BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Aspek Penyuluhan
2.4.8 Evaluasi Penyuluhan Pertanian
Menurut Utami (2018;1) Evaluasi penyuluhan pertanian adalah sebuah proses sistematis untuk memperoleh informasi yang relevan tentang sejauh mana tujuan program penyuluhan pertanian di suatu wilayah dapat dicapai sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan, kemudian digunakan untuk mengambil keputusan dan pertimbangan-pertimbangan terhadap program penyuluhan yang dilakukan. Kegiatan
evaluasi dilakukan oleh evaluator, melalui pengumpulan dan penganalisaan informasi secara sistematik mengenai perencanaan, pelaksanaan, hasil, dan dampak kegiatan untuk menilai relevansi, efektivitas, efisiensi pencapaian hasil kegiatan, atau untuk perencanaan dan pengembangan selanjutnya dari suatu kegiatan. Evaluasi adalah suatu proses untuk menentukan relevansi, efisiensi, efektivitas, dan dampat dari kegiatan-kegiatan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai secara sistematik dan objektif.
Landasan evaluasi merupakan proses memahami dan pemberian nilai pada keadaan tertentu melalui pengumpulan data dan cara pengukuran yang sudah ditetapkan. Prinsip-prinsip evaluasi yaitu harus objektif
1. Evaluasi harus obyektif, menggunakan pedoman tertentu, metode pengumpulan data yang tepat, dan menggunakan alat ukur yang valid;
2. Evaluasi harus efisien dan efektif
Menurut Mariati dkk (2018:98) Untuk mengevaluasi pengetahuan sasaran digunakan instrumen evaluasi yang sudah dikembangkan adalah alat evaluasi bertingkat seperti taksonomi bloom. Bentuk bertingkat dari alat evaluasi ini adalah alat evaluasi dibagi menjadi enam tingkatan. Setiap level mempunyai tingkatan taksonomi bloom, dan tingkat kesulitan dari setiap level akan berbeda. Adapun 6 tingkat perilaku kognitif, yaitu pengetahuan (mengingat dan menghafal, pemahaman (menerjemahkan, menginterpretasikan dan menyimpulkan), penerapan (menggunakan konsep, prinsip dan prosedur untuk memecahkan masalah), analisis (memecahkan masalah menjadi bagian-bagian dan mencari hubungan di setiap bagian-bagiannya), sintesis (menggabungkan dua atau lebih masalah dan menemukan solusnya) dan evaluasi (membuat suatu pertimbangan berdasarkan kriteria dan standart yang ada.
Mengutip dari Efendi (2017:74) ranah kognitif pengetahuan dari teori taksonomi bloom tertera dalam tabel berikut 2.2 :
20
Tabel 2. 2 Indikator Taksonomi Bloom (Kognitif)
Kategori Penjelasan Kerja kunci
Mengetahui Kemampuan
menyebutkan kembali informasi / pengetahuan yang tersimpan
dalam ingatan. Contoh:
menyebutkan arti taksonomi
Mendefinisikan, menyusun daftar,
menjelaskan, mengingat, mengenali,
menemukan kembali, menyatakan,
mengulang, mengurutkan, menamai, menempatkan, menyebutkan.
Memahami Kemampuan memahami instruksi dan menegaskan pengertian/makna ide atau konsep yang telah diajarkan baik
dalam bentuk lisan, tertulis, maupun grafik/diagram Contoh : Merangkum materi yang telah diajarkan
dengan
kata-kata sendiri.
Menerangkan, menjelaskan, menterjemahkan,
menguraikan, mengartikan, menyatakan kembali, menafsirkan,
menginterpretasikan, mendiskusikan,
menyeleksi, mendeteksi, melaporkan,
menduga,
mengelompokkan,
Menerapkan Kemampuan melakukan sesuatu
dan mengaplikasikan konsep
dalam situasi tetentu.
Contoh:
Melakukan proses pembayaran
gaji sesuai dengan sistem berlaku.
