BAB III METODOLOGI PENELITIAN
4.3 Evaluasi Program WBMH
4.3.3 Evaluasi Proses
Evaluasi proses terhadap program WBMH dibutuhkan untuk dapat mengetahui masalah yang terdapat pada tahap process (proses) dari unsur pelaksana program WBMH, mekanisme pelaksanaan program WBMH, partisipasi peserta didik program WBMH dan peran Orangtua peserta didik program WBMH. Informan 1, menjelaskan bahwa pelaksana program adalah Satuan Tugas Program WBMH, yaitu RW, RT, Orangtua peserta didik, guru pendamping, dan peserta didik sendiri:
“Yang menjadi pelaksana program yah semua masyarakat di Kelurahan Pegangsaan, mulai dari RW, RT, Orangtua, Guru, dan peserta didik sendiri. Mereka semua adalah SatGas pelaksana kegiatan Jam Malam. (Wawancara Informan 1, tanggal 14 Desember 2015)
Hal serupa diungkapkan oleh Informan 2, yang menyatakan bahwa pelaksana program WBMH adalah Satuan Tugas yang dibentuk untuk melaksanaan program WBMH:
“Pelaksana program WBMH adalah Satuan Tugas yang sudah dibentuk untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Dan satuan tugas berasal dari masyarakat.” (Wawancara Informan 2, tanggal 14 Maret 2014)
Gambar 4.10
Satuan Tugas Pelaksana Program WBMH
Sumber: Pedoman Program WBMH Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
Hal yang tidak jauh berbeda diungkapkan oleh Informan 10, yang menyatakan bahwa semua masyarakat di Kelurahan Pegangsaan terlibat untuk program WBMH:
“Semua masyarakat ikut terlibat untuk melaksanakan kegiatan ini, karena ini kan program swadaya, jadi harusnya semua masyarakat yang ikut berperan serta dalam pelaksanaan kegiatan Jam Malam ini, kita sebagai Satgas yang ditunjuk, bertugas hanya sebagai roh model atau panutan
untuk menjalankan kegiatan Jam Malam itu.” (Wawancara Informan 10, tanggal 16 Desember 2015)
Dari pernyataan di atas, bahwa yang menjadi Satuan Tugas pelaksana program WBMH berasal dari masyarakat Kelurahan Pegangsaan. Kemudian yang menjadi peserta program WBMH dijelaskan oleh Informan 1, yang menyatakan:
“Peserta program ini adalah peserta didik yang berada dalam usia sekolah antara 5 (lima) sampai dengan 18 (delapan belas) tahun, berarti dari peserta didik tingkat SD sampai tingkat SMA.” (Wawancara Informan 1, tanggal 14 Desember 2015)
Hal tersebut dibenarkan oleh Informan 2, yang menyatakan bahwa peserta didik adalah anak usia sekolah pada tingkatan SD sampai dengan SMA/SMK yang mengikuti program WBMH:
“Anak-anak yang berada dalam usia belajar tingkat SD sampai dengan SMA/SMK.” (Wawancara Informan 2, tanggal 14 Maret 2014)
Hal serupa diungkapkan oleh informan 9, selaku guru pendamping program WBMH, menyatakan:
“Yah anak-anak sekolah mas, ada yang dari SD, SMP, dan SMA juga SMK.” (Wawancara Informan 9, tanggal 15 Desember 2015)
Gambar 4.11
Peserta Didik Program WBMH
Sumber: Peraturan Gubernur Nomor 22 Tahun 2014
Hal senada diungkapkan oleh Informan 7, yang menyatakan bahwa peserta didik yang mengikuti program WBMH, tidak semuanya mengenyam kursi pendidikan formal:
“Yang ikut kegiatan yah anak-anak sekolah, tapi ada juga beberapa anak yang tidak sekolah ikut kegiatan Jam Malam ini, karena disini kan kita tujuannya belajar bersama.” (Wawancara Informan 7, tanggal 15 Desember 2015)
Hal itu dibenarkan oleh Informan 1, yang menyatakan bahwa tidak semua peserta didik yang mengikuti program WBMH bersekolah formal:
“Memang ada juga peserta didik yang tidak besekolah ikut kegiatan Jam Malam, artinya program ini bagus dong pak, karena disisi lain anak yang tidak dapat bersekolah, karena faktor ekonomi atau faktor lain pun dapat belajar bersama dengan anak-anak lainnya.” (Wawancara Informan 1, tanggal 14 Desember 2015)
Kemudian mekanisme pelaksanaan program WBMH dijelaskan oleh Informan 1, yang menjelaskan:
“Untuk pelaksanaan program WBMH kita lakukan pada hari-hari sekolah, dari hari minggu malam sampai kamis malam dari jam 7 sampai jam 9, dan untuk pelaksaannya sendiri, pertama kita turun kerumah-rumah peserta didik bersama teman-teman SatGas lain. Dengan membawa toa, kita ajak dan beritahu anak-anak bahwa sudah masuk jam belajar, kadang-kadang kita juga putar lagu mars belajar untuk menandakan bahwa jam malam sudah dimulai. Kemudian kita kumpulkan anak-anak yang sudah ada ketempat yang sudah disediakan untuk belajar.” (Wawancara Informan 1, tanggal 14 Desember 2015)
Tidak jauh berbeda penjelasan mengenai mekanisme pelaksanaan program WBMH oleh Informan 2, yang menyatakan:
“Mekanisme pelaksanaannya dilakukan pada malam di hari sekolah, dari pukul 19.00 sampai dengan 21.00, dan tanda dimulainya jam malam diperdengarkan lagu mars wajib belajar. Dan untuk teknis pembelajarannya sendiri kita serahkan kepada SatGas di wilayah sesuai dengan keperluannya.” (Wawancara Informan 2, tanggal 14 Maret 2014) Hal serupa diungkapkan oleh Informan 10, selaku SatGas pelaksana program WBMH, menyatakan:
“Setiap hari kita keliling bersama teman-teman Satgas lain, kita bagi kelompok, kemudian kita beri himbauan kepada Orangtua agar mematikan
TV agar tidak mengganggu kegiatan Jam Malam.” (Wawancara Informan 10, tanggal 16 Desember 2015)
Untuk pelajaran yang diberikan dalam program WBMH, dijelaskan oleh Informan 9, yang menyatakan:
“Kalau untuk pelajaran, umumnya kita membahas apa yang sudah dipelajari anak di sekolah, kemudian kita juga membahas PR yang diberikan guru di sekolah. Kalau malam Jum‟at biasanya juga kita mengadakan pengajian.” (Wawancara Informan 9, tanggal 14 Desember 2015)
Hal serupa disampaikan oleh Informan 6, yang menyatakan bahwa pelajaran yang diberikan adalah mengulang pelajaran di sekolah, dan membahas PR yang diberikan guru di sekolah:
“Pelajarannya yah kebanyakan kita hanya mengulang pelajaran yang diberikan di sekolah, dan membahas PR yang diberikan.” (Wawancara Informan 6, tanggal 17 Desember 2015)
Hal tersebut dibenarkan oleh Informan 15, selaku peserta didik tingkat SMA/SMK program WBMH, yang menyatakan:
“Mengulang pelajaran di sekolah kalo ada yang gak ngerti kita bahas, sama ngerjain PR.” (Wawancara Informan 15, tanggal 20 Desember 2015) Hal senada disampaikan oleh Informan 16, selaku peserta didik tingkat SMP program WBMH, yang menyatakan:
“Ngerjain PR sih paling sering.” (Wawancara Informan 16, tanggal 20 Desember 2015)
Dari pernyataan di atas, bahwa mekanisme pelaksanaan program WBMH dilakukan pada hari minggu malam sampai dengan kamis malam dari pukul 19.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB, dimulainya program WBMH ditandai dengan diperdengarkan lagu mars wajib belajar. Kemudian pelajaran yang diberikan adalah mengulang pelajaran yang dibahas di sekolah, dan membahas PR
(Pekerjaan Rumah) yang diberikan oleh guru di sekolah. Kemudian partisipasi peserta didik program WBMH, disampaikan oleh Informan 1, yang menyatakan:
“Cukup banyak anak yang ikut, yah ada sekitar 40 anak, tetapi memang masih banyak juga anak-anak yang tidak ikut.” (Wawancara Informan 1, tanggal 14 Desember 2015)
Hal serupa disampaikan oleh Informan 9, yang menyatakan bahwa cukup banyak peserta didik yang antusias untuk mengikuti program WBMH, namun tidak adanya sanksi untuk anak yang tidak mengikuti program ini menjadi salah satu faktor rendahnya partisipasi peserta didik:
“Cukup banyak peserta didik yang antusias ikut kegiatan ini, namun masih banyak juga anak yang tidak ikut. Karena apabila kita memaksakan anak untuk ikut kan tidak dibenarkan juga. Program ini kan sifatnya mendidik bukan memaksa, menurut saya salah satu faktor masih banyaknya anak yang tidak ikut dalam kegiatan ini karena tidak ada sanksi yang diberikan, yah contohnya berupa denda apabila tidak mengikuti kegiatan ini.” (Wawancara Informan 9, tanggal 15 Desember 2015)
Kemudian hal lain disampaikan oleh Informan 6, yang menyatakan bahwa rendahnya partisipasi peserta didik disebabkan oleh banyaknya aktivitas anak disekolah:
“Masih terbilang sedikit anak yang mengikuti program Jam Malam ini, mungkin karena anak itu sudah lelah juga mas, karena banyaknya rutinitas kegiatan di sekolah, dan pada saat jam malam dimulai, ada anak yang tidur karena capek, kemudian ada juga yang belum pulang dari sekolah karena masih ada kegiatan di sekolah kata beberapa anak peserta didik.” (Wawancara Informan 6, tanggal 17 Desember 2015)
Hal tersebut dibenarkan oleh Informan 14, selaku peserta didik tingkat SMA/SMK program WBMH, yang menyatakan:
“Banyak kegiatan bang di sekolah, apalagi kita kelas 3 yang mau UN (Ujian Nasional), ada pelajaran tambahan juga di sekolah.” (Wawancara Informan 14, tanggal 20 Desember 2015)
Gambar 4.12
Pelaksanaan Program WBMH di Kelurahan Pegangsaan
Sumber: Dokumentasi peneliti (Oktober 2014)
Kemudian peran dari Orangtua peserta didik dalam program WBMH, dijelaskan oleh Informan 1, yang menyatakan:
“Jelas peran orangtua sangat penting dalam kegiatan jam malam ini, karena dari lingkungan keluarga itulah karakter anak dibentuk bang kemudian dari lingkungan sekitar, apabila kegiatan ini berjalan namun tanpa peran serta dari orangtua, kegiatan ini akan menjadi sia-sia saja. Tugas orangtua disini kan sebagai fasilitator, yaitu mengawasi dan memotivasi anak agar belajar dengan baik. Alhamdulillah disini para orangtua sudah mulai peduli dengan pendidikan anak, tapi masih ada juga orangtua yang tidak peduli, mungkin karena mereka dulu tidak mendapatkan pendidikan atau karena hal lain.” (Wawancara Informan 1, tanggal 14 Desember 2015)
Selanjutnya, menurut Informan 2 mengungkapkan bahwa peran orangtua sangat penting dalam proses pembelajaran dalam program WBMH:
“Tugas orangtua sebagai fasilitator, dan menjadi salah satu faktor penting dalam kesuksesan program WBHM ini, apabila peran orangtua yang semestinya mengawasi dan memotivasi anak dirumah tidak ada, maka akan berdampak kepada prestasi anak disekolah.” (Wawancara Informan 2, tanggal 14 Maret 2014)
Pernyataan tersebut mengaskan bahwa pentingnya peran serta orangtua sebagai fasilitator untuk mengawasi dan memotivasi peserta didik dalam program WBMH, untuk mencapai prestasi yang maksimal di bidang akademik. Demikian juga disampaikan oleh Informan 9, yang menyatakan:
“Orangtua sebagai garda terdepan untuk membimbing anak, karena itu menjadi bagian penting peran orangtua dalam pelaksanaan kegiatan Jam Malam. Namun disini masih banyak orangtua yang kurang mendukung kegiatan ini, seperti masih banyak orangtua yang menyalakan tv pada saat waktu pelaksanaan Jam Malam, hal itu kan menggangu kegiatan jam malam” (Wawancara Informan 9, tanggal 15 Desember 2015)
Gambar 4.13
Tugas Orangtua Sebagai Fasilitator
Sumber: Peraturan Gubernur Nomor 22 Tahun 2014
Masih kurangnya peran serta dari orangtua peserta didik untuk ikut melaksanakan dan mengawasi program ini, menjadi kendala besar untuk keberhasilan program tersebut. Tentunya hal tersebut menjadi permasalahan yang penting untuk dikaji, mengingat peran dari orangtua sebagai fasilitator, dan bertugas untuk memotivasi semangat anak agar meningkatkan prestasi dalam bidang akademik dan memberikan situasi yang efektif bagi anak untuk belajar.
