BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
2. Evaluasi proses penyusunan Kebijakan Umum APBD
(KUA) berdasarkan RKPD dan pedoman penyusunan APBD yang ditetapkan Menteri Dalam Negeri setiap tahun. Didalam menyusun Kebijakan Umum APBD, diawali dengan penjaringan aspirasi masyarakat yang biasa dikenal dengan istilah Musrenbang.
Penyusunan Kebijakan Umum APBD merupakan proses awal dalam tahap penyusunan APBD, karena dokumen ini akan dijadikan dasar bagi Satuan Kerja Perangkat Daerah dalam menyusun anggarannya yang tertuang dalam Rencana Kerja Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA-SKPD) yang diajukan kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) sebagai bahan penyusunan Raperda APBD. Sebagai langkah awal dalam penyusunan Kebijakan Umum APBD, Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar melakukan penjaringan aspirasi masyarakat hanya melalui satu mekanisme, yaitu melalui mekanisme formal. Mekanisme secara formal yang ada saat ini yaitu melalui musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) dan melalui survey terhadap masyarakat. Sementara pihak-pihak yang terlibat dalam proses penjaringan aspirasi masyarakat diantaranya yaitu masyarakat, LSM, ormas, asosiasi profesi, Perguruan tinggi, DPRD, Pemda Kabupaten Karanganyar dan masyarakat pemerhati, dll. Jika dibandingkan dengan daerah lain, penjaringan aspirasi masyarakat di Kabupaten Karanganyar masih kurang sempurna. Seharusnya penjaringan aspirasi masyarakat tidak hanya melalui mekanisme formal saja, tetapi juga dapat menggunakan mekanisme informal.
Mekanisme informal dapat dilakukan diantaranya melalui kotak saran, kotak pos, telepon, short message service (sms), web site, public
hearing. “Ketika membuat KUA, eksekutif menjaring aspirasi hanya
melalui Musrenbang.” (Pujiyanto, Kasi Pengendalian Anggaran DP2KAD Kabupaten Karanganyar).
Menurut pendapat penulis, dalam tata cara musrenbang inipun masih terdapat beberapa kelemahan. Misalnya, diberbagai daerah terutama wilayah perdesaan, masalah keterwakilan peserta masih menjadi kendala dalam proses implementasi Musrenbang. Para pemangku kepentingan yang diundang masih didominasi oleh kaum elit di wilayah tersebut. Untuk itu, notulen berita acara Musrenbang yang harus dihasilkan penyelenggara Musrenbang perlu ditambahkan dengan sebuah kontrol administrasi berupa formulir yang harus dilengkapi penyelenggara musrenbang sebagai indikator terpenuhinya keterwakilan peserta Musrenbang. Selain itu, seharusnya apa pun yang terjadi dalam proses Musrenbang tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara vertikal (pemerintah diatasnya) maupun horizontal (peserta musrenbang dan masyarakat luas). Karena dalam prakteknya, banyak aspirasi dalam musrenbang tidak diakomodasi dalam KUA dan PPA. Musrenbang lebih tepat disebut sebagai forum pengumuman Pemerintah Kabupaten atas prioritas
penyusunan KUA dan PPA tidak menggunakan hasil Musrenbang saja, melainkan RKPD, Pokok-pokok pikiran DPRD, dll. Sebagai akibatnya, hasil Musrenbang diabaikan.
Jika kondisi ini terus berulang, bisa berdampak fatal bagi peran serta masyarakat dalam pembangunan kabupaten. Masyarakat Kabupaten Karanganyar akan apatis. Mereka kemudian enggan menginventarisasi persoalan di daerah mereka dan kemudian merumuskannya menjadi usulan program pembangunan. Mereka akan beranggapan untuk apa repot merumuskan usulan program pembangunan jika kemudian ditolak, dicoret dengan dalih bukan sebagai prioritas.
Dari sini dapat kita simpulkan bahwa Musrenbang hanya digunakan sebagai alat untuk melegitimasi proses penyusunan anggaran. Penyusunan anggaran dengan paradigma bottom-up juga masih jauh dari realisasi, karena program-program ditentukan oleh eksekutif tanpa atau hanya sedikit memperdulikan hasil Musrenbang.
