• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

5. Evaluasi Kurikulum

a. Konsep Evaluasi Kurikulum

Evaluasi kurikulum memegang peranan penting baik dalam penentuan kebijakan pendidikan umumnya mau pun pada tingkat

18

pengambilan keputusan dalam kurikulum. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijakan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan pengembangan model kurikulum dan pendekatan yang digunakan. Tanpa evaluasi, maka tidak akan diketahui bagaimana kondisi kurikulum tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya (Chronholm dan Goldkuhl, 2003).

Yusuf (2012) mengatakan bahwa dilihat dari berbagai konsep kurikulum, evaluasi memiliki kedudukan yang sangat penting dan strategis. Jika ingin memahami dan mengembangkan kurikulum, maka wajib mempelajari tentang evaluasi karena evaluasi merupakan konsep yang melekat pada kurikulum. Kurikulum penting untuk dievaluasi dan dikembangkan secara baik dan berkelanjutan untuk memacu para pelaksana kurikulum di sekolah yang siap pakai, aktif, dan kreatif serta mampu menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi lembaga pendidikan yang ada didalamnya. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan suatu sistem kurikulum yang efektif dan efisien pada setiap program kegiatan pendidikan.

Dari konsep evaluasi kurikulum di atas, jelas bahwa evaluasi kurikulum dimaksudkan sebagai suatu proses mempertimbangkan untuk memberi nilai dan arti terhadap suatu kurikulum pendidikan dan pelatihan tertentu. Dengan demikian evaluasi kurikulum adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan

19

untuk membuat keputusan tentang kurikulum pendidikan dan pelatihan yang sedang berjalan atau telah dijalankan.

Evaluasi kurikulum minimal terfokus pada empat bidang; yaitu evaluasi terhadap penggunaan kurikulum, desain kurikulum (curriculum design), hasil dari peserta didik, liable kurikulum. Dengan kata lain, liable evaluasi kurikulum dapat dilakukan pada hasil (outcome) dari kurikulum tersebut (outcomes based evaluation) dan juga dapat pada komponen kurikulum tersebut (intrinsic evaluation). Outcomes based evaluation merupakan liable evaluasi kurikulum yang paling sering dilakukan (Worthen, Sanders. 1981).

Wilayah evaluasi kurikulum yang akan memberikan sejumlah informasi yang penting bagi perancang dan pengembang kurikulum menyangkut kelemahan dan kekuatan sebuah kurikulum yang telah dirancang dan diimplementasikan sehingga informasi ini akan sangat berguna untuk pengambangan dan perubahan kurikulum di masa yang akan datang sekaligus sebagai tolak ukur keberhasilan pendidikan Indonesia dalam menciptakan manusia Indonesia yang bermutu dan berdaya saing dalam persaingan global (Yunus, 2010).

b. Peranan Evaluasi Kurikulum

Peranan evaluasi kurikulum khususnya dalam penentuan kebijaksanaan pendidikan itu berkenaan dengan tiga hal, yaitu:

20

Konsep utama dalam evaluasi adalah masalah nilai. Hasil dari suatu evaluasi berisi suatu nilai yang akan digunakan untuk tindakan berikutnya.

2) Evaluasi dan penentuan keputusan

Pengambil keputusan dalam pelaksanaan pendidikan atau kurikulum itu sangatlah banyak, misalnya: guru, siswa, orang tua, kepala sekolah, para pengembang kurikulum dan sebagainya. Pada prinsipnya tiap individu di atas membuat keputusan sesuai posisinya.

Besar kecilnya peranan keputusan yang diambil itu sesuai dengan lingkup tanggung jawabnya, serta lingkup masalah yang dihadapinya. Misalnya siswa mengambil keputusan sesuai dengan kepentingannya,apabila seorang siswa mendapat nilai kurang baik, maka keputusanyang diambil adalah meningkatkan kualitas belajarnya. Beberapa hasilevaluasi akan menjadi pertimbangan bagi pengambil keputusan (Zaini, 2009).

