• Tidak ada hasil yang ditemukan

Liwa dan Rayah

Dalam dokumen Tesis BENDERA DI HIZBUT TAHRIR INDONESIA (Halaman 46-55)

DAFTAR SINGKATAN

E. Landasan dan Pendekatan Teori

2. Liwa dan Rayah

Secara literal dalam bahasa Arab, tidak ada perbedaan arti antara liwa dan rayah, keduanya tergolong sebagai alam atau „bendera‟ (kata alam yang berarti bendera juga digunakan di Aceh). Kata alam berasal dari kata alama yang berarti „memberi tanda‟ (kata ini juga membentuk kata alamat, yang telah diserap dalam bahasa Indonesia, yang juga mengandung pengertian „tanda‟). Dengan demikian, terdapat kedekatan antara bendera dengan tanda.42 Sementara itu, tanda menjadi jantung semiotika.

Liwa dan rayah terbedakan pada makna istilah. Liwa adalah bendera dengan field berwarna putih dan charge berupa kaligrafi Arab yang berbunyi laa ilaaha illaa Allah Muhammad Rasul Allah dengan warna hitam. Rayah adalah bendera dengan field berwarna hitam dan menggunakan charge yang juga berupa kalimat sahadat

40 Smith, 1984, 349.

41 Roberts, 2008, 7.

42 Ahmad Warson Munawir, Al-Munawir: Kamus Arab-Indonesia Terlengkap (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), 965-966.

namun berwarna putih.43 Cara membaca lafaz sahadat pada liwa atau rayah dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 1.6

Ejaan laa illaaha illaa Allah, Muhammad Rasul Allah, huruf tebal menunjukkan kata yang dibaca

(Digambar oleh: Deni Junaedi, 2012; dimodifikasi dari desain liwa oleh Aruman)

43 H. A. R. Gibb, et al., ed., The Encyclopaedia of Islam (London: Luzac&CO., 1960), 349; Al-Hujaili, 2002, 33-36; Hizbut Tahrir, Ajhizah ad-Daulah al-Khilafah (Libanon: Darul Umah, 2005), 169.

Istilah liwa yang berarti bendera juga ditemui dalam bahasa Indonesia. Hal ini tercantum di Kamus Umum Bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadarminta. Di sana disebutkan, liwa berarti „bendera atau panji‟. Namun demikian, kata tersebut diberi tanda salib (†) yang berarti, antara lain, telah usang atau tidak digunakan lagi.44 Hal serupa dijumpai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Departemen Pendidikan Nasional.45

Dalam buku resmi HT berbahasa Indonesia, liwa dipadankan dengan bendera, dan rayah searti dengan panji. Dalam bahasa Indonesia tidak ada perbedaan arti yang mendasar antara bendera dengan panji. Terkadang, panji dikaitkan dengan bendera yang berbentuk segitiga, namun hal itu bukan suatu keharusan. Demikian pula dengan bendera, selain berbentuk segiempat, juga dapat berbentuk segitiga.46 Perbedaan antara bendera dan panji dapat dilihat dari penggunanya. Panji umumnya digunakan oleh kesatuan atau organisasi tertentu,

44 W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia

(Jakarta: PN Balai Pustaka, 1984), 604.

45 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, edisi ke-4, 2008), 836.

misalnya militer atau kepanduan; sedangkan bendera digunakan untuk negara.47

Perbedaan antara liwa atau bendera dengan rayah atau panji dalam referensi HTI terletak pada penggunaannya dalam peperangan semasa Nabi. Liwa atau bendera berada di dekat pemimpin tertinggi atau wakilnya dalam peperangan. Rayah atau panji berada di samping komandan bagian. Dengan demikian, dalam sebuah peperangan hanya terdapat sebuah liwa, dan dimungkinkan ada beberapa rayah.48 Bentuk jamak rayah adalah raayaah atau panji-panji.

