• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN ASUMSI DASAR PENELITIAN

2.1 Deskripsi Teori

2.1.4 Evaluasi Kebijakan Publik

Kebijakan publik tidak bisa dilepas begitu saja, kebijakan harus diawasi, dan salah satu mekanisme pengawasan tersebut disebut sebagai “evaluasi kebijakan” evaluasi biasanya ditujukan untuk menilai sejauh mana keefektifan kebijakan publik guna dipertanggungjawabkan kepada konstituenya, sejauh mana tujuan dicapai. Evaluasi diperlukan untuk melihat kesenjangan antara harapan dengan kenyataan di lapangan (Nugroho, 2003:183)

Berdasarkan waktu pelaksanaanya, evaluasi kebijakan dibedakan menjadi 3 bagian yaitu (Dunn, 2003)

1. Evaluasi sebelum dilaksanakan (evaluasisummative). 2. Evaluasi pada saat dilaksanakan (evaluasi proses), dan

3. Evaluasi setelah kebijakan/evaluasi konsekuensi (output) kebijakan dan atau evaluasi pengaruh (outcome) kebijakan.

Pada prinsipnya tipe evaluasi kebijakan sangat bervariasi tergantung dari tujuan dan level yang akan dicapai. Dari segi waktu evaluasi dibagi menjadi dua yaitu evaluasi preventif kebijakan dan evaluasi sumatif kebijakan.Dalam penelitian ini evaluasi yang dilakukan adalah setelah kebijakan.

Suatu evaluasi mempunyai karakateristik tertentu yang membedakan dari analisis, yaitu : fokus nilai, interpedensi fakta nilai, orientasi masa kini dan masa lampau, dan dualitas nilai.

1. Fokus Nilai. Evaluasi ditujukan kepada pemberian nilai dari suatu kebijakan, program maupun kegiatan. Evaluasi terutama ditujukan untuk menentukan manfaat atau kegunaan dari suatu kebijakan, program maupun kegiatan, bukan sekedar usaha untuk mengumpulkan informasi mengenai suatu hal. Ketepatan suatu tujuan maupun sasaran pada umumnya merupakan hal yang perlu dijawab. Oleh karena itu suatu evaluasi mencakup pula prosedur untuk mengevaluasi tujuan dan sasaran itu sendiri.

2. Interpedensi Fakta-Nilai. Suatu hasil evaluasi tidak hanya tergantung pada “Fakta” semata namun juga terhadap “nilai”. Untuk memberi pertanyaan bahwa suatu kebijakan, program atau kegiatan telah mencapai hasil yang maksimal atau minimal bagi seseorang, kelompok orang atau masyarakat, haruslah didukung oleh bukti-bukti (fakta) bahwa hasil kebijakan, program atau kegiatan merupakan konsekuensi dari tindakan-tindakan yang telah dilakukan dalam mengatasi/memecahkan suatu masalah tertentu. Dalam hal ini kegiatan monitoring merupakan suatu pernyataan yang penting bagi evaluasi.

3. Orientasi masa kini atau masa lampau. Evaluasi diarahkan pada hasil yang sekarang ada dan hasil yang diperoleh masa lalu. Evaluasi tidaklah berkaitan dengan hasil yang diperoleh di masa yang akan datang. Evaluasi bersifat prospektif, dan berkaitan dengan tindakan-tindakan yang telah dilakukan. Rekomendasi yang dihasilkan dari suatu evaluasi bersifat prospektif dan dibuat sebelum tindakan dilakukan.

4. Dualitas Nilai. Nilai yang ada dari suatu evaluasi mempunyai kualitas ganda, karena evaluasi dipandang sebagai tujuan sekaligus cara (Dunn, 2003:608)

Menurut Suchman dalam Winarno (2014:233-234), terdapat lima langkah evaluasi kebijakan, yaitu :

1. Mengidentifikasi tujuan program yang akan dievaluasi 2. Analisis terhadap masalah

4. Pengukuran terhadap tingkatan perubahan yang terjadi

5. Mekanisme apakah perubahan yang terjadi merupakan akibat dari kegiatan tersebut atau karena penyebab lain.

6. Beberapa Indikator untuk menentukan keberadaan suatu dampak.

Secara konseptual ada pandangan yang menyatakan bahwa evaluasi dapat dilakukan pada seluruh periode kegiatan, artinya dapat dilakukan pada saat kegiatan belum dilaksanakan, evaluasi pada saat kegiatan berjalan, dan setelah kegiatan dilakukan. (Riyadi, 2003:268)

Oleh karena itu berdasarkan pandangan tersebut, evaluasi dapat dibedakan menjadi :

1. Pra Evaluasi

Yakni evaluasi yang dilakukan pada saat program belum berjalan/beroperasi pada tahap perencanaan.Evaluasi pada periode ini biasanya difokusnya pada masalah-masalah persiapan dari suatu kegiatan. Dapat pula evaluasi itu didasarkan pada hasil-hasil pelaksanaan kegiatan sebelumnya yang secara substansial memiliki ketertarikan dengan kegiatan yang dilaksanakan.

2. Evaluasi pada saat program tengah berjalan

Evaluasi pada periode ini biasanya difokuskan pada penilaian dari setiap tahap kegiatan yang sudah dilaksanakan. Walaupun belum bisa dilakukan penilaian terhadap keseluruhan proses program. Dalam praktiknya, evaluasi seperti ini berbentuk seperti laporan triwulan, semester, atau tahunan (untuk

kegiatan jangka menengah). Pada saat program atau kegiatan tengah berjalan analisis evaluasi bersumber pada hasil pemantauan yang dilaksanakan pada tahap-tahap kegiatan secara berkelanjutan dan akan memberikan umpan balik untuk perencana dan pelaksana pembangunan.

