• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. METODE PENELITIAN

4.4 Metode Analisis Data

4.4.3 Estimasi Nilai Marginal Damage (MD)

Estimasi nilai MD didekati menggunakan nilai total WTA masyarakat. Untuk mengetahui nilai WTA masyarakat digunakan pendekatan CVM dengan enam tahapan pekerjaan (Hanley dan Spash, 1993) yaitu:

1. Membangun Pasar Hipotesis (Setting Up The Hypothetical Market)

Langkah pertama dalam menjalankan CVM adalah membangun pasar hipotesis dan pertanyaan mengenai nilai barang/jasa lingkungan. Pasar hipotesis tersebut membangun suatu alasan mengapa masyarakat seharusnya menerima kompensasi dari dipergunakannya jasa lingkungan oleh pihak lain dimana tidak terdapat nilai dalam mata uang berapa harga barang/jasa lingkungan.

Pasar hipotesis dalam penelitian ini dibentuk atas dasar tingkat pencemaran. Besar kecilnya tingkat pencemaran dapat dilihat dari konsentrasi parameter pencemar yang terkandung dalam air sungai seperti BOD, COD. Terjadinya pencemaran air sungai mengakibatkan penurunan terhadap kualitas air sehingga berkurangnya manfaat jasa lingkungan yang dapat digunakan oleh masyarakat.

Informasi yang diberikan kepada responden yaitu mengenai kondisi air sungai sebelum ada pencemaran, kondisi aktual Sungai Cibudig sebelum dan setelah terkontaminasi pembuangan air limbah PT. UNITEX beserta kerugian/dampak negatif yang harus ditanggung oleh masyarakat khususnya pengguna sungai. Dengan penjelasan tersebut diharapkan responden dapat membandingkan nilai WTA sesuai dengan kerugiannya. Besarnya dana kompensasi mempresentasikan kerugian akibat menurunnya jasa lingkungan yang seharusnya dapat dinikmati masyarakat.

Berdasarkan pasar hipotesis tersebut, selanjutnya dibuat skenario sebagai berikut:

Untuk dapat menilai kerugian lingkungan akibat pencemaran air yang disebabkan oleh pembuangan air limbah, maka responden dihadapkan pada dua kondisi, yaitu:

Kondisi I:

Responden diberikan penjelasan mengenai kondisi air sungai di bagian hulu sebelum terjadi pencemaran dengan konsentrasi ambang untuk parameter BOD sebesar 2 mg/l dan COD sebesar 10 mg/l. Konsentrasi tersebut termasuk dalam kriteria klasifikasi mutu air sungai kelas satu dalam PP RI No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air yang menunjukkan air sungai masih bisa dimanfaatkan untuk seluruh keperluan rumah tangga termasuk keperluan air baku air minum artinya jasa air sungai seluruhnya masih bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Penjelasan selanjutnya yang diberikan yaitu mengenai kondisi aktual Sungai Cibudig sebelum terkontaminasi pembuangan air limbah PT. UNITEX. Pengambilan data ini dilakukan pada musim kemarau (11 Juli 2008). Hasil analisis laboratorium terhadap dua parameter lingkungan menunjukkan konsentrasi BOD sebesar 6,6356 mg/l dan COD sebesar 13,5028 mg/l. Dalam penelitian ini, untuk menentukan klasifikasi kelas mutu air terhadap kondisi Sungai Cibudig sebelum dan setelah terkontaminasi pembuangan air limbah PT. UNITEX didasarkan pada konsentrasi parameter COD. Hal ini dikarenakan konsentrasi COD dapat melihat seluruh kandungan senyawa organik dalam air sungai baik senyawa organik terurai maupun senyawa organik sulit terurai.

Dengan demikian kondisi di atas berdasarkan konsentrasi COD termasuk ke dalam klasifikasi mutu air kelas dua dalam PP RI 82/2001. Klasifikasi ini menunjukkan bahwa air sungai sudah tidak layak lagi digunakan untuk air baku air minum artinya telah mengalami perubahan berupa penurunan kualitas air sungai yang berarti masyarakat telah mengalami kerugian apabila dibandingkan dengan kondisi air di hulu.

Kondisi II:

Menggambarkan keadaan Sungai Cibudig yang sudah tercemar oleh pembuangan air limbah PT. UNITEX. Kondisi ini didukung dengan hasil analisis terhadap parameter BOD dan COD yang hasilnya BOD sebesar 11,8130 mg/l dan COD sebesar 191,5 mg/l. Nilai-nilai tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan hasil analisis terhadap sampel air Sungai Cibudig sebelum pembuangan air limbah UNITEX.

