VIII. KESIMPULAN DAN SARAN
8.2. Saran
1. Dari penawaran dan permintaan wisata, Nilai Ekonomi Wisata TWA
Gunung Meja cukup tinggi serta memberikan Manfaat langsung bagi perekonomian masyarakat meskipun masih kecil, kesediaan wisatawan dan
136
masyarakat untuk mendukung program pengembangan wisata alam serta lingkungan yang masih mampu mengakomodasi kegiatan wisata di TWA Gunung Meja, merupakan indikasi bahwa perlu adanya program pengembangan wisata alam yang berkelanjutan diterapkan dengan serius di TWA Gunung Meja.
2. Pengembangan TWA Gunung Meja sebagai objek wisata alam di
Manokwari bukan hanya menjadi sebuah wacana bagi Pemerintah, namun harus diterapkan. Untuk beberapa persoalan dalam pengelolaan TWA Gunung Meja sebagai kawasan wisata alam maka perlu adanya beberapa langkah yang harus diambil oleh pemerintah yaitu :
a. Tindakan tegas terhadap kegiatan di TWA Gunung Meja yang
mengancam keberlanjutan sumberdaya hayati dalam kawasan TWA Gunung Meja serta terhadap pembuangan sampah di dalam kawasan. b. Penyediaan anggaran seperti untuk pemeliharaan dan perbaikan situs
bersejarah serta fasilitas yang ada serta pembangunan sarana prasarana yang mendukung kegiatan wisata untuk menarik para wisatawan.
c. Perlunya promosi TWA Gunung Meja sebagai kawasan ekowisata
yang menarik kepada masyarakat Manokwari maupun di luar Manokwari.
DAFTAR PUSTAKA
Abelson. P. 1979. Cost Benefit Analysis and Environment Problems. Gower Publishing Company Limited. England.
Allo Albertus Giri. 2008. Kelembagaan land Tenure Taman Wisata Alam Gunung Meja dalam Kaitannya dengan Pengembangan Wilayah Kota Manokwari Provinsi Papua Barat. Tesis Sekolah Pascasarjana IPB.
Bahar Ahmad. 2004. Kajian Kesesuaian dan Daya Dukung Ekosistem Mangrove untuk Pengembangan Ekowisata di Gugus Pulau Tanateke Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan. Tesis Sekolah Pascasarjana IPB.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam Papua Barat. 2008. Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Meja 2009-2028. Sorong.
Case dan Fair. 2003. Prinsip-prinsip Ekonomi Mikro. PT. Indeks Kelompok Gramedia. Jakarta.
Cooper, Fletcher, Gilbert, Shepherd, Wanthill. 1998. Tourism Principes and Practice. Licensing Agency Ltd. London
Damanik dan Webber. 2006. Perencanaan Ekowisata. PUSPAR dan Penerbit Andi. Yogyakarta.
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan WWF Indonesia. 2009. Prinsip dan Kriteria Ekowisata Berbasis Masyarakat. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan WWF Indonesia.
Departemen Kehutanan Provinsi Irian Jaya. 2004. Data dan Informasi Kehutanan Provinsi Irian Jaya. Departemen Kehutanan.
Fauzi Akhmad. 2006. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Fennel, D.A. 2002. Ecotourism Programme Planning.CABI Publishing. UK. Hakim Luchman. 2004. Dasar-dasar Ekowisata. Bayumedia Publishing. Malang
138
Iqbal Muhammad. 2008. Analisis Nilai Ekonomi Taman Wisata Alam Laut Pulau Weh di Kota Sabang. Tesis Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Juanda Bambang. 2009. Ekonometrika Pemodelan dan Pendugaan. IPB Press.
Bogor.
Kementrian Dalam Negeri. 2009. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengembangan Ekowisata di Daerah.
Kementrian Kehutanan. 1990. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Ki-lee, Mjelde James. W. 2007. Valuation of Ecotourism Resource Using a Contingent Valuation Method: the Case of the Korean DMZ. Ecologicaal Economics 63 (2007) 511-520.
Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. 2010. Statistik Kunjungan Wisatawan Mancanegara tahun 2004-2010. www.budpar.go.id. Didownload pada Kamis, 25 Desember 2010.
