• Tidak ada hasil yang ditemukan

Istilah estetika secara etimologis berasal dari bahasa Latin aestheticus dan dalam bahasa Yunani yang berarti rasa atau hal- hal yang bisa diserap oleh panca indera. Estetika juga dianggap sebagai cabang ilmu filsafat yang membahas tentang keindahan yang didalamnya ada seni dan alam semesta. Dari etimologis kata tersebut, estetika adalah suatu hal yang mempelajari keindahan dari suatu bentuk objek atau daya impuls dan pengalaman estetik dari penciptaan dan pengamatannya.

2.6.1 Estetika dalam Film

Estetikan film adalah sebuah studi yang melihat film menjadi sebuah karya seni dan wadah menyampaikan ekspresi. Banyak konsep-konsep tentang keindahan, rasa, teknik yang menjadi karya film. Ada banyak aspek penting yang terdapat dalam lingkup seni sebagai suatu wilayah yang bisa dikatakan bebas. Memahami kreativitas tiap manusia dalam berkarya seni terutama lewat media film banyak hal yang menguatkan bagaimana isi dari film dalam mewujudkan estetika. Ada unsur logika dalam bercerita yang bertujuan agar penikmat film tau kelogisan alur cerita cerita yang ada di fim ini, tentang sebab akibat yang terjadi. Hal yang harus dijadikan refleksi atau renungan sebenernya

25 tujuan untuk memulai mengkaji atau memahami ulang tujuan seni berdasarkan pemahaman atau kepercayaan yang dianut.

26 BAB III

DATA DAN ANALISIS MASALAH 3.1 Data dan Analisis Objek

3.1.1 Data Observasi

Penulis melakukan observasi, melalui beberapa media, diantaranya Instagram dan Youtube. Penulis bertujuan untuk mendapatkan kampus-kampus yang menaungi wibu kedalam sebuah UKM. Selain itu, penulis ingin mengetahui jenis-jenis stigma di kalangan remaja kota Bandung yang diterima oleh wibu itu sendiri.

Komunitas budaya popular Jepang diperkenalkan melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau komunitas, salah satunya pergurauan tinggi di Bandung terdapat UKM Nippon Bunka-Bu (Universitas Telkom), UKM Unit Kebudayaan Jepang dan Genshiken (Institut Teknologi Bandung), UKM Japan Community Widyatama (Universitas Widyatama), Komunitas Nihon Club (Universitas Islam Negeri Sunan Gungung Djati), UKM Nippon Binus (Binus Bandung), dan UKM Unisba Nihon Kyoukai (Universitas Islam Bandung).

3.1.2 Data Wawancara

A. Nippon Club Bina Nusantara Bandung Nama : Kevin

Kampus : Bina Nusantara Bandung

Prodi : Bisnis/Creative Entrepreneurship

Jabatan : Ketua Reginoal UKM Jepang Niphon Club Bandung

Via : Google Meet

Deskripsi :

Sejak SMP dan SMA sudah mengikuti budaya populer Jepang dan Ketika kuliah sekitar tahun 2019 membangun ukm Jepang (Nippon Club) dikampus Binus Bandung. Narasumber tertarik dengan budaya populer Jepang baik dari budayanya seperti Bahasa Jepang, terutama dengan game, musik , dan filmnya. Mengikuti budaya jepang sudah menjadi hobi yang mungkin memiliki tujuan, numun tidak sampai kecanduan terhadap budaya populer Jepang.

Terbentuknya stigma terhadap wibu karena adanya perbedaan antara wibu

27 dengan orang umum lainnya, seperti cara bersosial dan lifestyle, seorang wibu lebih introvert atau anti sosial dibandingkan dengan orang umum lainnya.

Sering terjadi pembatasanan sosial contohnya di kantin kampus dengan duduk mereka pisah tidak menyatu antara wibu di pojok belakang dan mahasiswa lainnya duduk didepan. Sebagai ketua regional ukm jepang narasumber seringkali mendapat stigma wibu bahkan paling parah dijuluki “Raja wibu”.

Narasumber juga mendengar stigma lainnya terhadap wibu diantaranya banyak yang mengatakan bahwa seorang wibu tidak akan mendapatkan pasangan karena lebih menyukai pasangan dua dimensi dibandingkan pasangan nyata.

Dengan banyak nya stigma terhadap wibu, kebanyakan seorang wibu memilih memendam rasa kesal atau sakit hati yang dia dapatkan dari stigma tersebut.

