Evaluasi dan tinjauan merupakan tahap akhir dalam sebuah kampanye yang tidak kalah penting untuk dilakukan. Dengan melakukan evaluasi, tim kampanye dapat mengetahui sejauh mana kampanye tersebut telah efektif untuk dilakukan, apa kekurangan dan kelebihannya. Hasil evaluasi dapat dijadikan bahan pertimbangan dan masukan bagi perkembangan kampanye selanjutnya. Evaluasi ini dapat dilakukan dengan riset kuantitatif, berupa penyebaran kuesioner maupun dengan riset kualitatif, berupa observasi dan wawancara mendalam.
85Wawancara yang dilakukan dengan Ir. Arissetyanto Nugroho, MM., Rektor Universitas Mercu Buana, Jumat, 26 November 2010, pukul 10.00 WIB.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Ir. Arissetyanto Nugroho, MM., selaku Rektor Universitas Mercu Buana, yaitu:
“Evaluasi yaa… kita evaluasinya… kan selalu ada laporan dari staf Humas. Yaa kita akan melihat kenapa program ini tidak jalan, kenapa kok banyak orang yang ditemukan merokok tidak di kantin. Itukan beberapa hal yang menyebabkan itu. Sama yaa, dia tidak merasa ada penindakan dan didiemin aja. Yaa kalau didiemin, orang akan memilih tempat yang terdekatkan. Jadi yang kedua karena yang keliling itu juga tidak kontinu. Hari ini keliling, besok gak. Yaa jadi perilaku itu belum ada kesadaran.”86
Evaluasi tersebut memang dilakukan untuk kampanye ini dan secara teknisnya, dilakukan oleh tim Humas.
Berdasarkan wawancara dengan Ibu Irmulan Sati, SH., M.Si., selaku Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana, yaitu:
“Tidak ada. Kampanye kan selesai sampai Desember. Saya hanya memberikan rekomendasi saja hasil dari…. Kalau riset formal secara survey, tidak. Kecuali yang tadi di fact finding yang kita survey. Tapi kalau yang di akhir, saya sifatnya observasi saja. Observasi… Yaa sudah, kasih ke sana (red: top management) (Jadi tidak melakukan penyebaran kuesioner lainnya?) Tidak… Tidak… Observasi kan sudah bisa dilihat sebenarnya masih terdapat beberapa mahasiswa yang merokok tidak pada tempatnya, di luar area yang tadi. Karena kan masih empat area waktu itu.”87
86
Wawancara yang dilakukan dengan Ir. Arissetyanto Nugroho, MM., Rektor Universitas Mercu Buana, Jumat, 26 November 2010, pukul 10.00 WIB.
87Wawancara yang dilakukan dengan Irmulan Sati, SH., M.Si., Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana, Minggu, 10 Oktober 2010, pukul 10.00 WIB.
Riset yang dilakukan oleh tim Humas berupa riset kualitatif dengan menggunakan metode observasi.
Hal senada juga dilengkapi oleh Bapak Drs. A. Rahman, MM., selaku Kepala Biro Pengendalian Kegiatan dan Program Unggulan Universitas Mercu Buana, yaitu:
“Pasti evaluasi… kita evaluasi… kita evaluasi melalui rapat koordinasi dengan semua tim tadi itu. Kemudian apa… Direktorat Kemahasiswaan kita rapat. Kemudian dengan pimpinan kita juga rapat. Jadi kita laporkan perkembangan-perkembangannya. Supaya kita tahu positioningnya ada dimana. (Berarti hanya diobservasi? Disurvei tidak, Pak? Pakai kuesioner gitu tidak, Pak?) Sementara ini kita masih observasi… observasi… dengan data-data yang ada, dengan fakta yang kita ambil dari mahasiswa yang merokok itu. Kemudian dari monitoring langsung. Dari perubahannya kan keliatan tuh. (Seluruh tim yaa yang melakukan evaluasi ini?) Sementara ini yang intensif itu karena yang bertanggungjawab itu di kemahasiswaan kan. Yang lain itu kan supporting. Nah, lebih spesifik lagi, kemahasiswaan menunjuk langsung Kepala Keamanan beserta staf nya untuk mengeksekusi.”88
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, ditemukan beberapa temuan terkait dengan Kampanye Kampus Bebas Rokok Universitas Mercu Buana yang dilakukan. Temuan-temuan ini menyatakan bahwa kampanye ini dapat dinyatakan berhasil jika dilihat dari sisi satunya dan dinyatakan tidak berhasil jika dilihat dari sisi lainnya. Berdasarkan wawancara dengan Bapak Ir. Arissetyanto Nugroho, MM., selaku Rektor Universitas Mercu Buana, yaitu:
88Wawancara yang dilakukan dengan Drs. A. Rahman, MM., Kepala Biro Pengendalian Kegiatan dan Program Unggulan Universitas Mercu Buana, Rabu, 24 November 2010, pukul 10.00 WIB.