Memilih, menerapkan, melaksanakan,
mengubah, menggunakan, mendemonstrasikan,
memodifikasi, menginterpretasikan, menunjukkan, membuktikan, menggambarkan,
mengoperasikan, menjalankan memprogramkan,
mempraktekkan, memula Menganalisis Kemampuan memisahkan
konsep kedalam beberapa komponen dan
mnghubungkan satu sama lain untuk memperoleh pemahaman atas
konsep tersebut secara utuh.
Contoh: Menganalisis penyebab
meningkatnya Harga pokok penjualan dalam laporan keuangan dengan
memisahkan
komponen- komponennya
Mengkaji ulang, membedakan, membandingkan,
mengkontraskan, memisahkan,
menghubungkan, menunjukan hubungan antara variabel, memecah menjadi
beberapa bagian, menyisihkan, menduga, mempertimbangkan mempertentangkan, menata ulang, mencirikan, mengubah
struktur,
Kategori Penjelasan Kerja kunci Mengevaluasi/menilai Kemampuan menetapkan
derajat sesuatu berdasarkan norma, kriteria atau patokan tertentu
Contoh: Membandingkan hasil ujian siswa dengan kunci jawaban.
Mengkaji ulang, mempertahankan, menyeleksi,
mempertahankan, mengevaluasi, mendukung, menilai, menjustifikasi,
mengecek, mengkritik, memprediksi,
membenarkan, menyalahkan.
Mencipta Kemampuan memadukan
unsur
unsur menjadi sesuatu bentuk baru yang utuh dan koheren, atau membuat sesuatu yang orisinil. Contoh: Membuat kurikulum dengan
mengintegrasikan pendapat dan
materi dari beberapa sumber
Merakit, merancang, menemukan,
menciptakan, memperoleh, mengembangkan,
memformulasikan, membangun, membentuk, melengkapi,
membuat, menyempurnakan, melakukan
Sedangkan pada aspek sikap merujuk pada teori tindakan yang beralasan (TRA) pertama kali dicetuskan oleh ajzen pada tahun 1980 (Jogianto, 2007;114). Teori ini disusum menggunakan asumsi dasar bahwa manusia berperilaku dengan cara yang sadar dan mempertimbangkan segala informasi yang tersedia. teori Ajzen (1980) menyatakan bahwa niat seseorang untuk melakukan suatu perilaku menentukan akan dilakukan atau tidak dilakukannya.
Sedangkan Theory of Planned Behavior yang menyatakan bahwa “seseorang dapat bertindak berdasarkan intensi atau niatnya hanya jika ia memiliki kontrol terhadap perilakunya” Ajzen, (2005: 126). Teori ini tidak hanya menekankan pada rasionalitas dari tingkah laku manusia,
Berdasarkan teori ini, terdapat tiga faktor dalam intensi yaitu : 1. Keyakinan prilaku
Ajzen (2005: 126) mengemukakan bahwa sikap terhadap perilaku ini ditentukan oleh keyakinan mengenai konsekuensi dari suatu perilaku atau secara singkat disebut keyakinan-keyakinan perilaku (behavioral beliefs). Keyakinan berkaitan dengan
22
penilaian subjektif individu terhadap dunia sekitarnya, pemahaman individu mengenai diri dan lingkungannya, dilakukan dengan cara menghubungkan antara perilaku tertentu dengan berbagai manfaat atau kerugian yang mungkin diperoleh apabila individu melakukan atau tidak melakukannya. Keyakinan ini dapat memperkuat sikap terhadap perilaku itu apabila berdasarkan evaluasi yang dilakukan individu, diperoleh data bahwa perilaku itu dapat memberikan keuntungan baginya
2. Norma subjektif
Norma subjektif adalah persepsi individu terhadap harapan dari orang- orang yang berpengaruh dalam kehidupannya (significant others) mengenai dilakukan atau tidak dilakukannya perilaku tertentu. Persepsi ini sifatnya subjektif sehingga dimensi ini disebut norma subjektif. Sebagaimana sikap terhadap perilaku, norma subjektif juga dipengaruhi oleh keyakinan. Bedanya adalah apabila sikap terhadap perilaku merupakan fungsi dari keyakinan individu terhadap perilaku yang akan dilakukan (behavioral belief) maka norma subjektif adalah fungsi dari keyakinan individu yang diperoleh atas pandangan orang-orang lain terhadap objek sikap yang berhubungan dengan individu (normative belief).