Tujuan dari ukm kami juga untuk menuntaskan stigma wibu dikampus Binus, contohnya ketika ada orang yang masuk ukm jepang di Binus sering disebut wibu. Tapi hal tersebut cukup sulit karena banyak individu nya yang melakukan hal yang membuat orang memandang penggemar budaya populer Jepang menjadi negatif. Hingga sekarang stigma wibu masih melekat dengan penggemar budaya populer Jepang.

B. Unit Kebudayaan Jepang Institut Teknologi Bandung Nama : Calista SN

Kampus : Intitut Teknologi Bandung Jabatan : UKJ Divisi Ekstra kampus

Via : Google Meet

Deskripsi :

Narasrumber tertarik dengan budaya populer Jepang karena suka menggambar anime, dan jalan cerita dari anime dan manga yang menarik. Sejak kecil narasumber sudah tertarik dengan budaya populer Jepang, seperti membaca komik, nonton anime, dan saat SMP dan SMA narasumber sudah mulai mengikuti acara Jejepangan dan membuka stand di event Jepang hingga saat ini narasumber mengikuti ukm UKJ di kampusnya. Narasumber masuk ke

28 ukm Jepang karena ingin gabung dengan orang yang memiliki kegemaran yang sama terhadap budaya populer Jejepangan.

Didalam ukm UKJ sendiri kata wibu sering tersebutkan namun kata wibu hanya menjadi sebuah bercandaa. Mungkin orang luar pun melihat kampus ITB sudah menyebut kampus wibu, dan UKJ dipandang sebagai kumpulan wibu sebenernya anggota belum tentu wibu semuanya, ada orang yang ingin masuk ukm UKJ karena ingin belajar Bahasa Jepang, suka sama musiknya, dan sebagain besar orang yang suka sama budaya populer Jepang.

Banyak orang yang memandang wibu dari prilakunya seperti tidakannya agak gila dan aneh. Narasumber pernah disebut wibu, namun narasumber biasa aja dan kadang sering jadi bahan bercanda. Menurut narasumber kata wibu konotasinya sudah ga negatif, tapi balik lagi tidak semua orang bisa menerima hal tersebut, karena ada orang yang tidak menerima disebut wibu dan masih menganggap kata wibu masih negatif. Menurut narasumber kata wibu bisa menjadi sebuah bullying karena tidak semua orang bisa menerimanya, mungkin ada saja orang yang tidak ingin orang lain tahu bahwa dia suka anime dan manga. Dan Ketika wibu disebut nolife atau introvert menurut narasumber bahwa memang dirinya sulit bergaul dan berteman dengan yang sama sehobi saja.

C. Japang Community Widyatama Nama : Muhammad Isfarandi Kampus : Widyatama

Jabatan : Ketua UKM Japang Community Widyatama

Via : Google Meet

Deskripsi :

Narasumber tertarik dengan budaya popular jepang sejak 2012 dan mulai mengikuti UKM di kampus Widyatama sejak 2019, awal tertarik dengan budaya populer Jepang karena anime alasan narasumber tertarik dengan budaya populer Jepang karena asik dan enak dinikmatin nya. Alasan narasumber

29 mengikuti ukm Jepang karena sudah tertarik dengan budaya populer Jepang tersebut.

Ketika mengikuti UKM narasumber mendapatkan sebutan wibu terhadap dirinya, narasumber menerima dan mengakui memang dirinya menyukai anime dan sudah biasa dipanggil wibu oleh orang lain, banyak orang yang memiliki pemirikan seorang wibu itu freak atau aneh, culun dan lain – lainnya. Karena adanya hal tersebut menjadi sebuah tantangan bagi seorang wibu terhadap orang lain, seperti ada beberapa teman dari narasumber memiliki kesulitan dalam bersosialisasi. Contoh kasus lainnya narasumber pernah mendapat cerita ada seorang wibu jadi dijauhin dari sosial dan tidak ditemani.

Narasumber menginginkan wibu itu tidak dibeda bedakan dengan yang lainnya.