Berdasarkan kandungan konsentrasi COD tersebut maka kondisi air Sungai Cibudig tersebut menurut PP RI 82/2001 termasuk klasifikasi mutu air kelas empat. Klasifikasi ini menunjukkan air sungai sudah tidak dapat dimanfaatkan untuk seluruh keperluan rumah tangga (mandi, mencuci, masak) terkecuali masih bisa digunakan untuk mengairi pertanaman serta kondisi ini dapat menimbulkan berbagai penyakit bagi manusia. Hal tersebut di atas menunjukkan bahwa semakin tingginya konsentrasi parameter pencemar maka tingkat pencemaran air semakin tinggi sehingga semakin bertambah kerugian yang harus dirasakan oleh masyarakat. Untuk mengetahui nilai kerugian masyarakat akibat pembuangan air limbah PT. UNITEX ke sungai, dapat diketahui dengan menanyakan berapa besar kompensasi/ganti rugi per bulan yang

bersedia diterima oleh masyarakat sebagai pengganti dari jasa lingkungan yang hilang?

2. Memperoleh Nilai Penawaran WTA (Obtaining Bids)

Setelah kedua kondisi di atas jelas dan responden untuk kedua kondisi tersebut telah ditentukan. Langkah selanjutnya adalah upaya untuk mendapatkan nilai WTA melalui survei langsung. Kegiatan survei dirancang untuk wawancara langsung dengan responden yang dipandu oleh kuesioner. Tujuan dari survei yaitu untuk memperoleh nilai minimum kesediaan menerima (WTA) dari responden terhadap kehilangan jasa lingkungan.

Dalam wawancara dipersiapkan sedemikian rupa sehingga terjadi mekanisme tawar-menawar (bidding game) mengenai besaran dana kompensasi atas kerugian jasa lingkungan. Tawar menawar dimulai dari tawaran tertinggi kemudian menurun secara pasti hingga tercapai batas maksimal menurut responden, atau sebaliknya pewawancara memulai dengan nilai rendah kemudian naik perlahan hingga diketahui nilai yang tepat menurut responden. Pada kasus bidding game, kuesioner menyarankan penawaran pertama (nilai awal dari penawaran) dan responden setuju atau tidak setuju jumlah yang akan mereka mereka terima setiap bulan/setiap tahunnya. Selanjutnya, nilai awal (the starting point price) diturunkan/dinaikkan untuk melihat apakah responden masih mau menerima hal tersebut dan seterusnya sampai responden menyatakan bahwa tidak mau menerima lagi dalam penawaran yang terus diajukan. Penawaran terakhir yang disetujui oleh responden merupakan nilai minimum dari WTA mereka.

3. Menghitung Dugaan Nilai Rataan WTA (Estimating Mean WTA/EWTA)

Setelah data mengenai nilai WTA didapatkan, tahap selanjutnya adalah penghitungan nilai rata-rata (mean) dari WTA tersebut. Dugaan rataan WTA dihitung dengan rumus (Jordan dan Elnagheeb dalam Arianti, 1999):

Pf i WTA ∑ = = n 1 i EWTA dimana:

EWTA = Dugaan rataan WTA WTA = WTA individu

Pfi = Frekuensi relatif kelas yang bersangkutan n = Jumlah kelas

i = Kelas ke i

4. Menduga Kurva Penawaran WTA (Estimating Bid Curve)

Pendugaan kurva penawaran WTA dilakukan dengan menggunakan nilai WTA sebagai variabel dependen (Y) dan tingkat konsentrasi parameter limbah cair di sungai sebagai variabel independen (X). Dengan perubahan tingkat konsentrasi dapat dilihat seberapa besar kompensasi yang diinginkan oleh masyarakat.

5. Menjumlahkan Data (Agregating The Data)

Penjumlahan data merupakan proses dimana nilai rataan sampel dikonversikan terhadap total populasi secara keseluruhan. Salah satu cara untuk mengkonversi ini adalah mengalikan rataan sampel dengan jumlah rumah tangga dalam populasi (Fauzi, 2004).

6. Mengevaluasi Penggunaan CVM (Evaluating the CVM Exercise)

Hal ini merupakan penilaian sejauh mana penggunaan CVM telah berhasil. Pada tahap ini memerlukan pendekatan seberapa besar tingkat keberhasilan dalam pengaplikasian CVM. Untuk mengevaluasi pelaksanaan model CVM dapat dilihat tingkat keandalan (reliability) fungsi WTA untuk mengetahui apakah CVM yang dilakukan dapat memberikan gambaran yang sebenarnya. Uji yang dapat dilakukan dengan Uji Keandalan adalah melihat R2 dari model OLS (Ordinary Least Square) WTA.

