• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Evaluasi Konteks (Contex)

Arikunto (2009) menjelaskan bahwa, evaluasi konteks adalah upaya untuk menggambarkan dan merinci lingkungan kebutuhan yang tidak terpenuhi, populasi dan sampel yang dilayani, dan tujuan proyek. Indikator dalam evaluasi konteks adalah:

a. Keadaan sekolah yang bersangkutan :sarana prasarana yang ada di sekolah tersebut

b. Pemahaman guru tentang K-13, c. Pemahaman siswa tentang K-13

d. Keterlibatan komite sekolah dalam pengembangan kurikulum. a. Sarana Prasarana

Menurut Syarief (2012), sarana dan prasarana dalam konteks pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajaran mengajar, baik yang bergerak maupun tidak bergerak, yang secara langsung ataupun tidak langsung dapat berpengaruh terhadap tujuan

49

pendidikan. Pengadaan sarana-prasarana sangat ditekankan dalam K-13. Dalam penelitian ini, aspek sarana dan prasarana terdiri dari 5 indikator, yaitu :

1) Ketersediaan laboratorium yang memadai untuk menunjang implemetasi K-13

2) Ketersediaan berbagai media pembelajaran (media cetak, elektronik, maupun media berbasis lingkungan sekolah) selain buku.

3) Ketersediaan aksebilitas penggunaan sarana dan prasarana 4) Kelayakan kondisi fasilitas pendukung pembelajaran

5) Terfasilitasinya bahan ajar yang dibutuhkan guru dalam proses pembelajaran

Kuesioner tentang sarana prasarana ini dibagikan kepada kepala sekolah, guru, siswa, pengawas dan komite sekolah. Berdasarkan hasil dari pembagian kuesioner kepada responden yang dilakukan di SMA di Kabupaten Belu, diperoleh data sebagai berikut

Tabel 4.1.

Skor Nilai Aspek Sarana Prasarana

No Responden Jumlah n N DP Kesimpulan 1 Kepala

Sekolah

7 64 140 45,71% Kurang Baik 2 Guru 70 818 1400 58, 42% Baik

50 3 Siswa 70 600 1400 42,85% Kurang Baik 4 Pengawas 2 23 40 57, 50% Baik 5 Komite sekolah 7 69 140 49,28% Kurang Baik Jumlah 156 50, 57% Kurang Baik Keterangan:

n: skor nilai yang diperoleh dari jawaban responden

N: skor ideal seluruh responden. Karena seluruh pertanyaan dalam kuesioner berjumlah 5 maka dikalikan dengan 5

DP : Deskripsi Persentase

Data di atas menunjukkan bahwa sarana dan prasarana penunjang implementasi K-13 di Kabupaten Belu masuk dalam kategori kurang baik. Hal ini menjadi indikasi terhambatnnya implementasi K-13 di Kabupaten Belu. Berdasarkan data wawancara juga diperoleh hasil yang negatif mengenai aspek sarana dan prasarana, yaitu:

“Hal yang menghambat kami dalam melaksanakan kurikulum baru ini adalah sarana dan prasarana seperti buku tidak ada, laboratorium juga hanya ada untuk MIPA saja, tidak tahu pegang computer, belum tahu main internet”.

(Kanisius Leto, Siswa SMAN I Lamaknen)

“Tidak bisa dipungkiri bahwa sarana prasarana pendukung K-13 menjadi halangan dan kendala utama bagi semua sekolah dalam melaksanakan K-13. Hal ini terjadi karena durasi waktu pemberitahuan tentang implementasi dan persiapan sekolah yang terlalu singkat sehingga membuat kami kesulitan untuk

51

mempersipkan segala sesuatu terkait implementasi K-13 di Kabupaten Belu. Tetapi ke depannya, saya rasa kami sebagai pemerintah siap untuk implementasi K-13 di Kabupaten Belu, paling lambat tahun 2019, setelah kami melakukan pembenahan- pembenahan”.

(Novelino Ramos, Kepala Bidang Kurikulum di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabuapten Belu).

“Dari hasil pengawasan dan superivisor yang kami lakukan, semua guru mengeluhkan kekurangan sarana prasarana yang menghambat mereka dalam melaksanakan K-13. Bahkan ada beberapa sekolah di kecamatan yang jauh dari Kota yang mengeluhkan akses internet yang tidak terjangkau. Mereka mengeluhkan hal ini karena K-13 yang berbasis teknolgi, yang mana internet dan fasilitas lainya seperti ketersediaan computer menjadi sangat penting”.