D. Pengamat Film Fiksi

Nama : Ilham Nurbayu Kampus : Universitas Padjajaran Via : Wawancara Onsite Deskripsi :

Narasumber menyukai beberapa film scene fiction sejenis marvel dan interstellar, yang memperlihatkan imajinasi dan realita yang diwakilkan melalui media film. Narasumber menyebut film dengan genre tersebut selalu memperlihatkan penataan kamera yang memukau dari sang DOP nya, dengan menggunakan kebanyakan pengambilan gambar wide di dalam bingkai yang diperlihatkan, menjadikan film ini terasa lebih nyata. Untuk film Indonesia sendiri, penataan kamera yang disukai oleh Ilham yaitu film yang digarap oleh Joko Anwar, dengan beberapa contoh judul diantaranya ialah Pengabdi Setan, Perempuan Tanah Jahanam, serta A Copy of my Mind. Dengan penataan kamera yang memiliki mood khusus serta pengambilan angle yang fokus menuju interaksi tokohnya, serta banyak menggunakan komposisi simetris sehingga gambar terasa seperti di dunia aslinya.

3.1.3 Hasil Wawancara

30 Setelah melakukan wawancara terhadap perwakilan dari beberapa UKM di wilayah Bandung Raya yang menaungi wibu, penulis mendapatkan bawasannya sebagian dari mereka sering mendapat stigma negatif dari orang yang bukan ibu. Mereka menyimpulkan bawasannya hamper dari setiap wibu ini kebanyakan sulit dalam bergaul dengan teman lainnya, karena memiliki beberapa perbedaan, dari mulai penampilan, lifestyle, hingga hobi nya masing-masing. Mereka mengklaim dirinya sendiri introvert. Alasan mereka bergabung hamper sama, yaitu ingin mendapatkan teman yang satu frekuensi. Sehingga tujuan dibuatnya film pendek ini, mampu membuat mereka merasa percaya diri dalam bergaul bersama teman lainnya.

3.1.4 Data Kuisioner

31

32

33

34 3.1.5 Hasil Kuisioner

Setelah menyebarkan kuisioner terhadap remaja yang berdomisili dari Bandung maupun luar Bandung, penulis menemukan bahwa sebagian besar remaja mengenal sebutan wibu. Selain itu, stigma negatif lebih condong terhadap wibu, dibandingkan stigma positifnya. Sebagian remaja mengenal wibu dari lingkugan sekitar yang dapat diidentifikasi melalui penampilan. Dari stigma negatif yang didapat, rata-rata remaja peduli akan hal tersebut, sehingga mayoritas dari mereka tertarik jika fenomena ini dijadikan sebagai film fiksi untuk mengurangi stigma tersebut.

35 3.2 Data Khalayak Sasar

Khalayak sasar adalah penentuan target sasaran yang ditentukan oleh penulis dalam pembuatan film ini agar pembuatan film ini dapat sesuai dengan sasaran yang dituju.

Dalam sebuah film harus memiliki tujuan untuk siapa atau kepada siapa film tersebut ditujukan, dan bagaimana film tersebut dapat memberikan manfaat terhadap para audiensnya. Target khalayak sasar dari film ini adalah kalangan Mahasiswa se-Bandung Raya.

3.2.1 Demografis

Usia : 18 – 23 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-Laki dan Perempuan Pendidikan : Kuliah/Perguruan Tinggi

Kalangan Mahasiswa dengan usia 18-23 tahun dituju karena mahasiswa masih erat hubungannya dengan sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang menaungi Wibu ini sendiri.

2.6.2 3.2.2 Psikografis

Di kalangan Mahasiswa, pola pikir sudah terbentuk, serta dapat menahan tingkat emosional didalam dirinya. Biasanya Mahasiswa dapat memikirkan segala hal terkait stigma yang diberikan oleh orang luar kepadanya, sehingga terkadang stigma ini dapat menjadikan dirinya terusik hingga tak percaya diri.

3.2.3 Geografis

Penulis menentukan wilayah di Bandung Raya sebagai sasaran, karena terdapat cukup banyak Universitas yang menaungi Wibu kedalam Unit Kegiatan Mahasiswa dengan aktivitas serta kegiatan yang rutin mereka selenggarakan bersama.

3.3.4 Analisis Khalayak Sasar

Berdasarkan data khalayak pasar, penulis menyimpulkan bahwa di wilayah Bandung Raya terdapat cukup banyak Universitas yang menaungi Wibu ini sendiri, namun disisi lain, seringkali terdapat stigma,

36 yang dapat mengganggu mental serta pola pikir terhadap mereka.

Sehingga, dibutuhkan media untuk setidaknya mengurangi stigma tersebut salah satunya melalui film.