Dalam buku resmi terbitan HTI, kadang tertulis al-liwâ‟ dan ar-râyah,49 kadang pula tertulis liwa dan rayah.50 Penelitian ini memilih ejaan liwa dan rayah, dengan pertimbangan ejaan liwa terdapat dalam kamus bahasa Indonesia. Adapun penulisan rayah, tanpa mencantumkan kata ar di depannya, menyesuaikan dengan ejaan liwa yang tidak mencantumkan kata al di depannya. Kata al, yang dapat berubah bunyi menjadi ar, dalam bahasa Arab menunjukkan kata yang telah pasti; hal ini seperti kata the dalam bahasa Inggris.

47 Tim Redaksi Pustaka Yustisia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomer 24 Tahun 2009 Tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan (Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2009), 22.

48 Al-Hujaili, 2002, 32-36

49 Hizbut Tahrir, 2009, 283.

50 Taqiyuddin an-Nabhani, Peraturan Hidup dalam Islam, terj. Abu Amin, at al. (Bogor: Pustaka Thariqul „Izzah, cetakan ketiga, 2001), 146.

3. Kaligrafi

Charge bendera yang digunakan HTI DIY berupa kaligrafi Arab. Kaligrafi adalah „tulisan indah‟ atau „tulisan tangan yang elegan‟. Kata yang berasal dari bahasa Latin calligrapia ini dibentuk dari kata Yunani kallos yang berarti „indah‟ dan graphein yang berarti „tulisan‟.51 Dalam bahasa Arab, kaligrafi disebut khat. Kata yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia itu secara harfiah berarti „garis‟ atau „tulisan‟ dan secara istilah berarti „tulisan yang indah‟.52 Tulisan Arab dibaca dari arah kanan ke kiri, sebagaimana keluarga tulisan Aramea yang lain, seperti Siria dan Ibrani.53

Di antara berbagai khat Arab, terdapat beberapa gaya yang paling menonjol, yaitu: naskhi, sulus, diwani, diwani jali, farisi, riqah, dan kufi.54 Khat tersebut telah menjadi pakem di dalam kaligrafi Arab tradisional; setiap gaya memiliki varian. Ketujuh bentuknya dapat dilihat pada contoh berikut (semua lafaznya

51 David Diringer, “Calligraphy and Epigraphy”, dalam Encyclopedia of World Art (London: McGraw-Hill Book Company, Inc., 1960), 2.

52 D. Sirojuddin AR., “Kaligrafi” dalam Ensiklopedi Islam (Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2005), 45.

53 Donal M. Anderson, The Art of Writen Forms The Theory ang Practice of Calligraphy (New York, atau al.: Holt, Rinehart and Winston, 1969). 296.

54 Nina M. Armando, ed., et al., Ensiklopedi Islam (Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, tanpa tahun), 45-48; D. Sirojuddin AR., Koleksi Karya Master Kaligrafi Islam (Naskhi, Sulus, Diwani, Diwani Jali, Farisi, Kufi, Riq‟ah) (Jakarta: Darul Ulum Press, 2007), passim.

berbunyi bismillahirrohmanirrohim yang berarti „dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyasang‟).

Saat nabi Muhammad masih hidup, langgam khat tersebut belum dikenal meskipun cikal bakalnya telah tampak. Ketika itu, bentuk tulisan masih sederhana, salah satunya digunakan dalam

Gambar 1.7 Berbagai gaya khat

surat Nabi Muhammad untuk Raja Bizantium (gb. 1.8).55 Waktu itu tulisan Arab dapat dikategorikan menjadi muqawar dan mabsut. Muqawar berbentuk kursif atau lengkung, mabsut berpola garis lurus dan bersudut-sudut. Nama khat yang diberikan terkait dengan nama kota, yaitu maliki dari Makah dan madani dari Madinah. Namun demikian, perbedaan nama itu tidak untuk membedakan ciri tulisan.56

55 M. M. Al-Azami, Sejarah Teks Al-Quran dari Wahyu sampai

Kompilasi, terj. Sohirin Solihin, et al. (Jakarta: Gema Insani Press, 2005), 138.

