• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penganekaragaman Sumber Daya Energi Primer (Diversifikasi)

REVIEW RPJMN 2009 - 2014

3.1 Permasalahan dan Isu Strategis Sektor Sumber Daya Energi pada RPJMN 2010 - 2014

3.1.3 Penganekaragaman Sumber Daya Energi Primer (Diversifikasi)

Harga energi belum dapat mendorong diversifikasi energi yang sehat. Harga BBM bersubsidi menyebabkan energi lainnya tidak kompetitif. Pemanfaatan energi terbarukan, terutama panas bumi, untuk pembangkit listrik masih terbatas. Hal ini disebabkan adanya konflik pemanfaatan lahan, di mana sebagian besar lapangan panas bumi terletak di hutan lindung/konservasi, serta harga produksi listrik yang relatif tinggi. Pemanfaatan gas juga terhambat, karena harga yang relatif rendah, sehingga pasokan gas tidak dapat trjamin dan infrastruktur gas tidak dapat terbangun.

3.1.2.1 Pemanfaatan Panas Bumi

Pengembangan lapangan panas bumi untuk pembangkit listrik terhambat. Potensi panas bumi untuk pembangkit listrik mencapai 29.000 MW, namun sampai saat ini (2013) baru 1.343,5 MW (4,7 persen) yang dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik. Untuk penyediaan pasokan energi panas bumi jangka menengah dan panjang perlu segera diaktifkan lapangan panas bumi yang telah ditetapkan sebanyak 58 Wilayah Kerja Pengusahaan (WKP). Dalam lima tahun terakhir, penambahan kapasitas pembangkit listrik panas bumi (PLTP) hanya mencapai 157 MW. Lapangan panas bumi umumnya terletak di kawasan hutan lindung dan konservasi, sehingga pengembangannya memerlukan persiapan yang matang dan waktu yang lama. Konflik lahan seperti ini membutuhkan solusi, baik dalam hal mekanisme pengambilan keputusan maupun metoda/alat/analisa yang menjadi dasar dalam pengambilan keputusan. Saat ini, insentif dan instrumen fiskal telah diterapkan, baik berupa penyiapan dana eksplorasi terbatas guna memitigasi sebagian resiko eksplorasi, maupun feed-in tarif, namun belum mampu mempercepat pengembangan lapangan secara sistematis. Untuk wilayah kerja pengusahaan (WKP) lapangan panas bumi yang telah diserahkan kepada pemerintah derah untuk dikembangkan, mekanisme lelang belum memberikan kenyamanan (comfortibility) bagi pengembang panas bumi yang berkualitas untuk ikut-serta dalam proses pelelangan WKP.

Harga jual listrik panas bumi berkisar di antara US$ 9-16 sen per kilo watt hour (kwh), relatif lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual listrik dari batubara, sebesar US$ 7-9 sen/kwh yang menjadi basis bagi pembelian listrik dari off-taker listrik

gas rumah kaca — belum melembaga dan pendanaannya belum dimasukkan sebagai bagian dari APBN. Di samping itu, dengan aturan perundangan yang saat ini berlaku, harga jual listrik yang mejadi basis dari kontrak jual-beli listrik (Power Purchase Agreement – PPA) dengan PLN umumnya belum mendasarkan informasi yang akurat mengenai kualitas reservoir panas bumi. Ketidakpastian ini menjadikan biaya feed-in tariff dari panas bumi masih mengalami kesulitan untuk dibebankan ke dalam APBN.

