2.4.1 Film
Film adalah teks yang memuat serangkaian citra fotografi yang mengakibatkan adanya ilusi gerak dan tindakan dalam kehidupan nyata.
Film mempunyai banyak pengertian yang masing-masing artinya dapat dijabarkan secara luas. Film merupakan media komunikasi sosial yang terbentuk dari penggabungan dua indra, penglihatan dan pendengaran, yang mempunyai inti atau tema sebuah cerita yang banyak mengungkapkan realita sosial yang terjadi di sekitar lingkungan dimana film itu sendiri tumbuh.
Menurut UU 8/1992, definisi film sendiri bisa disebut sebagai karya seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan/atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan dan/atau ditayangkan dengan sistem Proyeksi mekanik, elektronik, dan/atau lainnya.
A. Unsur Pembentuk Film
Dalam film terdapat dua unsur yang harus saling beriteraksi dan berkesinambuangan agar dapat membentuk sebuah film, yaitu unsur naratif dan unsur sinematik.
1. Unsur Naratif
17 Unsur naratif merupakan bahan/materi yang akan diolah dalam memperlakukan cerita filmnya. Setiap film cerita tidak mungkin lepas dari unsur naratif, karena cerita pasti memiliki elemen-elemen seperti tokoh, masalah, konflik, lokasi, waktu, dan yang lainnya. Elemen tersebut saling berkesinambungan untuk membentuk rangkaian peristiwa yang terikat oleh hukum kausalitas (logika sebab-akibat) yang terjadi dalam rauang dan waktu serta dengan maksud dan tujuan.
Dalam unsur naratif terdapat pola struktur naratif yang dapat dibagi menjadi tiga tahapan yakni permulaan, pertengahan, dan penutupan, pola ini mengacu pada penceritaan struktur tiga babak.
Dengan struktur tiga babak ini, karakter, masalah, tujuan, aspek ruang dan waktu dapat ditetapkan dan dikembangkan menjadi alur cerita secara keseluruhan. Pola struktur tiga babak ini memiliki beberapa metode alternatif, diantarnya adalah multi-plot, naratif realistik, serta pola nonlinier. Multi-plot biasanya menggunakan lebih dari dua plot dan jumlah karakter pendukung hingga belasan sebagai penggerak cerita. Naratif realistik dapat di bilang bersebrangan dengan naratif struktur tiga babak karena plot yang berkembang tidak jelas, hubungan kausalitas tidak jelas, tempo yang lambat, serta tidak ada Batasan yang jelas pada tahap permulaan, pertengahan, dan penutupan. Pola nonlinier merupakan manipulasi kronologi plot yang biasanya digunakan untuk merubah urutan waktu pada alur cerita.
2. Unsur Sinematik
Unsur Sinematik merupakan cara untuk mengolah bahan/materi dengan aspek-aspek teknis dalam produksi film.
Unsur sinemetik memiliki elemen-elemen pokok yakni:
a. Mise en scene
Mise en scene berasal dari kata Perancis yang artinya
“putting in the scene”merupakan segalah hal yang ada di depan kamera pada saat pemngambilan gambar untuk produksi film. Elemen-elemen yang berada di depan kamera merupakan aspek-aspek utama dari mise-en-scene yaitu
18 Setting (latar), Kostum dan tata rias wajah (make-up), Pencahayaan (lighting), Pergerakan para pemain (akting).
b. Sinematografi
Sinematografi merupakan perlakuan terhadap kamera dalam pengambilan gambar dalam produksi film saat aspek mise-en-scene telah tepenuhi. Dalam sinematografi terdapat tiaga aspek yaitu kamera dan film, framing, dan durasi gambar. Kamera dan film merupakan mencakup penggunaan warna, lensa, dan kecepatan gerak gambar. Framing yang merupakan hubungan antara kamera dengan objek yang diambil. Dalam film, framing dengan empat aspek yang ada yaikni, bentuk dan dimensi; ruang offscreen dan onscreen;
sudut, kemiringan, tinggi, dan jarak terhadap objek; serta pergerakan frame, Sangatlah penting untuk memberi emosi dan menyampaikan pesan dalam kontek naratif tertentu melalui objek dari mise-en-scene sesuai dengan kebutuhannya. Durasi gambar dalam film sangat penting untuk menunjukan durasi cerita yang berjalan dengan sebuah shot dalam konteks naratifnya. Seorang sineas mempu mengatur durasi gambar menjadi lebih lambat atau lebih cepat.
c. Editing
Editing pada tahap produksi merupakan pemilihan gambar gambar yang telah diambil, sementara editing pada tahap pasca produksi merupakan Teknik yang menghubungkan sebuah gambar (shot) ke gambar (shot) lainnya setelah produksi film selesai dilakukan, dan hasilnya dipilih, diolah, dan dirangkai menjadi kesatuan yang utuh.