Libosada Carlos. 1998. Ecotourism in the Philippines. Bookmark. Makati City. Liendberg dan Harwkins. 1995. Ekoturisme : Petunjuk untuk Perencana dan
Pengelola. The Ecotourism Society North Bennington. Vermont.
Masyarakat Ekowisata Indonesia (MEI). 2004. Ekowisata Indonesia.
www.ekowisata.com. Didownload pada Kamis, 25 Desember 2010.
Purnamasari Gune. 2004. Kajian Pengembangan Produk Wisata Alam berbasis Ekologi di Wilayah Wana Wisata Curug Cilember (WWCC) Kabupaten Bogor. Tesis Sekolah Pascasarjana IPB.
Sabda Abdus. 2003. Aplikasi Metode Biaya Perjalanan Untuk Menduga Fungsi Permintaan dan Manfaat Rekreasi di Objek Wisata Pasir Putih Kabupaten Situbondo Jawa Timur. Skripsi Sekolah Pascasarjana IPB.
Saez, Requena Javier. C. 2007. Reconciling Sustainability and Discounting in Cost-Benefit Analysis: a Methodological Proposal. Ecological Economics 60 (2007) 712-725
139 Suparmoko, 2000. Ekonomi Sumber Daya alam dan Lingkungan (Suatu
Pendekatan Teoritis). BPFE. Yogyakarta.
Supriatna Jatna. 2008. Melestarikan Alam Indonesia.Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
Suwantoro Gamal. 2004. Dasar-dasar Pariwisata. Andi. Yogyakarta.
Tim Fasilitasi Perencanaan Multipihak Pengelolaan Taman Wisata Alam Gunung Meja Kabupaten Manokwari, 2004. Potret Taman Wisata Alam Gunung Meja 2004. NRM. Jakarta.
Tisdell Clem, 2001. Tourism Economics, the Environment and Development
(Analysis and Policy). Edward Elgar Publishing, Inc. Northampton Massachusetts.
Tisdell Clem, 1996. Ecotourism, Economics and the Environment : Observations from China. Journal of Travel Research, 34 (4), 1996, pp. 11-19.
, 1998. Ecotourism: Aspect of its Sustainability and Compability with Conservation, Social and Other Objectives. Australian Journal of Hospitality Management Volume 5, number 2, page 11-21.
Wahyuningsih. 2001. Kumpulan Pedoman Pengembangan pariwisata Alam di Kawasan Hutan. Direktorat Wisata Alam dan Pemanfaatan Jasa Lingkungan. Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi alam. Departemen Kehutanan.
Wardhani Artika Ratna, 2007. Kajian Potensi Kawasan Pesisir bagi Pengembangan Ekowisata di Sekotong Kabupaten Lombok Barat-NTB. Tesis Sekolah Pascasarjana IPB.
Yoeti Oka, 2008. Ekonomi Pariwisata, Introduksi, Informasi dan Aplikasi. Penerbit Buku Kompas. Jakarta.
__________, 2000. Ekowisata Pariwisata Berwawasan Lingkungan Hidup. PT. Pertja. Jakarta.
143
Lampiran 1
Hasil Regresi Linear dengan Metode Enter terhadap Jumlah Kunjungan
Variables Entered/Removedb Model Variables Entered Variables Removed Method 1 Persepsi3, Status, Pendidikan, Jarak, Pekerjaan, BiayaPerjalanan, Persepsi2, Persepsi1, Pendapatan, Umura . Enter
a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: kunjungan
Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .802a .643 .544 .26340 1.716
a. Predictors: (Constant), Persepsi3, Status, Pendidikan, Jarak, Pekerjaan, BiayaPerjalanan, Persepsi2, Persepsi1, Pendapatan, Umur
144
ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 4.508 10 .451 6.497 .000a
Residual 2.498 36 .069
Total 7.006 46
a. Predictors: (Constant), Persepsi3, Status, Pendidikan, Jarak, Pekerjaan, BiayaPerjalanan, Persepsi2, Persepsi1, Pendapatan, Umur
b. Dependent Variable: kunjungan
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) 2.773 2.641 1.050 .301 BiayaPerjalanan -.231 .082 -.344 -2.808 .008 .659 1.516 Jarak -.314 .110 -.334 -2.859 .007 .725 1.380 Pendapatan .423 .162 .334 2.618 .013 .610 1.639 Umur .007 .087 .011 .085 .933 .550 1.817 Pekerjaan .142 .125 .123 1.140 .262 .854 1.171 Pendidikan .118 .144 .105 .821 .417 .609 1.641 Status .082 .130 .069 .627 .535 .808 1.238 Persepsi1 .160 .127 .156 1.266 .214 .653 1.532 Persepsi2 .196 .127 .181 1.547 .131 .727 1.376 Persepsi3 .036 .075 .061 .472 .640 .595 1.681
145
Lampiran 2.