3.1.2.2 Pemanfaatan LPG dan Gas Bumi

Produksi gas cukup stabil, namun penggunaannya di dalam negeri masih belum maksimal. Pemanfaatan gas untuk kebutuhan industri di dalam negeri, seperti untuk bahan baku di industri pupuk dan bahan bakar untuk pembangkit listrik dan industri manufaktur, cukup meningkat, namun masih belum dapat memenuhi kebutuhan gas secara nasional. Pada tahun 2013, pasokan gas ke dalam negeri mencapai 3.774 MMSCFD, atau sekitar 52,1 persen dari total produksi gas nasional. Pasokan gas untuk tiga pengguna strategis, pembangkit listrik, pupuk, dan industri manufaktur, masing-masing mencapai 912,42; 735,84; dan 1.345,05 BBTUD, namun angka ini jauh lebih rendah dari angka kebutuhan gas nasional yang mencapai 7.937,09 BBTUD. Kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) serta harga gas yang relatif rendah, dibandingkan dengan BBM, telah memicu konsumsi gas secara signifikan. Gas sebagai bahan baku untuk industri pupuk sangat penting, karena masih langkanya bahan baku pangganti. Permintaan pupuk meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir ini, dan memicu peningkatan permintaan gas bumi. Laju pertumbuhan rata-rata permintaan gas dalam lima tahun terakhir untuk industri pupuk ini mencapai 12 persen per tahun. Demikian juga permintaan gas untuk sektor industri manufaktur, yang terus meningkat dengan laju pertumbuhan sebesar 8 persen per tahun. Walaupun pemanfaatan gas untuk pembangkit tenaga listrik dalam beberapa terakhir mengalami penurunan, dari 948,6 BBTUD (2012) dan 912,4 BBTUD (2013) karena adanya peralihan ke pembangkit dengan bahan bakar batubara (PLTU) namun dalam lima tahun kedepan permintaan gas akan kembali meningkat, seiring dengan laju pertumbuhan kebutuhan listrik nasional.

Sumber: Kementerian ESDM, 2012

Gambar 4 Perbandingan Penggunaan Minyak Tanah dan LPG

Di samping ketiga pengguna strategis, gas juga dialokasikan untuk sektor rumah tangga. Konversi BBM jenis minyak tanah ke LPG sudah berhasil menaikkan konsumsi LPG dan menurunkan konsumsi minyak tanah. Bila pada tahun 2007, persentase penggunaan minyak tanah (98,86 persen) lebih tinggi dari LPG (1,14 persen), hal ini berbanding terbalik pada tahun 2012 (12,80 persen vs 87,20 persen) sebagaimana Gambar 4. Saat ini konsumsi minyak tanah mencapai 1,11 juta KL, jauh menurun dibandingkan dengan konsumsi minyak tanah pada tahun 2010, sebesar 2,35 juta KL. Pada tahun 2013, konsumi LPG rumah tangga mencapai 4,40 juta ton, dengan laju pertumbuhan rata-rata 2 persen per tahun. Karena kapasitas kilang LPG nasional terbatas, kebutuhan LPG ini sebagian besar dipenuhi melalui impor.

Pasokan gas ke industri dalam negeri terkendala oleh keterbatasan kapasitas infrastruktur gas, yakni pipa transmisi dan distribusi gas, serta fasilitas/terminal regasifikasi. Saat ini pipa transmisi yang ada sepanjang 3.773,82 km, menghubungkan lapangan-lapangan gas di Sumatera ke pusat permintaan gas di Jawa Barat. Namun demikian, kapasitasnya masih terbatas, dan pusat-pusat permintaan gas di Jawa, sepanjang pantai utara Jawa Barat, Tengah, dan Timur, belum terhubung oleh pipa transmisi secara terpadu. Demikian juga jaringan gas distribusi baru dibangun di beberapa kota besar dengan kapasitas terbatas, dengan sebanyak 73 ribu sambungan

98.86% 79.66% 32.04% 22.44% 12.80% 1.14% 20.34% 67.96% 77.56% 87.20% 51.90% 48.10% 0.00% 20.00% 40.00% 60.00% 80.00% 100.00% 120.00% 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Tahun Pe rs en ta se Vo lu m e (% )

masih terbatas. Floating Storage/Receiving Unit (FSRU) yang terletak di Teluk Jakarta baru selesai dibangun (2012), dan saat ini baru dapat menerima pasokan LNG sebesar 3 MMTPA.