(Marsel Bau, Pengawas SMA di Kabupaten Belu).

Berdasarkan data kuesioner dan data wawancara yang diperoleh peneliti di lapangan, peneliti bisa mengatakan bahwa sarana prasarana di Kabupaten Belu masih mengalami kekurangan yang signifikan. Hal ini bisa dilihat pada tabel 4.1. di atas. Dalam tabel di atas tergambar jelas bahwa dari kuesioner yang dibagikan kepada responden, rata-rata yang diperoleh adalah 50, 57%. Skor terendah dari aspek sarana prasarana diperoleh dari pengisian kuesioner yang dilakukan oleh siswa yaitu 42,85% sedangkan skor tertinggi diperoleh dari kuesioner yang diisi oleh guru yaitu 58, 42%. Sedangkan dari data wawancara, peneliti juga bisa mengatakan bahwa sarana prasarana seperti ketiadaan buku, kekurangan laboratorium dan kekurangan komputer menjadi kendala tersendiri dalam implementasi K-13 di tingkat SMA di Kabupaten Belu. Selain itu, masalah persiapan menjadi dimensi yang juga disorot oleh pihak pemerintah dalam implementasi K-13 ini.

52

Sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu sumber daya yang penting dan utama dalam menunjang proses pembelajaran di sekolah. Untuk itu, perlu dilakukan peningkatan dalam pendayagunaan dan pengelolaannya agar tujuan yang diharpkan dapat tercapai. Dari hasil penelitian yang diperoleh, peneliti merekomendasikan cara untuk mengatasi kendala yang dihadapi dalam aspek sarana dan prasarana, yaitu: pelibatan pemerintah baik pusat maupun daerah untuk merencanakan secara matang rencana implementasi K-13 secara khusus di daerah tertinggal seperti Kabupaten Belu dengan cara mengadakan sarana prasarana penunjang implementasi K-13 seperti mengecek ketersediaan laboratorium, kelancaran distribusi buku dan ketersediaan komputer dan jaringan internet dan media pem,belajaran pendukung implementasi K-13 sebelum mengambil keputusan untuk menerapkan Kurikulum baru.

b. Pemahaman Guru tentang K-13

Data mengenai pemahaman guru tentang K-13 diperoleh melalui wawancara yang dilakukan peneliti terhadap para responden. Dari wawancara yang dilakukan peneliti mengenai pemahaman guru terhadap K-13 diperoleh penjelasan sebagai berikut.

“Tentang K-13, sebenarnya tidak berbeda dengan Kurikulum yang lama (KTSP) yang sudah kami selama ini. Yang sedikit membedakan adalah kurikulum baru dalam hal ini K-13 lebih menekankan pada pemanfaatan teknologi, dan kami memahami itu, hanya saja guru-guru yang ada di sekolah ini, terutama yang Pegawai Negeri Sipil atau guru-guru tua tidak mengerti tentang pemanfaatan komputer dan alat peraga elektronik lainnya karena sejak dulu sudah mengajar secara manual jadi mengalami kesulitan dalam penggunaan teknologi”

53

“Kami guru-guru memahami K-13 melalui pelatihan yang sudah kami dapatkan selama 3 hari di Atambua. K-13 ini sebenranya hanya pengembangan dari KTSP, untuk menghadapi perubahan jaman yang semakin meningkat. Memang sangat perlu siswa disiapkan untuk menghadapi perubahan jaman ini, tetapi ada hal yang perlu diperhatikan adalah ada guru yang sama sekali tidak mengerti tentang komputer sampai saat ini sehingga perlu adanya usaha atau tuntutan dari pemerintah untuk mewajibkan guru-guru tahu mengoperasi komputer”.

(Lambertus Suri, Guru di SMAN 1 Tasifeto Timur).

“Saya awalnya belum memahami, tetapi setelah diberikan pelatihan dan mulai diterapkan saya perlahan mulai mengerti. Ketiadaan buku pedoman saat itu membuat saya mencari jalan sendiri untuk memahaminya lewat pencarian di internet”.