Hasil Regresi Linear dengan Metode Enter Untuk Kesediaan Membayar (WTP) Wisatawan Variables Entered/Removedb Model Variables Entered Variables Removed Method 1 Persepsi3, Pendapatan, Jarak, Pekerjaan, Persepsi2, Umur, Pendidikan, Status, Persepsi1a . Enter
a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: WTP Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .727a .529 .414 .51020 2.037
a. Predictors: (Constant), Persepsi3, Pendapatan, Jarak, Pekerjaan, Persepsi2, Umur, Pendidikan, Status, Persepsi1
146
ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 10.801 9 1.200 4.610 .000a
Residual 9.631 37 .260
Total 20.432 46
a. Predictors: (Constant), Persepsi3, Pendapatan, Jarak, Pekerjaan, Persepsi2, Umur, Pendidikan, Status, Persepsi1
b. Dependent Variable: WTP Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) 8.887 3.746 2.373 .023 Jarak -.091 .203 -.057 -.449 .656 .793 1.261 Pendapatan 1.029 .256 .648 4.013 .000 .488 2.048 Umur .320 .161 .288 1.993 .054 .608 1.644 Pekerjaan .173 .244 .087 .707 .484 .838 1.193 Pendidikan .121 .267 .063 .454 .652 .664 1.506 Status .402 .281 .200 1.432 .160 .652 1.534 Persepsi1 .055 .262 .031 .209 .835 .571 1.751 Persepsi2 .213 .240 .115 .887 .381 .758 1.319 Persepsi3 .142 .135 .142 1.050 .300 .695 1.439 a. Dependent Variable: WTP
147
Lampiran 3.
Hasil Regresi Linear dengan Metode Enter Untuk Kesediaan Membayar (WTP) Masyarakat Variables Entered/Removedb Model Variables Entered Variables Removed Method 1 PersEk, Suku, PersAlam, Umur, PersSitus, Pendidikan, Pendapatan, JumlahKeluarga, LamaMenetap, Pekerjaana . Enter
a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: WTP Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .695a .483 .435 .49400 1.804
a. Predictors: (Constant), PersEk, Suku, PersAlam, Umur, PersSitus, Pendidikan, Pendapatan, JumlahKeluarga, LamaMenetap, Pekerjaan
b. Dependent Variable: WTP
ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 24.810 10 2.481 10.166 .000a
Residual 26.600 109 .244
Total 51.410 119
a. Predictors: (Constant), PersEk, Suku, PersAlam, Umur, PersSitus, Pendidikan, Pendapatan, JumlahKeluarga, LamaMenetap, Pekerjaan
148 Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) -4508.417 1701.022 -2.650 .012 Jarak -301.116 222.009 -.169 -1.356 .183 .754 1.325 Pendapatan .001 .000 .572 3.761 .001 .507 1.972 Umur 90.413 31.193 .418 2.898 .006 .563 1.777 Pekerjaan 241.664 377.529 .073 .640 .526 .892 1.121 Pendidikan 424.853 406.541 .133 1.045 .303 .727 1.376 Status 1018.760 458.261 .305 2.223 .032 .623 1.606 Persepsi1 -280.510 590.791 -.067 -.475 .638 .596 1.679 Persepsi2 787.703 555.531 .177 1.418 .165 .751 1.332 Persepsi3 106.763 319.294 .045 .334 .740 .659 1.519 a. Dependent Variable: WTP
iii Abstract
Maria Magdalena Semet, 2012. The Economic Analysis of Sustainable Natural Tourism Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Meja Manokwari West Papua. Supervised by EKA INTAN KUMALA PUTRI as the leader and SAHAT MH SIMANJUNTAK as member of supervisory commission.
Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Meja is one of the developing tourist and conservations which is in Manokwari and it has the potency to develope to become the natural tourism area. Now the existance of TWA Gunung Meja is in the crisis condition caused by the society interaction in the area, such as the farming, cutting down the wood, top Soil and rocks, the garbage throw and there is no public fasility and supporting facilities. In the developing of economy analysis can be concluded that TWA Gunung Meja offers the aestetic, various flora and Fauna, Natural Cave, and historical sites.The destiny of tourist to TWA Gunung Meja is to entertain of natural panorama, hiking, caving, researching on flora and Fauna and the visit to the historical sites. The economic value of natural tourism TWA Gunung Meja is IDR 592.154.197 annualy and the value of natural tourism development TWA Gunung Meja is IDR 217.940.375. From social analysis, the society from TWA Gunung Meja is very conducive in supporting and ready to participate by paying to the development program on natural tourism in TWA Gunung Meja. While in the Environment analisys, the maximum amount of tourists who can visit to TWA Gunung Meja without changing the physical condition or to decrease the quality of the environment is 58.092 tourist per visit and maximum capacity for the tourist perday 174.211 persons.
Key words: Natural Tourism; Economic Value of Tourism; Environmental carrying capacity; TWA Gunung Meja
iv RINGKASAN
Maria Magdalena Semet, 2012. Analisis Ekonomi Wisata Alam Berkelanjutan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Meja Manokwari Papua Barat. Dibimbing oleh EKA INTAN KUMALA PUTRI sebagai ketua dan SAHAT SIMANJUNTAK sebagai anggota komisi pembimbing.
Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Meja merupakan salah satu kawasan konservasi yang memiliki potensi besar bagi pengembangan ekowisata karena memiliki keindahan, potensi hayati berupa keanekaragaman flora dan fauna, potensi non hayati berupa goa alam dan tugu Jepang sebagai situs bersejarah peninggalan Perang Dunia II. Selain itu, TWA Gunung Meja juga merupakan kawasan pengembangan wisata baik tingkat kabupaten maupun provinsi serta dalam pengelolaan jangka panjang akan dikembangkan menjadi kawasan wisata alam, pendidikan dan penelitian. Namun, sampai saat ini belum ada pengelolaan wisata yang serius di kawasan ini. Hal ini terlihat dari tidak adanya sarana umum dan penunjang kegiatan wisata dalam kawasan, tugu Jepang dan pos informasi yang tidak dirawat serta beberapa titik jalan dalam kawasan yang dalam keadaan rusak berat. Selain itu adanya interaksi masyarakat dalam kawasan seperti pembuatan kebun/ladang, pengambilan kayu, top soil dan batu karang serta pembuangan sampah dalam kawasan. Jika hal ini tidak segera diatasi maka kawasan ini akan mengalami degradasi sehingga nilai estetika dan potensi wisata lainnya akan rusak dan hilang sama sekali. Karena itu, untuk mempertahankan fungsi kawasan ini sebagai objek wisata alam, maka upaya yang diusulkan dalam penelitian ini adalah pengembangan wisata alam berkelanjutan sebagai bagian dari ekowisata melalui analisis ekonomi, sosial dan lingkungan.
Berdasarkan hal di atas maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan (1) Identifikasi pasar wisata alam TWA Gunung Meja, (2) Estimasi nilai ekonomi wisata alam TWA Gunung Meja, (3) Estimasi nilai pengembangan wisata alam TWA Gunung Meja, (4) Identifikasi persepsi masyarakat terhadap pengembangan wisata alam di TWA Gunung Meja, (5) Menghitung daya dukung lingkungan TWA Gunung Meja bagi pengembangan wisata alam berkelanjutan. Tujuan pertama dilakukan dengan identifikasi penawaran wisata, permintaan wisata dan menghitung elastisitas permintaan wisata di TWA Gunung Meja. Tujuan kedua dijawab dengan menghitung nilai ekonomi wisata alam dari sisi permintaan atau wisatawan dengan menggunakan pendekatan Travel Cost Method (TCM) dan dari sisi penawaran atau masyarakat dengan menghitung manfaat ekonomi berupa manfaat langsung dan manfaat tidak langsung dari kegiatan wisata alam di TWA Gunung Meja. Untuk menjawab tujuan ketiga digunakan pendekatan Contingent Valuation Method (CVM) melalui kesediaan membayar atau willingness to pay (WTP) wisatawan maupun masyarakat bagi pengembangan wisata alam TWA Gunung Meja. Tujuan keempat menggunakan analisis deskriptif untuk
v
mengetahui persepsi masyarakat terhadap pengembangan wisata alam TWA Gunung Meja. Tujuan kelima dijawab dengan menghitung daya dukung lingkungan TWA Gunung Meja bagi kegiatan wisata alam untuk melihat sejauh mana lingkungan dapat mengakomodir jumlah wisatawan tanpa menurunkan kualitas lingkungan.
