• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN ANALISIS

4.3.4. Estimasi Vector Error Correction Model (VECM)

Pada Tabel 4.8 disajikan hasil estimasi VECM dari penelitian ini. Berdasarkan estimasi VECM tersebut, dapat dilihat hubungan jangka pendek dan jangka panjang dari variabel makroekonomi yang ada dalam penelitian ini terhadap volume KPRA di Indonesia.

Pada analisis jangka pendek untuk volume KPRA, terdapat empat persamaan kointegrasi yang signifikan secara statistik. Dugaan parameter koreksi kesalahan keempat persamaan kointegrasi tersebut masing-masing sebesar -0,43, 0,39, -0,94 dan -0,19.

Masih berdasarkan hasil estimasi pada Tabel 4.8 dapat diketahui bahwa lag pertama volume KPRA, total kredit perbankan (TKR) dan inflasi (INF) secara statistik berpengaruh signifikan terhadap volume KPRA dalam jangka pendek. Adapun lag pertama dari variabel konsumsi rumah tangga (KRT), quasy money (M2) dan PDB riil secara statistik tdak berpengaruh signifikan terhadap volume KPRA baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Sedangkan variabel-variabel yang secara statistik berpengaruh signifikan terhadap volume KPRA

dalam jangka panjang ialah lag pertama IHSG, NPL, suku bunga SBI, nilai tukar (kurs) dan inflasi.

Tabel 4.8. Estimasi VECM Variabel Volume KPRA

Variabel Koefisien T-Statistik

Jangka Pendek D(LN_VKPRA(-1)) -0.217056 -2.02217* D(LN_TKR(-1)) -0.506806 -2.05529* D(LN_KRT(-1)) 0.504803 0.61175 D(LN_M2(-1)) -0.073495 -0.22007 D(LN_PDB(-1)) -0.485954 -1.46055 D(LN_IHSG(-1)) -0.067755 -1.31319 D(NPL(-1)) -0.001509 -0.42451 D(SBI(-1)) 0.000543 0.05770 D(LN_KURS(-1)) -0.126902 -1.02160 D(INF(-1)) 0.006087 2.03229* C 0.030860 4.19709* CointEq1 -0.426630 -3.94151* CointEq2 0.391635 2.69240* CointEq5 -0.944189 -1.91226* CointEq4 -0.188834 -2.18099* CointEq3 0.175114 0.90191 Jangka Panjang LN_IHSG(-1) 0.094935 2.39582* NPL(-1) -0.004190 -2.37682* SBI(-1) 0.009475 4.33652* LN_KURS(-1) -0.382802 -4.20996* INF(-1) 0.043219 6.19129* C 14.49480

-Sumber : Hasil Penelitian Lampiran 8, (2008) Catatan : *signifikan pada taraf nyata 5%

Pada analisis jangka pendek, dugaan parameter lag pertama volume KPRA sebesar -0,22 mengindikasikan bahwa peningkatan 1 persen pada volume KPRA periode sebelumnya dapat menyebabkan penurunan volume KPRA pada periode berikutnya sebesar 0,22 persen. Hal ini dapat terjadi karena jika pada periode sebelumnya volume KPRA meningkat, maka pada periode berikutya para pelaku bisnis properti dan penyedia jasa KPRA cenderung mengurangi volume KPRA

dengan maksud untuk mengendalikan jumlah penawaran (supply) KPRA agar tidak terjadi kelebihan penawaran (oversupply). Hal ini sejalan dengan pendapat Ciputra sebagai salah seorang pelaku bisnis properti ternama di Indonesia yang menyatakan bahwa kelebihan penawaran (oversupply) pada bisnis properti dapat menimbulkan kekhawatiran tersendiri di kalangan para pengembang sektor properti karena dapat menyebabkan kerugian bagi para pengembang dan demikian juga meningkatkan resiko bagi penyedia jasa kredit di sektor tersebut. Adapun pengaruh negatif dari total kredit (TKR) terhadap VKPRA pada jangka pendek dapat terjadi karena adanya diversifikasi resiko atas penyaluran kredit yang dilakukan oleh para penyedia jasa KPRA, baik itu bank atau lembaga keuangan lainnya.

Untuk variabel inflasi yang secara statistik berpengaruh positif terhadap volume KPRA baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, hal ini dapat terjadi karena inflasi cenderung meningkatkan ekspektasi masyarakat akan kenaikan tingkat harga di masa mendatang, sehingga mendorong peningkatan permintaan KPRA. Signifikannya inflasi dalam mempengaruhi volume KPRA Indonesia ini juga sesuai dengan hasil penelitian Taylor (2007), yang menyimpulkan bahwa salah satu faktor yang berpengaruh dalam pembangunan perumahan adalah inflasi. Selain itu, penelitian Mishkin (2007) juga menyebutkan bahwa perubahan dalam ekspektasi inflasi (terutama inflasi harga perumahan) berpengaruh penting terhadap permintaan perumahan, dimana ekspektasi akan tingginya inflasi harga perumahan di masa mendatang dapat menstimulus kenaikan permintaan akan perumahan.