3. Evaluasi setelah program selesai atau setelah program berakhir

Evaluasi ini biasa disebut dengan ex post evaluation. Pada evaluasi ini dilakukan penilaian terhadap seluruh tahapan program yang dikaitkan dengan tingkat keberhasilannya, sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan dalam rumusan sasaran atau tujuan program. Gambaran utama evaluasi adalah bahwa evaluasi menghasilkan tuntutan-tuntutan yang bersifat evaluatif. Disini pertanyaan utamanya bukan fakta (Apa yang terjadi ?), proses (bagaimana terjadinya ?), atau penyebab (Apa yang terjadi?) tetapi nilai (Berapa nilainya ?) karena itu evaluasi mempunyai sejumlah karakteristik yang membedakan dari metode-metode analisis kebijakan lainnya.

Mengikuti samodra wibawa dkk (1993) dalam (Nugroho, 2003:186-187), evaluasi kebijakan publik memiliki empat fungsi, yaitu :

1. Eksplanasi. Melalui evaluasi dapat dipotret realitas pelaksanaan program dan dapat dibuat suatu generalisasi pola-pola, hubungan antar berbagai dimensi realitas yang diamatinya. Dari evaluasi ini evaluator dapat mengidentifikasi masalah, kondisi, dan aktor yang mendukung keberhasilan atau kegagalan kebijakan.

2. Kepatuhan. Melalui evaluasi dapat diketahui apakah tindakan yang dilakukan oleh para pelaku, baik birokrasi maupun pelaku lainnya sesuai dengan standard an prosedur yang ditetapkan oleh kebijakan.

3. Audit. Melalui evaluasi dapat diketahui, apakahoutputbenar-benar sampai ke tangan kelompok sasaran kebijakan, atau justru ada kebocoran atau penyimpangan.

4. Akunting. Melalui evaluasi dapat diketahui, apa akibat sosial-ekonomi dari kebijakan tersebut.

Ernest R. House membuat taksonomi evaluasi yang cukup berbeda yang membagi model evaluasi menjadi :

1. Model sistem, dengan indikator utama adalah efesiensi

2. Model perilaku, dengan indikator utama adalah produktivitas dan akuntabilitas

3. Model formulasi keputusan, dengan indikator utama dalah keefektifan dan keterjagaan kualitas

4. Model tujuan bebas (goal free), dengan indikator utama adalah pilihan pengguna dan manfaat sosial.

5. Model kekrtisan seni (art criticism), dengan indikator utama adalah standar yang semakin baik dan kesadaran yang semakin meningkat. 6. Model review professional, dengan indicator utama adalah penerimaan

professional.

7. Model kuasi-legal (quast-legal), dnegan indikator utama adalah resolusi.

8. Model studi kasus, dnegan indicator utama adalah pemahaman atas diverisitas (Nugroho,2003:197)

Nurcholis mengatakan bahwa evalausi kebijakan adalah penilaian secara menyeluruh yang menyangkut Input, Proses, Outputs, dan Outcames dari kebijakan pemerintah daerah (Nurcholis, 2007:274). Evaluasi adalah proses yang mendasarkan diri pada disiplin yang ketat dan tahapan waktu. Menurutnya evaluasi membutuhkan sebuah skema umum penilaian, yaitu :

1. Input, yaitu masukan yang diperlukan untuk pelaksanaan kebijakan

2. Proses, yaitu bagaimana sebuah kebijakan diwujudkan dalam bentuk pelayanan langsung kepada masyakarat, bagaimana hambatan dan tantangannya.

3. Outputs, yaitu hasil dari pelaksanaan kebijakan. Apakah suatu pelaksanaan kebijakan mengahasilkan produk sesuai dengan tujuan yang ditetapkan? 4. Outcomes, yaitu apakah suatu pelaksanaan kebijakan berdampak nyata

Untuk memudahkan tentang pengukuran evaluasi kebijakan Badjuri dan Yunowo (2002:140-141) menyajikan Tabel indikator evaluasi kebijakan sebagai berikut :

Tabel 2.1

Indikator Evaluasi Kebijakan

No Indikator Fokus Penilaian

1 Input a. Apakah sumber daya pendukung dan bahan-bahandasar yang diperlukan untuk melaksanakan kebijakan?

b. Berapakah SDM (sumber daya), uang atau infrastruktur pendukung lain yang diperlukan? 2 Process a. Bagaimana sebuah kebijakan ditransformasikan

dalam bentuk pelayanan langsung kepada masyarakat?

b. Bagaiamanakah efektivitas dan efesiensi dari metode/cara yang dipakai untuk melaksanakan kebijakan publik tersebut?

3 Outputs a. Apakah hasil atau produk yang dihasilkan sebuah kebijakan publik?

b. Berapa orang yang berhasil mengikuti program/kebijakan tersebut?

4 Outcomes a. Apakah dampak yang diterima oleh masyarakat luas atau pihak yang terkena kebijakan?

b. Berapa banyak dampak positif yang dihasilkan? c. Adakah dampak negatifnya? Seberpa seriuskah? Sumber : Badjuri dan Yuwono,(2002:140-141)

Berdasarkan hasil uraian di atas mengenai evaluasi publik, peneliti memberikan pendapatnya mengenai evaluasi kebijakan. Evaluasi kebijakan ialah evaluasi kebijakan sebagai proses yang menentukan berhasil tidaknya sebuah kebijakan karena dalam evaluasi terdapat penilaian terhadap sebuah kebijakan dan pada akhirnya menjadi tolak ukur kebijakan kedepannya. Guna mengantisipasi sebuah kebijakan yang sama dan tidak berdampak negatif bagi masyarakat.

Dokumen terkait