Hasil penelitian yang diperoleh adalah dari analisis ekonomi yaitu analisis penawaran dan permintaan, TWA Gunung Meja menawarkan estetika, keanekaragaman flora dan fauna, goa alam dan situs bersejarah yaitu tugu jepang, sementara permintaaan terhadap kegiatan wisata alam TWA Gunung Meja yakni tujuan utama wisatawan ke TWA Gunung Meja antara lain menikmati panorama alam, hiking, caving, pengamatan flora dan fauna serta kunjungan ke situs bersejarah. Surplus konsumen TWA Gunung Meja adalah sebesar Rp. 397.268.197,- per tahun dimana faktor-faktor yang secara nyata mempengaruhi jumlah kunjungan ke TWA Gunung Meja adalah biaya perjalanan dan jarak yang berpengaruh negative serta pendapatan dan persepsi keindahan yang berpengaruh positif. Total manfaat ekonomi kegiatan wisata terhadap pelaku usaha di TWA Gunung Meja adalah sebesar Rp. 194.886.000,-. Dengan demikian total nilai wisata alam TWA Gunung Meja yang merupakan penjumlahan dari surplus konsumen dengan manfaat ekonomi adalah sebesar Rp. 592.154.197,- per tahun. Nilai pengembangan wisata alam TWA Gunung Meja dari kesediaan membayar wisatawan adalah sebesar Rp. 3.733.800,- dan kesediaan membayar masyarakat sebesar Rp. 268.206.575,-, sehingga total nilai pengembangan wisata adalah sebesar Rp. 271.940.375,-. Adapun faktor-faktor yang secara nyata mempengaruhi kesediaan membayar wisatawan terhadap pengembangan wisata alam adalah pendapatan dan umur, sedangkan faktor-faktor yang secara nyata mempengaruhi kesediaan membayar masyarakat terhadap pengembangan wisata alam adalah pendapatan dan lama menetap. Dari analisis sosial, masyarakat sekitar TWA Gunung Meja sangat mendukung dan bersedia berpartisipasi dengan bersedia membayar untuk program pengembangan wisata alam di TWA Gunung Meja. Sedangkan dari analisis lingkungan, jumlah maksimum wisatawan yang dapat menggunakan TWA Gunung Meja tanpa mengubah keadaan fisik atau menurunkan mutu lingkungan sekitar adalah 58.092 dan daya tampung wisatawan per hari adalah 174.211, dimana jumlah pengunjung TWA Gunung Meja saat ini masih under capacity.
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sejalan dengan penerapan pembangunan berkelanjutan, dalam beberapa tahun terakhir paradigma kegiatan pariwisata mulai bergeser, dari mass tourism ke konsep pariwisata berkelanjutan yaitu pembangunan pariwisata (atraksi, aksesibilitas dan amenitas pariwisata) yang bertujuan untuk memberikan keuntungan optimal bagi masyarakat dan stakeholders, nilai kepuasan optimal bagi wisatawan dalam jangka panjang, serta kepedulian terhadap keseimbangan, kelangsungan dan keberlanjutan sumberdaya alam yang menjadi faktor terdepan sebagai tujuan wisata. Dengan kata lain, wisata berkelanjutan merupakan salah satu mekanisme pembangunan berkelanjutan, yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi secara regional maupun lokal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, namun juga memelihara kelestarian sumberdaya alam, dalam hal ini keanekaragaman hayati sebagai daya tarik wisata (Damanik dan Weber, 2006).
