• Tidak ada hasil yang ditemukan

Green Economy

4.1.5.2 Energi Hijau

Pemerintah melalui Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2006 telah menetapkan target energi baru terbarukan dalam bauran energi nasional paling sedikit 17 persen. Target ini kemudian ditingkatkan menjadi 25 persen pada tahun 2025 dalam Kebijakan Energi Nasional yang baru. Di luar debat mengenai realistis atau tidaknya target ini untuk dicapai, kebijakan ini merupakan salah satu kebijakan perintis dalam mewujudkan pengelolaan energi yang lebih ramah lingkungan di Indonesia.

“Kehijauan” Sektor Energi di Indonesia

Emisi merupakan salah satu indikator tingkat “kehijauan” pemanfaatan energi. Apakah emisi CO2 akan selalu meningkat sejalan dengan meningkatnya konsumsi energi? Belajar dari pengalaman negara-negara lain, dapat disimpulkan bahwa kenaikan emisi tidaklah berbanding lurus dengan kenaikan konsumsi energi. Gambar 32 menggambarkan pola hubungan antara konsumsi energi dengan emisi CO2 dari sektor energi untuk lima negara berkembang, yaitu Cina, Indonesia, Thailand, Turki, dan Brazil.

(Sumber: Energy Sector Policy Brief, Bappenas dan Bank Dunia 2014)

Gambar 32 Perbandingan Pola Hubungan Konsumsi Energi dan Emisi CO2 untuk Lima Negara Berkembang

Dari Gambar 33, terlihat bahwa, dengan kondisi sumber dan pemanfaatan energi saat ini (bussiness as usual), Indonesia akan memiliki karakteristik dan menempuh pola yang sama dengan Cina. Hal ini berarti bahwa emisi CO2 akan berbanding lurus dengan konsumsi energi. Tingginya tingkat emisi CO2 di Cina terkait dengan dominasi penggunaan batubara yang mencapai 70 persen sumber energi primer. Selain itu, 50 persen bahan bakar untuk pembangkit listrik juga menggunakan batubara (Gambar 33), termasuk menjadi sepertiga sumber energi pada industri baja dan konstruksi.

Gambar 33 Komposisi Bauran Sumber Energi Pembangkit Listrik di Cina

Di samping pola Cina dan Indonesia, pada Gambar 33 Thailand, Turki, dan Brazil memiliki pola yang berbeda. Meskipun konsumsi energi di ketiga negara ini meningkat, pertumbuhan tingkat emisinya tidaklah setinggi Cina dan Indonesia. Dalam 25 tahun terakhir, Thailand telah berhasil mengubah bauran energi primernya di mana gas meningkat dari sekitar 25 persen menjadi hampir separuh dari energi primer dan minyak menurun dari sekitar 65 persen menjadi sekitar 33 persen, sedangkan batubara

Di lain pihak, dalam 30 tahun terakhir, Turki juga telah berhasil menurunkan penggunaan minyak dalam bauran energi primernya dari sekitar 50 persen menjadi 25 persen. Di saat yang bersamaan, Turki meningkatkan pemanfaatan gas dari hampir 0 persen menjadi sekitar 30 persen, dan menurunkan penggunaan kayu bakar dari sekitar 25 persen menjadi 3 persen.

Sebagai pembanding, proporsi bauran sumber energi pembangkit listrik di Thailand, Turki, dan Brazil adalah seperti pada Gambar 34 - Gambar 35. Di Thailand, pemanfaatan gas bumi meningkat hampir lima kali lipat dalam 25 tahun terakhir. Saat ini, hampir 70 persen sumber pembangkit listrik adalah gas bumi. Di lain pihak, meskipun penggunaan batubara di Turki mengalami peningkatan selama 30 tahun terakhir, akan tetapi penggunaan gas bumi dan tenaga air lebih mendominasi yang mencapai lebih dari 70 persen. Brazil sebagai negara tropis, memanfaatkan kelimpahan sumber daya air dengan baik. Lebih dari 80 persen sumber energi pembangkit listrik di Brazil berasal dari tenaga air. Dominasi ini telah berlangsung selama lebih dari 35 tahun. Keberhasilannya mengembangkan pembangkit listrik tenaga air dengan terus mempertahankan sumber daya air yang menjadi kekuatan pembangkit dapat menjadi pelajaran bagi negara-negara tropis lain, termasuk Indonesia.