“Yaa kalau sebenarnya kita melihat, ada yang berhasil, ada yang belum yaa. Kalau berhasil yaa itu tadi, dari orang yang daerah merokok empat jadi satu. Belum berhasil yaa itu, daerah merokoknya semakin kecil tapi orang yang merokok juga ternyata ada yang tidak mau diarahkan untuk merokok di tempat yang diperbolehkan. (Kalau diukur 100%, sudah berapa persen Pak berhasilnya?) Nah itu yang saya belum bisa menjawab karena kalau bicara angka itu detailnya ada di kemahasiswaan. Jadi berapa rokok yang bisa disita, kemudian dari berapa menjadi berapa. Karena ukuran keberhasilan itu juga salah satunya, misalnya tahun lalu ada 300 temuan, sekarang ada 200 temuan. Nah, itu peningkatan dan itu ada di kemahasiswaan.”89
Kampanye ini dinyatakan berhasil dalam menumbuhkan awareness atau pengetahuan seluruh target sasarannya mengenai bahaya merokok dan pengetahuan bahwa kampus Universitas Mercu Buana adalah lingkungan atau daerah dilarang merokok dan bila mereka ingin merokok, telah disediakan tempat untuk merokok. Hal ini dinyatakan dalam wawancara dengan Bapak Drs. A. Rahman, MM., selaku Kepala Biro Pengendalian Kegiatan dan Program Unggulan Universitas Mercu Buana, yaitu:
“Oh, udah… udah berhasil. Kita sudah menganggap ini sudah cukup berhasil. (Karena dilihat dari?) Tingkat pengetahuannya, pemahamannya, yaa kemudian dilihat dari tingkat aksinya. Itu sudah sangat maksimal. Bahwa ada satu atau dua, kita tidak begitu menganggap. Kita… kita… apa… kita terima masih ada satu atau dua, dia di pojok-pojok, tapi terang-terangan, buka-bukaan itu di tempat yang ditentukan… (Yaitu di kantin itu?) di kantin, di lantai dasar.”90
89
Wawancara yang dilakukan dengan Ir. Arissetyanto Nugroho, MM., Rektor Universitas Mercu Buana, Jumat, 26 November 2010, pukul 10.00 WIB.
90Wawancara yang dilakukan dengan Drs. A. Rahman, MM., Kepala Biro Pengendalian Kegiatan dan Program Unggulan Universitas Mercu Buana, Rabu, 24 November 2010, pukul 10.00 WIB.