( Marsela C. Luan, S.Pd, Guru SMAK Bina Karya Atambua) Dari hasil wawancara yang dilakukan di atas, dapat dilihat bahwa guru sudah memahami K-13, baik melalui pelatihan yang diberikan, maupun secara autodidak (belajar sendiri), hanya memang harus diakui bahwa belum semua pihak memahami karena keterbelakangan pengetahuan akan teknologi yang menjadi basis dari pengembangan K-13. Hal yang harus dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah perlu adanya upaya dan tuntutan dari pemerintah bagi setiap guru untuk bisa mengoperasikan komputer dan alat peraga lainnya agar tidak lagi terjadi hambatan dalam implementasi K-13 ke depannya. Selain itu, perlu adanya pelatihan yang terus menerus di setiap gugus untuk meningkatkan pemahaman guru tentang implementasi K-13.

c. Pemahaman Siswa tentang K-13

Data mengenai pemahaman siswa tentang K-13 juga diperoleh melalui wawancara yang dilakukan peneliti terhadap para responden

54

(siswa). Berdasarkan hasil penelitian dan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti di Kabupaten Belu, diperoleh hasil yang beragam mengenai pemahaman siswa tentang K-13.

“Awalnya kami tidak menegerti K-13, karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya dari kepala sekolah dan guru guru untuk melaksanakan K-13 di semester yang baru. Setelah memasuki semester yang baru, kami mulai dengan K-13, ada hal baru yang kami alami yaitu gaya pembelajaran yang berbeda dari sebelumnya. Akhirnya guru memberitahu bahwa ada kurikulum baru yang digunakan dalam semester ini. Setelah mengikuti hamper sebulan akhirnya kami mengetahui tentang cara kerja dari kurikulum ini, yaitu kami siswa lebih aktif dan guru lebih pasif dalam proses pembelajaran”.

(Gratiana Mau, Siswa SMA Stella Maris Atambua).

“Saya sangat memahami K-13 ini, saya yakin begitu juga dengan teman-teman saya. Kami bisa melakukan perintah yang diberikan oleh guru dengan baik, misalnya mengerjakan tugas, mempresentasikan tugas di hadapan teman-teman dan kegiatan- kegiatan lainnya”.

(Naldo Andrew Pitu, Siswa SMAN I Atambua).

“Saya tidak mengerti dengan K-13 dan hanya secara terpaksa melaksanakannya karena kami dipaksa dari sekolah untuk mengikuti surat yang sudah dikeluarkan”.

(Cerlia De Jesus Henrique, Siawa SMA Stella Gratia Atambua). “Saya hanya tahu bahwa bahwa K-13 itu lebih fokus pada siswa dan siswa lebih aktif dari guru, sedangkan hal-hal lain menyangkut K-13 belum saya tahu dan pahami karena belum ada pemberitahuan dari guru dan saat itu waktu masuk liburan kami langsung diberitahu untuk melaksanakan kurikulum baru ini”.

(Karolus Bere, Siswa SMAK Mgr. Gabriel Manek Lahurus).

Hal utama yang tergambar dari wawancara di atas adalah bahwa para siswa SMA di Kabupaten Belu umumnya sudah memahami cara kerja dan implementasi K-13, meskipun ada yang pemahamannnya terlambat karena tidak ada sosialisasi dan pemberitahuan dari pihak sekolah terlebih

55

dahulu. Ada pula yang terlambat memahami karena secara terpaksa melaksanakannya karena adanya surat edaran dari Menteri untuk implementasi K-13 sekolah diwajibkan untuk melaksanakan K-13. Ketika diminta konfirmasi mengenai dampak keputusan dari pemerintah mengenai implementasi 2013, kepala sekolah SMA Stella Gratia mengatakan :

“Tentu saja setiap keputusan yang dibuat oleh pusat menimbulkan dampak bagi kami warga sekolah karena kita berada dalam satu system dengan pemerintahan pusat. Kita tidak mugkin tidak melaksanakan apa yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah pusat karena kita berpikir keputusan itu adalah keputusan yang terbaik dalam rangka mempersiapkan masa depan anak-anak kita”

(Godefridus Nahak, SE.MM, Kepala Sekolah SMA Stella Gratia Atambua).