Gambar 35 Komposisi Bauran Sumber Energi Pembangkit Listrik di Turki

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa jika bauran energi primer suatu negara memiliki lebih banyak tenaga air (hidro), energi terbarukan, dan gas maka tingkat emisi dari sektor energinya akan lebih rendah. Banyak negara-negara berkembang telah dan mulai mengubah dominasi dari penggunaan batubara dan minyak ke penggunaan gas dan energi terbarukan dalam bauran energinya. Pilihan ini terbukti menurunkan tingkat emisi dari sektor energi. Indonesia, dengan proyeksi kebutuhan energi yang akan meningkat dua kali lipat dalam 15 tahun mendatang (asumsi BAU dengan pertumbuhan ekonomi 7 persen per tahun pada 2015-2030), harus mulai mengarah pada pilihan tersebut.

Pada tahun 2006, Pemerintah Indonesia telah menetapkan target komposisi bauran energi primer untuk tahun 2025. Perubahan drastis terjadi untuk proporsi minyak yang menurun dari 47 persen pada tahun 2010 menjadi 20 persen dan batubara (termasuk liquiefied coal) yang meningkat dari 24 persen menjadi 35 persen. Selain itu, proporsi gas dan energi baru terbarukan juga meningkat dari masing-masing 23 persen dan 5 persen menjadi 30 persen dan 15 persen. Beberapa proyeksi yang dilakukan baik oleh Pemerintah Indonesia (dalam Indonesia Second National Communication to UNFCCC 2010) maupun pihak lain diantaranya Asia-Pacific Energy Research Center/Institute for Energy Economics Japan pada tahun 2010 dan International Energy

yang dilakukan saat ini.

Gambar 36 Komposisi Bauran Sumber Energi Pembangkit Listrik di Brazil

Jika ditelaah lebih jauh, target bauran energi 2025 tersebut diyakini lebih berprinsip pada upaya pemenuhan kebutuhan dari sumber daya energi dalam negeri (self-sufficiency) dari pada penurunan emisi. Hal ini dapat disimpulkan dengan memperkirakan tingkat emisi CO2 relatif yang dilepaskan oleh masing-masing jenis sumber energi. Penurunan emisi sebagai akibat meningkatnya penggunaan sumber energi baru dan terbarukan dapat tereliminasi oleh peningkatan emisi akibat meningkatnya penggunaan batubara pada pembangkit-pembangkit listrik baru.

Gambar 37 Target Bauran Energi 2025 dan Potensi Emisi Relatif Sumber Energi

Gambar 38 Proyeksi Emisi CO2 dari Penggunaan Bahan Bakar Fosil di Indonesia

Gambar 38 menunjukkan bahwa emisi CO2 dari penggunaan bahan bakar fosil akan terus meningkat di ketiga hasil proyeksi. Pembangkit listrik diperkirakan akan menjadi sumber utama emisi CO2 dari penggunaan energi. Selain itu, penggunaan bahan bakar fosil oleh industri dan transportasi domestik juga muncul menjadi sumber kunci emisi. Pada Gambar 39 terlihat bahwa diperkirakan bahan bakar fosil, terutama batubara, masih akan mendominasi komposisi bauran sumber energi pembangkit listrik

Gambar 39 Komposisi Bauran Sumber Energi Pembangkit Listrik di Indonesia

Indonesia memiliki peluang besar untuk menempuh jalan (path) yang lebih hijau di sektor energi. Periode pembangunan jangka menengah yang akan datang (2015-2019) merupakan saat yang tepat untuk mulai mengarah pada jalan tersebut. Setidaknya ada dua hal saat ini yang harus diperhatikan sebagai kunci untuk menuju sektor energi yang lebih hijau di Indonesia:

a. Harga grosir (wholesale prices) bahan bakar thermal (minyak, batubara, LNG) mencerminkan harga pasar internasional bahan bakar tersebut.

b. Harga eceran (retail prices) bahan bakar transportasi (gasoline dan diesel) dan listrik (untuk semua kategori) disubsidi sangat besar.

