HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN
B. Elemen Ancaman
Tabel 4.24 Perhitungan Skor Elemen Ancaman
No Faktor Bobot Nilai B x N
1 Daya saing dengan objek wisata di daerah lain
0,256 4,6 1,178
2 Pola pemikiran masyarakat yang kurang mementingkan perjalanan wisata
0,222 4,0 0,888
3 Pemanfaatan ekosistem pantai yang berpengaruh pada kelestarian lingkungan
0,167 3,0 0,501
4 Perusakan hutan bakau di sepanjang pantai 0,156 2,8 0,437 5 Pembuatan usaha Tambak di sepanjang
pantai
0,200 3,6 0,720
Jumlah 1 3,724
1. Daya Saing Dengan Objek Wisata di Daerah Lainnya.
Elemen ancaman berupa daya saing wisata dengan daerah lain mempunyai skor sebesar 1,178 dan berada pada urutan ancaman tertinggi. Terdapatnya daya saing wisata di daerah lain salah satunya dilatarbelakangi oleh adanya kebijakan otonomi daerah yang tidak menutup kemungkinan bagi kabupaten/kota lainnya untuk mengembangkan potensi wisata yang dimilikinya guna menarik minat wisatawan melakukan perjalanan wisata ke daerahnya yang diharapkan mampu meningkatkan PAD. Adanya usaha kota/kabupaten lain di luar Kabupaten Serdang Bedagai yang berusaha mengembangkan potensi wisata merupakan suatu hal yang wajib menjadi perhatian bagi Pemda dan stakeholeders yang terlibat dalam upaya pengembangan kawasan wisata Pantai Cermin.
Dengan adanya daya saing dari kabupaten/kota lainnya maka para pelaku yang terlibat dalam usaha pengembangan kawasan wisata Pantai Cermin secepat mungkin mengambil tindakan untuk mengatasi segala kelemahan yang dimiliki kawasan wisata seperti minimnya ketersediaan sarana penunjang wisata serta masih minimnya variasi atraksi yang mampu menahan wisatawan untuk lebih lama tinggal di kawasan wisata. Tanpa adanya upaya untuk mengatasi/meminimalisasi permasalahan yang ada dikhawatirkan kawasan wisata Pantai Cermin tidak mampu bersaing dengan objek wisata yang dimiliki daerah lainnya sehingga akan berpengaruh pada turunnya jumlah kunjungan wisata yang ada.
Menurut responden yang terlibat dalam studi terdapatnya daya saing wisata di daerah lain selain menjadi ancaman juga bisa menjadi faktor pemacu
dalam usaha pengembangan wisata yang sedang dilakukan. Terdapatnya daya saing dengan objek wisata di daerah lain dapat di atasi seperti yang terjadi pada masalah adanya atraksi pemotong wisata yaitu dengan cara menanamkan citra khas/kesan tempat (sense of place) dan nilai keaslian (authenticity) yang dimiliki kawasan wisata Pantai Cermin yang tidak mungkin dimiliki objek wisata lainnya di dalam diri wisatawan yang melakukan perjalanan ke Pantai Cermin.
Sedangkan untuk menghindari hilangnya kesan tempat dan nilai keaslian yang dimiliki kawasan wisata, maka dalam usaha pengembangan pariwisata harus mampu mempertahankan karakteristik lokal daerah tujuan wisata tersebut.
2. Pola Pemikiran Masyarakat yang Kurang Mementingkan Perjalanan Wisata
Elemen ancaman yang satu ini berupa kondisi perekonomian yang sedang terjadi merupakan elemen ancaman yang mempunyai besar skor adalah 0,888. Seperti halnya yang terjadi pada peningkatan pendapatan masyarakat, dengan kondisi perekonomian yang terjadi saat ini masyarakat pada umumnya pola pikirnya cenderung memilih untuk memenuhi kebutuhan fisiknya terlebih dahulu kemudian memenuhi kebutuhan psikologisnya seperti kebutuhan untuk melakukan perjalanan wisatan. Kondisi yang terjadi di atas pada akhirnya akan berdampak pada menurunnya jumlah kunjungan wisatawan nusantara di kawasan wisata Pantai Cermin.
Berdasarkan ancaman yang ada, seharusnya para pelaku pengembangan kawasan wisata Pantai Cermin melakukan upaya-upaya untuk meminimalisasikan ancaman yang terjadi. Upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi turunya jumlah
kunjungan wisata akibat adalah dengan cara memberikan potongan harga seperti potongan harga tiket masuk ke lokasi ataupun potongan harga tempat penginapan kepada wisatawan yang melakukan perjalanan wisata ke objek kawasan wisata Pantai Cermin. Dengan adanya upaya yang dilakukan untuk mengatasi ancaman yang terjadi maka turunnya jumlah kunjungan wisata akibat kondisi pola pikir masyarakat tidak akan mempengaruhi jumlah kunjungan wisata di kawasan wisata Pantai Cermin.
