• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Sektor Pertambangan Mineral dan Batubara

REVIEW RPJMN 2009 - 2014

3.2 Permasalahan dan Isu Strategis Sektor Mineral Pertambangan dan Batubara pada RPJMN 2010 – 2014 Batubara pada RPJMN 2010 – 2014

3.2.1 Perkembangan Sektor Pertambangan Mineral dan Batubara

Sampai saat ini telah dicapai berbagai hasil dan kemajuan di sektor pertambangan mineral dan batubara. Hasil ini merupakan tumpuan yang kuat untuk memasuki pembangunan jangka menengah mendatang. Salah satu amanat dari UU No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara adalah kewajiban pemegang kontrak/perjanjian pertambangan untuk menyesuaikan ketentuan-ketentuan dalam kontrak dengan ketentuan dalam UU No. 4 tahun 2009. Di samping itu, UU ini juga

optimalisasi peningkatan nilai tambah, menjamin ketersediaan bahan baku industri dalam negeri, membantu penyerapan tenaga kerja dan peningkatan penerimaan negara.

Dalam lima tahun terakhir ini, penerimaan negara dari pertambangan umum mengalami peningkatan tiap tahunnya. Pada tahun 2009, penerimaan tersebut sebesar Rp. 51,2 triliun dan meningkat menjadi Rp. 122,2 triliun pada tahun 2012 serta pada tahun 2013 meningkat menjadi 145,1 triliun. Peningkatan penerimaan negara dari tahun 2009 – 2013 yang paling besar berasal dari pajak yang mengalami peningkatan hampir tiga kali lipat per tahun dari Rp. 36,1 triliun menjadi Rp. 97,1 triliun. Sementara, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) 2009-2012 meningkat hanya sebesar 10,1 triliun rupiah (22 persen per tahun). Peningkatan penerimaan negara ini tidak lepas dari peningkatan harga komoditas pertambangan yang cukup pesat sehingga terjadi peningkatan keuntungan perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan. Sebagai contoh, harga batubara acuan (HBA) Indonesia yang naik dari 70,70 USD/ton di tahun 2009 menjadi 95,48 USD/ton di tahun 2012 (ESDM). Sementara untuk sektor mineral, komoditas yang meningkat secara tajam adalah batubara dan timah yang meningkat dari 254 dan 72 ton di tahun 2009 menjadi 386 dan 105 ton di tahun 2012.Pada periode yang sama, investasi mengalami peningkatan dari USD 2,21 miliar menjadi USD 4,20 miliar. Investasi dalam sektor pertambangan terutama di sektor hulu menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan sektor pertambangan.

Tabel 18 Pertumbuhan Penerimaan Negara dan Investasi Tahun 2009-2013

No. Indikator

(Rupiah Triliun)

Tahun

2009 2010 2011 2012 2013*)

1 Penerimaan Negara Bukan Pajak

(PNBP) 15,1 18,6 24,2 25,1 33,1

2 Pajak 36,1 48,3 83,0 97,1 112

3 Investasi (Miliar USD) 2,21 3,19 3,41 4,20 3,77

4 Total 51,2 66,9 107,2 122,2 145,1

Sumber: KESDM 2013 *) Perkiraan capaian 2013

Perkembangan produksi komoditas tertentu pada periode 2009 sampai 2012 umumnya mengalami peningkatan walaupun beberapa komoditas mengalami fluktuasi dan penurunan seperti mineral tembaga dan emas. Produksi batubara dari tahun 2009 sampai 2012 mengalami kenaikan rata-rata sebesar 52 persen dari 254 juta ton menjadi 386 juta ton. Realisasi produksi ini umumnya melebihi yang ditargetkan pemerintah

dalam RPJMN 2010-2014 sebesar 332 ton pada tahun 2012. Tingkat pemanfatan batubara di dalam negeri meningkat dari 56 juta ton (2009) menjadi 72 juta ton (2013). Sebagian besar pemanfaatan batubara di dalam negeri diserap oleh pembangkit listrik tenaga uap, industri semen, industri tekstil, industri pulp, pabrik peleburan nikel dan timah, serta berbagai industri kecil lainnya. Volume ekspor batubara juga meningkat, dari 198 juta ton (2009) menjadi 349 juta ton (2013). Negara tujuan ekspor batubara Indonesia yang utama pada tahun 2012 adalah Cina, India dan Jepang.

