BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Epidemiologi Mioma Uteri
Mioma merupakan tumor uterus yang paling sering ditemukan. Pernah ditemukan 200 sarang mioma dalam satu uterus, namun biasanya hanya 5-20 sarang saja. Dengan pertumbuhan mioma dapat mencapai berat lebih dari 5 kg.
Jarang sekali mioma ditemukan pada wanita berumur 20 tahun, Paling banyak pada umur 35-45 tahun (kurang lebih 25%). Pertumbuhan mioma diperkirakan memerlukan waktu 3 tahun agar dapat mencapai ukuran sebesar tinju, akan tetapi
kasus tenyata tumbuh cepat. Setelah menopause banyak mioma menjadi mengecil, hanya 10% saja yang masih tumbuh lebih lanjut (Joedoesapoetra, 2008).
Studi yang dlakukan dengan menggunakan ultrasound telah menunjukkan bahwa prevalensi mioma lebih rendah di Eropa daripada Amerika Serikat dan ini dikaitkan karena perbedaan ras. Mioma baru terdeteksi 70% setelah histerektomi (Sparic, 2016).
Mioma uteri ini lebih sering didapati pada wanita nulipara atau yang mioma uteri yang terjadi sebahagian besar bersifat degenerasi. Hal ini oleh karna berkurangnya pemberian darah pada sarang mioma (Parker, 2007).
Faktor keturunan memegang peran penting dalam angka kejadian mioma uteri. Wanita dari garis keturunan tingkat pertama seorang penderita mioma uteri mempunyai risiko 2,5 kali lebih besar menderita mioma uteri (Parker, 2007) 2.5 Faktor Risiko
Berikut adalah beberapa faktor yang berperan menimbulkan mioma uteri antara lain :
a. Usia
Wanita cenderung terdiagnosa dengan mioma uteri pada saat memasuki usia 40 tahunan. Tetapi masih tidak diketahui pasti apakah mioma uteri yang terjadi adalah disebabkan peningkatan formasi atau peningkatan pembesaran secara sekunder terhadap perubahan hormon pada waktu usia ini. Faktor lain yang bisa mengganggu insidensi nyata kasus mioma uteri adalah karena dokter merekomendasi dan pasien menerima rekomendasi tersebut untuk menjalani histerektomi hanya setelah mereka sudah melewati usia melahirkan anak (Parker,
2007). Berdasarkan otopsi, Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun mempunyai sarang mioma. Mioma belum pernah dilaporkan terjadi sebelum menarche dan setelah menopause hanya 10% mioma yang masih bertumbuh (Prawirohardjo, 2007).
Frekuensi kejadian mioma uteri paling tinggi antara usia 35-50 tahun yang mendekati angka 40%, jarang ditemukan pada usia dibawah 20 tahun (Wiknjosastro, 2005).
b. Hormon endogen (endogenous hormonal)
Mioma uteri sangat sedikit ditemukan pada spesimen yang diambil dari hasil histerektomi wanita yang telah menopause, diterangkan bahwa hormon estrogen endogen pada wanita-wanita menopause pada kadar yang rendah atau sedikit (Parker, 2007). Awal menarche (usia dibawah 10 tahun) dijumpai peningkatan resiko (RR 1,24) dan menarche lewat (usia setelah 16 tahun) menurunkan resiko (RR 0,68) untuk menderita mioma uteri.
Pada usia sebelum menarche kadar estrogen rendah dan meningkat pada usia reproduksi serta akan turun pada usia menopause. Stoppler (2006) menyatakan bahwa pertumbuhan mioma uteri disebabkan oleh stimulasi hormon estrogen. Hormon estrogen disekresi oleh ovarium mulai saat pubertas berangsur-angsur meningkat dan mengalami penurunan bahkan tidak berproduksi lagi setelah usia menopause.