Pada penelitian ini, nilai MD didekati menggunakan nilai WTA. Oleh karena itu, untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi WTA masyarakat di Kelurahan Tajur terhadap peningkatan kesejahteraan melalui penerimaan kompensasi karena adanya pencemaran air sungai digunakan model regresi linier berganda. Persamaan regresi dalam penelitian ini sebagai berikut : WTAi = β0 + β1 X1i + β2 X2i + β3 X3i – β4 X4i + β5 X5i - β6 X6i 7 X7i + εi dimana :

WTA = WTA responden β0 = Konstanta β1,…,β7 = Koefisien regresi

X1 = Tingkat pendidikan (tahun) X2 = Lama tinggal (tahun) X3 = Jumlah tanggungan (orang)

X4 = Jarak tempat tinggal dengan sungai (meter)

X5 = Jenis kelamin (bernilai 1 untuk “laki-laki” dan bernilai 0 untuk “perempuan”)

X6 = Tingkat pendapatan (rupiah/bulan)

X7 = Pengetahuan mengenai dampak negatif limbah (bernilai satu jika ”tahu dan bernilai nol jika ”tidak tahu”)

i = Responden ke i yang bersedia menerima dana kompensasi (i=1,2, …,41)

Variabel-variabel tersebut dipilih berdasarkan teori-teori, penelitian terdahulu, dan observasi di lokasi penelitian. Variabel bebas yang digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya nilai WTA adalah tingkat pendidikan, lama tinggal, jumlah tanggungan, jarak tempat tinggal ke sungai, jenis kelamin, pendapatan dan pengetahuan mengenai dampak negatif limbah. Tingkat pendidikan diduga akan berbanding lurus dengan nilai WTA artinya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin besar nilai WTA karena semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka pola pikir serta pengetahuan responden mengenai dampak negatif dari bahaya pembuangan limbah bagi kehidupan akan semakin baik.

Variabel lama tinggal diduga akan berpengaruh positif terhadap nilai WTA. Semakin lama responden tinggal, maka responden semakin menyadari dampak negatif pembuangan air limbah yang telah menyebabkan penurunan kualitas lingkungan sehingga nilai WTA yang diinginkan semakin besar. Hal di atas juga terjadi dengan variabel jumlah tanggungan dinilai akan memiliki hubungan positif terhadap nilai WTA karena jumlah tanggungan akan terkait dengan banyaknya anggota keluarga yang harus menanggung dampak negatif dari bahaya pembuangan air limbah sehingga nilai WTA yang diinginkan semakin tinggi.

Jarak tempat tinggal dengan sungai dipilih sebagai variabel yang mempengaruhi nilai WTA atas pertimbangan jarak tempat tinggal responden dengan sungai akan menentukan seberapa besar dampak yang harus ditanggung responden. Variabel jarak rumah ke sungai dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana responden memiliki ketergantungan dengan sungai. Variabel ini diduga akan berpengaruh negatif karena semakin dekat jarak tempat tinggal

dengan sungai maka responden semakin merasakan langsung dampak negatif akibat pembuangan limbah terutama dampak bau, kekeruhan air dan juga responden semakin memiliki ketergantungan dengan sungai sehingga nilai WTA yang diminta akan semakin tinggi. Semakin jauh jarak tempat tinggal dengan sungai diduga responden kurang begitu mengetahui dan merasakan dampak negatif pencemaran air akibat pembuangan limbah ke sungai dan semakin tidak memiliki ketergantungan dengan sungai sehingga nilai WTA yang diinginkan semakin kecil.

Variabel jenis kelamin dipilih dengan pertimbangan bahwa perbedaan jenis kelamin responden akan memberikan penilaian yang berbeda-beda terhadap besarnya dana kompensasi yang diinginkan. Variabel jenis kelamin laki-laki diduga akan berhubungan positif dengan nilai WTA responden. Responden laki-laki yang umumnya berfungsi sebagai kepala keluarga dianggap dapat mewakili dan mengetahui kondisi rumah tangga serta lingkungan tempat tinggalnya. Responden laki-laki diduga akan memberikan nilai WTA yang lebih tinggi daripada perempuan.

Variabel tingkat pendapatan dipilih dengan pertimbangan bahwa tingkat pendapatan yang diperoleh akan menentukan besar kecilnya kesediaan menerima dana kompensasi yang diinginkan akibat penurunan kualitas lingkungan. Variabel tingkat pendapatan diduga akan berhubungan negatif dengan nilai WTA responden, artinya semakin besar pendapatan responden maka semakin rendah nilai WTA. Semakin besar pendapatan maka responden semakin tidak membutuhkan dana kompensasi yang tinggi karena pendapatan yang diperoleh dianggap dapat memenuhi biaya kebutuhan hidup. Sebaliknya, jika tingkat

pendapatan responden lebih rendah diduga akan memberikan nilai WTA yang lebih tinggi.

Variabel pengetahuan mengenai pencemaran berbeda dengan tingkat pendidikan. Pada variabel ini menjelaskan tentang tingkat pengetahuan responden mengenai dampak negatif dari limbah. Variabel tingkat pengetahuan responden mengenai dampak negatif limbah termasuk variabel dummy, dimana apabila responden tahu maka akan diberi nilai satu, sedangkan jika tidak tahu, maka diberi nilai nol. Variabel ini diduga berbanding lurus dengan nilai WTA yang diinginkan responden. Hal ini berarti jika responden mengetahui pencemaran dari pembuangan limbah maka responden menginginkan nilai WTA yang semakin tinggi dan sebaliknya.

Dokumen terkait