Insentif Harga dan Pengelolaan Permintaan

Kebijakan penetapan harga (pricing policy) merupakan salah satu kunci dalam pengelolaan energi. Kebijakan harga sangat berpengaruh pada kuantitas dan efisiensi penggunaan energi. Secara umum, ada dua pilihan dalam menentukan harga energi yaitu dengan pengenaan pajak atau pemberian subsidi. Salah satu metode klasifikasi harga eceran aktual (actual retail prices) energi adalah seperti pada Gambar 40.

Sumber: GTZ for 2000-2010; World Bank (2012), US EIA, and AA for 2012

Gambar 40 Klasifikasi Harga Eceran Aktual Energi dalam Interval Dua Tahun

Sumber: GTZ for 2000-2010; World Bank (2012), US EIA, and AA for 2012

Gambar 41 Perbandingan Harga Eceran Gasoline dan Diesel di Beberapa Negara Tahun 2000-2012

Dengan menggunakan klasifikasi di atas, dapat dibandingkan pilihan kebijakan harga energi antar negara yang dalam hal ini adalah gasoline dan minyak diesel. Untuk harga gasoline, Hongkong menetapkan pajak pendapatan yang tinggi sedangkan Australia dan Cina menarik pajak pendapatan yang moderat. Di lain pihak, Indonesia dan Malaysia memberikan subsidi pada harga gasoline dalam dekade terakhir ini.

Crude parity (Brent) USA price Lowest price in Europe China Malaysia Hong Kong Australia Indonesia 0 25 50 75 100 125 150 175 200

Nov 00 Dec 02 Nov 04 Nov 06 Nov 08 Nov 10 Jul 12

Retail price of Gasoline USc per ltr Crude parity (Brent) USA price Lowest price in Europe China Malaysia Hong Kong Australia Indonesia 0 25 50 75 100 125 150 175 200

Nov 00 Dec 02 Nov 04 Nov 06 Nov 08 Nov 10 Jul 12

Retail price of Diesel

termasuk yang terendah di dunia, meskipun telah mengalami beberapa kali kenaikan di saat beban fiskal akibat subsidi menjadi sangat tinggi. Subsidi bahan bakar ini sebagian besar dinikmati tidak oleh kelompok masyarakat miskin yang menjadi sasaran subsidi.

Kebijakan penetapan harga listrik dengan subsidi ternyata memberikan keuntungan kepada semua pelanggan, tidak terbatas pada pelanggan yang menjadi sasaran subsidi saja. Visualisasi mengenai penetapan subsidi listrik dan keuntungan yang diterima oleh tiap kelas pelanggan di tahun 2011 digambarkan pada Gambar 42.

Sumber: PLN

Dengan nilai tukar tahun 2011 (Rp. 8.736/US$), Sales 160 TWh, dan PSO Rp. 93 Triliun

Gambar 42 Kebijakan Harga Listrik Tahun 2011 per Kategori Tarif

Dalam penetapan harga bahan bakar, hal yang paling penting dalam menentukan harga eceran adalah hubungan antara harga internasional bahan bakar dan harga domestiknya. Hubungan ini dapat berupa:

c. Full pass-through.

Indonesia telah menerapkan banyak tipe pass-through harga ini, antara lain adalah dengan menerapkan rule-based with trigger untuk harga eceran bahan bakar dan full pass-through untuk industri. Untuk harga eceran bahan bakar, aturan yang dimaksud adalah klausul yang memperbolehkan kenaikan harga apabila rata-rata harga ICP selama enam bulan terakhir meingkat 15 persen di atas asumsi APBN ($105/bbl).