Menurut Informan 10, mengungkapkan bahwa kurangnya peran dari orangtua disebabkan oleh kesibukan kerja, kurangnya kepedulian orangtua terhadap prestasi anak:
“Banyak orangtua yang masih bekerja sampai larut malam, ada juga yang tidak peduli sama kegiatan ini. Namun kita tetap menghimbau kepada para orangtua, agar tetap memperdulikan pendidikan anak. Tapi yah itulah tantangannya.” (Wawancara Informan 10, tanggal 16 Desember 2015) Kemudian hal tersebut dibenarkan oleh Informan 1, yang mengungkapkan bahwa kurangnya peran orangtua disebabkan oleh kesibukan kerja, pendidikan orangtua yang rendah, dan keadaan keluarga yang tidak harmonis:
“Banyak faktor yang mempengaruhi, contohnya ada orangtua yang kerja lembur sampai larut malam, ada orangtua yang tidak sekolah dan akibatnya dia bingung mau mengajarkan anak tuh apa, kemudian ada juga beberapa anak korban dari perceraian orangtua atau broken home.” (Wawancara Informan 1, tanggal 14 Desember 2015)
Kurangnya peran serta orangtua juga disampaikan oleh Informan 12, yang menyatakan:
“Sepi sih mas kalo orangtua yang ngawasain, kalo awalnya sih emang ramai, tapi makin kesini jadi sepi.” (Wawancara Informan 12, tanggal 16 Desember 2015)
Kemudian hal selaras juga diungkapkan oleh Informan 14, yang mengatakan:
“Kalau belajar yah sendiri, bapak kerja, ibu nonton film.” (Wawancara Informan 14, tanggal 20 Desember 2015)
Berdasarkan pernyataan di atas, bahwa yang menjadi unsur pelaksana program WBMH adalah Satuan Tugas yang dibentuk oleh masyarakat, namun pelaksanaan Program WBMH ini melibatkan seluruh partisipasi masyarakat, mulai dari RW, RT, Orangtua dan peserta didik. Yang mengikuti program
WBMH adalah warga masyarakat yang menempuh pendidikan pada satuan pendidikan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/K), dan warga yang tidak mengikuti pendidikan formal di sekolah.
Kemudian mekanisme pelaksanaan program dimulai dari pukul 19.00 WIB sampai 21.00 WIB pada hari sekolah, waktu pelaksanaan kerap dijadikan alasan bagi peserta didik yang tidak mengikuti program WBMH, karena dianggap berbenturan dengan kegiatan di sekolah. Dan kurangnya peran serta dari orangtua menjadi permasalahan dalam pelaksanaan program WBMH, mengingat peran dari orangtua sebagai fasilitator yang bertugas untuk memberikan motivasi semangat anak agar meningkatkan prestasi dalam bidang akademik dan memberikan situasi yang efektif bagi anak untuk belajar. Apabila peran dari orangtua sendiri sudah tidak mendukung, maka tujuan pelaksanaan program WBMH, yakni agar anak dapat memperoleh prestasi akademik yang baik, akan sulit terwujud. Peran dari Orangtua yang baik juga akan berpengaruh kepada tingkat partisipasi peserta didik untuk mengikuti program WBMH di Kecamatan Menteng Jakarta Pusat.