• Tidak ada hasil yang ditemukan

Estimasi Pendapatan dan Perubahan Pendapatan Masyarakat Akibat

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.3 Estimasi Pendapatan dan Perubahan Pendapatan Masyarakat Akibat

Keberadaan suatu kawasan wisata telah memberikan perubahan terhadap masyarakat, salah satunya adalah perubahan yang berdampak pada ekonomi masyarakat. Terkait dengan pernyataan Spillane (1994) mengenai dampak positif pengembangan pariwisata terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat yaitu pariwisata merupakan industri padat karya, karena tenaga kerja sulit digantikan dengan modal atau peralatan. Oleh karena itu, pariwisata merupakan sumber pokok dari pekerjaan regional sehingga menciptakan pekerjaan bagi masyarakat.

Berdasarkan pernyataan Spillane (1994) tersebut, saat ini pariwisata menjadi salah satu sektor andalan dalam meningkatkan perekonomian masyarakat khususnya masyarakat sekitar kawasan wisata Perkampungan Budaya Betawi. Penelitian ini mengestimasi besarnya kontribusi perubahan pendapatan masyarakat di kawasan wisata Perkampungan Budaya Betawi sebagai dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat.

Perubahan tingkat pendapatan masyarakat dianalisis dengan cara mengurangi tingkat pendapatan masyarakat dari dan tanpa adanya kawasan Perkampungan Budaya Betawi. Jika pendapatan rata-rata masyarakat meningkat karena adanya kawasan wisata Perkampungan Budaya Betawi, berarti kawasan wisata Perkampungan Budaya Betawi memberikan dampak positif terhadap masyarakat, begitupun sebaliknya. Rumus yang digunakan untuk melihat perubahan pendapatan rata-rata dapat dilihat pada Bab 4.4.2. Tabel 14 menunjukkan perubahan tingkat pendapatan masyarakat sekitar obyek wisata Perkampungan Budaya Betawi karena adanya kawasan wisata Perkampungan Budaya betawi.

Tabel 14 Perubahan Pendapatan Rata-rata Masyarakat Tanpa dan Adanya Kawasan Wisata Perkampungan Budaya Betawi 2014

Sumber: Dikumpulkan oleh Penulis dari Survei, 2014

Pada Tabel 14 dapat dilihat bahwa pengembangan wisata di kawasan Perkampungan Budaya Betawi berkontribusi terhadap perubahan pendapatan masyarakat sekitar. Berdasarkan hasil yang diperoleh, terjadi perubahan pendapatan rata-rata perbulan sebesar Rp 224.097,87. Setelah dilakukan perhitungan ke dalam present value, perubahan pendapatan rata-rata masyarakat menjadi Rp -220.773,28. Berdasarkan perhitungan present value, pendapatan rata- rata masyarakat mengalami penurunan. Hal tersebut karena berdasarkan nilai nominal pendapatan masyarakat meningkat namun secara riil tidak. Berdasarkan nilai riil, kenaikan upah yang meningkat namun adanya kenaikan inflasi sebesar kenaikan upah, maka sesungguhnya daya beli dengan kenaikan upah sama saja

No Kelompok Pekerjaan Pendapatan

rata-rata perbulan (rupiah) [tahun 2010] Pendapatan rata- rata perbulan (rupiah) 'Present value' [tahun 2010] Pendapatan rata-rata perbulan (rupiah) [tahun 2014] Perubahan Pendapatan (rupiah/bln) Perubahan Pendapatan (rupiah/bln) setelah ‘Present value' 1 Penjaga tiket 1.050.000,00 1.342.690,52 1.200.000,00 150.000,00 -142.690,52 2 Pedagang 2.309.523,81 2.953.310,22 2.388.095,24 78.571,43 -565.214,98 3 Petugas kebersihan 1.800.000,00 2.301.755,18 2.000.000,00 200.000,00 -301.755,18 4 Buruh wisata 1.114.285,71 1.424.896,06 1.514.285,71 400.000,00 89.389,65 5 Petugas parkir 1.225.000,00 1.566.472,28 1.728.750,00 503.750,00 162.277,73 6 Warung 1.872.727,27 2.394.755,.38 1.909.090,91 36.363,64 -485.664,47 7 Petugas keamanan 1.800.000,00 2.301.755,18 2.000.000,00 200.000,00 -301.755,18 Total peningkatan pendapatan rata-rata perbulan 224.097,87 -220.773,28

61 karena harga barang rata-rata juga naik. Hal tersebut juga menunjukkan nilai kesejahteraan yang menurun.