3. Keyakinan kontrol
Persepsi kontrol perilaku atau dapat disebut dengan kontrol perilaku adalah persepsi individu mengenai mudah atau sulitnya mewujudkan suatu perilaku tertentu, Ajzen (2005: 126). Untuk menjelaskan mengenai persepsi kontrol perilaku ini, Ajzen membedakannya dengan locus of control atau pusat kendali yang dikemukakan oleh Rotter (1990: 89–493). Pusat kendali berkaitan dengan keyakinan individu yang relatif stabil dalam segala situasi. Persepsi kontrol perilaku dapat berubah tergantung situasi dan jenis perilaku yang akan dilakukan. Pusat kendali berkaitan dengan keyakinan individu tentang keberhasilannya melakukan segala sesuatu, apakah tergantung pada usahanya sendiri atau faktor lain di luar dirinya, Rotter (1975: 56–67). Jika keyakinan ini berkaitan dengan pencapaian yang spesifik, misalnya keyakinan dapat menguasai
keterampilan menggunakan komputer dengan baik isebut kontrol perilaku (perceived behavioral control).
Teori tindakan beralasan (TRA) pertama kali dicetuskan oleh Ajzen pada tahun 1967 (Jogiyanto, 2007:144). Teori ini disusun menggunakan asumsi dasar bahwa manusia berperilaku dengan cara yang sadar dan mempertimbangkan segala informasi yang tersedia. Dalam TRA ini, Ajzen (1980) menyatakan bahwa niat seseorang untuk melakukan suatu perilaku menentukan akan dilakukan atau tidak dilakukannya.
Gambar 2. 1 Theory Of Reason Action
Untuk lebih memahami mengenai pengukuran sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku terlebih dahulu diulas konsep atau faktor pembentuknya di dalam Theory of Planned Behavior. Secara lebih lengkap menrut buku (Ajzen, 2005;118) menambahkan faktor latar belakang individu ke dalam TPB, sehingga secara skematik TPB dilukiskan sebagaimana pada gambar
Model teoritik dari TPB mengandung berbagai variabel yaitu :
1. Latar belakang, yaitu usia, jenis kelamin, suku, status sosial ekonomi, suasana hati, sifat kepribadian, dan pengetahuan yang mempengaruhi sikap dan perilaku individu terhadap sesuatu hal.
2. Keyakinan perilaku yaitu hal‐hal yang diyakini oleh individu mengenai sebuah perilaku dari segi positif dan negatif, sikap terhadap perilaku atau kecenderungan untuk bereaksi secara afektif terhadap suatu perilaku, dalam bentuk suka atau tidak suka pada perilaku tersebut.
Keyakinan perilaku
Sikap terhadap
perilaku
Niat Perilaku
Keyakinan normatif
Norma subjektif
24
3. Keyakinan normatif, adalah faktor lingkungan sosial khususnya orang‐orang yang berpengaruh bagi kehidupan individu dapat mempengaruhi keputusan individu seperti adat istiadat dan norma lingkungan lainnya.
4. Keyakinan kontrol adalah sejauh mana seseorang memiliki motivasi untuk mengikuti pandangan orang terhadap perilaku yang akan dilakukannya atau juga dari pengalaman seseorang untuk merubah sikap mereka dalam melakukan sesuatu. Pengetahuan sesorang untuk mengkontrol sikap mereka dalam merubah prilaku.
Gambar 2. 2 Theory Of Planned Behavior