Menurut Supriatna (2008), secara konseptual ekowisata dapat didefinisikan sebagai suatu konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan yang bertujuan untuk mendukung upaya pelestarian lingkunan (alam dan budaya) dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan, sehingga memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat. Saat ini tren ekowisata semakin meningkat seiring tren “back to nature”, karena ekowisata merupakan salah satu pemanfaatan sumberdaya alam secara lestari. Berdasarkan publikasi yang dikeluarkan The International Ecotourism Society (TIES) tahun 2007, pertumbuhan ekowisata secara global pada tahun 2004 mencapai 3 kali lebih cepat dibandingkan industri pariwisata lainnya. Ini menggambarkan bahwa minat masyarakat terhadap ekowisata saat ini jauh lebih besar dibanding dengan pariwisata konvensional. Lebih lanjut menurut Supriatna (2008), di negara-negara berkembang ekowisata menjadi industri yang populer dan bernilai US$ 12 miliar setiap tahunnya.
Indonesia merupakan salah satu negara megabiodiversitas yang didukung dengan keindahan alam yang sangat mempesona serta memiliki beranekaragam
2
budaya sehingga berpeluang besar untuk mengembangkan sektor pariwisata sebagai sumber devisa. Sektor pariwisata nasional terus mengalami peningkatan dan memberikan kontribusi bagi negara, sehingga sektor ini dapat diandalkan untuk menumbuhkan perekonomian nasional melalui kedatangan pengunjung mancanegara, pertumbuhan destinasi, dan membuka lapangan kerja baru. Pertumbuhan tingkat pengunjung mancanegara serta penerimaan devisa negara dari kunjungan tersebut terlihat pada tabel 1 berikut.
Tabel 1. Perkembangan Pengunjung Mancanegara 2004-2009
Tahun Jumlah Pengunjung Mancanegara Rata-rata Pengeluaran (usd) Rata- rata Lama Tinggal (hari) Penerimaan Devisa Kunjungan Pertumbuhan (%) Per Kunjungan Per Hari
Juta USD Pertumbuhan (%) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 5.321.165 5.002.101 4.871.351 5.505.759 6.429.027 6.452.259 19,12 -6,00 -2,61 13,02 16,77 0,36 901,66 904,00 913,09 970,98 1.178,54 995,93 95,17 95,86 100,48 107,70 137,38 129,57 9,47 9,05 9,09 9,02 8,58 7,69 4.797,90 4.521,90 4.447,98 5.345,98 7.373,39 6.302,50 18,85 -5,75 -1,63 20,19 38,00 -14,57 Sumber : Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia (2010)
Sejak tahun 2002 pemerintah Indonesia telah merancangkan konsep ekowisata untuk membangun pariwisata rakyat yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Adapun visi ekowisata Indonesia adalah untuk menciptakan pengembangan pariwisata melalui penyelenggaraan yang mendukung upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya), melibatkan dan menguntungkan masyarakat setempat, serta menguntungkan secara komersial. Dengan visi ini ekowisata memberikan peluang yang sangat besar, untuk mempromosikan pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia di tingkat internasional, nasional, regional maupun lokal. Hal ini sejalan dengan tujuan ekowisata di Indonesia yaitu untuk (1) Mewujudkan penyelenggaraan wisata yang bertanggung jawab, yang mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan alam, peninggalan sejarah dan budaya; (2) Meningkatkan partisipasi masyarakat dan memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat; dan (3) Menjadi model bagi pengembangan pariwisata lainnya, melalui penerapan kaidah-kaidah ekowisata (www.ekowisata.com).
Berdasarkan visi dan tujuan ekowisata Indonesia tersebut, maka konsep ekowisata harus mulai dikembangkan di daerah-daerah yang memiliki kekayaan
3 keanekaragaman hayati, peninggalan sejarah dan seni budaya yang merupakan daya tarik bagi pangsa pasar ekowisata. Daerah-daerah yang memiliki keanekargaman hayati yang tinggi dan berpotensi untuk pengembangan ekowisata pada umumnya adalah kawasan konservasi, seperti Taman Nasional, Cagar Alam, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam.