Sementara itu, kampanye ini dinyatakan belum berhasil karena belum mampu merubah perilaku para perokok untuk tidak lagi merokok di lingkungan kampus Universitas Mercu Buana. Hal ini disebabkan karena belum adanya punishment yang tegas dari pihak kampus kepada para perokok yang tertangkap tangan sedang merokok di lingkungan kampus. Hal ini juga dinyatakan oleh Ibu Irmulan Sati, SH., M.Si., selaku Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana dalam wawancara sebagai berikut:
“Oh, saya melihat belum yaa. Saya sendiri melihat kalau kampanye kampus bebas rokok itu tidak berhasil malah. Kenapa? Karena memang tidak keberlanjutan tadi karena sebuah kampanye bisa dianggap berhasil kalau ada perubahan perilaku kan. Nah, perubahan perilaku itu kan belum sampai ke tahapan situ masalahnya. Sehingga di sini nih, ada kepotong nih. Kalau saya pribadi sih melihat, kalau angkanya 100%, mungkin masih 70% berhasil. 30% nya ini yang masih perlu adanya keberlanjutan kampanye dan awareness dan sama punishment. Gitu aja. (Punishment yang disebutkan tadi yaa) Awareness nya bisa didapatkan dari mana kalau tidak ada punishment. Makanya percuma dan biayanya mahal juga kampanye itu.”91
Hal senada juga disampaikan oleh Sdr. Nasha Suprapto, selaku perwakilan mahasiswa Universitas Mercu Buana yang merokok yang diwawancarai, yaitu:
“Saya kurang tahu berapa apa saja kriteria yang ingin dicapai dalam mengukur efektifitas kampanye ini. Namun, menurut penilaian saya secara subjektif, kampanye UMB bebas rokok belum berhasil, dikarenakan masih banyaknya mahasiswa yang merokok di koridor-koridor depan pintu masuk kelas, di tangga-tangga, atrium, dan sebagainya. Hal tersebut mereka lakukan, termasuk saya, hehehe…
91Wawancara yang dilakukan dengan Irmulan Sati, SH., M.Si., Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana, Minggu, 10 Oktober 2010, pukul 10.00 WIB.
karena tidak adanya sanksi yang jelas karena melanggar merokok di sembarang tempat. Selain itu pengawasan dilakukan juga hampir tidak ada, hanya beberapa dosen yang secara proaktif menindak mahasiswa atau orang yang merokok di sembarang tempat seperti menyuruh untuk mematikan rokok, memperingatkan untuk merokok di kantin, bahkan sampai menarik sendiri dan mematikan rokok yang sedang dinikmati para perokok. Saya yakin, jika sosialisasi sanksi pelanggaran merokok di sembarang tempat dan pengawasan terhadap penyelenggaran peraturan dilakukan secara optimal, kampanye UMB bebas rokok bisa lebih efektif dan berhasil.”92
Didukung juga oleh Sdri. Horidatul Bakiyah, selaku perwakilan mahasiswa Universitas Mercu Buana yang tidak merokok yang diwawancarai, yaitu:
“Belum, karena masih banyak civitas akademik yg merokok. Butuh waktu yang cukup lama untuk merubah perokok aktif supaya mereka bisa aware, paham, dan patuh akan himbauan pembatasan tempat bahkan pelarangan merokok. Terus kalau menurut aku, petugasnya harus lebih tegas, bukan sekedar satpam saja. Ada yang harus menegur yang ditakuti oleh mahasiswa, atau bekerja sama dengan setiap fakultas memberikan sanksi yang harus benar-benar tegas. Tapi sebelumnya harus disosialisasiin dulu kak, misalnya menyangkut mata kuliah bahkan berhubungan dengan nilai. Merokok boleh saja, tapi harus patuh akan peraturan yaitu merokok pada tempat yang disediakan. Untuk sementara itu kak. Kalau untuk merubah semua mahasiswa agar tidak merokok itu sulit kak. Semuanya butuh proses. Pasti ada pro dan kontra kalau UMB memang benar-benar bersih tanpa asap rokok.”93
Bahkan, Sdr. Yunas Permana, selaku perwakilan mahasiswa Universitas Mercu Buana yang merokok yang diwawancarai, menyebutkan:
92
Wawancara yang dilakukan dengan Nasha Suprapto, perwakilan mahasiswa Universitas Mercu Buana yang merokok tapi teratur, Minggu, 12 Desember 2010, pukul 15.00 WIB.
93Wawancara yang dilakukan dengan Horidatul Bakiyah, perwakilan mahasiswa Universitas Mercu Buana yang tidak merokok, Senin, 13 Desember 2010, pukul 14.00 WIB.
Belum. Karena kurangnya sosialisasi dan ketegasan dari pihak kampus. Kalau mau memberlakukan larangan, dibutuhkan sanksi agar program kampanye tersebut berjalan. (Jadi yang kurang adalah sanksi?) Iya, dan sosialisasinya tadi itu.94
Peneliti juga melakukan pengamatan langsung di lapangan untuk melihat pelaksanaan kampanye Kampus Bebas Rokok Universitas Mercu Buana. Hal ini juga dapat menjadi perbandingan atas apa yang telah disebutkan dalam wawancara dengan narasumber kunci sebelumnya dan menjadi proses evaluasi.