Gambar 5 Produksi Batubara 2009-2013

Untuk komoditi mineral, produksi konsentrat tembaga dan emas secara konstan mengalami penurunan sejak tahun 2009. Hal ini disebabkan oleh banyaknya negara yang menjual cadangan emasnya karena resesi global. Sementara untuk komoditi lainnya umumnya mengalami peningkatan. Walaupun sempat menurun di tahun 2010 dan 2011, produksi timah meningkat dari 60 ribu ton di tahun 2009 menjadi 95 ribu ton di tahun 2012. Pada tahun 2013, produksi timah menurun mencapai 88 ribu ton. Sementara itu produksi bijih nikel dan bijih besi meningkat cukup signifikan dari masing-masing 6 dan 5 juta ton di tahun 2009 menjadi 37 dan 10 juta ton di tahun 2012, kemudian meningkat menjadi 60 dan 19 juta ton pada tahun 2013. Bijih bauksit juga mengalami peningkatan produksi dari 5 juta di tahun 2009 menjadi 29 juta ton di tahun

2009 2010 2011 2012 2013 Produksi 254 275 353 386 421 Ekspor 198 208 273 304 349 Domestik 56 67 80 82 72 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 Ju ta To n

Tabel 19 Realisasi dan Rencana Produksi Mineral dan Batubara Tahun 2009-2013

No. Indikator Satuan Tahun

2009 2010 2011 2012 2013*)

1 Batubara Juta Ton 254 275 353 386 391

2 Konsentrat Tembaga Ribu Ton 999 878 543 447 545

3 Emas Ribu Kg 104 104 76 66 88

4 Timah Ribu Ton 60 48 42 95 100

5 Bijih Nikel Juta Ton 6 7 32 37 37

6 Bauksit Juta Ton 5 16 39 29 30

7 Bijih Besi Juta Ton 5 4 12 10 11

Sumber: KESDM 2013 *) Perkiraan capaian 2013

Tabel 20 Ekspor Mineral dan Batubara Tahun 2009-2013

No. Indikator Satuan Tahun

2009 2010 2011 2012 2013*)

1 Batubara Juta Ton 254 275 353 386 391

Tembaga Ribu Ton 702 612 336

2 Konsentrat Tembaga Ribu Ton 1.741 1.684 385 580 1020

3 Emas Ribu Kg 104 104 76 66 88

4 Timah Ribu Ton 60 48 42 95 100

5 Bijih Nikel Juta Ton 6 7 32 37 37

6 Bauksit Juta Ton 5 16 39 29 30

7 Bijih Besi Juta Ton 5 4 12 10 11

Sumber: KESDM 2013 *) Perkiraan capaian 2013

Pada tahun 2012, Pemerintah mulai mengatur pembatasan ekspor bijih melalui Peraturan Menteri ESDM No. 7 tahun 2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral, yang kemudian diperbarui dengan diterbitkannya Permen ESDM No. 112012, dan terakhir dengan diterbitkannya Permen ESDM No. 20/2013 sebelum nantinya akan diberlakukan pelarangan ekspor bahan mentah produk pertambangan di tahun 2014. Di samping itu, telah ditetapkan beberapa peraturan tentang tata niaga dan pengendalian ekspor produk tambang yang belum diolah diantaranya Peraturan Menteri Perdagangan No. 29 tahun 2012 tentang

Ketentuan Ekspor Produk Pertambangan dan PMK No. 75/PMK.011/2012 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar. Penetapan tentang tata niaga dan pengendalian ekspor tersebut mengharuskan setiap eksportir produk pertambangan untuk terdaftar sebagai Eksportir Terdaftar (ET) dan membayar Bea Keluar (BK) sebesar 20 persen dari harga ekspor. Dalam mendukung implementasi kebijakan ini, sudah dikeluarkan berbagai kebijakan insentif di antaranya dengan keluarnya Peraturan Pemerintah No. 52 tahun 2011 tentang Insentif Pajak Bagi Smelter di Luar Pulau Jawa.

Penyesuaian KK dan PKP2B dilakukan untuk menyempurnakan dan memperbaiki semua kontrak dan perjanjian yang ada sesuai dengan amanat UU No. 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Terdapat enam isu strategis dalam rangka penyesuaian tersebut, yaitu: (1) luas wilayah kerja, (2) perpanjangan kontrak, (3) penerimaan negara, (4) kewajiban pengolahan dan pemurnian, (5) kewajiban divestasi, dan (6) kewajiban penggunaan barang/jasa pertambangan dalam negeri. Sampai Juni 2013, renegosiasi penyesuaian KK dan PKP2B adalah sebagai berikut: (1) KK, secara prinsip setuju seluruhnya sebanyak 2 Perusahaan, setuju sebagian sebanyak 35 Perusahaan; (2) PKP2B, secara prinsip setuju seluruhnya 10 Perusahaan dan setuju sebagian sebanyak 64 Perusahaan.