K-13 yang lebih mengedepankan dan menuntut siswa (peserta didik) untuk lebih berperan aktif dalam mengembangkan pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki dengan mengeksplorasi semua sumber belajar yang ada, tampaknya memang hendak menjadikan siswa bukan lagi sebagai gelas kosong yang harus diisi, namun menjadi gelas yang sudah terisi dan siap untuk dikreasikan dalam pembelajaran yang dilaksanakan. Tugas paling utama guru tidak lagi menjadi sumber belajar utama bagi peserta didik (siswa), namun tugas guru kini lebih pada motivator bagi peserta didik agar menemukan kembali semangat dan rasa ingin tahu yang dimilikinya sehingga peserta didik akan mengeksplorasi semua sumber belajar yang ada di sekitarnya. Untuk mendukung hal di atas, siswa dituntut dan diberi pengetahuan untuk memahami peran dan fungsi mereka dalam kurikulum itu (Alawiyah, 2013).

56

Hal positif yang bisa diperoleh dari implementasi K-13 di Kabupaten Belu secara khusus pada tingkat SMA adalah banyak siswa yang lebih senang dan menerima keberadaan dan penerapan K-13. Pekerjaan yang masih tersisa dari hal positif ini adalah pemahaman siswa tentang penerapan K-13.

Mengingat bahwa siswa merupakan salah satu elemen penting dalam pendidikan dan merupakan sasaran utama dalam peningkatan kualitas pendidikan yang akan berkontribusi terhadap upaya peningkatan kualitas hidup suatu bangsa, maka siswa perlu dikelola, diatur, ditata, dikelola dan dikembangkan agar menjadi produk pendidikan yang bermutu, maka hambatan-hambatan yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran perlu dicarikan solusinya. Solusi yang ditawarkan dari persoalan pemahaman siswa terhadap pemahaman K-13 yaitu kepemimpinan kepala sekolah mempunyai peran penting dalam memfasilitasi para guru dan tenaga pendidikan lainnya untuk dapat mengatur sedemikian rupa sehingga siswa (anak didik) bisa memahami substansi dari K-13 dan implementasi K-13. Kepala sekolah harus bisa memanfaatkan fungsinya sebagai manajer untuk mengatur semuanya. Kepala sekolah harus bisa mengakomodir para guru di setiap sekolah untuk memberikan minimal sosialisasi kepada para siswa tentang peran dan keberadaan siswa dalam kurikulum baru. Sedangkan hal maksimal yang bisa dilakukan kepala sekolah adalah mendatangkan penyuluh dari

57

propinsi atau orang yang mengerti dan memahami kurikulum 20913 untuk memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada para siswa mengenai K-13.

d. Keterlibatan Orang Tua (Komite Sekolah) Dalam Pengembangan Kurikulum

Sebagai salah satu aspek penting dalam pengembangan kurikulum, partisipasi masyarakat dan orangtua peserta didik samngat diperlukan dalam pembuatan berbagai keputusan. Dengan demikian masayarakat dapat lebih memahami, mengawasi dan membantu sekolah dalam pengelolaan sekolah yang bersangkutan.

Data keterlibatan orang tua dalam pengembangan kurikulum ini diperoleh dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan orangtua siswa. Hasil wawancara yang diperoleh dalam penelitian ini ketika diminta penjelasan mengenai keterlibatan orang tua dalam pengembangan K-13 adalah sebagai berikut :

“Kami tidak pernah diberitahu oleh pihak sekolah bahwa akan dilaksanakan kurikulum baru dalam semester yang baru itu. Dalam pertemuan-pertemuan rutin di sekolah kami hanya selalu ditekankan untuk selalu terlibat dalam kegiatan-kegiatan sekolah, itu pun apabila kami diminta dari sekolah untuk terlibat”.

(Guido Laku Leto, Komite Sekolah SMAN I Lamaknen). “Dalam pertemuan awal semester 2014/2015 yang lalu kami orang tua diberitahukan oleh kepala sekolah bahwa akan diberlakukan kurikulum baru di seluruh Indonesia termasuk sekolah ini. Selanjutnya kami diminta untuk terlibat dalam proses pembelajaran dan penilaian siswa terutam membantu anak-anak kami belajar di rumah”.

(Aloysius Luan Mau, Komite Sekolah SMAK Stella Gratia, Atambua).

58

“Kami sering dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan di sekolah, tetapi saya secara pribadi tidak pernah tau kalo ada pembaharuan kurikulum. Mungkin karena saya tidak mengikuti pertemuan awal tahun ajaran baru kemarin karena sakit”.