c. Riwayat keluarga
Wanita dengan garis keturunan tingkat pertama dengan penderita mioma uteri mempunyai peningkatan 2,5 kali kemungkinan risiko untuk menderita
mioma uteri dibanding dengan wanita tanpa garis keturunan penderita mioma uteri. Penderita mioma yang mempunyai riwayat keluarga penderita mioma uteri mempunyai 2 kali lipat kekuatan ekspresi dari VEGF-α (a myoma-related growth factor) dibandingkan dengan penderita mioma yang tidak mempunyai riwayat keluarga penderita mioma uteri (Parker, 2007).
d. Etnik
Wise dkk (2012) pada studinya dari tahun 1997-2009 melibatkan laporan sendiri oleh pasien mengenai mioma uteri, rekam medis, dan pemeriksaan sonografi menunjukkan golongan etnik Afrika-Amerika mempunyai kemungkinan risiko menderita mioma uteri setinggi 2-3 kali dibanding wanita dengan etnik caucasia, dan risiko ini tidak mempunyai kaitan dengan faktor risiko lain.
Didapati juga wanita golongan Afrika-Amerika menderita mioma uteri dalam usia yang lebih muda dan mempunyai mioma yang banyak dan lebih besar serta menunjukkan gejala klinis. Namun masih belum diketahui jelas apakah perbedaan ini adalah karena masalah genetik atau perbedaan pada kadar sirkulasi estrogen, metabolisme estrogen, diet, atau peran faktor lingkungan. Walau bagaimanapun, pada penelitian terbaru menunjukkan genotipe untuk enzim essensial kepada metabolisme estrogen, catechol-O-methyltranferase (COMT) ditemui sebanyak 47% pada wanita Afrika-Amerika berbanding hanya 19% pada wanita kulit putih.
Wanita dengan genotipe ini lebih rentan untuk menderita mioma uteri. Ini menjelaskan mengapa prevalensi yang tinggi untuk menderita mioma uteri dikalangan wanita Afrika-Amerika lebih tinggi.
e. Berat badan
Satu studi prospektif dijalankan dan dijumpai kemungkinan risiko menderita mioma uteri adalah setinggi 21% untuk setiap kenaikan 10 kg berat badan dan dengan peningkatan indeks massa tubuh. Temuan yang sama juga turut dilaporkan untuk wanita dengan 30% kelebihan lemak tubuh. Ini terjadi karena obesitas menyebabkan peningkatan konversi androgen adrenal kepada estrone dan menurunkuan hormon sex-binding globulin. Hasilnya menyebabkan peningkatan estrogen secara biologikal yang bisa menerangkanmengapa terjadi peningkatan prevalensi mioma uteri dan pertumbuhannya (Parker, 2007). Beberapa penelitian menemukan hubungan antara obesitas dan peningkatan insiden mioma uteri.
Pada penelitian Anggraini R (2013) di RSUD. H. Adam Malik melaporkan bahwa frekuensi kejadian mioma uteri terbanyak pada kelompok Indeks Massa Tubuh (IMT)>25 yaitu sebesar 60%.
f. Diet
Ada studi yang mengaitkan dengan peningkatan terjadinya mioma uteri dengan konsumsi daging sapi atau daging merah atau ham bisa meningkatkan insidensi mioma uteri dan sayuran hijau bisa menurunkannya. Studi ini sangat sukar untuk diintepretasikan karena studi ini tidak menghitung nilai kalori dan konsumsi lemak tetapi sekadar informasi saja dan tidak diketahui dengan pasti apakah vitamin, serat atau phytoestrogen berhubungan dengan mioma uteri (Wise, 2016).
g. Kehamilan dan paritas
Peningkatan paritas menurunkan insidensi terjadinya mioma uteri (Wise, 2016). Mioma uteri menunjukkan karateristik yang sama dengan miometrium yang normal ketika kehamilan termasuk peningkatan produksi extracelluler matrix dan peningkatan ekspresi reseptor untuk peptida dan hormon steroid.
Miometrium postpartum kembali kepada berat asal, aliran darah dan ukuran asal melalui proses apotosis dan diferensiasi. Proses remodeling ini kemungkinan yang bertanggung jawab atas penurunan ukuran mioma uteri. Teori yang pula mengatakan pembuluh darah di uterus kembali ke kondisi atau ukuran semula pada postpartum dan ini menyebabkan mioma uteri kekurangan suplai darah dan kurangnya nutrisi untuk terus tumbuh (Parker, 2007).
h. Kebiasaan merokok
Merokok dapat mengurangi insidensi mioma uteri. Banyak faktor yang bisa menurunkan bioavalibilitas hormon estrogen pada jaringan seperti:
penurunan konversi androgen kepada estrone dengan penghambatan enzim aromatase oleh nikotin (Parker, 2007). Pada penelitian Wise (2016) terdapat penurunan risiko 20-50% mioma uteri pada perokok daripada yang tidak perokok.
2.6 Gambaran Klinis dan Keluhan
Kebanyakan kasus ditemui secara kebetulan karena tumor ini tidak mengganggu. Gejala yang dikeluhkan sangat tergantung pada tempat sarang mioma ini berada, ukuran tumor, perubahan dan komplikasi yang terjadi. Gejala yang terjadi dapat digolongkan seperti berikut (Prawirohardjo, 2008):
a. Pendarahan abnormal
Gangguan pendarahan yang terjadi umumnya adalah hipermenore, menoragia dan dapat juga terjadi metroragia. Antara penyebab pendarahan ini adalah:
a.1 Pengaruh ovarium sehingga terjadilah hiperplasia endometrium sampai adenokarsinoma endometrium
a.2 Permukaan endometrium yang lebih luas dari biasa a.3 Atrofi endometrium diatas mioma submukosum
a.4 Miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang mioma diantara serabut miometrium, sehingga tidak dapat menjepit pembuluh darah yang melaluinya dengan baik.
Disebabkan permukaan endometrium yang menjadi lebih luas akibat pertumbuhan mioma, maka lebih banyak dinding endometrium yang terkikis ketika menstruasi dan ini menyebabkan pendarahan abnormal. Walaupun menstruasi berat sering terjadi tetapi sikulusnya masih tetap. Pendarahan abnorml ini terjadi pada 30% pasien mioma uteri dan pendarahan abnormal ini dapat menyebabkan anemia defisiensi besi. Pada suatu penelitian yang mengevaluasi wanita dengan mioma uteri dengan atau tanpa pendarahan abnormal, didapat data bahwa wanita dengan pendarahan abnormal secara bermakna menderita mioma intramural (58% banding 13%) dan mioma submukosum (21% banding 1%) dibanding dengan wanita penderita mioma uteri asimptomatik.
b. Nyeri
Rasa nyeri bukanlah gejala yang khas tetapi dapat timbul karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma, yang disertai nekrosis setempat dan peradangan. Nyeri panggul yang disebabkan mioma uteri bisa juga disebabkan degenerasi akibat oklusi vaskuler, infeksi, torsi dari mioma yang bertangkai maupun akibat kontraksi miometrium yang disebabkan mioma subserosum.
Tumor yang besar dapat mengisi rongga pelviks dan menekan bagian tulang pelviks yang dapat menekan saraf sehingga menyebabkan rasa nyeri yang menyebar kebagian punggung dan ekstremitas posterior.
c. Gejala tanda penekanan
Gangguan ini tergantung pada tempat dan ukuran mioma uteri. Penekanan pada kandung kemih akan meyebabkan poliuri, pada uretra dapat menyebabkan retensio urin, pada ureter dapat meyebabkan hidroureter dan hidronefrosis, pada rektum dapat menyebabkan obstipasi dan tenesmia, pada pembuluh darah dan pembuluh limfe di panggul dapat menyebabkan edema tungkai dan nyeri panggul.
2.7 Komplikasi Mioma Uteri
Komplikasi mioma uteri dapat digolongkan menjadi (Prawirohardjo, 2008):
a. Denerasi ganas
Mioma uteri yang menjadi leimiosarkoma ditemukan hanya 0,32-0,6%
dari seluruh mioma, serta merupakan 50-75% dari semua sarkoma uterus.