3) Evaluasi dan konsensus nilai

Dalam berbagai situasi pendidikan serta kegiatan pelaksanaan evaluasikurikulum, sejumlah nilai-nilai dibawakan oleh orang-orang yang ikutterlibat dalam kegiatan penilaian atau evaluasi. Para partisipan dalamevaluasi pendidikan dapat terdiri dari: orang tua, siswa, guru, pengembang kurikulum, administrator, dan sebagainya.

21

Sehingga kesatuan penilaian diantara mereka (partisipan dalam evaluasi pendidikan) hanya dapatdicapai melalui suatu konsensus. Secara historis konsensus nilai dalam evaluasi kurikulum berasal dari tradisi tes mental serta eksperimen. Konsensus tersebut berupa kerangka kerja penelitian yang dipusatkan pada tujuan-tujuan khusus, pengukuran prestasi belajaryang bersifat behavioral, analisis statistik dari prestasi test dan posttes (Zaini, 2009).

c. Tujuan Evaluasi Kurikulum

Evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan, indikator kinerja yang akan dievaluasi yaitu efektivitas program (Syaodih, 2009).

Dalam arti luas evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari beberapa aspek yaitu efektivitas, relevansi, efisiensi, dan kelayakan (feasibility) program. Evaluasi dalam pengembangan kurikulum dimaksudkan untuk keperluan:

1) Perbaikan program

Evaluasi bersifat konstruktif karena informasi hasil evaluasi dijadikan input bagi perbaikan pengembangan program kurikulum. Jadi evaluasi dipandang sebagai tolak ukur hasil pengembangan sistem.

22

Selama dan terutama pada fase pengembangan kurikulum diperlukan pertanggungjawaban sosial, ekonomi, dan moral berupa kekuatan dan kelemahan kurikulum serta upaya untuk mengatasinya dari berbagai pihak yang mensponsori kegiatan pengembangan kurikulum dan yang menjadi konsumen dari kurikulum yang telah dikembangkan.

3) Penentuan tindak lanjut hasil pengembangan

Tindak lanjut hasil pengembangan kurikulum dapat berbentuk jawaban atas dua kemungkinan pertanyaan. Pertama, apakah kurikulum baru tersebut akan atau tidak akan disebarluaskan ke dalam sistem yang ada? Kedua, dalam kondisi yang bagaimana dan dengan cara yang bagaimana pula kurikulum baru tersebut akan disebarluaskan ke dalam sistem yang ada? Pertanyaan yang kedua dirasakan lebih konstruktif dan lebih dapat diterima ditinjau dari segi sosial, ekonomi, moral, maupun teknis. Jadi untuk menghasilkan informasi yang diperlukan dalam menjawab pertanyaan yang kedua itulah diperlukan adanya kegiatan evaluasi (Sukmadinata, 2011).

d. Model Evaluasi Kurikulum CIPP

Sesuai dengan namanya, model ini terbentuk dari 4 jenis evaluasi yaitu evaluasi konteks (contex), masukan (input), pelaksanaan (process), dan hasil (product) yang dikembangkan pertama kali oleh

23

Stufflebeam pada tahun 1971. Model ini menitikberatkan pada pandangan bahwa keberhasilan program pendidikan di pengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya: karakteristik peserta didik, lingkungan, tujuan program, peralatan yang digunakan serta prosedur dan mekanisme pelaksanaan program itu sendiri.

Dalam penelitian ini, yang termasuk dalam komponen CIPP yang akan dievaluasi adalah :

1) Contex: Menurut Zaenal (2009), konteks diartikan sebagai situasi atau latar belakang yang mempengaruhi jenis-jenis tujuan dan strategi pendidikan yang akan dikembangkan dalam program yang bersangkutan. Unsur-unsur yang akan dievaluasi dalam evaluasi ini konteks adalah: keadaan sekolah yang bersangkutan yaitu mengenai sumber daya manusia dan sarana prasarana yang ada di sekolah tersebut, pemahaman guru tentang K-13, pemahaman siswa tentang 2013 dan keterlibatan orang tua (komite sekolah) dalam perkembangan kurikulum.