3. Pemanfaatan ekosistem pantai yang berpengaruh pada kelestarian lingkungan
Elemen ancaman selanjutnya adalah dampak kelestarian lingkungan pantai dari adanya upaya pemanfaatan sebagai objek wisata, sedangkan elemen ancaman ini mempunyai skor sebesar 0,501. Dengan dimanfaatkannya ekosistem pantai sebagai objek wisata alam/ pantai maka akan mempengaruhi kelestarian ekosistem lingkungannya apabila usaha pemanfaatan ekosistem pantai tersebut tanpa diimbangi oleh adanya usaha untuk meminimalisasi tindakan yang menyebabkan terjadinya kerusakan pada ekosistem pantai. Dengan mempertimbangkan begitu pentingnya potensi ekosistem pantai sebagai modal kepariwisataan maka tindakan pelestarian termasuk di dalamnya kegiatan pemeliharaan dan perlindungan menjadi masalah yang kritis.
Pelestarian ekosistem pantai kawasan wisata Pantai Cermin merupakan tindakan awal yang harus dilakukan secara berkelanjutan sebelum dimanfaatkannya potensi alam pantai sebagai modal wisata atau dengan kata lain
upaya pelestarian merupakan payung dari kegiatan wisata yang memanfaatkan potensi alam pantai sebagai modal wisatanya.
Namun kegiatan pelestarian belum mendapatkan tempat yang memadai, kondisi tersebut dapat dicermati dari minimnya kebijakan yang ada, minimnya dana yang tersedia untuk menujang kegiatan pelestarian serta perhatian yang cenderung lebih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan masalah-masalah yang lebih mendesak merupakan salah satu penyebab belum optimalnya upaya pelestarian yang dilakukan di kawasan wisata Pantai Cermin. Untuk mengatasi semua dampak serta ancaman yang tidak diinginkan dari usaha pemanfaatan ekosistem pantai sebagai objek wisata alam/ pantai maka upaya pelestarian yang merupakan payung dari usaha pemanfaatan potensi ekosistem pantai harus dilakukan secara berkesinambungan.
4. Perusakan hutan bakau di sepanjang pantai
Dilakukannya penebangan liar hutan bakau di sepanjang pantai merupakan salah satu ancaman yang mempengaruhi usaha pengembangan kawasan wisata Pantai Cermin. Adapun besar skor dari elemen ancaman ini adalah 0,437.
Dilakukannya penebangan secara liar oleh masyarakat desa dikhawatirkan mampu mempengaruhi lingkungan ekosistem pantai, mengingat hutan bakau merupakan zona peyangga yang berfungsi untuk memberikan kesejukan, keindahan panorama kepada pengunjung serta melindungi pantai dari abrasi dan pengikisan pantai sehingga keberadaan hutan bakau sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya abrasi pantai dan tempat perlindungan ikan.
Dengan ditetapkannya hutan bakau sebagai zona peyangga maka kegiatan penebangan liar yang dilakukan masyarakat harus segera dihentikan. Adanya ancaman dari kegiatan penebangan liar tersebut menuntut dilakukannya koordinasi Pemda Serdang Bedagai untuk menindak lanjuti kegiatan yang bisa mengancam eksistensi lingkungan kawasan wisata Pantai Cermin.
5. Pembuatan Usaha Tambak di sepanjang pantai
Ancaman terakhir yang ada dalam usaha pengembangan kawasan wisata Pantai Cermin adalah dilakukannya usaha pembuatan tambak oleh para pengusaha, adapun besarnya skornya adalah 0,720. Usaha tambak yang dilakukan pengusaha mengakibatkan terjadinya pencemaran air di sekitar pantai, meskipun usaha tambak yang dilakukan memiliki sistem pengolahan limbah namun dampak yang akan terjadi dari kegiatan tersebut dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan pantai sehingga pantai tersebut menjadi kotor dan tidak layak untuk dijadikan tempat pemandian.
Beberapa hal yang mendasari dilakukannya usaha tambak ini adalah kurangnya ketatnya pengawasan Pemda Serdang Bedagai dalam pemberian izin untuk mengusahakan pertambakan maupun munculnya tambak liar tanpa izin operasi sehingga terjadinya tumpang tindih kebutuhan antara pemanfaatan pantai sebagai daerah wisata dan sebagai usaha perikanan. Oleh karena itu, sebaiknya pemberian izin ini harus segera ditertibkan agar mengembalikan potensi pantai sebagai daerah tujuan wisata.