Tabel 17 Pemanfaatan BBG untuk Sektor Transportasi

Wilayah Jumlah Kendaraan Umum SPBG yang dibutuhkan Alokasi Gas (MMSCFD)

Pembangunan Oleh Pemerintah sd 2014 Partisipasi Badan Usaha Membangun SPBG Mulai 2015 SPBG Jaringan Pipa (km) Konventer KIT Jabodetabek 77.983 68 23,1 9*) 109,2 20.500**) 59 Jawa Timur (Surabaya, Gresik, Sidoarjo) 10.774 13 10,2 4 - 9 Sumsel (Palembang) 3.101 5 2,2 4 - 1 Kaltim (Balikpapan) 5.775 4 1 4 - - Jawa Tengah (Semarang) 4.762 4 1 4 35,0 - Kepri (Batam) 2.976 4 1 4 31,8 - Total 105.371 98 38,5 29 176,0 69

Fasilitas penyaluran bahan bakar gas untuk sektor transportasi juga masih sangat terbatas, dan masih terpusat di beberapa kota besar, serta masih melayani sebagian kecil dari kendaraan umum. Sampai saat ini (2013), jumlah SPBG yang dibangun pemerintah baru mencapai 16 unit yang tersebar di di Jabodetabek, Palembang, Surabaya, Gresik, Sidoarjo, dan Balikpapan, dan yang dibangun Badan Usaha sebanyak 25 unit, juga tersebar di Jabodetabek, Surabaya, dan Pekanbaru, serta 22 km jaringan pipa gas, dan konverter kit 7.500 unit. Harga jual BBG rendah sehingga tidak menjamin pasokan gas dan infrastruktur gas (SPBG dan jaringan gas) yang diperlukan.

3.1.2.3 Pemanfaatan Batubara

terbatas dan menghadapi tantangan isu lingkungan. Produksi batubara meningkat cukup pesat sejalan dengan peningkatan permintaan domestik dan ekspor. Pada tahun 2013, produksi batubara mencapai 421 juta ton, meningkat dibandingkan dengan produksi pada tahun 2012, yang mencapai 386 juta ton. Namun sebagian besar produksi batubara, terutama yang berkalori tinggi (kandungan kalori diatas 7.100 kalori/gr), diserap oleh pasar ekspor. Pada tahun 2013, ekspor batubara mencapai 83 persen dari total produksi nasional. Jenis batubara yang di konsumsi di dalam negeri umumnya berkalori sedang (dengan kandungan 5100-6100 kalori/gr) dan rendah (lignite) dengan kandungan dibawah 5.100 kalori/gr, atau disebut dengan low rank coal. Penggunaan batubara kalori rendah untuk pembangkit listrik, pada tahun 2013 mencapai sekitar 59 juta ton, atau sekitar 14 persen dari total produksi batubara.

Jumlah cadangan batubara dengan jenis low rank coal mencapai 8,7 miliar ton, atau sekitar 41 persen dari total cadangan batubara nasional. Pemanfaatan batubara jenis ini memerlukan teknologi khusus melalui proses upgrading brown coal, sehingga kadar airnya dapat diturunkan, dan pengangkutannya akan lebih ekonomis. Pengubahan batubara menjadi cair (Coal Liquifaction) akan sangat diperlukan guna memanfaatkan batubara menjadi bahan bakar sintetik atau bahan bakar cair pengganti BBM untuk sektor transportasi. Demikian juga pengubahan batubara menjadi gas (Coal Gasification), untuk menghilangkan kandungan/senyawa sulfur dan abu, dapat bermanfaat untuk pembangkit listrik jenis Integrated Gas Coal Combined Cycle (IGCC) sehingga tingkat efisiensinya lebih tinggi, dan emisi CO2 nya dapat dikurangi. Saat ini penerapan beberapa teknologi bersih (Clean Coal Technology) ini masih terbatas sebagai obyek penelitian dan pilot project, dan belum diterapkan secara komersial karena penerapannya memerlukan biaya yang cukup besar. Dengan jumlah cadangan yang besar ini, batubara merupakan sumber energi yang cukup untuk dapat menutup kekurangan sumber energi, setelah minyak, gas, dan energi terbarukan. Namun demikian pemanfaatannya memerlukan beberapa upaya besar, agar pemanfaatannya dapat dilakukan ecara ekonomis dan emisinya dapat di kurangi.