Penelitian yang dilakukan terhadap perubahan pendapatan ini diasumsikan mulai tahun 2010. Pendapatan tanpa adanya Perkampungan Budaya Betawi dilakukan perhitungan ke dalam present value dengan suku bunga rata-rata bank sebesar 6,34% (Bank Indonesia 2014).

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 7 jenis pekerjaan. Perubahan pendapatan rata-rata yang mengalami peningkatan dirasakan oleh kelompok pekerjaan sebagai petugas parkir yaitu sebesar Rp 503.750,00. Peningkatan yang cukup besar ini disebabkan sebagian besar masyarakat yang berada pada kelompok pekerjaan ini awalnya tidak memiliki pekerjaan tetap. Selain itu, setelah dilakukan perhitungan ke dalam present value, perubahan pendapatan kelompok pekerjaan ini sebesar Rp 162.277,73.

Perubahan pendapatan rata-rata yang mengalami peningkatan juga dirasakan oleh kelompok pekerjaan sebagai buruh wisata sebesar Rp 400.000,00 disusul oleh kelompok pekerjaan petugas kebersihan dan petugas keamanan masing- masing sebesar Rp 200.000,00. Perubahan pendapatan pada kelompok pekerjaan penjaga tiket sebesar Rp 150.000,00, pedagang sebesar Rp 78.571,43, dan warung sebesar Rp 36.363,64. Setelah dilakukan perhitungan ke dalam present value, perubahan pendapatan masing-masing kelompok pekerjaan tersebut sebesar Rp 89.389,96, Rp -301.755,18, Rp -301.755,18 , Rp -142.690,52, Rp -565.214,98, dan Rp -485.664,47. Berdasarkan perhitungan ke dalam present value menunjukkan terjadinya nilai negatif. Artinya nilai negatif menunjukkan penurunan nilai nominal uang yang sesungguhnya.

Berdasarkan perhitungan present value, 76% pendapatan masyarakat mengalami penurunan. Hal ini terkait dengan logika dasar uang (nilai riil dan nominal). Sebagian besar orang cenderung memperhatikan nilai nominal daripada nilai riil. Ini mengakibatkan perekonomian menjadi tidak seimbang. Jika seorang pekerja menerima kenaikan upah sebesar 10%, namun tingkat inflasi tahun tersebut juga sebesar 10%, maka sebenarnya daya belinya dengan upah sebelum kenaikan 10% (karena harga barang rata-rata juga naik 10%). Pekerja tersebut

akan senang karena mengira upahnya telah naik padahal daya beli riilnya tetap sama.

Perbedaan pendapatan rata-rata masyarakat juga akan terlihat berdasarkan proporsi pendapatan yang diperoleh dengan adanya kawasan Perkampungan Budaya Betawi terhadap pendapatan total. Pengamatan proporsi pendapatan tersebut dapat digunakan untuk mengetahui apakah dengan adanya keberadaan kawasan Perkampungan Budaya Betawi menjadikan pendapatan dalam masyarakat menjadi usaha pokok, cabang usaha atau hanya sebagai usaha sambilan. Tabel 15 menyajikan proporsi pendapatan masyarakat karena adanya kawasan wisata Perkampungan Budaya Betawi.