56 Yasin Hamid Safadi, Kaligrafi Islam, terj. Abdul Hadi W.M. (Jakarta: Pantja Simpati, 1986), 5.

Gambar 1.8

Surat Nabi Muhammad untuk Raja Bizantium (Al-Azami, 2005, 138)

4. Konteks

Konteks adalah situasi keberadaan teks.57 Kadang juga ditulis koteks (cotext), yaitu gabungan dari kata co dan text yang secara harfiah berarti „bersama teks‟.58 Konteks perlu diperhatikan karena mempengaruhi teks, teks yang sama memiliki makna yang berbeda pada konteks yang berlainan.59 Dalam penelitian ini, estesis liwa dan rayah di HTI DIY menempati posisi sebagai teks; teks adalah tanda itu sendiri. Konteks yang diperhatikan adalah konteks sejarah dan konteks budaya,60 dengan kata lain konteks waktu dan konteks ruang.

a. Konteks Sejarah

Helius Sjamsuddin menyatakan, sejarah adalah kajian tentang kegiatan manusia pada masa lalu yang merupakan manifestasi pikiran, perasaaan, dan perbuatan.61 Kuntowijoyo

57 Henddy Shri Ahimsa-Putra, “Wacana Seni dalam Antropologi Budaya: Tekstual, dan Post-Modernistis” dalam Ketika Orang Jawa Nyeni (Yogyakarta: Galang Printika, 2000), 399-421.

58 Mulyana, Kajian Wacana, Teori, Metode, dan Aplikasi Prinsip-prinsip Analisis Wacana (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2005), 10.

59 Marianne W. Jorgensen dan Louise J. Phillips, Analisis Wacana Teori dan Metode, terj. Imam Suyitno, et al. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), 21.

60 Thomas P. Hébert dan Teresa M. Beardsley, “Jermaine: A Critical Case Study of a Gifted Black Child Living in Rural Poverty”, dalam Sharan B. Merriam, et al., Qualitative Research in Practise Examples for Discussion and Analysis (San Francisco: Jossey-Bass, 2002), 209.

61 Helius Sjamsuddin, Metodologi Sejarah (Yogyakarta: Ombak, 2007), 159-160.

mencatat, terdapat dua model dalam kajian sejarah, yaitu model diakronis dan model sinkronis. Model diakronis lebih mengutamakan penggambaran berdimensi waktu, model ini yang banyak digunakan dalam ilmu sejarah. Model sinkronis lebih mengutamakan deskripsi yang meluas dalam ruang tanpa terlalu banyak menyinggung dimensi waktu, model ini banyak dipakai ilmu sosial.62 Adapun penyajian sejarah dapat berbentuk deskriptif-naratif atau analisis-kritis. Deskriptif-naratif menyandarkan pada narasi peristiwa. Analisis-kritis lebih memperhatikan problem dan struktur.63 Penelitian ini cenderung bersifat analisis-kritis dan menggunakan model sinkronis.

b. Konteks Budaya

Menurut Paul B. Harton dan Chaster L. Hunt, budaya adalah segala sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara sosial oleh para anggota suatu masyarakat.64 Sesuai dengan Koentjaraningrat, tidak ada perbedaan pada istilah budaya dan kebudayaan, budaya hanyalah kependekan dari kata kebudayaan.65

62 Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah (Yogyakarta: Tiara Wacana, cetakan ke-2, 2003), 43.

63 Sjamsuddin, 2007, 237-238.

64 Paul B. Harton dan Chaster L. Hunt, Sosiologi, jilid 1, terj. Aminuddin Ram dan Tita Sobari (Jakarta: Erlangga,1987), 58.

65 Koentjaraningrat, Pengatar Ilmu Antropologi (Jakarta: Rineka Cipta, cetakan ke-8, 2002), 181.

J.J. Honingman mengelompokkan unsur budaya menjadi tiga, yaitu sistem budaya, aktivitas, dan artefak. Sistem budaya terdiri dari gagasan, pikiran, konsep, nilai-nilai, norma, pandangan, atau sejenisnya yang bersifat abstrak; aktivitas merupakan tingkah laku berpola para pelaku budaya; dan artefak berupa karya manusia.66

Dalam dokumen Tesis BENDERA DI HIZBUT TAHRIR INDONESIA (Halaman 46-55)

Dokumen terkait