Respon permintaan terhadap kenaikan harga eceran bahan bakar sangat bergantung pada ketersediaan bahan bakar alternatif. Sebagai contoh adalah konsumsi minyak tanah yang sejak tahun 2005 harganya dinaikkan dan menyebabkan menurunnya permintaan akan minyak tanah. Hal ini disebabkan ketersediaan LPG dan kayu bakar sebagai alternatif (pengganti) dari minyak tanah ini. Kebijakan substitusi minyak tanah ke gas dengan menaikkan harga minyak tanah dan memberikan pilihan gas LPG 3 kg merupakan contoh respon negatif permintaan terhadap kenaikan harga bahan bakar. Respon berbeda muncul pada permintaan gasoline dan diesel. Kenaikan harga diesel pada tahun 2005 dan 2008 menyebabkan turunnya secara drastis konsumsi diesel bersubsidi untuk sementara akan tetapi kemudian kembali meningkat. Di lain pihak, konsumsi gasoline terus meningkat tanpa terpengaruh adanya kenaikan harganya. Hal ini disebabkan karena kedua bahan bakar ini tidak memiliki alternatif substitusi yang lain sehingga konsumen tidak punya pilihan lain selain terus mengkonsumsinya. Dengan demikian, dapat diperkirakan bahwa konsumsi gasoline akan terus meningkat.

Konsumsi gasoline memiliki kecenderungan untuk terus meningkat sebanding dengan peningkatan PDB perkapita suatu negara. Gambar 43 memperlihatkan pola hubungan antara konsumsi gasoline dengan PDB per kapita di beberapa negara yang

ternyata berbeda-beda. Hal ini dapat dijadikan salah satu indikator efisiensi penggunaan energi. Dari gambar tersebut, terlihat bahwa level efisiensi Indonesia masih rendah sehingga diperlukan upaya untuk menghindari “gaya” konsumsi yang boros dan emisi yang tinggi ini.

Sumber: Data dan Hasil Perhitungan Bank Dunia

Gambar 43 Konsumsi Gasoline per Kapita pada Tingkat PDB per Kapita yang Berbeda-beda untuk Beberapa Negara Tahun 1986-2010

Pertumbuhan ekonomi Indonesia telah meningkatkan jumlah kendaraan, termasuk sepeda motor, dengan bahan bakar gasoline maupun diesel secara signifikan. Belum tersedianya sistem transportasi publik yang efisien menyebabkan penduduk tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan kendaraan pribadinya. Tidak ada pilihan untuk berpindah pada moda transportasi yang lebih ramah lingkungan baik secara individu maupun komunal.

Dari sisi pengelolaan permintaan, kebijakan penetapan harga saat ini harus diubah mengingat bahwa memperkirakan harga bahan bakar dan nilai tukar rupiah adalah upaya kunci yang sangat sulit dikontrol. Selain itu, kontrol terhadap volume konsumsi bahan bakar juga sangat sulit dilakukan sebagaimana telah dicoba oleh banyak negara dan tidak berhasil. Penetapan harga dengan metode rule-based sangat diperlukan karena penetapan harga sesuai harga pasar (market-driven pricing) sangat membantu dalam mengurangi penggunaan energi yang boros dan juga menurunkan total

emisi dari penggunaan energi. Hal lain yang juga perlu dilaksanakan secara paralel adalah membangun sistem transportasi publik yang efisien sebagai prasyarat pemenuhan alternatif kebutuhan transportasi yang sekaligus juga mengurangi tingkat emisi.

Trade-off dari Pilihan-pilihan Kebijakan

Gas Bumi: Untuk Transportasi (CNG) atau Pembangkit Listrik?

Dalam satu dekade terakhir, berdasarkan data dalam NGV Global and THe Gas Vehicle Report pada bulan Februari 2014, sekitar 77 persen kendaraan berbahan bakar gas (CNG) di dunia didominasi oleh enam negara, yaitu Iran (18 persen), Cina (15 persen), Pakistan (14 persen), Argentina (12 persen), Brazil (9 persen) dan India (persen). Iran adalah negara dengan cadangan gas bumi terbesar di dunia dan 60 persen dari bauran energi primernya adalah gas bumi. Pada tahun 2003, CNG mulai dipergunakan untuk mengatasi tingginya polusi udara di kota-kota besar. Di tahun 2008, kebijakan pengurangan subsidi BBM diberlakukan sehingga harga minyak meningkat tajam. Meskipun demikian, kebijakan ini diawali dengan meluncurkan kembali program penggunaan CNG sebagai alternatif. Kemudian sejak tahun 2012 diberlakukan sanksi berat bagi para pengimpor gasoline dan diesel. Harmonisasi kebijakan dan tahapan subtitusi secara terencana ini membuat proses transisi dan tujuan kebijakan dapat tercapai dengan baik.