Pada hari Rabu, 15 Desember 2010 pukul 10.00 – 11.00 WIB di koridor Gedung D lantai dasar, terlihat lima mahasiswa sedang duduk di kursi di depan ruang POP (Pusat Operasional Perkuliahan). Dua dari lima mahasiswa tersebut terlihat sedang merokok. Mereka saling berbicara dengan asyik dan mahasiswa yang merokok tetap merokok. Ketiga temannya yang lain pun tidak merasa terganggu. Padahal, tepat di bagian atas kursi tempat mereka duduk dan bercengkerama, terdapat sebuah spanduk besar yang bertuliskan “UMB Tanpa Asap Rokok. Smoking Area Kantin UMB Lantai 1”.
Sementara, di koridor di sebelah ruang POP yang menuju ke atrium, terdapat empat kelompok mahasiswa yang duduk dan bercengkerama di masing-masing kursi besar. Beberapa di antara mereka terlihat sedang memainkan laptop dan saling mengobrol. Salah satu mahasiswa terlihat sedang merokok dan tidak peduli dengan
94Wawancara yang dilakukan dengan Yunas Permana, perwakilan mahasiswa Universitas Mercu Buana yang merokok tapi tidak terautr, Sabtu, 19 Februari 2011, pukul 15.00 WIB.
lingkungannya. Di bagian dinding sebelah kiri dan kanan masing-masing terdapat poster “STOP MEROKOK MULAI DETIK INI”.
Di bagian ujung koridor dekat mushola, terlihat sekitar lima orang mahasiswa sedang duduk di lantai dan bercengkerama. Mereka tidak ada yang terlihat sedang merokok. Di dinding bagian luar sebelah kanan mushola juga terdapat sebuah poster “STOP MEROKOK MULAI DETIK INI”.
Di depan POP sendiri terletak sebuah banner yang berisikan proses untuk mengajukan komplain. Banner ini merupakan banner yang digunakan untuk mengganti banner kampanye Kampus Bebas Rokok yang juga diletakkan di tempat yang sama sebelumnya. Banner kampanye Kampus Bebas Rokok yang dimaksud adalah banner yang bergambar paru-paru perokok yang berwarna hitam, sebagai pertanda bahwa merokok itu berbahaya.
Pada hari Rabu, 15 Desember 2010 pukul 11.00 – 12.00 WIB di ujung koridor Gedung A dekat pintu masuk, terlihat banyak mahasiswa sedang duduk di setiap kursi yang terdapat di koridor gedung A. Beberapa di antara mereka terlihat duduk di anak tangga yang terdapat di sana.
Juga terlihat beberapa mahasiswa yang sedang mengurusi administrasi perkuliahan di Tata Usaha Fakultas Ekonomi, Biro Administrasi Keuangan dan Biro Adminitrasi Akademik. Di ujung koridor A yang mengarah ke atrium, terlihat beberapa mahasiswa sedang melakukan aktivitas fotokopi di Koperasi Karyawan. Di koridor gedung A tidak terlihat mahasiswa yang merokok.
Di sepanjang koridor B, terlihat juga mahasiswa sedang duduk di kursi yang disediakan di sepanjang koridor B. Beberapa mahasiswa juga sedang mengurus administrasi perkuliahan di Tata Usaha Fakultas Teknik. Di koridor gedung B juga tidak terlihat mahasiswa yang merokok.
Pada hari Rabu, 15 Desember 2010 pukul 12.00 – 13.00 WIB di kantin lantai dasar Universitas Mercu Buana terlihat ramai di saat makan siang. Kantin lantai dasar ini dipadati oleh mahasiswa Universitas Mercu Buana. Seluruh meja dan kursi terlihat penuh. Beberapa mahasiswa tampak sedang memesan makanan dan minuman di counter makanan dan minuman. Di sini, terlihat sekitar 10 mahasiswa sedang merokok.
Di kantin lantai dasar ini juga terlihat ada sebuah papan bertuliskan “Area Merokok” di bagian kantin yang menghadap ke Tower Universitas Mercu Buana.
