jumlah kunjungan untuk kegiatan ini 5 kali lebih besar dari perubahan biaya perjalanan. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang paling sering dikunjungi ke TWA Gunung Meja, karena objek wisata yang paling terkenal dalam kawasan TWA Gunung Meja adalah Tugu Jepang. Kegiatan ekowisata ini pada umumnya dilakukan oleh keluarga yang ingin memperkenalkan peninggalan
89 bersejarah Perang Dunia II kepada anak-anak mereka, sekaligus menikmati keindahan Kota Manokwari karena dari Tugu Jepang para pengunjung juga dapat menikmati keindahan Kota Manokwari. Kegiatan wisata untuk penelitian/studi banding memiliki elastisitas sebesar 7,08 yang berarti persentase perubahan jumlah kunjungan 10,08 kali lebih besar dari perubahan biaya perjalanan. Kegiatan ini pada umumnya dilakukan oleh dosen dan mahasiswa dari Fakultas Ekonomi dan Fakultas Kehutanan.