Keganasan umumnya baru ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah diangkat.
b. Torsi (putaran tangkai)
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi akut sehingga mengalami nekrosis yang dapat menyebabkan sindrom abdomen akut. Jika torsi terjadi perlahan-lahan, gangguan akut tidak terjadi. Hal ini hendaklah dibedakan dengan suatu keadaan dimana terdapat banyak sarang mioma dalam rongga peritoneum. Sarang mioma dapat mengalami nekrosis dan infeksi yang diperkirakan karena gangguan sirkulasi darah padanya. Misalnya terjadi pada mioma yang dilahirkan hingga pendarahan berupa metroragia atau menoragia disertai leukore dan gangguan yang disebabkan oleh infeksi dari uterus sendiri.
2.8 Pencegahan Mioma Uteri
2.8.1 Pencegahan Primer
Pencegahan primer dilakukan untuk mengurangi insidensi mioma uteri dengan cara mengendalikan faktor risiko sebelum seseorang terkena penyakit.
Berikut beberapa upaya pencegahan primer yang dapat dilakukan:
1. Upaya pencegahan primer dapat dilakukan dengan penyuluhan mengenai faktor-faktor risiko terjadinya mioma uteri khususnya kelompok beresiko yaitu wanita pada masa reproduktif.
2. Adanya pengawasan pemberian hormon estrogen dan progesteron dengan memilih pil KB kombinasi. Pil kombinasi mengandung estrogen lebih rendah dibandingkan dengan pil sekuensil, oleh karena pertumbuhan
2.8.2 Pencegahan sekunder
Pencegahan ini dapat dilakukan dengan diagnosa dini dan pengobatan yang cepat dan tepat.
a. Diagnosa dini
Beberapa upaya yang dilakukan oleh ahli medis dalam menegakkan diagnosa mioma uteri adalah sebagai berikut:
1. Anamnesis
Dari proses tanya jawab dokter dan pasien dapat diteukan penderita seringkali mengeluh rasa berat dan adanya benjolan pada perut bagian bawah, kadang mempunyai gangguan haid, buang air kecil maupun buang air besar juga ada rasa nyeri.
2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan bimanual akan mengungkaptumor pada uterus, yang umumnya terletak di garis tenga maupun kesamping, seringkali teraba adanya benjolan-benjolan. Mioma subserosum dapat mempunyai tangkai yang berhubung dengan uterus (Prawirohardjo, 2008).
3. Pemeriksaan penunjang a) Ultrasonografi (USG)
Ultrasonografi transabdominal dan transvaginal bermanfaat dalam menetapkan adanya mioma uteri. Ultrasonografi transabdominal baik digunakan untuk observasi uterus atau massa yang paling besar, sedangkan ultrasonografi transvaginal bermanfaat untuk observasi uterus yang berukuran kecil. Mioma uteri secara khas
menghasilkan gambaran ultrasonografi yang mendemonstrasikan iregularitas kontur maupun pembesaran uteus. Adanya klasifikasi ditandai oleh fokus-fokus hiperkoik (gambaran padat) dengan bayangan akustik. Degenerasi kistik ditandai adanya daerah yang hipoekoik (gambaran lunak).
b) Magnetic Resonance Imagine (MRI)
Mioma uteri lebih baik didiagnosa dengan MRI daripada USG tetapi biayanya lebih mahal. MRI mampu menentukan ukuran, lokasi dan bilangan mioma uteri serta bisa mengevaluasi jarak penembusan mioma submukosa di dalam dinding miometrium (Parker, 2007).
b. Penatalaksanaan medis
Penanganan mioma uteri tergantung pada umur, paritas, lokasi, dan ukuran tumor. Oleh karena itu, penanganan mioma uteri terbagi atas (Achadiat, 2004):
b.1 Penanganan konservatif
Saat ini pemakaian Gonadotropin-Releasing Hormone (GnRH) agonis memberikan hasil yang baik memperbaiki gejala klinis mioma uteri. Tujuan pemberian GnRH agonis adalah mengurangi ukuran mioma dengan jalan mengurangi produksi estrogen dari ovarium. Penggunaan GnRH agonis leuprolid asetat 3,75 mg IM pada hari pertama sampai ketiga menstruasi setiap minggu, sebanyak tiga kali. Obat ini mengakibatkan pengerutan tumor juga menekan sekresi gonadotropin dan menciptakan keadaan hipoestrogenik yang serupa yang ditemukan pada periode postmenopause. Efek maksimum dalam mengurangi
ukuran tumor diobservasi dalam 12 minggu. Terapi GnRH agonis dapat juga diberikan sebelum pembedahan karena memberikan beberapa keuntungan, antara lain mengurangi hilangnya darah selama pembedahan dan mengurangi kebutuhan akan transfusi darah.