(Drs. Silverius Mau, Komite Sekolah SMAK Surya Atambua”. Dari penjelasan yang diperoleh peneliti melalui wawancara dapat diindikasikan bahwa ada orang tua yang mengetahui akan diiplementasikannya K-13 di sekolah mereka karena sudah terlebih dahulu diberitahukan oleh kepala sekolah tetapi belum sepenuhnya memahami K- 13. Ada pula orang tua yang belum mengetahui tentang implementasi K- 13 di sekolah mereka karena tidak ada informasi dari sekolah. Hal yang perlu dilakukan adalah harus adanya sosialisasi terlebih dahulu kepada orang tua siswa mengenai implementasi kurikulum agar tidak ada kesalahpahaman antara orang tua, siswa dan pihak sekolah.

Keberadaan komite sekolah (dan dewan pendidikan) secara legal formal tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002. Dalam keputusan menteri ini, komite sekolah dimaksudkan sebagai sebuah badan mandiri yang mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan baik pada pendidikan prasekolah, jalur pendidikan sekolah, maupun jalur pendidikan luar sekolah.

Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tanggal 2 April 2002 menetapkan bahwa Komite Sekolah berperan sebagai: (a) Pemberi pertimbangan (advisor agency) dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan di satuan pendidikan. (b)

59

Pendukung (supporting agency), baik yang berwujud financial, pemikiran maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan disatuan pendidikan. (c) Pengontrol (controlling agency) dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan. (d) Mediator antara pemerintah (executive) di satuan pendidikan.

Peran komite sekolah dalam pengembangan kurikulum merupakan hal penting untuk menentukan tujuan awal akan dibawa kemana sekolah tersebut nantinya, tidak hanya hal tersebut tetpi juga komite sekolah memiliki peran penting dalam masalah perancangan alat untuk memandu jalannya kegiatan pendidikan. Akan tetapi realita yang ada menunjukkan bahwa peran komite sekolah yang sangat penting bagi sekolah yang salah satunya sebagai pengembang kurikulum yang dijadikan acuan untuk melakukan kegiatan pendidikan dinilai masih sangat kurang.

Kepala sekolah dan guru memiliki tugas dan tanggung jawab terhadap keterlibatan komite sekolah dalam pengembangan kurikulum. Tugas dan tanggug jawab itu harus dikonkritkan dengan melibatkan komite sekolah dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan siswa. Langkah kongkrit yang ditawarkan penulis dalam memberdayakan komite sekolah dalam pengembangan kurikulum adalah:

1) Sebaiknya peran Komite Sekolah dapat disosialisasikan secara komprehensif kepada guru dan kepala sekolah. Demikian pula sebaliknya, peran kepala sekolah juga perlu disosialisasikan kepada

60

Komite Sekolah. Tujuannya adalah untuk menghindari persepsi yang keliru terhadap peran masing-masing dalam penyelenggaraan pendidikan. Dengan pengetahuan dan pemahaman peran stakeholders (pemangku kepentingan) yang lebih baik, harapan untuk menumbuhkan sense of belonging (rasa memiliki) dan sense of trushting menjadi kenyataan.

2) Eksistensi komite sekolah perlu didukung oleh peraturan daerah (Perda) sehingga aspek legalitas dan mekanisme kontrol semakin kuat. Pembentukan Komite Sekolah yang memiliki kekuatan hukum akan menumbuhkan sikap kehati-hatian dalam penyelenggaraan pendidikan. Dengan demikian pelayanan tidak asal jadi dan pendidikan tidak salah urus.

3) SDM Komite Sekolah perlu ditingkatkan melalui pelatihan/atau membuat persyaratan pendidikan minimal untuk menjadi anggota Komite Sekolah. Latar belakang pendidikan yang memadai membuat pola pikir Komite Sekolah dapat bersinergi dengan kepala sekolah. Rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya pengetahuan tentang manajemen pendidikan menjadikan Komite Sekolah sebagai kuda tunggangan atau sebagai stempel untuk melegalisasi berbagai pungutan yang dapat meresahkan masyarakat.

Pada akhirnya, dengan bersinerginya kepala sekolah, guru, dan komite sekolah dalam pengembangan kurikulum, hal itu akan majadikan penyelenggaraan pendidikan di sekolah lebih dinamis dan semakin besar

61

peluangnya untuk mencapai tujuan pendidikan. Pendidikan sekolah tidak semata-mata bermanfaat bagi pencapaian tujuan belajar anak didik, melainkan juga bermanfaat untuk memupuk dan menyuburkan nilai kebersamaan dan tanggung jawab bersma bagi kemajuan bangsa melalui peningkatan kualitas pendidikan/sekolah.

Dokumen terkait