Setelah rancangan Kebijakan Umum APBD selesai dibuat oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar, lalu diajukan ke DPRD untuk dibahas bersama dan mendapatkan kesepakatan. Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar melakukan presentasi terhadap rancangan Kebijakan Umum APBD yang telah dibuatnya, sementara DPRD hanya mendengarkan dan atau selanjutnya mengkritisinya. Menurut pendapat penulis, akan lebih
bagus jika DPRD juga membuat rancangan Kebijakan Umum ABPD. Sehingga dengan adanya dua versi rancangan Kebijakan Umum APBD yaitu rancangan versi Pemerintah Daerah dan rancangan versi DPRD yang masing-masing dipresentasikan, akan diketahui kebijakan- kebijakan yang terbaik dari kedua versi kebijakan tersebut, yang dapat diterima oleh kedua belah pihak. Sehingga dengan demikian akan terjadi suatu kesepakatan antara Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar dan DPRD Kabupaten Karanganyar mengenai Kebijakan Umum APBD yang memuat komponen-komponen pelayanan dan tingkat pencapaian yang diharapkan dari setiap bidang kewenangan Pemerintah Daerah yang lebih baik. “DPRD tidak membuat draft KUA versi DPRD, karena anggota DPRD terdiri dari berbagai macam partai politik yang memiliki konstituen yang berbeda-beda. Dalam penyusunan KUA, DPRD lebih bersifat mengkoreksi.” (Suparmi, Anggota DPRD Kabupaten Karanganyar Komisi II).
Apabila dilihat dari jadwal waktu yang telah disampaikan pada pembahasan sebelumnya, terlihat bahwa penyusunan Kebijakan Umum APBD untuk TA 2007 s/d TA 2009 selalu mengalami keterlambatan dari jadwal yang telah ditentukan. Kondisi paling buruk terjadi pada penyusunan Kebijakan Umum APBD untuk TA 2009 yang justru disusun pada bulan Februari 2009, melampaui waktu
Kabupaten Karanganyar. Sehingga sulit bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar untuk menyusun Kebijakan Umum APBD sesuai dengan waktu yang ditentukan.
Sementara itu, penyusunan Kebijakan Umum APBD untuk TA 2007 dan TA 2008 juga mengalami keterlambatan dari jadwal yang ditentukan. Berdasarkan hasil wawancara, diperoleh keterangan bahwa keterlambatan penyusunan Kebijakan Umum APBD ini disebabkan karena terdapat beberapa faktor yang menghambat kesepakatan dalam penyusunan Kebijakan Umum APBD. Menurut salah seorang responden yang berasal dari Bappeda, hal tersebut dikarenakan Bappeda menunggu informasi terkumpul terlebih dahulu, sehingga anggaran yang dibuat akan dapat dipakai. “Kami (Bappeda) selaku penanggung jawab penyusun KUA, ingin membuat KUA yang mendekati implementasi. Oleh karena itu, dalam penyusunan KUA, kami (Bappeda) mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, sehingga membuat penyusunan KUA melampaui waktu yang telah dijadwalkan. Kami (Bappeda) berargumen bahwa lebih baik terlambat dalam penetapan KUA daripada ditengah jalan harus melakukan perubahan-perubahan terhadap APBD. Kami (Bappeda) menganggap bahwa ketidakpatuhan terhadap jadwal penyusunan APBD bukanlah suatu tidakan yang melanggar hukum.” (Catharina Nina Anggraeni, Kasubag Perencanaan Bappeda Kabupaten Karanganyar).
Pembahasan KUA di DPRD juga memakan waktu yang lama, sehingga menyebabkan proses penyusunan anggaran selanjutnya mengalami kemunduran dari waktu yang telah ditetapkan. “Untuk tahun anggaran 2009, penetapan KUA mengalami kemunduran dari jadwal dikarenakan tahun 2008 Kabupaten Karanganyar sedang melaksanakan Pemilu Legislatif. Sedangkan pada tahun 2007 dan 2008, penetapan KUA mengalami kemunduran karena banyaknya hal yang perlu disinkronkan antara eksekutif dan legislatif.” (Suparmi, Anggota DPRD Kabupaten Karangnyar Komisi II.)