Pengalaman berbeda dapat dipelajari dari Pakistan. Pada tahun 1994-1997 insentif fiskal berupa well-head prices yang tinggi diberikan untuk menarik investasi sehingga produksi gas bumi meningkat dua kali lipat. Di tahun 1999, CNG mulai diperkenalkan sebagai bahan bakar alternatif untuk kendaraan dengan harga 60 persen dari harga gasoline. Akan tetapi, pada periode 2002-2007, dengan tingkat pertumbuhan PDB sebesar 7 persen per tahun insentif well-head prices ditetapkan konstan mengikuti harga di tahun 2001 (rata-rata 3,5 USD/mmbtu). Hal ini menyebabkan surplus gas tidak lagi terjadi sejak tahun 2008, seluruh produksi gas bumi dikonversi menjadi CNG sementara pembangkit listrik didominasi oleh bahan bakar minyak. Saat ini kekurangan pasokan gas (CNG) sangat sering terjadi, antrian panjang di stasiun pengisian CNG menjadi pemandangan sehari-hari dan memicu kenaikan harga CNG. Kebijakan

Di Indonesia, pada tahun 2012, harga gas (CNG) ditetapkan sebesar 55 persen dari harga gasoline, akan tetapi sekitar 45 persen dari harga gasoline tersebut merupakan subsidi (Gambar 44). Hal ini tidak memberikan insentif apapun kepada pemilik kendaraan untuk berpindah ke CNG karena biaya yang dikeluarkan masih setara dengan menggunakan gasoline. Untuk itu, ada dua pilihan kebijakan yang dapat ditempuh:

e. Penetapan harga CNG yang lebih rendah (akan tetapi harus tetapi di atas biaya pengadaannya); atau

f. Harga domestik gasoline dinaikkan secara simultan.

Keterangan: Harga gas diambil dari harga LNG impor 2012 untuk Nusantara Regas; Harga gasoline ditetapkan ekuivalen dengan MOPS Gasoline 2012 rata-rata Rp 8.029/liter (=83 US cents/liter).

Gambar 44 Trade-off antara CNG dan Gasoline di Indonesia pada Harga Tahun 2012

Dengan melakukan simulasi penetapan harga CNG sebesar 45 persen dari harga aktual gasoline; penambahan jumlah mobil dari tahun 2011 ke 2012 adalah sebesar 883.393 mobil; dan asumsi bahwa rata-rata konsumsi bahan bakar adalah setara dengan Honda Civic 2011 maka dapat diketahui besarnya subsidi yang dapat dihindari apabila semua mobil baru tersebut menggunakan CNG (Tabel 51). Jika semua mobil baru tersebut berbahan bakar gasoline diperlukan 2,41 juta kiloliter gasoline sepanjang tahun tersebut. Dengan harga keekonomian gasoline sebesar Rp. 8.029/liter dan harga bersubsidi sebesar Rp. 4.500/liter maka subsidi yang dikeluarkan adalah sebesar Rp. 8,5

triliun. Sebaliknya, jika semua mobil baru tersebut berbahan bakar CNG maka diperlukan 83,9 bcf CNG sepanjang tahun tersebut. Dengan harga CNG yang ditetapkan, maka seluruh biaya CNG ditanggung oleh konsumen sehingga tidak ada subsidi yang diperlukan. Dari perhitungan ini dapat disimpulkan bahwa dengan mengkonversi 10 persen mobil menjadi berbahan bakar CNG maka jumlah anggaran subsidi yang dapat dihemat adalah sebesar Rp. 8,5 triliun dan emisi CO2 yang dapat dihindari sebesar 0,4 juta ton. Meskipun demikian, skenario ini memiliki keterbatasan dalam penyediaan gas, terutama infrastruktur untuk distribusinya.