Tabel 15 Proporsi Pendapatan Rata-Rata Masyarakat dengan Adanya Kawasan Wisata Perkampungan Budaya Betawi Terhadap Pendapatan Total 2014

Pendapatan Rata-rata (rupiah/bln)

No Kelompok Pekerjaan Pendapatan dari adanya PBB (rupiah) Pendapatan total perbulan (rupiah) Persentase (%) 1. Penjaga tiket 1.200.000,00 1.200.000,00 100 2. Pedagang 2.309.523,81 2.388.095,24 97 3. Petugas kebersihan 2.000.000,00 2.000.000,00 100 4. Buruh wisata 1.114.285,71 1.514.285,71 74 5. Petugas parkir 360.000,00 1.728.750,00 21 6. Warung 1.872.727,27 1.909.090,91 98 7. Petugas keamanan 2.000.000,00 2.000.000,00 100

Sumber: Data Primer, 2014

Pada Tabel 15 dapat dilihat bahwa proporsi pendapatan rata-rata masyarakat dengan adanya kawasan wisata Perkampungan Budaya Betawi paling besar dirasakan oleh kelompok pekerjaan penjaga tiket, petugas kebersihan, dan petugas keamanan yang mencapai 100% sehingga dapat dikatakan sebagai pendapatan pokok. Persentasi proporsi sebesar 100% yang diperoleh kelompok pekerjaan ini sesuai dengan pernyataan Soehadji (1995) dalam Soetanto (2002) yang menyatakan bahwa usaha yang mendatangkan proporsi pendapatan lebih dari 70- 100% disebut sebagai usaha pokok. Selain itu, pernyataan tersebut juga diperkuat dengan pernyataan Spillane (1994) yang menyatakan bahwa pengembangan pariwisata terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat yaitu pariwisata, merupakan industri padat karya, karena tenaga kerja sulit digantikan dengan modal atau peralatan. Oleh karena itu, pariwisata merupakan sumber pokok dari

63 pekerjaan regional sehingga menciptakan pekerjaan bagi masyarakat. Berdasarkan hasil wawancara dari jenis pekerjaan, kelompok ini menyatakan bahwa pekerjaan ini memang pekerjaan pokok mereka. Hal ini dikarenakan hampir sebagian besar waktu mereka digunakan dan dihabiskan untuk bekerja di sekitar kawasan.

Berdasarkan proporsi pendapatan dan wawancara yang diperoleh, kelompok pekerjaan pedagang, buruh wisata dan warung juga memperlihatkan kelompok tersebut menjadikan kawasan Perkampungan Budaya Betawi sebagai pendapatan pokok. Kelompok pekerjaan ini memang tidak mencapai 100% karena pada kelompok ini memiliki sumber pendapatan lain yang proporsinya jauh lebih kecil diluar wisata. Sumber pendapatan lain oleh kelompok pekerjaan ini adalah nelayan/mencari ikan di Setu Babakan dan juga kuli rumah tangga. Selain itu berdasarkan proporsi pendapatan dan wawancara yang diperoleh, kelompok pekerjaan petugas parkir memperlihatkan kelompok tersebut menjadikan kawasan Perkampungan Budaya Betawi sebagai usaha sambilan. Sumber pendapatan lain oleh kelompok pekerjaan ini adalah sebagai tukang ojek di komplek perumahan masyarakat dan sebagian lagi sebagai karyawan perusahaan.

Perubahan aspek ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat dengan adanya pengembangan kawasan Perkampungan Budaya Betawi menunjukkan hasil yang positif. Adanya pengembangan kawasan wisata Perkampungan Budaya Betawi memberikan perubahan terhadap pendapatan masyarakat, walaupun belum terjadi secara optimal dan merata. Masyarakat yang secara signifikan mengalami perubahan pendapatan akibat adanya pengembangan wisata adalah masyarakat RW 6, RW 7, RW 8, dan RW 9 Kelurahan Srengseng Sawah, hal tersebut dikarenakan empat RW ini terletak di dalam kawasan Perkampungan Budaya Betawi.

Berbagai dampak dan manfaat yang dirasakan masyarakat sekitar kawasan karena adanya pengembangan wisata dijadikan sebagai salah satu alternatif strategis untuk memperbaiki perekonomian masyarakat. Hal tersebut juga didukung dari potensi alam yang terdapat di dalam kawasan. Potensi yang terdapat di dalam kawasan ini menjadikan kawasan ini ramai dikunjungi oleh wisatawan.

6.4 Dampak Sosial dan Lingkungan Pengembangan Wisata di Kawasan

Dokumen terkait