Selain itu, telah dilakukan sosialisasi kebijakan peningkatan nilai tambah, baik kepada pihak swasta/investor, asing maupun lokal, asosiasi pengusaha pertambangan mineral, pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP), serta dinas pertambangan di daerah. Sampai saat ini sebanyak 285 perusahaan telah menyampaikan dokumen rencana pengolahan dan pemurnian produk tambang. Terdapat 11 fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral yang berpotensi untuk dibangun dengan rincian pada Tabel 21.

Tabel 21 Potensi Fasilitas Pengolahan dan Pemurnian Mineral

No Perusahaan Lokasi Komoditas Produk

Total Kapasitas

(Ton)

Investasi (USD)

1 PT. Antam, Tbk Halmahera Timur, Maluku Utara

No Perusahaan Lokasi Komoditas Produk Total Kapasitas (Ton) Investasi (USD) 3 PT.Bintang Delapan Energy Morowali, Sulawesi Tengah

Nikel FeNi 350.000 282 Juta

4 PT Stargate Pasific Resources

Konawe Utara Sulawesi Tenggara

Nikel NPI 50.000 1.8 Miliar

5 PT. Meratus Jaya Iron Steel

Batu Licin,

Kalimantan Selatan

Besi Pig Iron 315.000 110 Juta

6 PT. Sebuku Iron Lateric Ore (SILO)

Kotabaru,

Kalimantan Selatan

Besi Sponge

Iron

1.200.000 1.16 Miliar

7 PT. Indoferro Cilegon, Banten Besi Pig Iron 500.000 133.5 Juta

8 PT. Harita Prima Abadi Mineral

Tanah Laut, Kalimantan Selatan

Bauksit CGA 2.000.000 2.28 Miliar

9 PT Putra Mekongga Sejahtera Kolaka, Sulawesi Tenggara Nikel Sponge FeNi 2.190 1.4 juta

10 PT. Indosmelt Maros, Sulawesi Selatan Tembaga Copper Cathode 120.000 700 Juta 11 PT. Sumber Suryadaya Prima Sukabumi, Jawa Barat

Pasir Besi Pelet Besi 500.000 200 Juta

Sumber: KESDM 2013 *) Perkiraan capaian 2013

Sejumlah peta dan informasi geologi mengenai potensi sumber daya mineral dan energi telah diselesaikan. Pemetaan geologi bersistem, telah diselesaikan seluruhnya, terdiri 58 lembar peta geologi dengan skala 1:100.000 untuk Pulau Jawa dan Madura, 162 lembar dengan skala 1:250.000 untuk daerah di luar Pulau Jawa dan Madura. Pemetaan gaya berat bersistem di Pulau Jawa dan Madura dengan skala 1:100.000 telah diselesaikan sebanyak 49 lembar, sedangkan untuk luar Pulau Jawa dan Madura dengan skala 1:250.000 telah selesai sebanyak 75 lembar. Bersamaan dengan itu, pemetaan geologi dasar laut bersistem skala 1:250.000 telah diselesaikan sebanyak 17 lembar, peta geologi kelautan regional dengan skala 1:1.000.000. Sebanyak 74 lembar peta hidrogeologi bersistem di luar Pulau Jawa dan Madura skala 1:250.000, sedangkan untuk Pulau Jawa dan Madura peta skala 1:100.000 telah diselesaikan sebanyak 5 lembar. Penyelidikan potensi cekungan air tanah tingkat awal telah menyelesaikan 105 cekungan atau 49,1 persen, dan penyelidikan tahap rinci sebanyak 22 cekungan atau

10,3 persen dari seluruh cekungan air tanah di Indonesia. Di samping itu, telah diselesaikan pemetaan geokimia mineral skala 1:250.000 sebanyak 38 lembar, inventarisasi sumber daya mineral skala 1:250.000 sebanyak 50 lembar, dan peta penyebaran potensi panas bumi dengan skala 1:5.000.000; pemetaan geologi panas bumi skala 1:50.000 telah diselesaikan di 52 lokasi; penyelidikan geofisika panas bumi di 29 lokasi; penyelidikan geokimia panas bumi di 19 lokasi; dan pengeboran uji panas bumi di 2 lokasi. Bersamaan dengan itu, diselesaikan pula inventarisasi batubara skala 1:250.000 sebanyak 23 lembar atau sekitar 46,0 persen dari seluruh wilayah Indonesia yang mengandung batubara. Berdasarkan inventarisasi sumber daya geologi, sumber daya dan cadangan batubara Indonesia meningkat dari 104,9 miliar ton di tahun 2009 menjadi 119,4 miliar ton. Sementara yangsudah berstatus cadangan meningkat dari 21 miliar ton di tahun 2009 menjadi 28,9 miliar ton di tahun 2012. Sumber daya dan cadangan tersebut terutama tersebar di Pulau Sumatera sebear 60 persen dan Pulau Kalimantan 35 persen, sedangkan sisanya tersebar di Pulau Jawa, Pulau Sulawesi, dan Papua. Sementara sumber daya mineral logam utama yang terdiri dari timah 2 juta ton, nikel 901,2 juta ton, bauksit 924,4 juta ton, emas 1,7 ribu ton, dan perak 8,7 ribu ton. Untuk sumber daya mineral industri: batu kapur 30 miliar ton, dolomit 1,5 miliar ton, kaolin 9,3 juta ton, pasir kuarsa 4,7 miliar ton, belerang 5,7 juta ton, fosfat 4,3 juta ton, bentonit 1,4 miliar ton, feldspar 2,5 miliar ton, zeolit 207 juta ton, pirofilit 550 juta ton, granit 10 miliar ton, dan marmer 8,6 miliar ton.

Tabel 22 Sumber Daya dan Cadangan Batubara (Juta Ton) Tahun 2009-2012

No. Indikator Tahun

2009 2010 2011 2012

1 Sumber Daya *) 104.940,2 105.187,4 120.338,6 119.446,4

2 Cadangan 21.131,8 21.131,8 28.017,5 28.978,6

Total 126.072,1 126.319,3 148.356,1 148.424.9

Sumber: KESDM 2013

*) Tidak termasuk sumber daya hipotetik

Sebagai amanat dari UU No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara dan PP No. 22 tahun 2010 tentang Wilayah Pertambangan dan dalam rangka

yaitu wilayah yang memiliki informasi ketersediaan data, potensi, dan/atau informasi geologi; (2) Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR), tempat dilakukan kegiatan usaha pertambangan rakyat; dan (3) Wilayah Pencadangan Negara (WPN), dicadangkan untuk kepentingan strategis nasional. Rancangan WP ini telah disampaikan kepada DPR untuk dikonsultasikan dan nantinya akan ditetapkan oleh Pemerintah. Saat ini, dari 7 kluster WP yang meliputi pulau dan kepulauan yaitu P. Sumatera, P. Kalimantan, P. Jawa-Bali, P. Sulawesi, P. Papua, Kepulauan Nusa Tenggara, dan Kepulauan Maluku, telah ditetapkan WP kluster Pulau Sulawesi dan selanjutnya akan ditetapkan untuk kluster WP lainnya.

UU No. 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara telah mengakhiri rezim kontrak/perjanjian dan menetapkan pola IUP dalam pengusahaan pertambangan. Seluruh pemegang KP/SIPD/SIPR diwajibkan melakukan penyesuaian menjadi IUP/IPR.

Total IUP yang terdata adalah sebanyak 10.891 IUP, dimana sebanyak 5.974 IUP telah diverifikasi sebagai IUP Clear and Clean (CnC) dan 4.917 IUP Non-Clear and Clean (Non-CnC), yaitu IUP yang secara administrasi perizinannya bermasalah dan atau tumpang tindih (Tabel 23).

Tabel 23 Izin Usaha Pertambangan Minerba

No Indikator Mineral Batubara Eksplorasi Operasi Produksi Eksplorasi Operasi Produksi

1 Clear and Clean 1.507 2.028 1.472 967

2 Non-Clear and Clean 1.458 1.990 1.065 404

3 Total 2.965 4.018 2.537 1.371

Sumber: KESDM 2013 Keterangan: Status 25 Juli 2013

Untuk menyelesaikan IUP Non-Clear and Clean, telah dilakukan koordinasi antarkementerian, termasuk Kemendagri dan Badan Informasi Geospasial (BIG), untuk melakukan evaluasi dan verifikasi atas keabsahan IUP.

Kebijakan pengutamaan pemenuhan batubara dan mineral untuk keperluan dalam negeri (DMO) dilakukan guna menjamin pasokan bahan baku industri di dalam negeri. Pada tahun 2012 target DMO sebesar 82,1 juta ton terdiri atas 40 PKP2B, 1 BUMN dan 22 IUP dan direvisi menjadi 67,3 juta ton. Penurunan ini disebabkan oleh

mundurnya jadwal COD dari program percepatan pembangunan pengembangan pembangkit listrik (fast track program) tahap I batubara 10.000 MW. Rencana DMO tahun 2013 sebesar 74,3 juta ton.