2) Input: Menurut Widoyoko (2009), evaluasi input (masukan) membantu mengatur keputusan, menentukan sumber-sumber yang ada, alternative apa yang diambil, apa rencana dan strategi untuk mencapai tujuan, dan bagaimana prosedur kerja untuk mencapainya. Menurut Stufflebeam(1977) sebagaimana yang dikutip Arikunto (2009), mengungkapkan bahwa pertanyaan yang berkenaan dengan masukan mengarah pada pemecahan masalah

24

yang mendorong diselenggarakannya program yang bersangkutan. Komponen evaluasi masukan dalam implementasi K-13 meliputi: pengadaan buku, pelatihan guru dan kepala sekolah, pelaksanaan pembelajaran , dan pelaksanaan pendampingan K-13.

3) Process: Worthen & Sanders (1981) dalam Widoyoko (2009) menjelaskan bahwa, evaluasi proses menekankan pada tiga tujuan : Pertama: evaluasi proses digunakan untuk mendeteksi atau memprediksi rancangan prosedur atau rancangan implementasi selama tahap implementasi, Kedua: menyediakan informasi untuk keputusan program dan sebagai rekaman atau arsip prosedur yang telah terjadi. Ketiga: Evaluasi proses meliputi koleksi data penilaian yang telah ditentukan dan diterapkan dalam praktik pelaksanaan program. Pada dasarnya evaluasi proses untuk mengetahui sampai sejauh mana rencana telah diterapkan dan komponen apa yang perlu diperbaiki. Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (2009), evaluasi proses dalam model CIPP menunjuk pada “apa” (what) kegiatan yang dilakukan dalam program, “siapa” (who) orang yang ditunjuk sebagai penanggung jawab program, “kapan” (when) kegiatan akan selesai. Dalam model CIPP, evaluasi proses diarahkan pada seberapa jauh kegiatan yang dilaksanakan di dalam program sudah terlaksana sesuai dengan rencana. Komponen evaluasi proses dalam implementasi K-

25

13 meliputi: proses pembelajaran dan proses penilaian serta manajemen pembelajaran.

4) Product: Sax (1980) dalam Widoyoko, 2009 memberikan pengertian evaluasi produk/hasil adalah sebagai “ to allow to project director (or techer) to make decision of program “. Dari evaluasi proses diharapkan dapat membantu pimpinan proyek atau guru untuk membuat keputusan yang berkenaan dengan kelanjutan, akhir, maupun modifikasi program. Sementara menurut Yusuf (2000) dalam Widoyoko (2009) menerangkan, evaluasi produk untuk membantu membuat keputusan selanjutnya, baik mengenai hasil yang telah dicapai maupun apa yang dilakukan setelah program itu berjalan.

Dari pendapat diatas maka dapat ditarik kesimpuan bahwa, evaluasi produk merupakan penilaian yang dilakukan untuk melihat ketercapaian/ keberhasilan suatu program dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Pada tahap evaluasi inilah seorang evaluator dapat menentukan atau memberikan rekomendasi kepada evaluan apakah suatu program dapat dilanjutkan, dikembangkan/modifikasi, atau bahkan dihentikan.

Berhubungan dengan penelitian evaluasi implementasi K-13 ini, hal-hal yang akan dievaluasi adalah: Bagaimana tanggapan umum para responden tentang implementasi? Faktor kepuasan terhadap kehadiran K-13 menjadi dasar dalam evaluasi product ini karena hanya

26

diselenggarakan selama 1 semester dan belum memiliki outcome atau hasil pembelajaran. Hal berikutnya yang diperhatikan dalam evalausi product ini adalah strategi-stretegi yang perlu disiapkan di Kabupaten Belu dalam menghadapi implementasi K-13.

Dokumen terkait