Dalam editing terdapat aspek-aspek yakni, kontinuitas grafik, aspek ritmik, aspek spasial, dan aspek temporal.
d. Suara
Seluruh suara yang mendukung sebuah film dapat dikatakan sebagai unsur sinematik. Pada film bicara unsur suara dapat dibagi menjadi tiga jenis yang dapat mendukung
19 unsur naratif yakni dialog, musik, dan efek suara. Dialog merupakan Bahasa komunikasi verbal yang biasa digunakan secara langsung oleh karakter maupun hanya sebagai narasi pada film. Musik berperan penting untuk membangun mood, nuansa, serta suasana dalam film. Musik dapat dikelompokan menajdi dua yakni, ilustrasi musik dan lagu. Musik dalam film juga dapat menjadi bagian di dalam cerita filmnya (diegetic) dan juga dapat terpisah dalam cerita filmnya (nondiegetic). Efek suara dalam film merupakan suara tambahan yang di luar dari dialog, lagu, dan musik. Fungsi efek suara digunakan untuk membuat yang ditampilkan dalam film terasa sungguhan dengan ambience suara yang seharusnya ada dan sesuai tuntutan unsur naratif filmnya.
B. Struktur Film
Film memiliki bentuk fisik yang dapat dipecah menjadi bab (chapter), Alinea, dan kalimat. Bentuk fisik film dipecah menjadi unsur-unsur yakni, shot, adegan (scene), dan sekuen.
Shot merupakan proses saat perekaman gambar pada saat kamera di aktifkan hingga dihentikan hal tersebut sering diistilahkan satu kali take. Shot dalam pasca produksi dapat diartikan sebagai rangkaian utuh yang tidak terintrupsi oleh potongan gambar (editing) atau dapat diibaratkan seperti novel, shot dapat diartikan seperti satu kalimat. Adegan (scene) merupakan segmen pendek yang terdiri dari beberapa shot yang saling berkesinambungan dan terikat oleh ruang, waktu, isi cerita, tema, karakter, dan motif. Sekuen merupakan segmen besar yang terdiri dari beberapa adegan yang saling berhubungan dan dapat dikelompokan berdasarkan periode (waktu), lokasi, atau rangkaian aksi Panjang.
C. Genre Film
Genre berasal dari Bahasa perancis yang bermakna
“bentuk” atau “tipe”, yang digunakan untuk klasifikasi dari
20 sekelompok film yang memiliki karakter atau pola yang sama berdasarkan setting, isi dan subyek cerita, tema, struktur cerita, aksi atau peristiwa, periode, gaya, situasi, ikon, mood, karakter.
Genre memiliki fungsi untuk memudahkan untuk memilah film-film berdasarkan spesifikasinya. Genre terus berkembang apabila ada film yang dapat mewakili genre tersebut menjadi sukses dan menjadi trend.
2.4.2 Film Fiksi
Di dalam film terdapat beberapa jenis film itu sendiri, salah satunya ialah film fiksi. Film fiksi merupakan sebuah karangan, baik rekaan didalam dunia nyata maupun kejadian diluar dunia nyata. Film fiksi lebih terkait dengan plot dan cerita yang disajikan pun diluar dari kejadian yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Film fiksi memiliki konsep dimana adegan yang akan diambil sudah dirancang sejak awal.
Dalam produksinya, film fiksi ini lebih kompleks pada 2 film yang lainnya. Baik dari segi kru yang tidak sedikit serta waktu yang dihabiskan relatif lama, serta penataan lokasi serta waktu yang harus menyesuaikan terhadap cerita. Di dalam penceritaan yang dibuat, biasanya film fiksi mengkategorikan karakter kedalam dua jenis, yaitu protagonist dan antagonis, serta memiliki masalah konflik serta awalan dan penutupan.
Film fiksi pun dapat dikemas dengan dua jenis film lainnya.
Seiring berkembangnya zaman, film fiksi dapat dikombinasikan dengan film documenter dengan penyajian serta pengemasan yang serupa dengan film tersebut, hanya dibedakan dengan kisah yang diangkat lebih fiktif atau rekaan belaka. Sehingga film fiksi dapat menjadikan sebuah trend yang dapat digunakan pada jenis apa saja.
2.4.3 Penata Kamera (Sinematografer)
Penataan kamera dalam film sering disebut dengan sinematografi, sinematografi adalah bidang ilmu yang membahas
21 mengenai Teknik menangkap suatu gambar dan menggabungkan gambar tersebut hingga menjadi suatu rangkaian gambar yang bisa menyampaikan ide suatu cerita. Menurut Abidin (2016), Sinematografi memiliki suatu objek yang sama seperti dengan fotografi yaitu menangkap pantulan cahaya dari suatu benda. Dalam sinematografi, terdapat beberapa jenis ukuran dari pengambilan gambar, atau biasa disebut Type of Shot diantaranya yaitu:
a. Extreme Long Shot
Diambil dari jarak yang sangat jauh atau lebih menonjolkan lokasi pengambilan gambar.
b. Long Shot
Pengambilang secara keseluruhan, namun objek pada shot ini terlihat lebih jelas dari Extreme Long Shot
c. Full Shot
Pengambilan objek secara penuh dari kepala sampai kaki, untuk memperkenalkan lingkungan disekitarnya.
d. Knee Shot
Pengambilan dari kepala hingga lutut, untuk menampilkan kegiatan yang sedang dilakukan.
e. Medium Shot
Pengambilan dari jarak sedang, untuk memperlihatkan aktivitas objek yang agak lebih dekat.
f. Medium Close Up
Pengambilan dari bagian dada ke atas, bertujuan untuk memperlihatkan emosi objek.
g. Close Up
Gambar diambil dari jarak dekat, yang bertujuan untuk menekankan ekspresi dari karakter.
h. Big Close Up
Pengambilan dari dahi hingga dagu, bertujuan untuk menunjukan detail ekspresi objek.
i. Extreme Close Up
Untuk memperlihatkan detail atau emosi objek.
22 Terdapat juga beberapa jenis sudut kamera dari pengambilan gambar, atau biasa disebut Angle diantaranya ialah:
a. Bird’s Eye View
Angle ini biasanya dipakai untuk men-establish suatu lokasi baru dimana sebuah adegan terjadi. Selain itu aerial view juga kerap dipakai untuk menunjukan perpindahan karakter ke lokasi baru.
b. Overhead
Angle kamera ini cocok untuk menggambarkan gerak-gerik karakter karena memberikan ruang. Namun selain itu overhead shot juga dianggap sebagai jenis angle yang paling membuat karakter ‘vulnerable’. Kenapa? Karena di sini kita melihat karakter dari atas dan mendapatkan sudut yang jelas soal bagaimana ia berinteraksi dengan latar tempat adegan berlangsung.
c. High Angle
Angle kamera ini menangkap subjek dari sudut yang lebih tinggi. Dengan alat bantu tripod, tangga, atau crane, kamera diletakan lebih tinggi dari subjek.
d. Eye Level
Kamera diletakan sejajar dengan mata manusia. Angle yang netral dan paling sering digunakan dalam film
e. Low Angle
Kebalikan dari high angle, jenis sudut ini memotret objek dari bawah. Kamera diletakan dibawah subjek dan kamera di titlt mengarah ke subjek.
Selain itu terdapat sebuah teknik pergerakan kamera atau biasa dikenal dengan Camera Movement, diantaranya ialah:
a. Zoom Out/In
Yaitu pergerakan kamera dengan mengubah ukuran focal length lensa.
b. Pan Right/Left
23 Pergerakan kamera mendatar secara horizontal c. Tilt Up/Down
Pergerakan kamera ke atas atau ke bawah namun kamera tetap bertumpu pada sumbunya.
d. Pedestal
Pergerakan kamera ke atas atau ke bawah secara vertikal
e. Dolly
Gerakan kamera mendekat ke arah objek f. Track Left/Right
Pergerakan kamera mengikuti objek pengambilan gambar.
g. Jib/Crane
Pergerakan kamera ke hamper segala arah.