b.2 Penanganan Operatif
Tindakan operatif dilakukan terhadap mioma yang menimbulkan gejala yang tidak dapat ditangani dengan penanganan konservatif. Indikasi terapi bedah untuk mioma uteri menurut American College of Obstetricians and Gyneclogist (ACOG) dan American Society of Reproductive Medicine (ASRM) adalah:
1. Pendarahan uterus yang tidak respon terhadap terapi konservatif 2. Sangkaan adanya keganasan
3. Pertumbuhan mioma pada masa menopause
4. Infertilitas karena gangguan pada cavum uteri maupun karena oklusi tuba 5. Nyeri dan penekanan yang sangat mengganggu
6. Gangguan berkemih maupun obstruksi traktus urinarius 7. Anemia akibat pendarahan
Tindakan operatif yang dilakukan antara lain : b.2.1 Miomektomi
Miomektomi adalah tindakan pembedahan dimana hanya sarang mioma saja yang diangkat dan rahim tetap dibiarkan. Tindakan ini dapat dikerjakan misalnya pada mioma submukosa pada mioma geburt dengan cara ekstirpasi lewat vagina. Langkah ini merupakan pilihan yang paling sesuai untuk wanita yang
masih ingin mempunyai anak. Kemungkinan terjadinya kehamilan setelah miomektomi adalah 30-50%.
b.2.2 Histerektomi
Histerektomi atau pengangkatan rahim merupakan tindakan medis yang dilakukan jika ditemukan adanya indikasi kuat yang mengarah pada beberapa jenis gangguan pada sistem reproduksi yang dapat mengganggu jiwa.
Adapun jenis-jenis histerektomi yang dilakukan antara lain:
1. Histerektomi parsial (subtotal)
Pada histerektomi jenis ini, rahim diangkat tetapi mulut rahim (serviks) tetap dibiarkan.
2. Histerektomi total
Pada histerektomi jenis ini, uterus dan serviks diangkat secara kebetulan.
3. Histerektomi dan salfingo-ooforektomi bilateral
Histerektomi jenis ini mengangkat uterus, serviks, kedua tuba faloppi dan kedua ovarium.
4. Histerektomi radikal
Histerektomi jenis ini mengangkat uterus, ovarium, tuba faloppi, jaringan yang berdekatan dengan panggul, saluran limfe dan sepertiga atas vagina.
2.8.3 Pencegahan tersier
Pencegahan tersier merupakan upaya untuk membatasi atau mencegah terjadinya komplikasi serta tindakan rehabilitasi agar penderita secepat mungkin dapat beraktivitas kembali. Upaya rehabilitasi dilakukan baik secara fisik maupun psikis seperti pemberian transfusi darah untuk penderita yang mengalami anemia, mendapat asupan gizi yang baik, serta dukungan dari keluarga terhadap pasien
7. Riwayat pemakaian alat kotrasepsi 8. Keluhan
9. Tindakan medis
10. Lama rawatan rata-rata 11. Keadaan sewaktu pulang
Jenis penelitian adalah deskriptif dengan menggunakan desain Case Series.
3.2 Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini berlokasi di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan. Pemilihan lokasi dilakukan atas pertimbangan tersedianya data penderita mioma uteri yang dirawat inap dan belum pernah dilakukan penelitian tentang karakteristik penderita mioma uteri pada tahun 2011-2015 di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan.
3.2.2 Waktu penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Juni 2017- Februari 2018 3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian adalah seluruh data penderita mioma uteri rawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2011-2015 sebanyak 237 data penderita.
3.3.2 Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah populasi penderita mioma uteri yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2011-2015.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Rekam Medis penderita mioma uteri rawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth tahun 2011-2015. Semua berkas rekam medis dikumpulkan kemudian dilakukan pencatatan sesuai dengan jenis variabel yang diteliti.
3.5 Teknik Analisa Data
Data yang telah dikumpulkan diolah dengan menggunakan komputer.
Analisis dilakukan secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan proporsi, diagram bar dan diagram pie.
3.6 Defenisi Operasional
3.6.1 Penderita mioma uteri adalah wanita yang dinyatakan menderita mioma uteri berdasarkan diagnosa dokter RS Santa Elisabeth Medan yang dicatat di kartu status berdasarkan pemeriksaan menggunakan Ultrasonografi (USG).
3.6.2 Sosiodemografi penderita mioma uteri terdiri dari:
a. Umur adalah usia penderita mioma uteri sesuai yang tercatat dalam kartu status.
Untuk keperluan analisa statistik umur dikategorikan menjadi dua:
1. 20-35 tahun 2. >35 tahun
Dasar pengkategorian adalah menurut BKKBN, 2011 bahwa usia aman hamil adalah 20-35 tahun.
b. Suku adalah etnik yang melekat pada diri penderita mioma uteri sesuai yang tercatat dalam kartu status, yang dibedakan atas:
1. Batak
c. Agama adalah kepercayaan yang dianut penderita mioma uteri sesuai yang tercatat dalam kartu status yang dbedakan atas:
1. Islam
2. Kristen protestan 3. Kristen katholik 4. Hindu
5. Buddha
d. Pekerjaan adalah kegiatan utama yang dilakukan penderita mioma uteri sesuai yang tercatat dalam kartu status yang dibedakan atas:
1. Pegawai Negeri (PNS/TNI/Polri) 2. Pegawai Swasta
3. Wiraswasta 4. Ibu rumah tangga 5. Lain-lain
e. Status perkawinan adalah predikat yang dimiliki penderita mioma uteri berdasarkan pernikahan sesuai yang tercatat dalam kartu status, yang dibedakan atas:
1. Kawin 2. Tidak kawin
f. Tempat tinggal adalah dimana penderita mioma uteri tinggal sesuai yang tercatat dalam kartu status yang dibedakan atas:
1. Kota Medan
3.6.3 Paritas adalah jumlah persalinan yang pernah dialami penderita mioma uteri sesuai yang tercatat dalam kartu status, yang dibedakan atas:
1. Nullipara (belum pernah melahirkan) 2. Primipara (melahirkan 1 kali)
3. Multipara (melahirkan 2-4 kali) 4. Grande multipara (melahirkan ≥5 kali)
3.6.4 Status haid adalah keadaan yang menggambarkan masa reproduksi penderita sesuai yang tercatat dalam kartu status, yang dikategorikan atas:
1. Masih haid (subur)
2. Tidak haid lagi (menopause)
3.6.5 Ukuran diameter mioma adalah panjang diameter (cm) mioma terbesar berdasarkan hasil pemeriksaan dokter sesuai yang tercatat dalam kartu status yang dikategorikan atas:
1. ≤5 cm 2. >5 cm
3.6.6 Letak mioma adalah tempat mioma yang dialami penderita berdasarkan hasil pemeriksaan dokter sesuai yang tercatat dalam kartu status, yang dibedakan atas:
1. Mioma subserosum 2. Mioma intramural 3. Mioma submukosum
3.6.7 Jumlah mioma adalah banyak mioma yang diderita penderita berdasarkan hasil pemeriksaan dokter sesuai yang tercatat dalam kartu status yang dikategorikan atas:
1. 1-5 mioma 2. 6-10 mioma 3. 11-15 mioma 4. ≥16 mioma
3.6.8 Riwayat pemakaian alat kontrasepsi adalah metode KB yang pernah digunakan oleh penderita sesuai yang tercatat dalam kartu status, yang dikategorikan atas:
1. Hormonal
2. AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) 3. Sterilisasi
4. Tidak ada
3.6.9 Keluhan adalah apa yang dirasakan penderita sehingga dibawa berobat ke rumah sakit sesuai yang tercatat dalam kartu status, yang dibedakan atas :
1. Pendarahan abnormal 2. Nyeri abdomen 3. Tanda penekanan
3.6.10 Tindakan medis adalah segala usaha medis yang dilakukan terhadap penderita unutk menyelamatkan jiwa si penderita sesuai yang tercatat dalam kartu status, yang dibedakan atas :
1. Pengobatan konservatif 2. Miomektomi
3. Histerektomi
3.6.11 Lama rawatan adalah lama perawatan rata-rata yang dijalani penderita mioma uteri dari hari pertama masuk sampai hari terakhir perawatan sesuai yang tercatat dalam kartu status.