KPRA pada umumnya merupakan kredit yang memiliki jangka waktu jatuh tempo cukup panjang/lama. Oleh karena itu dapat dipahami bila perubahan IHSG, NPL, dan nilai tukar dalam jangka pendek tidak berpengaruh signifikan terhadap volume KPRA. Akan tetapi dalam jangka panjang kondisi IHSG akan mempengaruhi pandangan pelaku bisnis properti dan penyedia jasa kredit terhadap sektor perumahan, sehingga seperti ditunjukkan oeh nilai dugaan parameternya, peningkatan 1 persen pada IHSG dapat meningkatkan volume KPRA sebesar 0,1 persen.

Sedangkan untuk variabel NPL, nilai dugaan parameter -0,004 mengindikasikan bahwa peningkatan NPL sebesar 1 persen dapat menurunkan volume KPRA sebesar 0,004 persen. Hal ini mencerminkan bahwa perbankan cenderung bersikap backward looking (melihat kondisi periode sebelumnya), sehingga tingginya NPL akan diikuti oleh rendahnya penyaluran KPRA, atau dengan kata lain meningkatnya NPL akan membuat perbankan atau penyedia jasa kredit lebih berhati-hati atau bahkan mengurangi jumlah penyaluran kreditnya termasuk untuk KPRA.

Selanjutnya, sebagaimana diketahui dalam dunia perekonomian khususnya perbankan terdapat berbagai jenis suku bunga, termasuk didalamnya suku bunga KPR dan KPA. Walaupun nilai dari tiap suku bunga tersebut berbeda-beda sesuai dengan jenisnya akan tetapi hampir semua suku bunga tersebut pada dasarnya mengacu pada suku bunga SBI. Namun demikian, secara aktual seringkali suku bunga KPR dan KPA bergerak sangat lambat dalam menyesuaikan diri terhadap

perubahan suku bunga SBI, walaupun pada jangka panjang kedua suku bunga tersebut senantiasa bergerak mengikuti pergerakan suku bunga SBI.

Menurut seorang analis perbankan Indonesia Ryan Kiryanto, adanya jeda waktu (time lag) dalam penyesuaian berbagai suku bunga terhadap perubahan suku bunga SBI diantaranya disebabkan oleh adanya deposito yang belum jatuh tempo. Setelah semua deposito jatuh tempo, barulah bank-bank dapat melakukan penyesuaian. Akan tetapi, penyesuaian suku bunga tersebut dapat berlangsung lebih cepat apabila bank tersebut efisien. Artinya, jika bank tersebut efisien, maka spread suku bunga dapat ditekan sekecil mungkin. Oleh karena itu, terkait dengan hasil estimasi VECM dalam penelitian ini, wajar bila secara statistik variabel SBI kurang signifikan mempengaruhi volume KPR dalam jangka pendek, akan tetapi berpengaruh signifikan dalam jangka panjang. Signifikansi suku bunga dalam mempengaruhi volume KPRA ini juga sesuai dengan hasil penelitian Tepus (2005) yang menyimpulkan bahwa suku bunga adalah salah satu faktor yang mempengaruhi pembiayaan perumahan. Demikian juga dengan hasil Survei Industri Properti yang dilakukan atas kerjasama BI dan LPPM IPB yang menyatakan bahwa tingkat suku bunga adalah salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi jumlah penyaluran kredit properti, melalui pengaruhnya terhadap NPL sektor properti dan juga minat dari konsumen kredit properti.

Adapun nilai dugaan parameter variabel suku bunga SBI sebesar 0,01 dalam penelitian ini mengandung arti bahwa peningkatan 1 persen dalam suku bunga SBI dapat meningkatkan volume KPRA sebesar 0,01 persen. Hal ini dapat terjadi karena lebih kuatnya pengaruh perubahan suku bunga terhadap volume

KPRA dari sisi penawaran dibandingkan dari sisi permintaan kredit. Sebagaimana dikemukakan dalam Bab II, Teori Keynes menyatakan bahwa tingginya suku bunga cenderung meningkatkan minat kreditur dalam menyalurkan kredit.

Hampir sama dengan suku bunga SBI, NPL dan IHSG, karena KPRA umumnya merupakan kredit yang bersifat jangka panjang, maka perubahan nilai tukar atau kurs tidak akan terlalu berpengaruh terhadap volume KPRA. Namun demikian, dalam jangka panjang, depresiasi nilai tukar dapat mempengaruhi atau bahkan menurunkan kemampubayaran debitur KPRA, dan juga mengganggu kemampuan likuiditas penyedia jasa KPRA, sehingga secara langsung ataupun tidak langsung (melalui peningkatan NPL), hal tersebut akan mempengaruhi atau menurunkan volume KPRA dalam jangka panjang. Hal ini didukung dengan nilai dugaan parameter sebesar -0,38, yang mengindikasikan bahwa depresiasi nilai tukar mata uang domestik (Rupiah) sebesar 1 persen, dalam jangka panjang dapat menyebabkan penurunan volume KPRA sebesar 0,38 persen.

Selanjutnya, masih berdasarkan hasil estimasi VECM, diketahui bahwa dalam penelitian ini terdapat tiga variabel yang secara statistik tidak berpengaruh signfikan terhadap volume KPRA baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, yaitu lag pertama konsumsi rumah tangga (KRT), M2, dan PDB riil. Hal ini dapat terjadi karena pada masa kini konsumsi akan tempat tinggal telah menjadi kebutuhan primer/dasar bagi mayoritas konsumen, sehingga berapapun tingkat KRT, M2 dan pertumbuhan ekonomi, hal ini tidak akan terlalu berpengaruh pada volume KPRA.

Dokumen terkait