BAB VI ANALISIS DAN PEMBAHASAN
6.2 Pembahasan
6.2.1 Evaluasi Hasil Penelitian
Ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah sejak 23 Juli 2007 semakin menegaskan keseriusan pemerintah untuk menciptakan penyelenggaraan pemerintahan yang lebih baik sejak pemberlakuan Undang-undang No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Peraturan Pemerintah ini pada dasarnya dimaksudkan untuk memberikan arah dan pedoman yang jelas kepada daerah dalam usahanya untuk menciptakan atau menata organisasi secara efisien, efektif dan rasional sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerahnya. Diharapkan juga melalui Peraturan Pemerintan No.41 Tahun 2007 ini akan tercipta tatanan organisasi yang
koordinatif, sinergis, terintegrasi serta komunikatif antara kelembagaan pemerintah pusat dan daerah.
Melalui PP No.41 Tahun 2007 ini, penyelenggaraan pemerintah daerah baik propinsi maupun Kabupaten/ Kota dituntut untuk menata kelembagaannya supaya dapat berjalan lebih efektif dan efisien termasuk didalamnya dilakukan pemangkasan jabatan dari berbagai eselon dalam pemerintah daerah. Namun, implementasi dari PP No.41 Tahun 2007 tersebut tampaknya masih menunggu realisasi yang tak pasti. Ada dua hal menarik yang patut disorot dalam proses implementasi PP 41/2007 tersebut, yaitu terkait dengan belum tuntasnya penataan kelembagaan pemerintah dan beragam kondisi yang menjadi dasar pertimbangan masing-masing daerah untuk menata organisasi perangkat daerahnya. Tentu saja kedua hal itu terkait satu sama lain, terjadinya keterlambatan penataan organisasi perangkat daerah dikarenakan kondisi dan pertimbangan-pertimbangan yang melingkupinya, terlepas didalamnya mengandung subyektivitas atau perang kepentingan sekalipun. Meskipun demikian, terdapat beberapa daerah yang telah berhasil melakukan penataan perangkat daerahnya, namun sayangnya tidak dibarengi dengan identifikasi kondisi dan kebutuhan daerahnya. Adanya indikasi sikap subyektivitas kepala daerah tampaknya juga menjadi penghambat bagi pembentukan organisasi perangkat daerah yang efektif dan efisien. Dengan adanya PP No.41/2007, diharapkan penyelenggaraan pemerintahan daerah berjalan secara obyektif dan mengacu pada peraturan yang berlaku. Terkait dengan pemahaman akan perbedaan kebutuhan setiap daerah maka,
penyelenggaraan pemerintahan dilaksanakan berdasar pada kebutuhan dan kemampuan serta karakteristik daerahnya.
Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah pada prinsipnya dimaksudkan untuk memberikan arah dan pedoman yang jelas kepada daerah dalam menata organisasi yang efisien, efektif, dan rasional sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah masing-masing serta adanya koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplifikasi serta komunikasi kelembagaan antara pusat dan daerah. Besaran organisasi perangkat daerah sekurang-kurangnya mempertimbangkan faktor keuangan, kebutuhan daerah, cakupan tugas yang meliputi sasaran tugas yang harus diwujudkan, jenis dan banyaknya tugas, luas wilayah kerja dan kondisi geografis, jumlah dan kepadatan penduduk, potensi daerah yang bertalian dengan urusan yang akan ditangani, sarana dan prasarana penunjang tugas. Oleh karena itu kebutuhan akan organisasi perangkat daerah bagi masing-masing daerah tidak senantiasa sama atau seragam.
Kriteria untuk menentukan jumlah besaran organisasi perangkat daerah dengan variabel jumlah penduduk, luas wilayah dan jumlah APBD, yang kemudian ditetapkan pembobotan masing-masing variabel yaitu 40% (empat puluh persen) untuk variabel jumlah penduduk, 35% (tiga puluh lima persen) untuk variabel luas wilayah dan 25% (dua puluh lima persen) untuk variabel jumlah APBD, serta menetapkan variabel tersebut dalam beberapa kelas interval.
Demikian juga mengenai jumlah susunan organisasi disesuaikan dengan beban tugas masing-masing perangkat daerah (PP No. 41 Tahun 2007). Maka dari itu, dengan ditetapkan oleh pemerintah PP No. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi
Perangkat Daerah untuk merampingkan struktur organisasi maka dengan itu Pemerintah Tapanuli Tengah melakukan penggabungan organisasi yaitu Dinas Pendapatan dan Bagian Keuangan melalui Peraturan Bupati Tapanuli Tengah No.
7 Tahun 2008.
Pemkab Tapteng serius mengoptimalkan peningkatan PAD (pendapatan asli daerah) melalui DPPKKD Kab, Tapanuli Tengah dari bidang pertambangan dan energi. Sejalan dengan itu, seluruh pengusaha di bidang itu juga diharapkan untuk sadar mengurus izin usaha dan taat pajak. Tapteng kaya akan sumberdaya alam pertambangan dan energi. Hanya saja pemerintah daerah mesti berhati-hati dalam hal memberi izin ekplorasi. Sebab ada beberapa aturan mengenai pembangunan di bidang itu yang harus dipatuhi. Seperti UU No.30 tahun 2007 tentang Energi, UU N0.4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, UU No.28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, UU No.30 tahun 2009 tentang Ketenaga Listrikan, Perda Tapteng No.25 tahun 2011 tentang Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan, dan Perda Tapteng No.26 tahun 2011 tentang Pajak Air Tanah.
Berdasarkan hasil analisis sebagaimana telah dijelaskan pada Tabel 6.15 dapat dikatakan bahwa 89.2% tingkat Peningkatan Capaian PAD di pengaruhi oleh variabel Tujuan organisasi, struktur organisasi, tata hubungan, sistem penghargaan, kepemimpinan dan mekanisme tata kerja dan sisanya 10.8% di pengaruhi oleh variabel diluar penelitian, dimana faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap Peningkatan Capaian PAD pada DPPKKD Kab. Tapanuli
Tengah adalah factor Tujuan organisasi, struktur organisasi, kepemimpinan, tata hubungan dan mekanisme tata kerja.
Berdasarkan hasil penelitian, dari seluruh faktor yang mempengaruhi Peningkatan Capaian PAD tersebut, variabel yang paling dominan dalam meningkatkan Peningkatan Capaian PAD pada DPPKKD Kab. Tapanuli Tengah adalah tata hubungan, dan hal ini merupakan faktor penting yang dapat meningkatkan capaian PAD pada DPPKKD Kab. Tapanuli Tengah di masa yang akan datang. Maka dari itu, sangat penting bagi DPPKKD Kab. Tapanuli Tengah untuk secara khusus fokus dalam menciptakan tata hubungan yang mendorong terjadinya komunikasi kerja yang efektif baik secara vertical maupun horizontal karena hal inilah menjadi faktor utama yang dominan meningkatkan Peningkatan Capaian PAD kepada DPPKKD Kab. Tapanuli Tengah.
Selain itu, berdasarkan hasil penelitian didapati bahwa penghargaan dari penggabungan organisasi yang selama ini dilakukan tidak berpengaruh secara positif terhadap peningkatan capaian PAD pada DPPKKD Kab. Tapanuli Tengah, hal ini menunjukkan bahwa hal tersebut kurang baik karena tidak mampu meningkatkan peningkatan capaian PAD sehingga dapat menyebabkan tidak tercapainya peningkatan capaian PAD di masa yang akan datang dan perlu juga menjadi perhatian dari pihak DPPKKD Kab. Tapanuli Tengah.