• Tidak ada hasil yang ditemukan

Estetika Semiotis

Dalam dokumen Tesis BENDERA DI HIZBUT TAHRIR INDONESIA (Halaman 55-65)

DAFTAR SINGKATAN

E. Landasan dan Pendekatan Teori

5. Estetika Semiotis

Katya Mandoki mendefinisikan estetika sebagai “kajian tentang proses estetis”.67 Kendati secara linguistik batasan ini tidak tepat karena mengandung unsur kata yang didefinisikan,68

definisi tersebut tidak mereduksi kajian estetika. Definisi yang termuat dalam buku Everyday Aesthetics itu lebih komprehensif jika, misalnya, dibandingkan dengan definisi Bosanquet tahun 1892, yang hingga kini versinya masih diulang-ulang dalam berbagai referensi, yaitu “estetika sebagai filsafat keindahan”.69

Proses estetis dalam definisi tersebut juga disebut estesis. Istilah ini berkorelasi dengan kata semiosis dalam terminologi

66 Djoko Soekiman, Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII – Medio Abad XX), (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2000), 40-41.

67 Katya Mandoki, Everyday Aesthetics: Prosaics, the Play of Culture and Social Identities (Hampshire: Ashgate, 2007), xi.

68 Gorys Keraf, Komposisi (Flores: Nusa Indah, cetakan ke-6, 1980), 53.

69 W.E. Kennick, Art and Philosophy Reading in Aesthetic (New York: St. Martin‟s Press, cetakan ke-2 1979), xi.

semiotika.70 Semiotika adalah studi tentang tanda dan cara kerja tanda.71 Semiosis merupakan proses penandaan atau proses penerimaan suatu tanda oleh interpreter.72

Analisis estetika melalui metodologi semiotika, oleh Mandoki, disebut semio-aesthetics.73 Untuk hal yang sama, Winfried Nöth menggunakan istilah semiotic aesthetics.74

Berdasarkan frasa tersebut, penelitian ini menggunakan istilah estetika semiotis.

Mandoki memanfaatkan model semiosis Ferdinand de Saussure. Ia menolak semiosis Charles Sander Peirce yang dipandang berbahaya jika diterapkan di selain ranah semiotika.75

Sebaliknya, penelitian ini menggunakan model semiosis Peircean untuk diterapkan dalam estesis. Pemanfaatannya dilakukan dengan cara penyederhanaan dan pengeliminasian beberapa konsep Peirce. Cara yang hampir sama pernah dilakukan oleh Michael Newall.76

70 Mandoki, 2007, 109.

71 John Fiske, Cultural and Communication Studies, terj. Yosal Iriantara dan Idi Subandy Ibrahim(Yogyakarta: Jalasutra, 2011), 60.

72 Winfried Nöth, Handbook of Semiotics (Bloomington and Indianapolis: Indiana University Press, 1990), 42.

73 Mandoki, 2007, 101-102.

74 Nöth, 1990, 421.

75 Mandoki, 2007, 109-113

76 Michael Newall, What is a Picture? Depiction, Realism, Abstraction (New York: Palgrave Macmillan, 2011), 52-54.

a. Semiosis Peircean

Semiosis Peirce bersifat triadik. Sudut segitiganya terdiri dari representamen, object, dan interpertant. Representamen, atau kadang disebut tanda (sign), adalah sesuatu yang berada bagi seseorang untuk sesuatu yang lain dalam berbagai cara atau kapasitas. Representamen merupakan aspek material suatu tanda. Object, berbeda dengan pengertian sehari-hari, adalah sesuatu yang diacu oleh representament. Interpretant merupakan hal yang muncul pada benak seseorang karena dibangkitkan oleh representament.77

Peirce membagi tipologi tanda dalam tiga trikotomi. Salah satunya, yang paling terkenal, adalah trikotomi berdasarkan hubungan antara representamen dengan object. Dalam hal ini tanda dibagi menjadi tiga, yaitu ikon (icon), indeks (index), dan simbol (symbol). Ikon adalah tanda atau representamen yang karakternya memiliki kesamaan dengan object, baik object tersebut eksis terindera maupun tidak. Indeks merupakan tanda atau representamen yang keberadaannya disebabkan oleh efek keberadaan object. Simbol adalah tanda atau representamen yang kaitannya dengan object berdasarkan konvensi atau hukum,

77 Charles Sander Peirce, “Logic as Semiotic: The Theory of Sign”, dalam Justus Bucher, ed., Philosophical Writing of Peirce (New York: Dover, 1955), 99.

biasanya berupa ide umum.78 Sebuah tanda dapat tergolong dalam ikon, indeks, dan simbol sekaligus.79

Makna suatu tanda merupakan hal yang dicari dalam kajian semiotika.80 Peirce melihat makna secara pragmatis, yaitu efek penandaan yang terjadi pada aktivitas mental seseorang.81