3.6.12 Keadaan sewaktu pulang adalah kondisi penderita sewaktu keluar dari rumah sakit sesuai yang tercatat dalam kartu status, yang dibedakan atas:
1. Pulang sembuh
2. Pulang atas permintaan sendiri 3. Pulang berobat jalan
4.1.1 Gambaran Umum Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan
Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan yang beralamat di Jalan Haji Misbah No.7 Medan. Rumah sakit ini adalah milik Kongregasi Fransiskanes Santa Elisabeth Medan dengan motto “Ketika Aku Sakit Kamu Melawat Aku”.
4.1.2 Visi Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan
Visi Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan adalah “menjadikan kehadiran Allah di tengah dunia dengan membuka tangan dan hati untuk memberikan pelayanan kasih yang menyembuhkan orang-orang sakit dan menderita sesuai dengan tuntutan zaman”.
4.1.3 Misi Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan
Misi Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan adalah :
a. Memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas atas dasar kasih.
b. Meningkatkan sumber daya manusia secara professional untuk memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas, dan
c. Meningkatkan sarana serta prasarana yang memadai dengan tetap memperhatikan masyarakat lemah.
4.1.4 Falsafah Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan
Berlandaskan semangat dasar Fransiskanes Santa Elisabeth dalam melaksanakan dan mengembangkan “Cinta dan Nilai Kristiani”, karya pelayanan Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan menitik beratkan penyembuhan manusia seutuhnya sesuai dengan kebijakan pemerintah dalam menuju masyarakat sehat.
Pelayanan Rumah Sakit Santa Elisabeth lebih mengutamakan orang yang paling membutuhkan tanpa membedakan suku, bangsa, agama dan golongan sesuai dengan harkat dan martabat manusia.
4.1.5 Tujuan dan Fungsi Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan
Tujuan Rumah Sakit Santa Elisabeth adalah mewujudkan secara nyata Kharisma Kongregasi Fransiskanes Santa Elisabeth dalam bentuk pelayanan kesehatan kepada masyarakat umum tanpa membeda-bedakan dan memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh (holistik) bagi orang-orang sakit dan menderita serta membutuhkan pertolongan.
Fungsi Rumah Sakit Santa Elisabeth adalah menyelenggarakan pelayanan kesehatan kuiuratif, preventif, promotif dan rehabilitatif serta menyediakan tempat untuk praktek STIKes Santa Elisabeth Medan.
4.2 Analisa Deskriptif
4.2.1 Sosiodemografi
Proporsi penderita mioma uteri yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Tahun 2011-2015 berdasarkan sosiodemografi dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.1 Distribusi Proporsi Penderita Mioma Uteri Berdasarkan Sosiodemografi Yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2011-2015
Sosiodemografi f %
Kristen Protestan 140 59,1
Kristen Katholik 72 30,4
Hindu 2 0,8
Buddha 1 0,4
Total 237 100
Pekerjaan
Pegawai Negeri (PNS/TNI/Polri) 46 19,4
Pegawai swasta 24 10,1
Wiraswasta 33 13,9
Ibu rumah tangga 86 36,3
Lain-lain 48 20,3
Status perkawinan
Kawin 187 78,9
Tidak kawin 50 21,1
Total 237 100
Tempat tinggal
Kota Medan 128 54
Luar kota Medan 109 46
Total 237 100
Berdasarkan Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa proporsi penderita mioma uteri
Berdasarkan Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa proporsi penderita mioma uteri