Di wilayah Bandung Raya, hampir setiap remaja pada umumnya memiliki kegemaran atau ketertarikan terhadap sebuah tontonan yang menghibur. Sehingga Film ini dibuat sesuai dengan kegemaran dan ketertarikan khalayak sasar yang dituju, dengan keunggulan film yang durasinya lebih singkat, serta genre yang disesuaikan, yaitu drama komedi.

3.3 Data dan Analisis Tiga Karya Sejenis

Sebelum membuat karya film, perancang melakukan analisis terhadap tiga karya sejenis dengan teknik penataan kamera berdasarkan unsur sinematografi. Berikut karya yang akan dianalisis

3.3.1 Mahasiswi Baru

A. Data Film

Produksi : MNC Studios Gambar 3.1 Poster Film

Mahasiswi Baru (sumber;IMDB)

37 Sutradara : Monty Tiwa

DoP : Jimmy Opa

Penulis : Jujur Prananto, Sarahero, dan Monty Tiwa Genre : Komedi

Durasi : 96 Menit

Cast : Widyawati, Morgan Oey, Mikha Tambayong Tahun : 2019

B. Sinopsis

Demi membuktikan niatnya, Lastri mendaftarkan dirinya di sebuah universitas. Setelah berhasil masuk dan terdaftar di universitas tersebut, ia pun mulai menjalani kehidupan sebagai seorang mahasiswi. Tidak hanya belajar dan kuliah, Lastri juga menjalani kehidupan layaknya anak kuliah masa kini.

C. Analisis Karya

38 Baru, lebih banyak menggunakan medium dan long shot. Agar penonton dapat fokus kepada kegiatan serta konflik yang diperankan oleh tokoh.

39 1.9.2 Yowis Ben

A. Data Film

Produksi : Starvision Plus

Sutradara : Fajar Nugros, dan Bayu Skak DoP : Goenrock

Penulis : Bayu Skak Genre : Drama komedi Durasi : 99 Menit

Cast : Bayu Skak, Cut Meyriska, Brandon Salim Tahun : 2018

B. Sinopsis

Bayu (Bayu Skak) mencintai Susan (Cut Meyriska). Karena merasa minder dengan keadaannya yang pas-pasan, Bayu menyimpan perasaan itu di dalam hatinya. Keadaan berubah sejak Susan mengirim voice chat ke Bayu. Dia pikir Susan memberi isyarat untuk didekati. Ternyata Susan memanfaatkan Bayu untuk membantunya menyediakan pecel untuk konsumsi teman-teman

Gambar 3.2 Poster Film Yowis Ben

(Sumber;IMDB)

40 OSISnya. Bayu bertekad untuk membuat dirinya lebih populer dari Roy (Indra Wijaya), pacar Susan, gitaris band sekolah. Bayu membentuk band dengan Doni (Joshua Suherman), Yayan (Tutus Thomson), dan Nando (Brandon Salim).

41 44.20

Over the Soulder Shot

Eye

Level Still

Pengambilan gambar Over Shoulder Shot ini dipakai agar lebih fokus pada ekspresi dan percakapan dari kedua tokoh.

Analisis

Shot yang sering dipakai dalam film Yowis Ben, lebih banyak menggunakan medium dan long shot. Agar penonton dapat fokus kepada kegiatan serta konflik yang diperankan oleh tokoh pada film tersebut.

1.9.3 Wotakoi

A. Data Film

Produksi : CREDEUS, Toho Pictures Sutradara : Yuichi Fukuda

Penulis : Fujita

Gambar 3.3 Poster Film Wotakoi

(Sumber;IMDB)

42 Genre : Romance, Comedy

Durasi : 122 Menit

Cast : Mitsuki Takahata, Kento Yamazaki, Nanao, Takumi Tahun : 2020

B. Sinopsis

Narumi Momose (Mitsuki Takahata) adalah OL berusia 26 tahun.

Dia mulai bekerja di perusahaan baru. Di sana, Narumi Momose bertemu dengan teman masa kecilnya Hirotaka Nifuji (Kento Yamazaki). Hirotaka Nifuji tampan dan pandai dalam pekerjaannya, tetapi dia adalah seorang otaku (terobsesi dengan konten budaya pop tertentu). Narumi Momose sendiri senang membaca manga cinta anak laki-laki, tapi dia menyembunyikannya dari orang lain. Dia hanya bisa mengungkapkan ketertarikannya pada Hirotaka Nifuji.

C. Analisis Karya

43

Agar penonton dapat fokus kepada ekspresi serta perilaku tokoh.

3.3.5 Hasil Analisis Tiga Karya Sejenis

Setelah melakukan analisis dari tiga karya sejenis dalam film Mahasiswi Baru, Yowis Ben, dan Wotakoi penulis menemukan beberapa kesamaan, diantaranya dari ketiga film tersebut cenderung lebih banyak menggunakan long

44 shot yang menampilkan kegiatan antar tokoh, serta beberapa shot yang ditampilkan dari ketiga karya tersebut menonjolkan interaksi gesture, serta ekspresi tokoh, lewat pengambilan gambar Medium Close Up, sehingga menjelaskan keadaan serta situasi yang ingin dicapai ketika tokoh menunjukkan ekspresinya. Rata-rata dalam film tersebut sering memunculkan beberapa keaadaan ketika tokoh senang maupun ketika sedang sedih melalui durasi shot yang diambil.

Sedangkan dari ketiga film tersebut, angle yang ditekankan lebih cenderung sama seperti film lainnya, dimana eye level lebih mendominasi dibanding angle lainnya. Namun eye level yang dipadukan dengan beberapa teknik pengambilan gambar lainnya tetap memiliki makna didalamnya.

Contohnya, ketika eye level dipadukan dengan Over the Soulders dapat menampilkan dialog antar tokoh yang bersambung diantara keduanya ataupun kedua tokoh memiliki tinggi badan yang sama.

Selain itu, still movement cenderung selalu dipakai ketika tokoh berinteraksi, sedangkan pan, tilt, dan dolly digunakan ketika akan menampilkan suasana yang terdapat didalam cerita itu sendiri. Dari ketiga film tersebut cenderung menggunakan movement yang bervariasi untuk menampilkan film yang lebih menarik.

Dari ketiga film tersebut, penulis mendapatkan beberapa pendekatan yang akan diambil, dengan menggunakan kebanyakan still movement akan membuat pergerakan tokoh menjadi fokus audiens, serta banyak menggunakan eye level dan Over the Soulders sehingga kesan cerita yang diberikan tetap menjadi prioritas audiens. Serta penulis mengambil garis besar dari ketiga contoh film dengan penataan kamera sejenis, ialah menggunakan beberapa jenis pencahayaan agar memantik estetika film didalamnya.

3.4 Tema Besar

Dari analisis yang dilakukan, dari mulai objek, khalayak sasar, serta tiga karya sejenis, penulis dapat menemukan tema serta alur yang akan digunakan untuk mempermudah proses pembuatan film pendek tentang Stigma terhadap Wibu.

Dalam analisis objek, hal yang penulis dapatkan berupa cara orang lain melihat Wibu dengan perspektif yang berbeda dengan orang biasanya dari penampilan dan

45 perilakunya, serta dari Wibu nya sendiri yang tidak peduli dengan apa yang orang lain ucapkan. Dengan menggunakan medium shot, medium close up, dan medium close up, serta pengambilan gambar yang cenderung menggunakan komposisi dinamik, agar pesan dari unsur tatanan kamera serta isi film dapat tersampaikan.

3.5 Kata Kunci

Berdasarkan tema besar, penulis dapat menyimpulan sebuah kata kunci berupa

“Stigma”, “Wibu”, “Shot”,”Pengambilan gambar”, dan “Komposisi Dinamik”

46 DAFTAR PUSTAKA

UMY, R. (2016, Januari 21). Respository UMY. Retrieved from Respository UMY:

http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/8751/BAB%20II.pdf?sequen ce=6&isAllowed=y

UNPAS, R. (n.d.). Repository UNPAS. Retrieved from Repository UNPAS:

http://repository.unpas.ac.id/42830/3/BAB%20II.pdf

SINEMA, C. (n.d.). CS SINEMA. Retrieved from http://csinema.com/3-jenis-film/

EPSPRO. (n.d.). EPSPRO. Retrieved from https://eps-production.com/macam-macam-shot-types-dalam-pengambilan-gambar-yang-harus-kamu-tau-eps-production-com/

Candrakanta, B. (2017, November 30). Mengenal “Weeaboo” dan Manfaatnya.

CNN Indonesia. (2020, August 18). Sejarah Anime: Sejak 1907 hingga Mewabah ke Indonesia.

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20200719125155-225- 526357/sejarah-anime-sejak-1907-hingga-mewabah-ke-indonesia Dewi, P. A. (2018)

Dokumen terkait