Aktivitas mental seperti ini tidak bisa lepas dari ide atau gagasan yang telah ada pada orang tersebut.82 Efek semiosis dapat berupa efek emosional, efek energetis, maupun efek logikal. Efek emosional adalah efek berupa perasaan; efek energetis berupa reaksi fisik; efek logikal berupa konsep pemikiran.83

b. Estesis dalam Model Semiosis Peircean

Dalam penelitian ini, segitiga semiosis Peircean diadopsi menjadi segitiga estesis. Sudut representamen ditempati “objek estetis”; object diubah menjadi “nilai estetis”, dan interpretant diganti dengan “pengalaman estetis”. Objek estetis, nilai estetis,

78 Peirce, 1955, 102.

79 Paul Cobley dan Litza Jansz, Mengenal Semiotika for Biginners,

terj. Ciptadi Sukono (Bandung: Mizan, 2002), 33.

80 Marcel Danesi, Messages, Signs, and Meanings: A Basic Textbook in Semiotics and Communication Theory, 3rd Edition (Toronto: Canadian Scholars‟ Press, 2004), 3.

81 Thomas Turino, “Signs of Imagination, Identity, and Experience: A Piercian Semiotic Theory for Music”, dalam jurnal Ethnomusicology

(Vol. 43, No. 2, Sping-Summer, 1999),224.

82 Charles Sander Peirce, “The Law of Mine”, dalam Nathan Houser, et al., ed., Writing of Charles S. Peirce a Chronological Edition Volume 8 1890-1892 (Blomington dan Indianapolis: Indiana University Press, 2010), 136.

maupun pengalaman estetis merupakan ranah pembahasan estetika yang penting.84 Nilai estetis menempati puncak segitiga, hal ini untuk menunjukkan bahwa nilai bersifat objektif dan subjektif sekaligus. Sebagaimana dikatakan M. M. Syarif, nilai muncul dari perpaduan atau konstruksi antara objek tertentu dengan subjek dalam keadaan tertentu pula.85

i. Objek Estetis

Menurut Thomas Munro, objek estetis adalah apapun yang dapat merangsang kemunculan pengalaman estetis.86 Objek estetis dapat berupa karya seni, objek non-seni, maupun alam.87

Dalam dimensi estetika, menurut Noël Carroll, karya seni adalah objek yang dibuat untuk membawa, menimbulkan, atau setidaknya mendukung pengalaman estetis.88 Kajian tentang objek estetis meliputi beberapa hal berikut.

84 Marcia Muelder Eaton, Persoalan-persoalan Dasar Estetika, terj. Embun Kenyowati Ekosiwi (Jakarta: Salemba Humanika, 2010), xiii.

85 M.M. Syarif, Iqbal tentang Tuhan dan Keindahan, terj. Yusuf Jamil (Bandung: Mizan, 1984), 106-107.

86 Thomas Munro, Form and Style in the Arts: an Introduction to Aesthetic Morpology (Cleveland: The Press of Case Western University, 1970), 22.

87 Ted Honderich, The Oxford Companion to Philosophy (Oxford: Oxford University Press, 1995), 7; Dick Hartoko, Manusia dan Seni

(Yogyakarta: Kanisius, cetakan ke-14, 2002), 13-14.

Pertama material dan teknik, menurut Edmund Burke Feldman, material adalah elemen fisik pembentuk karya seni;89

Gene Mittler dan Rosalind Ragans mencatat, teknik merupakan metode penciptaan karya seni.90 Kedua bentuk (form), Marcia Muelder Eaton menyatakan, bentuk karya seni adalah hal yang ditampilkan secara langsung dan dipersepsi.91 Dalam veksillologi, bentuk meliputi ground, charge, ukuran maupun rasio, dan bunting. Adapun persoalan kaligrafi terangkum dalam charge karena konfigurasi yang terdapat dalam liwa dan rayah adalah kaligrafi. Ketiga displai (display), dalam konteks veksillologi, displai merupakan cara pemasangan bendera.92 Keempat, untuk memperjelas kategori, objek estetis juga memperbincangkan masalah status objek tersebut dalam seni; hal seperti ini sebagaimana dilakukan oleh Eaton.93

ii. Nilai Estetis

Menurut Eaton, nilai estetis adalah nilai yang dimiliki objek terkait dengan kapasitasnya untuk membangkitkan kesenangan, yang muncul dari ciri objek yang secara tradisional dianggap

89 Edmund Burke Feldman, Art as Image and Idea (New Jersey: Prentice-Hall, 1967), 306.

90 Gene Mittler dan Rosalind Ragans, Understanding Art

(Woodland Hills: Glencoe/McGraw-Hill, 2005), 30-38.

91 Eaton, 2010, 102.

92 Smith, 1984, 350-351.

berharga untuk diperhatikan dan direfleksikan.94 Terkait batasan tersebut, ketiga jenis tanda dalam trikotomi Peirce dianggap sebagai nilai estetik, yaitu: nilai simbolis, nilai ikonis, dan nilai indeksikal.

Pertama, nilai simbolis adalah kapisitas karya seni untuk dikaitkan dengan konvensi atau ide tertentu. Kedua, nilai ikonis merupakan nilai yang dimiliki karya seni berdasarkan kesamaan dengan acuannya, baik acuan tersebut dapat dijumpai di alam maupun hanya berada dalam pemikiran. Ketiga, nilai indeksikal merupakan nilai karya seni yang menunjukkan hubungan koeksistensi dengan sesuatu yang lain.

iii.Pengalaman Estetis

Eaton menyatakan, pengalaman estetis adalah pengalaman tentang tanda intrinsik sesuatu yang secara tradisional dianggap berharga untuk diperhatikan dan direfleksikan. Untuk mengetahui pengalaman itu dibutuhkan pemahaman tentang budaya masyarakat bersangkutan.95 Hal ini sejalan dengan Pierre Bourdieu yang menyatakan bahwa karya seni memiliki makna dan

94 Eaton, 2010, 181.

interes hanya untuk seseorang yang mempunyai kompetensi kultural.96

Mengingat pengalaman tersebut timbul pada pengamat ketika menanggapi objek estetis, maka pengalaman estetis dapat dilihat sebagai makna dalam pandangan Peircean. Pengalaman estetis merupakan aktivitas mental seseorang saat mencerap objek estetis, atau efek yang ditimbulkan oleh objek estetis. Dalam semiotika Peircean, efek tersebut dapat berupa efek emosional, efek energetis, maupun efek logikal.

Dalam teori Immanual Kant, efek yang termasuk pengalaman estetis adalah efek emosional. Kant mengatakan bahwa persoalan estetis tidak bersifat logikal, tapi terkait dengan perasaan kenikmatan atau ketidaknikmatan yang bersifat subjektif.97 Teori estetika Kant tentang disinterested kurang tepat. Disinterested adalah pengalaman estetis98 yang terjadi tanpa berharap apapun dari objek estetis;99 teori ini menegaskan pemisahan pengalaman estetis dengan unsur logikal. Beberapa

96 Pierre Bourdieu, Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste, terj. Ricard Nice (Cambridge: Harvard University Press, 1984), 4.

97 Immanuel Kant, “Critique of the Aesthetical Judgment”, dalam W.E. Kennict, Art and Philosophy Reading in Aesthetics (New York: St. Martin‟s Press, 1979), 501.

98 Nöel Carroll, “Aesthetic Experience: A Question of Content”, dalam Matthew Kieran, Contemporary Debates in Aesthetics and the Philosophy of Art (Malden, Oxford, Victoria: Blackwell Publishing, cetakan ke-3, 2007), 73.

99 Elizabeth Prettejohn, Beauty and Art 17502000 (New York: Oxford University Press, 2005), h. 44.

estetikus tidak sepakat dengan pemisahan tersebut. Nelson Goodman meyakini bahwa pengalaman estetis adalah salah satu jenis pemahaman kognitif; Goodman menyatakan bahwa pemisahan emosi dan pemikiran adalah kesalahan serius; Eaton mengatakan bahwa pikiran dan perasaan bekerja pada pengalaman estetis, dan seseorang ketika mencermati objek estetis melakukannya dengan sebuah tujuan (interest),100 bukan disinterested.

Oleh karena itu, efek logikal yang muncul ketika berhadapan dengan objek estetis tetap dipertimbangkan dan dianggap bagian tidak terpisahkan dengan efek emosial; meskipun demikian efek tersebut tidak termasuk pengalaman estetis. Unsur logikal merupakan bagian yang ikut mempengaruhi pengalaman estetis. Berbeda dengan efek logikal, efek emosional atau perasaan bersifat subjektif dan terkait dengan senang atau tidak senang terhadap sesuatu.101

Demikian pula, efek energetis bukan termasuk pengalaman estetis tapi terkait erat dengannya. Bahkan, efek ini merupakan unsur yang tampak dari pengalaman estetis. Feldman menyatakan, dalam pengalaman estetis seseorang akan mengidentifikasi objek estetis melalui pengaturan peralatan

100 Eaton, 2010, 61.

101 Abu Ahmadi, Psikologi Umum (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), 101.

maskular ke dalam gerakan. Aktivitas motorik ini bukan hasil emosi yang dirasakan, tapi menyebabkan emosi untuk dirasakan.102 Dengan demikian, efek energetis adalah unsur yang membuat pengalaman estetis terasa lebih besar. Karena telah terintegrasi dalam diri subjek, efek emosional, efek energetis, dan efek logikal dapat terjadi dalam waktu yang bersamaan.

102 Feldman, 1967, 282.

Gambar 1.9 Skema teori

Dalam dokumen Tesis BENDERA DI HIZBUT TAHRIR INDONESIA (Halaman 55-65)

Dokumen terkait