Tabel 51 Simulasi Trade-off antara CNG dan Gasoline

Honda Civic 2011 Gasoline CNG

Mileage 10,6 km/liter 0,3 km/cubic feet

Rata-rata konsumsi per tahun 2.725 liter 94.976 cubic feet

Rata-rata perjalanan per tahun 28.954 km 28.954 km

Jumlah mobil baru 2012 883.393 mobil 883.393 mobil

Total konsumsi bahan bakar 2,41 juta kiloliter 83,9 juta cf

Penetapan harga

Harga keekonomian Rp. 8.029/liter; Harga bersubsidi Rp. 4.500/liter

45% dari harga aktual gasoline Jumlah subsidi yang

diperlukan Rp. 8,5 triliun Rp. 0

Selanjutnya, jika kebutuhan gas sebesar 83,9 bcf yang dialokasikan untuk mobil-mobil berbahan bakar gas di atas dialihkan untuk pembangkit listrik dengan asumsi bahwa gas tersebut adalah LNG dengan harga US$ 12/mmbtu dan tingkat efisiensi konversi pembangkit listrik tenaga gas PLN adalah 8,89 cf/kWh maka akan diproduksi 9,4 Terawatt listrik dengan biaya Rp. 9,7 triliun. Perbandingan antara pembangkit listrik tenaga gas dengan pembangkit listrik tenaga batubara dan diesel untuk menghasilkan daya listrik yang sama dirangkum pada Tabel 52. Dengan subsidi yang dapat dihemat sebesar Rp. 14 triliun, jauh lebih tinggi dari subsidi yang dapat dihemat jika gas tersebut digunakan untuk transportasi sebesar Rp. 8,5 triliun, maka akan lebih baik jika gas

5,74/mmbtu lebih menguatkan kesimpulan dari simulasi ini.

Tabel 52 Simulasi Perbandingan antar Pembangkit Listrik

Gas-fired Plants Coal-fired Plants Diesel-fired Plants Efisiensi konversi

pembangkit 8,89 cf/kWh 0,5 kg/kWh 0,28 liter/kWh

Bahan bakar untuk menghasilkan 9,4 Terawatt

83,9 bcf 4,72 juta ton 2,64 juta kiloliter

Harga untuk PLN (2012) US$ 12/mmbtu Rp. 846/kg Rp. 8.949/liter Total biaya Rp. 9,7 triliun Rp. 3,99 triliun Rp. 23,65 triliun Dibandingkan dengan

gas: - Lebih murah Lebih mahal

- Penghematan subsidi

jika konversi ke gas - Rp. 0 Rp. 14 triliun

- Emisi CO2 yang dihindarkan jika konversi ke gas

- 4,4 juta ton 2,3 juta ton

Dari pembahasan pada subbab ini dapat disimpulkan bahwa harga gasoline sebaiknya dinaikkan (subsidi dikurangi) untuk memberikan daya tarik pada penggunaan CNG. Selain itu, diperlukan jaringan distribusi gas yang luas untuk mendukung penggunaan CNG untuk kendaraan penumpang. Dengan demikian, jika penghematan subsidi (atau penurunan emisi CO2) menjadi tujuan kebijakan, maka akan lebih baik jika tambahan alokasi gas (bahkan untuk LNG sekalipun) digunakan untuk mengkonversi/menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel daripada alokasi gas tersebut digunakan untuk transportasi (CNG).

Tabel 53 Rangkuman Hasil Simulasi Trade-off Penggunaan Gas untuk Transportasi dan Pembangkit Listrik

Perbandingan Pilihan Penghematan

Subsidi

Mitigasi Emisi CO2

Gas untuk menggantikan gasoline pada mobil

penumpang CNG (juga LNG atau domestik) Rp. 8,5 T 0,3 juta ton Gas untuk pembangkit listrik (LNG)

- Menggantikan pembangkit listrik batubara - Menggantikan pembangkit listrik diesel

0 Rp. 14 T

4,4 juta ton 2,3 juta ton Gas untuk pembangkit listrik (gas domestik)

- Menggantikan pembangkit listrik batubara - Menggantikan pembangkit listrik diesel

0 Rp. 19 T

4,4 juta ton 2,3 juta ton