Provinsi Papua Barat sejak tahun 2008 telah ditetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata di Indonesia oleh Departemen Pariwisata dan Kebudayaan Republik Indonesia, karena keindahan alam serta kenaekaragaman hayati yang dimiliki oleh provinsi ini. Adapun kawasan konservasi di Provinsi Papua Barat yang memiliki keindahan serta keanekaragaman hayati sebagai potensi wisata alam yang dapat dikembangkan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2. Kawasan Konservasi sebagai Potensi Wisata Alam di Provinsi Papua Barat
Nama kawasan Kabupaten Fungsi Luas (Ha)
Betanta Barat Sorong Cagar Alam 16.749,08
Misool Selatan Sorong Cagar Alam 84.000
Pulau Waigeo Barat Sorong Cagar Alam 153.000 Pulai Waigeo Timur Sorong Cagar Alam 119.500
Salawati Utara Sorong Cagar Alam 57.000
Tamrau Utara Sorong Cagar Alam 368.365
Teluk Bintuni Teluk Bintuni Cagar Alam 124.850 Pegunungan Arfak Manokwari Cagar Alam 68.325 Pegunungan Wondiwoy Manokwari Cagar alam 73.022 Kepulauan Raja Ampat Raja Ampat Suaka Margasatwa Laut 60.000 Sabuda Tataruga Fakfak Suaka Margasatwa Laut 5.000 Teluk Cendrawasih Teluk Wondama Taman Nasional Laut 1.453.000
Gunung Meja Manokwari Taman Wisata Alam 500
Beriat Sorong Taman Wisata Alam 9.193,75
Klamono Sorong Taman Wisata Alam 1.909,37 Sumber : Departemen Kehutanan (2004)
Manokwari merupakan ibukota Provinsi Papua Barat yang terletak di bagian Kepala Burung Pulau Papua dan berada di sepanjang Teluk Doreri, memiliki keunggulan alami karena secara geografis memiliki panorama alami dengan keindahan alam yang sangat unik, terdiri dari perbukitan, pegunungan dan laut yang kaya akan potensi sumberdaya alam dan keanekaragaman hayati sehingga potensial bagi pengembangan ekowisata. Kawasan konservasi yang ada di Manokwari terdiri dari Cagar Alam Pegunungan Arfak dan Pegunungan Wondiwoy serta Taman Wisata Alam Gunung Meja. Selain itu Manokwari juga memiliki keindahan laut, pesisir dan danau yang dijadikan sebagai objek wisata,
4
seperti Pantai Pasir Putih, Pantai Bakaro, Pantai Amban, Pantai Maruni, Pulau Mansinam, Pulau Lemon, Danau Kabori dan Danau Anggi.
Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Meja yang berbatasan langsung dengan wilayah Kota Manokwari memiliki potensi ekowisata yang potensial untuk dikembangkan. Berdasarkan Potret TWA Gunung Meja (2004), di TWA Gunung Meja terdapat keragaman flora, seperti jenis-jenis tumbuhan kayu dan non kayu (misalnya: palem, rotan, anggrek, herba, bambu, paku-pakuan, semak perdu, pandan dan liana). Selain keragaman flora, TWA Gunung Meja juga memiliki keragaman fauna dan ada beberapa yang endemik seperti kelompok burung (aves) di mana 14 jenis merupakan jenis endemik, kelompok kadal, kelompok amphibi, kelompok reptile, kelompok kura-kura dan kelompok mamalia. Keunggulan, keunikan dan keanekaragaman flora dan fauna, semakin diperkuat oleh karakteristik fisiografi yang melatarbelakangi kota, merupakan jajaran pegunungan dengan elevasi tertinggi 177 meter di atas permukaan laut yang beberapa sisinya terdapat tebing yang terjal dan lereng yang curam menampakkan panorama yang indah. Di beberapa sisi kawasan ini, tampak panorama laut dengan pantai pasir putih, birunya laut yang dipadu hijaunya pegunungan yang mengelilinginya. Selain itu Gunung Meja dicadangkan sebagai salah satu lokasi Kebun Botani di Nederland New Guinea (NNG) untuk pusat penelitian ilmiah bagi perwakilan Kepulauan Pasifik Selatan.
TWA Gunung Meja merupakan miniatur hutan hujan tropis yang berfungsi sebagai paru-paru dan sumber air bersih serta penyanggah (Buffer zone) Kota Manokwari. Di dalam kawasan ini terdapat goa reservoir air dan goa alam