Dalam rentang waktu pukul 13.00 – 14.00 WIB, peneliti melanjutkan pengamatan di kantin lantai satu juga terlihat ramai dengan mahasiswa dan beberapa dosen yang memenuhi seluruh meja dan kursi. Beberapa dari mereka terlihat memesan makanan dan minuman di counter makanan yang terletak di sana. Beberapa mahasiswa juga sedang memainkan laptop.
Di kantin lantai satu ini terlihat banyak mahasiswa dan beberapa dosen sedang merokok sambil berbincang satu dengan yang lainnya.
Pada hari Rabu, 15 Desember 2010 pukul 14.00 – 15.00 WIB di area atrium terlihat cukup ramai dengan mahasiswa yang sedang duduk-duduk di sana. Seluruh meja dan kursi di atrium penuh dengan mahasiswa yang sedang bercengkerama,
mengerjakan tugas bersama-sama dan memainkan laptop. Di tengah atrium, terdengar suara dari radio kampus yang memutarkan musik dan sesekali terdengar suara penyiar radio.
Terlihat satu kelompok mahasiswa di sebuah meja dekat dengan kantor Marketing yang lama, sedang makan dan minum. Sekitar tiga orang sedang merokok. Mereka semua tidak perduli dengan sekitarnya.
Di ujung atrium terdapat mushola dan WC yang ramai oleh mahasiswa. Beberapa mahasiswa tampak menggunakan WC dan mushola. Beberapa mahasiswa terlihat dudukn di lantai sambil mengenakan sepatunya seusai melaksanakan sholat.
Di sepanjang koridor di depan UMBCC terlihat sekelompok mahasiswa yang sedang duduk dan bercengkerama di sana. Tidak terlihat mereka merokok.
4.3. Pembahasan
Berdasarkan hasil wawancara mendalam yang dilakukan peneliti dengan semua narasumber, maka dalam pembahasan ini, peneliti akan menganalisa hasil penelitian sesuai dengan kerangka pemikiran dan konsep yang menjadi acuan peneliti sehingga dapat menjawab permasalahan-permasalahan yang ada, dan dapat mengemukakan temuan-temuan yang didapat dari penelitian ini.
Public relations dalam menyampaikan pesan dari organisasi kepada
kampanye. Kampanye yang dilakukan oleh seorang public relations harus diciptakan sebaik mungkin sesuai dengan target sasaran yang dituju.
Pada dasarnya, kampanye public relations dapat dibagi menjadi dua pengertian, yaitu kampanye public relations dalam arti luas dan kampanye public
relations dalam arti sempit. Kampanye public relations dalam arti luas, berusaha
memberikan penerangan terus-menerus serta pengertian dan memotivasi masyarakat terhadap suatu kegiatan atau program tertentu melalui proses dan teknik komunikasi yang berkesinambungan dan terencana untuk mencapai publisitas dan citra positif. Sementara kampanye public relations dalam arti sempit bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan khalayak sasaran untuk merebut perhatian serta menumbuhkan persepsi atau opini yang positif terhadap suatu kegiatan dari lembaga atau organisasi agar tercipta suatu kepercayaan dan citra yang baik dari masyarakat melalui penyampaian pesan yang intens dengan proses komunikasi dan jangka waktu tertentu yang berkelanjutan. Dalam penelitian ini, peneliti ingin menggambarkan kampanye public relations dalam arti sempit, yaitu Kampanye Kampus Bebas Rokok yang dilakukan oleh tim kampanye Universitas Mercu Buana, dengan salah satu anggotanya adalah Biro Humas Universitas Mercu Buana, kepada seluruh civitas akademika Universitas Mercu Buana.
Penelitian ini menitikberatkan pada cara kampanye Kampus Bebas Rokok ini dilakukan. Dalam prakteknya, Biro Humas Universitas Mercu Buana melakukan sosialisasi kampanye ini dan terus bekerjasama dengan bagian lain di Universitas
Mercu Buana. Bagian yang paling sering berhubungan adalah Direktorat Kemahasiswaan sebagai pelaksana utama di lapangan.
Melalui kampanye, public relations harus merencanakan, menjalankan dan mengevaluasi kampanye tersebut secara langsung di lapangan. Pesan-pesan harus dirancang dengan sebaik mungkin dan disesuaikan dengan target khalayak yang dituju sehingga dapat tepat sasaran sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Dari hasil penelitian ini, peneliti akan menjelaskannya sebagai berikut: