BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Tempat Penelitian
Gambaran umum tempat penelitian berisi deskripsi mengenai lokasi penelitian berlangusng. Pada bagian ini, peneliti akan memaparkan mengenai sejarah, visi dan misi, tujuan, logo dan semua hal yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti.
4.1.1. Sejarah Universitas Mercu Buana
Pengusaha H. Probosutedjo yang mempunyai pengalaman sebagai guru di Perguruan Taman Siswa, Pematang Siantar, Sumatera Utara, pada tanggal 10 November 1981 mendirikan Akademi Wiraswasta Dewantara (AWD), dan peresmiannya dilakukan oleh almarhum Bapak H. Adam Malik, Wakil Presiden Republik Indonesia saat itu. Dewantara diambil dari nama tokoh Pendidikan Nasional, yaitu Ki Hajar Dewantara.
Misi pendidikan akademi ini antara lain adalah mengembangkan model pendidikan untuk melahirkan pengusaha Pancasilais, dan kader-kader pembangunan yang mandiri serta mampu menciptakan kesempatan kerja.
Sebelum memiliki kampus sendiri, penyelenggaraan perkuliahan dilaksanakan di Gedung Yayasan Tenaga Kerja Indonesia (YTKI) Jl. Gatot Soebroto. Tahun 1984
Yayasan Menara Bhakti berhasil membangun sebuah kampus yang diberi nama Kampus Menara Bhakti.
Pada tahun 1985, berbekal kemampuan dan pengalaman dalam menyelenggarakan pendidikan Akademi Wiraswasta Dewantara, timbul gagasan mendirikan lembaga pendidikan tingkat universitas. Dengan Surat Keputusan Ketua Yayasan Menara Bhakti Nomor: 04/SKEP/KET/VI/1985 tanggal 12 Juni 1985, dibentuk Panitia Pendirian Universitas, dengan Ketua Dr. Sri-Edi Swasono dan dibantu oleh H. Abdul Madjid, Drs. Iman Santosa Sukardi (almarhum), Drs. M. Enoch Markum, Ir. Suharyadi, M.S, Soekarno dan Prijo S. Parwoto (almarhum).
Setelah melalui persiapan pendirian dan studi kelayakan, dengan Nomor: 010/KET/YMB/VI/85 tanggal 12 Juni 1985, Yayasan mengajukan permohonan izin mendirikan Universitas Mercu Buana (UMB) kepada Kopertis Wilayah III.
Berdasarkan surat Nomor: 15/KOP.III/S.VI/85 yang ditandatangani oleh Prof. Dr. Boesjra Zahir (almarhum), pada tanggal 18 Juni 1985, Kopertis Wilayah III menyetujui dan memberikan izin operasional kepada Universitas Mercu Buana.
Pada tanggal 22 Oktober 1985 Universitas Mercu Buana secara resmi dinyatakan berdiri, dengan Fakultas dan Jurusan sebagai berikut:
1. Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Arsitektur dan Jurusan Teknik Sipil.
2. Fakultas Pertanian, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian (Agrobisnis) dan Jurusan Budidaya Pertanian (Agronomi).
Jumlah mahasiswa pada tahun pertama tersebut sebanyak 118 orang. Satu tahun kemudian, berdasarkan hasil eveluasi Kopertis Wilayah III, keenam jurusan yang ada memperoleh status "Terdaftar" dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, melalui Surat Keputusan Nomor: 0507/1986.
Dalam rangka memenuhi tuntutan perkambangan pendidikan di masyarakat, dengan izin operasional dari Kopertis Wilayah III Nomor: 12/Kop.III/S.VI/86 tanggal 5 Juni 1986, pada tahun akademik 1986/1987 Fakultas Teknik membuka Jurusan Teknik Mesin dan Fakultas Pertanian membuka Jurusan Mekanisasi Pertanian.
Selanjutnya pada tahun akademik 1987/1988, Fakultas Teknik membuka Jurusan Teknik Elektro. Memasuki tahun akademik 1988/1989 terjadi perkembangan baru di Universitas Mercu Buana. Berdasarkan usulan Ketua Yayasan Menara Bhakti dengan persetujuan Kopertis Wilayah III, Akademi Wiraswasta Dewantara dinyatakan bergabung ke dalam Universitas Mercu Buana. Pendidikan akademi tersebut menjadi Program D3 Manajemen Perusahaan di bawah Fakultas Ekonomi dengan status "Terdaftar". Tahun 1989, Jurusan Teknik Mesin memperoleh status "Terdaftar", berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 0382/06/1989 tanggal 21 Juni 1989, demikian juga untuk Jurusan Mekanisasi Pertanian, tanggal 6 Agustus 1990 memperoleh status "Terdaftar", dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 0495/08/1990.
Upaya-upaya penting dan strategis guna meningkatkan kualitas akademik terus dilakukan. Secara bertahap, sejalan dengan upaya itu Universitas Mercu Buana melengkapi berbagai sarana dan fasilitas pendidikannya. Berkat kerja keras dan
dedikasi yang sungguh-sungguh tersebut, menjelang Dies Natalis VI, pada tanggal 30 Mei 1991, berdasarkan Surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 0286/05/1991, Universitas Mercu Buana memperoleh status “Diakui”, untuk:
1. Fakultas Teknik; Jurusan Teknik Arsitektur, Jurusan Teknik Sipil dan Jurusan Teknik Mesin.
2. Fakultas Pertanian; Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian (Agrobisnis), Jurusan Budidaya Pertanian (Agronomi) dan Jurusan Mekanisasi Pertanian.
3. Fakultas Ekonomi; untuk Jurusan Manajemen, Jurusan Akuntansi dan Program D3 Manajemen Perusahaan.
Sementara itu, Jurusan Teknik Elektro juga sudah memperoleh status “Terdaftar” berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 0132/03/1991 tanggal 21 Maret 1991. Keberhasilan yang dicapai dalam pengembangan penyelenggaraan pendidikan semakin mendorong semangat segenap civitas akademika untuk terus mengupayakan penyempurnaan pada setiap bidang kegiatan dengan melakukan koreksi, introspeksi dan mencari umpan balik guna lebih mengokohkan sistem penyelenggaraan pendidikan.
Akhirnya, berkat kesungguhan tersebut serta bimbingan Kopertis Wilayah III, maka pada 28 April 1992 dengan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Tinggi Nomor: 163/DIKTI/Kep/1992 seluruh jurusan di Universitas Mercu Buana memperoleh status “Disamakan”.
Dalam mengantisipasi Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 0686/U/1991 yang mensyaratkan di setiap universitas minimal terdiri dari
tiga fakultas eksakta dan dua fakultas sosial, maka melalui berbagai persiapan yang didahului dengan studi kelayakan, Universitas Mercu Buana mengembangkan fakultas dan jurusan baru. Pada tahun akademik 1994/1995, Universitas Mercu Buana telah mempunyai lima fakultas dengan tiga belas jurusan. Tahun 2000/2001 telah dibuka Jurusan Teknik Industri dibawah Fakultas Teknologi Industri berdasarkan keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 290/DIKTI/Kep/2000 dengan status “Terdaftar”.
Saat ini Universitas Mercu Buana terdiri atas enam fakultas dengan dua puluh satu program studi dan atau konsentrasi, dengan rincian sebagai berikut:
1. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan; program studi Teknik Sipil, Teknik Arsitektur, Design Grafis dan Multimedia, serta Design Interior (D3).
2. Fakultas Ilmu Komputer; program studi Teknik Informatika dan Sistem Informasi.
3. Fakultas Teknik; program studi Teknik Mesin, Teknik Elektronika dan Teknik Industri.
4. Fakultas Ekonomi; program studi Manajemen Perusahaan, Akuntansi, Manajemen (D3) dan Akuntansi (D3).
5. Fakultas Ilmu Komunikasi; program studi Broadcasting, Public Relations,
Marketing Communication and Advertising, dan Visual Communication.
6. Fakultas Psikologi; program studi Psikologi Industri dan Organisasi, serta Psikologi Perkembangan.
4.1.2. Lambang Universitas Mercu Buana
4.1.2.1. Dasar Pemikiran
Filosofi logo mengacu pada tekad dan komitmen para pendiri dan penerus Mercu Buana untuk memberikan dan menjadi yang terbaik.
4.1.2.2. Filosofi Nama
Penamaan Mercu Buana didasari oleh tekad dan komitmen para pendiri Universitas Mercu Buana untuk memberikan yang terbaik demi meningkatkan mutu pendidikan dan kecerdasan Bangsa Indonesia.
Penamaan Mercu Buana berasal dari kata mercu yang berarti “menara” dan buana yang berarti “bumi”. Menara melambangkan kekokohan dan pedoman, sedangkan buana melambangkan masyarakat. Secara simbolis, penamaan Mercu
Buana melambangkan tekad untuk menjadi perguruan tinggi panutan yang membawa manfaat bagi bangsa Indonesia di dalam mencapai masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
4.1.2.3. Filosofi Visual
Visual logo Mercu Buana disarikan dari nyala api yang terbagi menjadi tiga bagian. Ketiga bagian ini melambangkan Tridarma perguruan tinggi. Darma pendidikan dilambangkan dengan nyala api di tengah yang paling tinggi. Penunjangnya adalah dua nyala api yang mengapitnya yang melambangkan darma penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Ketinggian api yang berbeda melambangkan visi yang dinamis, di samping arah tujuan yang jelas. Bentuk dasar logo Universitas Mercu Buana yang oval melambangkan ketajaman pemikiran Universitas Mercu Buana.
Nyala api, menyiratkan tekad dan komitmen para pendiri dan penerus untuk memberikan dan menjadikan civitas akademika Universitas Mercu Buana sebagai pemberi manfaat bagi lingkungan.
Api biru yang tenang, menyiratkan tekad untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dan beretika.
4.1.2.4. Filosofi Warna
Warna yang digunakan adalah biru tua, biru muda dan hijau, dengan makna :
Warna biru tua, melambangkan kematangan dan pelayanan.
Warna biru muda, mencerminkan kecemerlangan, kualitas, dan masa depan.
Warna hijau, melambangkan kebijaksanaan dan kemakmuran.
4.1.3. Visi dan Misi Universitas Mercu Buana
Sebagai salah satu lembaga pendidikan di Indonesia, Universitas Mercu Buana berjalan dengan visi, misi dan tujuan yang terarah dan telah terbentuk dari sejak Universitas Mercu Buana dibangun.
4.1.3.1. Visi Universitas Mercu Buana
Menjadi lembaga pendidikan tinggi yang unggul dan bermutu dalam proses penyelenggaraan Tridarma Perguruan Tinggi untuk menghasilkan tenaga profesional berjiwa wirausaha yang mampu menguasai teknologi informasi, mampu berbahasa Inggris dan beretika.
4.1.3.2. Misi Universitas Mercu Buana
1. Menyelenggarakan Tridarma untuk menghasilkan tenaga professional. 2. Menumbuhkan jiwa wirausaha dan sikap mental serta perilaku etika.
4.1.3.3. Tujuan Universitas Mercu Buana
1. Menghasilkan lulusan yang profesional di bidangnya.
2. Terciptanya kehidupan masyarakat akademik yang dinamis bertanggung jawab.
3. Terciptanya manajemen pendidikan yang berorientasi pada mutu serta mampu bersaing secara nasional.
4. Menghasilkan penelitian yang tepat guna bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
5. Terselenggaranya program pengabdian pada masyarakat yang tepat sasaran sebagai bentuk implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
6. Tersedianya fasilitas prasarana dan sarana pendidikan yang berkualitas.
7. Kegiatan co-kurikuler dan ekstrakurikuler yang dititik beratkan pada pembinaan sikap mental, jati diri, iman dan taqwa.
8. Terjalinnya kerjasama atau kemitraan dalam berbagai bidang, baik dengan lembaga pemerintah maupun swasta, di tingkat nasional maupun internasional.
9. Terciptanya sistem pelayanan dan bidang kerja yang berorientasi pada kepuasan stakeholder.
4.1.4. Public Relations Universitas Mercu Buana
Mengacu pada Memorandum Rektor Universitas Mercu Buana, maka dibutuhkan peran Humas yang signifikan mendukung pencapaian tujuan organisasi Universitas Mercu Buana pada umumnya dan Direktorat Marketing pada khususnya. Beberapa hal yang perlu dikaji dalam memorandum tersebut meliputi59:
1. Peningkatan peran Humas, perawatan dan update informasi di web Universitas Mercu Buana dan media lain
2. Melakukan komunikasi dengan orang tua (ucapan selamat kepada orang tua untuk mahasiswa berprestasi dan mendapat beasiswa)
3. Membina hubungan baik untuk internal dan eksternal
4. Memperbanyak peliputan dan penyebaran informasi setiap kegiatan di kampus
Goodwill dan komitmen tidak saja dari Biro Humas & Customer Care dan
tim, namun lebih dari itu yakni Top Management Universitas Mercu Buana. Jika melihat struktur Humas & Customer Care Universitas Mercu Buana lebih mengedepankan pada Marketing Public Relations Tools yang sepenuhnya mendukung kepada fungsi marketing, namun sebenarnya tidak terlibat dalam aktivitas penjualan. Pada dasarnya yang dilakukan oleh Humas & Customer Care lebih kepada edukasi, sosialisasi, dan penumbuhan kesadaran (awareness)
59Rapat Kerja Direktorat Marketing, Rancangan dan Program Biro Humas dan Customer Care Tahun Akademik 2008/2009, hal 1
stakeholder khususnya konsumen, media, dan masyarakat pada umumnya. Dari aktivitas tersebut akan berpengaruh secara signifikan untuk membentuk persepsi positif konsumen, calon konsumen, media massa, bahkan stakeholder yang relevan lainnya.60
4.1.4.1. Peran dan Fungsi Public Relations Universitas Mercu Buana
Program-program yang ada di Biro Humas & Customer Care dalam mendukung tugas Direktorat Pemasaran serta meningkatkan peran dan fungsi Biro Humas & Customer Care61, yaitu:
1. Consumer Relations, meliputi:
a. Kampanye Customer Care (pembuatan pin, poster, stiker, portofolio, billboard, spanduk printing)
b. Direct mail ke orang tua mahasiswa berprestasi
c. Direct mail ke perusahaan tempat magang atau Praktek Kerja Lapangan (PKL) masing-masing program studi
2. Media Relations dan Publicity, meliputi: a. Press conference
b. Media visit
60Ibid, hal 3 61Ibid, hal 3-6
c. Media monitoring d. Corporate advertorial
e. Publicity semua event program studi, pasca, kemahasiswaan, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Program Kelas Karyawan (PKK), dan marketing
3. Community Relations, meliputi:
a. Komunitas baca untuk anak-anak tidak mampu di sekitar Universitas Mercu Buana (Komunitas Baca Mercu Buana)
b. Charity Event untuk panti asuhan di sekitar Universitas Mercu Buana dalam rangka bulan puasa dan Idul Fitri
4. Stakeholder Relations, meliputi:
a. Pertemuan dengan lembaga eksternal 5. Pengelolaan Event dan Protokoler, meliputi:
a. Mendukung event dan protokoler fakultas atau program studi, pasca, kemahasiswaan atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), marketing, dan Program Kelas Karyawan (PKK)
b. UMB Fair
c. Public Relations Educational Forum 6. Publikasi, Sosialisasi, dan Dokumentasi, meliputi:
a. Pengelolaan isi website (berita, foto, video streaming, release berita Universitas Mercu Buana di media massa)
c. Penerbitan newsletter d. Penerbitan Mergazine
e. Penerbitan company profile cetak Universitas Mercu Buana
f. Pembuatan Public Relations Kit / souvenir (pin, kaos, goodie bag,
scraft, dasi, souvenir wayang, souvenir gambar Universitas Mercu
Buana, mug)
g. Pembuatan company profile audio visual untuk SMU h. Pembuatan mading Humas dan Customer Care
i. Sosialisasi tentang Universitas Mercu Buana dan form pengaduan di Dunia Kampus, rapat internal dosen reguler dan PKK
j. Pembuatan video streaming website
4.2. Hasil Penelitian
Hasil penelitian merupakan data-data temuan peneliti di lapangan selama proses penelitian dilakukan. Data-data yang terkumpul ini dapat berupa data primer, yaitu hasil wawancara mendalam yang dilakukan oleh peneliti dengan narasumber kunci dan hasil observasi peneliti dengan terjun langsung untuk melakukan pengamatan di lapangan untuk melihat fakta yang terjadi.
Selain itu, peneliti juga menggunakan data sekunder, meliputi studi kepustakaan, hasil riset pra-kampanye yang dilakukan oleh Biro Humas & Customer
Care terkait dengan Kampanye Kampus Bebas Rokok, dokumentasi design media kampanye, dan lainnya.
4.2.1. Analisis Masalah
Sebuah kampanye yang dilakukan oleh public relations, seperti Kampanye Kampus Bebas Rokok yang dilakukan oleh Universitas Mercu Buana, membutuhkan analisis masalah. Analisis masalah menjadi langkah awal yang penting untuk dilakukan jika kita ingin kampanye yang dilakukan menjadi sukses. Banyak pihak yang tidak melakukan analisis masalah terlebih dahulu sebelum melakukan kampanye. Tidak adanya waktu yang cukup serta membuang biaya dan tenaga menjadi alasan yang seringkali didengar ketika analisis masalah mulai diperdebatkan untuk dilakukan sebelum kampanye. Analisis masalah berguna untuk mengetahui faktor apa sajakah yang menyebabkan timbulnya suatu permasalahan, faktor-faktor yang mempengaruhinya, bagaimana pandangan, keinginan dan kebutuhan pihak-pihak terkait akan permasalahan tersebut.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Ir. Arissetyanto Nugroho, MM, selaku Rektor Universitas Mercu Buana, yaitu:
“Oh iya, jelas. Jadi seperti yang saya sampaikan tadi, dulu pernah ada penelitian awal dari Humas. Memang kecenderungannya semakin hari semakin banyak generasi muda yang merokok. Ini juga akibat dari promosi. Kalau kita lihat music itu dimana-mana sponsornya selalu rokok. Jadi konotasinya kemudian, rokok itu selalu identik dengan kejantanan. Anak muda yang sudah dihidupkan isu kejantanan, hatinya
akan tergerak. Kalau tidak merokok itu banci. Jadi anak-anak, termasuk juga di UMB sendiri… Jadi yaa dari hasil analisa awal itu, bukan hanya mahasiswa, mahasiswi pun juga kita lihat sudah banyak yang mulai merokok juga. Kalau bicara hak, semua orang juga punya hak. Juga jangan sampai hak itu merugikan orang yang tidak merokok, sebagai passive somker. Kan kasihan. Ini akan kita analisa terus-menerus supaya tadi itu… agar perilaku merokok itu semakin hari semakin berkurang, dialihkan menjadi perilaku yang lebih positif, memiliki nilai tambah terhadap keberadaan mereka sebagai mahasiswa UMB. Yaa contohnya tadi itu, olahraga atau memberli buku, kegiatan-kegiatan yang orang memang tidak boros tapi lebih bersifat ilmu pengetahuan, yang membuat dirinya menjadi memiliki nilai tambah.”62
Tim Kampanye Kampus Bebas Rokok Universitas Mercu Buana sendiri telah melakukan analisis masalah sebelum melakukan perencanaan kampanye itu sendiri. Dari analisis masalah tersebut, dapat terlihat, apa saja penyebab, keinginan dan kebutuhan stakeholder Universitas Mercu Buana akan kampus bebas rokok. Dari wawancara yang dilakukan dengan Bapak Rektor tersebut, diketahui bahwa promosi gencar-gencaran yang dikaitkan dengan isu kejantanan menjadi penyebab utama mahasiswa untuk merokok. Hal ini diperparah dengan semakin meningkatnya jumlah mahasiswi yang mulai ikut merokok.
Hal senada juga diungkapkan oleh pelaksana teknis Kampanye Kampus Bebas Rokok Universitas Mercu Buana, yaitu Ibu Irmulan Sati, SH., M.Si., selaku Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana, yaitu:
“Kalau tahapan itu sebenarnya kita melakukan riset dulu, mengidentifikasi bagaimana karakter mahasiswa dan karyawan yang merokok maupun yang tidak merokok. Mahasiswa dan karyawan yang merokok itu sebenarnya setuju dengan itu dan mereka juga setuju dengan
62Wawancara yang dilakukan dengan Ir. Arissetyanto Nugroho, MM., Rektor Universitas Mercu Buana, Jumat, 26 November 2010, pukul 10.00 WIB.
adanya pembatasan wilayah merokok sehingga ada tempat-tempat yang khusus merokok.”63
Secara lebih jelasnya, riset yang dilakukan oleh Tim Humas menunjukkan bahwa stakeholder Universitas Mercu Buana yang merokok itu menyetujui adanya pembatasan wilayah merokok sehingga terdapat beberapa tempat khusus merokok.
Berdasarkan hasil riset pra kampanye yang dilakukan oleh Biro Humas & Customer Care (terlampir), untuk kelompok perokok, hasilnya menunjukkan bahwa kelompok perokok umumnya tidak setuju area bebas rokok dan jika tidak ada zona merokok, namun setuju sanksi diberikan jika ketahuan merokok di area bukan zona merokok. Selain itu, ketidakpedulian terhadap lingkungan saat merokok cukup tinggi, sehingga perlu perlakuan khusus terhadap mereka yang cuek terhadap lingkungannya.
Untuk kelompok bukan perokok, umumnya mereka setuju area bebas rokok dan ada zona merokok, namun mereka tidak setuju jika tidak ada zona merokok. Selain itu, tingkat kepedulian terhadap lingkungan tergolong tinggi.
4.2.2. Penyusunan Tujuan
Penyusunan tujuan menjadi langkah berikutnya setelah analisis masalah selesai dilaksanakan. Tujuan menjadi pegangan bagi tim kampanye untuk bergerak
63Wawancara yang dilakukan dengan Irmulan Sati, SH., M.Si., Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana, Minggu, 10 Oktober 2010, pukul 10.00 WIB.
menuju hasil yang diinginkan setelah kampanye dilancarkan. Tujuan dapat juga diibaratkan dengan kemudi yang akan mengarahkan dan membawa kita pada hasil akhir yang diinginkan. Tidak adanya tujuan dalam sebuah kampanye akan membuat kampanye menjadi tidak jelas, tidak terarah dan tidak fokus karena kita tidak pernah tahu apa hasil akhir yang ingin dicapai. Akibatnya, kampanye tersebut hanya akan membuang biaya, waktu dan tenaga.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Irmulan Sati, SH., M.Si., selaku Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana, yaitu:
“Tujuannya sebenarnya meningkatkan awareness civitas akademika tentang kesehatan diri dan kesehatan lingkungan. Kemudian yang kedua, menumbuhkan awareness civitas akademika tentang UMB Bebas Rokok itu benefitnya itu lebih besar daripada bukan UMB Bebas Rokok.”64
Secara teknis, tujuan Kampanye Kampus Bebas Rokok ini adalah untuk menumbuhkan awareness stakeholder Universitas Mercu Buana akan bahaya merokok. Hal ini diharapakan akan membuat stakeholder merasa tidak perlu untuk merokok.
Hal senada juga disampaikan oleh Bapak Drs. A. Rahman. MM., selaku Kepala Biro Pengendalian Kegiatan dan Program Unggulan Universitas Mercu Buana, yaitu:
64Wawancara yang dilakukan dengan Irmulan Sati, SH., M.Si., Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana, Minggu, 10 Oktober 2010, pukul 10.00 WIB.
“Tujuan dari kampanye kita supaya orang semua tahu. Jadi semua punya pengetahuan, punya pemahaman bahwa merokok itu merusak kesehatan. Bahwa merokok itu dilarang oleh aturan, bahwa merokok itu mengganggu yang tidak merokok. Nah, yang terakhir, tujuannya kita nya bersih. Kita ingin menjadi kampus yang bersih dari rokok.”65
Sebuah pernyataan tambahan dari Bapak Ir. Arissetyanto Nugroho, MM., selaku Rektor Universitas Mercu Buana bahwa diharapkan setiap orang tua yang menyekolahkan anaknya di Universitas Mercu Buana dapat melihat bahwa Universitas Mercu Buana memiliki komitmen tinggi terhadap kesehatan dan lingkungan para stakeholdernya. Ini dapat menumbuhkan citra positif di mata para orang tua, sebagai salah satu stakeholder. Berikut wawancara yang dilakukan:
“Yaa tujuannya tentu pertama, kita memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa perilaku merokok itu juga sebaiknya semakin lama ditinggalkan. Mungkin tidak ada lagi orang yang merokok, tapi itu kan hal idealnya. Sulit dilakukan. Apalagi kita Indonesia kan banyak industri rokok, banyak petani yang hidupnya bergantung dari sector tembakau. Kita juga harus lebih berhati-hati. Yang kedua, dengan kampanye rokok ini, kita harapkan orang tua mahasiswa yang ingin menyekolahkan anaknya ke UMB itu juga merasa UMB ini punya komitmen yang tinggi terhadap kesehatan dan lingkungan. Saya kira orang tua mana yang tidak mau menyekolahkan anaknya di tempat yang ounya komitmen tinggi terhadap kesehatan dan lingkungan. Saya juga berpikir dua kali kalau begitu masuk, wah, ini kampus jorok, tempat sarang perokok dan lain-lain. Itu juga menjadi unsur untuk pemasaran juga yaa… sebuah image.”66
65
Wawancara yang dilakukan dengan Drs. A. Rahman, MM., Kepala Biro Pengendalian Kegiatan dan Program Unggulan Universitas Mercu Buana, Rabu, 24 November 2010, pukul 10.00 WIB.
66Wawancara yang dilakukan dengan Ir. Arissetyanto Nugroho, MM., Rektor Universitas Mercu Buana, Jumat, 26 November 2010, pukul 10.00 WIB.
Proses penyusunan tujuan juga menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan penyusunan tujuan sebaiknya dilakukan secara bersama-sama oleh tim kampanye. Masing-masing bagian dapat memberikan ide, saran ataupun masukan yang penting dan berguna dalam menentukan tujuan kampanye.
Penyusunan tujuan kampanye Kampus Bebas Rokok Universitas Mercu Buana juga dilakukan secara bersama-sama oleh tim kampanye. Hal ini dinyatakan secara eksplisit oleh Bapak Drs. A. Rahman, MM., selaku Kepala Biro Pengendalian Kegiatan dan Program Unggulan Universitas Mercu Buana, yaitu:
“Iya, tim semua. Bersama-sama. (Itu tidak ada campur tangan pihak luar?) Luar gak ada. Kalau luar kan rujukan aja. Rujukannya pada Perda. Rujukannya pada himbauan pemerintah. Rujukannya pada YLKI gitu. Itu aja.”67
Hal senada juga disebutkan oleh Ibu Irmulan Sati, SH., M.Si., selaku Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana yang ikut terlibat dalam proses penyusunan tujun tersebut. Berikut wawancaranya:
“Kampanye kampus bebas rokok itu kan sebenarnya team lead nya kan berdasarkan dari keputusan manajemen kan yaa. Keputusan manajemen itulah yang menetapkan kampanye kampus bebas rokok. Nah, dari tim itu yang mendiskusikan, mengoperasionalkan, termasuk tujuannya, teknisnya, sarana, anggaran, dan lain sebagainya.”68
67
Wawancara yang dilakukan dengan Drs. A. Rahman, MM., Kepala Biro Pengendalian Kegiatan dan Program Unggulan Universitas Mercu Buana, Rabu, 24 November 2010, pukul 10.00 WIB.
68Wawancara yang dilakukan dengan Irmulan Sati, SH., M.Si., Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana, Minggu, 10 Oktober 2010, pukul 10.00 WIB.
Secara lebih jelasnya, penyusunan tujuan tersebut dilakukan dalam sebuah rapat koordinasi dengan seluruh bagian terkait yang juga ikut serta dalam tim kampanye Kampus Bebas Rokok Universitas Mercu Buana, meskipun dalam penyampaiannya, setiap bagian tersebut mempunyai pendekatan yang berbeda-beda. Meskipun begitu, perbedaan pendekatan tersebut justru akan saling melengkapi kelebihan dan kekurangan tujuan yang akan ditetapkan nantinya. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Ir. Arissetyanto Nugroho, MM., selaku Rektor Universitas Mercu Buana, yaitu:
“Yaa, kita semua berangkat dari pemikiran bersama. Jadi ide UMB Bebas Rokok itu kan dibicarakan dalam Rapim, Rapat Pimpinan. Itu nanti ada Rektor, ada Wakil Rektor, ada Dekan, ada Direktur, ada semua… gimana menerapkan cara terbaik untuk mengatur para perokok itu. Jadi itu yang kita lakukan. Jadi tidak karena mentang-mentang saya Rektor, langsung saya memutuskan sendiri. Tidak. Jadi itu semua melalui pemikiran bersama. Memang yaa, masing-masing punya pendekatan berbeda. Terutama dulu saya pernah bekerja, pernah jadi pengusaha. Tentu hal-hal yang saya ajukan tuh lebih pada tingkatkan keefektifitasannya cukup tinggi. Karena kalau saya prinsip, kalau memang kita mau membuat orang merokok itu tidak nyaman, yaa dengan kata lain, daerah kita menjadi lebih bersih, yaa tentunya kita tidak bisa mengadakan ruangan merokok itu di dalam area kampus ini, karena bagaimana pun, mereka akan susah digiring ke tempat merokok kan. Dimana-mana, orang kan cenderung duduk, merokok,enak…. Nah, ngapain mereka harus ke kantin. Cape kita menegur orang seperti itu. Daripada gitu, yaa sudah, kita larang saja orang yang bawa rokok yang masuk ke kampus ini. Jadi mungkin akan lebih efektif.”69
69Wawancara yang dilakukan dengan Ir. Arissetyanto Nugroho, MM., Rektor Universitas Mercu Buana, Jumat, 26 November 2010, pukul 10.00 WIB.
Berdasarkan hasil wawancara tersebut, peneliti dapat menganalisa bahwa kampanye Kampus Bebas Rokok ini memang memiliki tujuan inti, yaitu mengedukasi seluruh stakeholder Universitas Mercu Buana sebagai khalayak kampanye ini bahwa merokok itu tidak baik dan dapat merusak kesehatan, dan Universitas Mercu Buana sendiri akan memberlakukan kawasan kampus dilarang merokok. Tujuan ini pun telah diketahui dan dipahami oleh seluruh tim kampanye.
4.2.3. Identifikasi dan Segmentasi Sasaran
Setiap kampanye yang dilakukan memiliki segmentasi sasaran tertentu yang ingin dicapai. Segmentasi sasaran yang dituju oleh suatu kampanye dapat berupa suatu daerah atau wilayah tertentu dimana kampanye tersebut dilakukan, berdasarkan rentang usia, jenis kelamin, maupun jenis pekerjaan yang dilakoni. Dengan adanya segmentasi sasaran yang jelas, maka kampanye dapat dibangun dengan jelas, detail dan terarah. Sehingga pesan yang disampaikan akan tepat sasaran dan tidak melenceng dari tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Identifikasi dan segmentasi sasaran yang jelas telah dilakukan oleh pihak tim kampanye Kampus Bebas Rokok Universitas Mercu Buana. Hal ini dapat terlihat dari hasil wawancara yang dilakukan dengan Bapak Ir. Arissetyanto Nugroho, MM., selaku Rektor Universitas Mercu Buana, yaitu:
“Yaa, kalau kampanye kampus bebas rokok… bebas asap rokok yaa… yaa itu saya kira semua orang yang selama ini merokok, entah itu karyawan, entah itu dosen, entah itu mahasiswa. (Yang di lingkungan kampus Mercu Buana) Iya, yang di lingkungan kampus Mercu Buana. Jadi, produknya seperti itu kan, salah satunya akan berdampak pada marketing… pada image… pada citra. Jadi kalau para orang tua memasukkan anaknya ke UMB, mereka tahu, UMB tidak mentolerir rokok dan mereka akan nyaman menyekolahkan anaknya di UMB.”70
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Irmulan Sati, SH., M.Si., selaku Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana, yaitu:
“Segmentasi sasaran program kampanye kampus bebas rokok itu karyawan UMB dan mahasiswa UMB. Kenapa? Karena mereka bagian dari civitas akademika dan karyawan ini tidak hanya karyawan saja tapi juga dosen. Nah, jadi karyawan dosen dan non dosen, kemudian mahasiswa UMB termasuk kelas regular dan kelas karyawan. Yang paling utama yaa mahasiswa, karyawan non dosen, karyawan dosen, baru kemudian pihak luar yang datang ke sini.”71
Dan dilengkapi dengan pernyataan berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Drs. A. Rahman, MM., selaku Kepala Biro Pengendalian Kegiatan dan Program Unggulan Universitas Mercu Buana, yaitu:
“Semua… semua… segmentasinya semua, termasuk tim. Yaa civitas akademika itu; dosen, mahasiswa, karyawan, pimpinan. Gitu…”72
70Wawancara yang dilakukan dengan Ir. Arissetyanto Nugroho, MM., Rektor Universitas Mercu Buana, Jumat, 26 November 2010, pukul 10.00 WIB.
71
Wawancara yang dilakukan dengan Irmulan Sati, SH., M.Si., Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana, Minggu, 10 Oktober 2010, pukul 10.00 WIB.
72Wawancara yang dilakukan dengan Drs. A. Rahman, MM., Kepala Biro Pengendalian Kegiatan dan Program Unggulan Universitas Mercu Buana, Rabu, 24 November 2010, pukul 10.00 WIB.
Dapat disimpulkan bahwa segmentasi sasaran dari Kampanye Kampus Bebas Rokok Universitas Mercu Buana adalah seluruh civitas akademika Universitas Mercu Buana, meliputi di dalamnya jajaran pejabat rektorat dan seluruh divisinya; karyawan non dosen; karyawan dosen, baik dosen tetap maupun dosen tidak tetap; mahasiswa dan seluruh orang yang berada di dalam lingkungan kampus Universitas Mercu Buana.
4.2.4. Menentukan Pesan
Setiap kampanye memiliki sebuah pesan utama tersendiri yang ingin dibawa atau disampaikan dari komunikator, yaitu tim kampanye kepada komunikan, yaitu target sasaran dari kampanye tersebut. Sebuah tema utama menjadi acuannya. Sedangkan pesan-pesan lain yang dibangun menjadi sebuah kalimat larangan, pemberitahuan, imbauan, saran maupun perintah harus memiliki isi pesan yang mendukung tema besar yang telah ditentukan sebelumnya.
Berdasarkan wawancara dengan Bapak Drs. A. Rahman, MM., selaku Kepala Biro Pengendalian Kegiatan dan Program Unggulan Universitas Mercu Buana, yaitu:
“Tema besarnya ini… kayak apa… himbauan. Jadi himbauan pada civitas akademika untuk tidak merokok.”73
Sementara tema lain yang juga berkaitan dan muncul dalam kampanye ini disampaikan dalam wawancara dengan Bapak Ir. Arissetyanto Nugroho, MM., selaku Rektor Universitas Mercu Buana, yaitu:
“Tema utamanya itu cinta lingkungan, dan juga, daripada kita merokok, juga tidak berkontribusi pada peningkatan daya saing, kualitas diri. Mari kita alihkan energi itu untuk meningkatkan daya saing. Selama ini tidak ada kan perokok yang juara lari sprint, kan tidak ada. Makanya… dan lomba merokok kan gak ada dilombakan di olimpiade. Nah itulah, daripada kita konsumtif terhadap hal-hal yang merugikan diri kita, kenapa kita tidak sama-sama mengeluarkan uang terhadap hal-hal yang membuat diri kita memiliki nilai tambah. ”74
Semua pesan-pesan yang ingin disampaikan ini hendaknya berkaitan dengan tema besar yang ingin disampaikan melalui kampanye ini. Pesan-pesan ini dapat dirangkai dengan bahasa yang sesuai dengan tingkat kemampuan target sasaran yang ingin dicapai. Penggunaan gaya bahasa yang familiar dengan target sasaran juga menjadi penting agar pesan yang disampaikan tidak disalahartikan oleh target sasaran. Pesan pun harus disampaikan dengan kalimat yang mudah diingat oleh para target sasaran. Penyusunan pesan juga sebaiknya dilakukan oleh ahli komunikasi karena mereka sudah terbiasa dan memiliki kecakapan untuk melakukannya. Dalam hal ini adalah public relations.
Berdasarkan wawancara dengan Bapak Ir. Arissetyanto Nugroho, MM., selaku Rektor Universitas Mercu Buana, yaitu:
74Wawancara yang dilakukan dengan Ir. Arissetyanto Nugroho, MM., Rektor Universitas Mercu Buana, Jumat, 26 November 2010, pukul 10.00 WIB.
“Iya… itu biasanya yang lebih operasional dari tim Humasnya. Operasional kegiatan yang di-sharekan dalam Rapim.”75
Hal senada juga disampaikan oleh Ibu Irmulan Sati, SH., M.Si., selaku Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana dalam wawancara berikut:
“Untuk pengelolaan pesan, memang langsung dikelola Humas yaa. Humas langsung dari saya, kemudian, kebetulan juga Rizky yaa (red: Tim Desain). Jadi saya dari Humas mengusulkan, nanti di approval dengan manajemen. Kalau setuju, lanjut. Kalau tidak, yaa kita revisi ulang.”76
Pesan untuk Kampanye Kampus Bebas Rokok Universitas Mercu Buana disusun langsung oleh bagian Humas Universitas Mercu Buana. Seluruh pesan yang akan disampaikan melalui kampanye ini, untuk selanjutnya akan diajukan ke pihak Rektorat untuk mendapatkan persetujuan. Jika belum mendapatkan persetujuan, maka pesan tersebut akan direvisi ulang.
Berbagai jenis pesan yang disampaikan oleh tim kampanye melalui Kampanye Kampus Bebas Rokok ini dapat dilihat di berbagai tempat strategis di lingkungan kampus Universitas Mercu Buana. Berdasarkan wawancara dengan Sdri. Horidatul Bakiyah sebagai perwakilan mahasiswa Universitas Mercu Buana yang tidak merokok yang diwawancarai, menyebutan beberapa pesan sebagai berikut:
75
Wawancara yang dilakukan dengan Ir. Arissetyanto Nugroho, MM., Rektor Universitas Mercu Buana, Jumat, 26 November 2010, pukul 10.00 WIB.
76Wawancara yang dilakukan dengan Irmulan Sati, SH., M.Si., Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana, Minggu, 10 Oktober 2010, pukul 10.00 WIB.
“”Terima kasih Anda tidak merokok di area ini, fakultas…” ngeliatnya di
Fakultas Psikologi dan Fasilkom, “Menuju UMB Bebas Rokok”,
“Dilarang merokok di area ini”, “Selamat datang di UMB bebas Rokok”, “Matikan rokok anda sekarang sebelum rokok mematikan Anda”. Kalau
tidak salah yah kak, lupa redaksionalnya. Hehehe… (Dimana sajakah biasanya Anda melihat seluruh pesan ini?) Di depan TU Fakultas Psikologi, di depan TU Fasilkom, depan POP, kalau tidak salah yah kak. Hehehe…”77
Pernyataan ini juga dilengkapi oleh Sdr. Nasha Suprapto, selaku perwakilan mahasiswa Universitas Mercu Buana yang merokok yang diwawancarai melalui wawancara berikut:
“Pertama, konsentrasi pesannya adalah untuk memberitahu bahaya rokok bagi kesehatan seperti gambar thorax (tulang paru-paru) yang dihitamkan sebagai gambaran paru-paru orang yg merokok ada pada standing banner yang diletakkan di depan POP (Red: Pusat Operasional Perkuliahan). Selain itu juga, ada pesan yang memberitahu apa saja reaksi tubuh jika kita berhenti merokok dalam waktu 10 menit, 1 jam, 1 hari, dan seterusnya. Kedua, pesan ditujukan untuk mengarahkan para perokok untuk merokok di tempat yang disediakan seperti arah menuju kantin UMB.”78
Berbagai bentuk dan pesan kampanye yang disampaikan melalui media komunikasi dapat terlihat dari beberapa design media yang digunakan (Lampiran 4), meliputi:
77
Wawancara yang dilakukan dengan Horidatul Bakiyah, perwakilan mahasiswa Universitas Mercu Buana yang tidak merokok, Senin, 13 Desember 2010, pukul 14.00 WIB.
78Wawancara yang dilakukan dengan Nasha Suprapto, perwakilan mahasiswa Universitas Mercu Buana yang merokok tapi teratur, Minggu, 12 Desember 2010, pukul 15.00 WIB.
1. X-Banner
Pesan:
“STOP MEROKOK SEBELUM ROKOK MU mengHABISi badanmu
Pencanangan UMB Bebas Rokok 27 Mei 2009
Menuju UMB Bebas Rokok 2010
Pergub. Prov. DKI Jakarta No.75 Tahun 2005”
Ilustrasi: menggunakan gambar orang yang sangat kurus yang sedang merokok dengan memperlihatkan bagian paru-paru nya yang rusak dan k menghitam akibat rokok tersebut. Juga terdapat logo Universitas Mercu Buana.
2. X-Banner
Pesan:
“RASAKAN MASA DEPAN TANPA ASAP ROKOK
Pencanangan UMB Bebas Rokok 27 Mei 2009
Menuju UMB Beabs Rokok 2010
Ilustrasi: menggunakan gambar seorang anak yang sedang melompat dan terlihat seperti merasakan kelegaan udara yang bersih. Latar belakang menggunakan gambar suasana pepohonan yang rindang dan asri. Juga terdapat simbol dilarang merokok dan logo Universitas Mercu Buana.
3. Mini Flyer, memiliki dua design yang berbeda tapi isi pesan sama
Pesan:
“SAMPAI 31 DESEMBER 2009 HANYA 4 AREA MEROKOK
-. KANTIN LANTAI DASAR
-. GEDUNG C LANTAI DASAR
-. SELASAR Gd. B LANTAI 1
-. SELASAR ATRIUM UTARA
Pencanangan UMB Bebas Rokok 27 Mei 2009”
Ilustrasi: tidak menggunakan ilustrasi tetapi hanya menggunakan simbol area merokok
4. Giant Banner
Pesan:
“DILARANG MEROKOK DI SELURUH AREA KAMPUS
Segala sesuatu dimulai dari diri sendiri, BERHENTI DARI SEKARANG, dan rasakan sendiri manfaatnya.
Pencanangan UMB Bebas Rokok 27 Mei 2009
Menuju UMB Beabs Rokok 2010
Pergub. Prov. DKI Jakarta No.75 Tahun 2005”
Ilustrasi: menggunakan simbol dilarang merokok dan logo Universitas Mercu Buana.
5. Poster
Pesan:
“ADA 1000 JALAN MENUJU ROMA TAPI CUMA CUKUP 1 JALAN UNTUK BERHENTI MEROKOK
Pencanangan UMB Bebas Rokok 27 Mei 2009
Pergub. Prov. DKI Jakarta No.75 Tahun 2005”
Ilustrasi: menggunakan ilustrasi sebuah jalan dan logo Universitas Mercu Buana.
6. Poster
Pesan:
“ADA 1001 CARA UNTUK MENCARI CINTA TAPI CUMA CUKUP 1 CARA UNTUK BERHENTI MEROKOK
UMB BEBAS ASAP ROKOK
Pergub. Prov. DKI Jakarta No.75 Tahun 2005
Pencanangan UMB Bebas Rokok 27 Mei 2009”
Ilustrasi: menggunakan ilustrasi sebuah hati dan paru-paru serta terdapat simbol dilarang merokok.
7. Poster
Pesan:
“PARU-PARUMU ADALAH PARU-PARU DUNIA
Pergub. Prov. DKI Jakarta No.75 Tahun 2005
Pencanangan UMB Bebas Rokok 27 Mei 2009”
Ilustrasi: menggunakan ilustrasi sebuah bola dunia dengan paru-paru menjadi salah satu benua. Juga terdapat simbol dilarang merokok.
8. Poster
Pesan:
“STOP MEROKOK MULAI DETIK INI
20 MENIT BERHENTI MEROKOK. Tekanan darah dan detak jantung kembali normal. Sirkulasi darah membaik – terutama di daerah tangan dan kaki Anda.
8 JAM BERHENTI MEROKOK. Kadar oksigen dalam darah kembali normal dan kemungkinan Anda terkena serangan jantung menurun.
24 JAM BERHENTI MEROKOK. Karbon monoksida menghilang dari tubuh Anda. Paru-paru Anda mulai membersihkan mucus dan debris.
48 JAM BERHENTI MEROKOK. Selamat. Tubuh Anda sekarang bebas nikotin. Sadarkah Anda bahwa sensor perasa, penciuman dan pernafasan Anda membaik?
72 JAM BERHENTI MEROKOK. Anda bernafas dengan baik, mudah dan memiliki energi lebih banyak untuk beraktifitas.
2 – 12 MINGGU BERHENTI MEROKOK. Seluruh sirkulasi dalam tubuh Anda membaik dan lebih mudah berolahraga.
3 – 9 BULAN BERHENTI MEROKOK. Efektifitas kinerja paru-paru Anda meningkat 5-10%. Masalah pernafasan, batuk-batuk, sulit bernafas dan pernafasan pendek mulai menghilang.
5 TAHUN BERHENTI MEROKOK. Anda memiliki 50% kemungkinan terkena serangan jantung dibandingkan dengan perokok.
10 TAHUN BERHENTI MEROKOK. Anda terkena kanker paru-paru hanya 50% dibandingkan dengan perokok dan saat ini terkena serangan jantung sama dengan orang yang tidak pernah merokok.
UMB BEBAS ASAP ROKOK
Pergub. Prov. DKI Jakarta No.75 Tahun 2005
Pencanangan UMB Bebas Rokok 27 Mei 2009”
Ilustrasi: menggunakan simbol dilarang merokok dan logo Universitas Mercu Buana.
9. Signboard Area Merokok
Pesan:
“SMOKING AREA
MENUJU UMB BEBAS ROKOK 2010
Pergub. Prov. DKI Jakarta No.75 Tahun 2005”
Ilustrasi: tidak menggunakan ilustrasi.
10. Spanduk
Pesan:
“ANDA BERADA DI KAWASAN BEBAS ROKOK
MENUJU UMB BEBAS ROKOK 2010
Pergub. Prov. DKI Jakarta No.75 Tahun 2005
Biro Humas & CC”
Ilustrasi: menggunakan simbol dilarang merokok dan logo Universitas Mercu Buana.
11. Spanduk
Pesan
“SMOKELESS, DO MORE!
MENUJU UMB BEBAS ROKOK 2010
Pergub. Prov. DKI Jakarta No.75 Tahun 2005
Biro Humas & CC”
Ilustrasi: menggunakan simbol dilarang merokok dan logo Universitas Mercu Buana.
12. Spanduk
Pesan
“Charming, Shining, Outstanding = NO SMOKING!
MENUJU UMB BEBAS ROKOK 2010
Pergub. Prov. DKI Jakarta No.75 Tahun 2005
Biro Humas & CC”
Ilustrasi: menggunakan simbol dilarang merokok dan logo Universitas Mercu Buana.
13. Spanduk
Pesan
“Lebih baik tanpa asap rokok, PASTI!
MENUJU UMB BEBAS ROKOK 2010
Pergub. Prov. DKI Jakarta No.75 Tahun 2005
Biro Humas & CC”
Ilustrasi: menggunakan simbol dilarang merokok dan logo Universitas Mercu Buana.
14. Spanduk
Pesan
“AREA TANPA ASAP ROKOK
MENUJU UMB BEBAS ROKOK 2010
Pergub. Prov. DKI Jakarta No.75 Tahun 2005
Biro Humas & CC”
Ilustrasi: menggunakan simbol dilarang merokok dan logo Universitas Mercu Buana.
15. Umbul-umbul
Pesan
“UMB BEBAS ROKOK ”
Ilustrasi: menggunakan simbol dilarang merokok dan logo Universitas Mercu Buana.
16. Vest Duta Anti Rokok
Pesan:
Tampak Depan
“I (simbol dilarang merokok) DI KAMPUS
Pencanangan UMB Bebas Rokok 27 Mei 2009”
Tampak Belakang
“www.mercubuana.ac.id
17. Kaos Duta Anti Rokok
Pesan:
Tampak Depan
“I (simbol dilarang merokok) DI KAMPUS
Pencanangan UMB Bebas Rokok 27 Mei 2009”
Tampak Belakang
“www.mercubuana.ac.id
ROKOK? NO WAY”
18. Pin
Pesan:
“I (simbol dilarang merokok)
Pencanangan UMB Bebas Rokok 27 Mei 2009”
19. Pin
Pesan:
“(simbol dilarang merokok)
Pencanangan UMB Bebas Rokok 27 Mei 2009”
Ilustrasi: tidak menggunakan ilustrasi tapi membuat pin tampak seperti kumbang merah
20. Pin Pesan:
“I (simbol dilarang merokok) DI KAMPUS
Pencanangan UMB Bebas Rokok 27 Mei 2009”
Ilustrasi: tidak menggunakan ilustrasi
4.2.5. Strategi dan Taktik
Strategi merupakan sebuah pendekatan yang diambil untuk menuju pada suatu kondisi tertentu dari posisi saat ini, yang dibuat berdasarkan analisis masalah dan tujuan yang telah ditetapkan.
Berdasarkan wawancara dengan Ibu Irmulan Sati, SH., M.Si., selaku Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana, yaitu:
“Sebenarnya kalau saya dalam konteks kegiatan Humas, dan itu tetap strateginya memfokuskan kepada kebutuhan civitas. Jadi strategi yang saya terapkan itu lebih ke publicity yaa. Jadi publicity campaign gitu yaa… kampanye publisitas. Ehm, campaign via publisitas atau publicity campaign… tapi kalau untuk publicity campaign kayaknya kurang tepat, masa’ publisitas kampanye…. Apa yaa… Eh, strateginya strategi publicity lebih tepatnya.”79
Strategi yang dilakukan oleh Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana untuk kampanye Kampus Bebas Rokok Universitas Mercu Buana ini adalah dengan menggunakan strategi publisitas. Strategi ini menekankan pada publisitas besar-besaran yang dilakukan secara massive kepada seluruh civitas akademika sebagai target sasarannya.
Dijelaskan secara rinci oleh Bapak Drs. A. Rahman, MM., selaku Kepala Biro Pengendalian Kegiatan dan Program Unggulan Universitas Mercu Buana dalam wawancara berikut ini:
“Strateginya ini… satu, sosialisasi kan. Secara umum kan sosialisasi lewat spanduk, pamphlet. Kemudian yang kedua, strategi pencanangan dan ketiga, strateginya penentuan lokasi… apa namanya… ada
79Wawancara yang dilakukan dengan Irmulan Sati, SH., M.Si., Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana, Minggu, 10 Oktober 2010, pukul 10.00 WIB.
sosialisasi, ada eksekusi, kemudian penghilangan tempat zona-zona pada saat sosialisasi menjadi satu. Gitu yaa… seperti itu…”80
Strategi yang dilakukan meliputi sosialisasi, pencanangan dan penentuan lokasi. Taktik merupakan bentuk konkret dari strategi. Seluruh penerapan secara praktek di lapangan termasuk ke dalam taktik. Taktik juga sangat bergantung pada tujuan, sasaran dan strategi yang akan dibidik program kampanye. Semakin kompleks tujuan dan sasaran bidik, maka taktik yang digunakan harus semakin kreatif dan variatif. Pemilihan penggunaan jenis media komunikasi juga merupakan salah satu bentuk taktik.
Berdasarkan wawancara dengan Ibu Irmulan Sati, SH., M.Si., selaku Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana, yaitu:
“Jadi yaa, saya… apa namanya… di awal sudah membuat semacam mini paper. Mini paper itu disebarkan ke semua civitas tanpa henti setiap hari. (Isi mini papernya?) Isi mini papernya berkaitan dengan Kampus UMB Bebas Rokok dalam rangka menuju UMB Bebas Rokok 2010. Jadi biar mereka awareness dulu. Nah, ini tapi ada miss nya (red: terlewat) itu di mahasiswa baru yang 2009. Itu mereka lost, 2009 dan 2010. Ini mereka sudah lost sebenarnya. Nah, yang kedua, kita bikin giant banner, kita juga menetapkan spanduk, X-Banner sampai poster-poster, bahkan penentuan Duta Anti Rokok. Kita juga punya, masih ingat yaa… (Penentuan Duta Anti Rokok itu dilakukan dengan seleksi atau seperti apa?) Kita pilih…. Kita pilih langsung. Purposive jadinya. (Kriterianya ?) Kriterianya adalah mereka-mereka yang representatif di masing-masing unit. Dosen, karyawan dan mahasiswa per HMJ, yang aktif UKM, Kemahasiswaan dan lain sebagainya. Kemudian ada sosialisasi ke kelas, sosialisasi lewat ruangan-ruangan dan kemudian di
80Wawancara yang dilakukan dengan Drs. A. Rahman, MM., Kepala Biro Pengendalian Kegiatan dan Program Unggulan Universitas Mercu Buana, Rabu, 24 November 2010, pukul 10.00 WIB.
web, termasuk juga ada program pencanangan. Termasuk juga yang di support oleh Biro MGS (red: Manajemen Gedung dan Sarana) adalah penyediaan sarana dan pra sarana, termasuk rolling setiap dua minggu sekali si petugas Duta Anti Rokok itu muter. (Jadi mereka yang memberikan punishment atau teguran?) Teguran yaa, bukan punishment. Hanya sebatas teguran saja dan mencatat bagaimana perkembangannya. (Berarti belum ada sanksi yang tegas?) Belum… Belum… Sampai sekarang pun belum.”81
Berdasarkan wawancara dengan Sdr. Nasha Suprapto, selaku perwakilan mahasiswa Universitas Mercu Buana yang merokok yang diwawancarai, yaitu:
“Konsentrasi pesannya adalah untuk memberitahu bahaya rokok bagi kesehatan seperti gambar thorax (tulang paru-paru) yang dihitamkan sebagai gambaran paru-paru orang yg merokok ada pada standing banner yang diletakkan di depan POP (Red: Pusat Operasional Perkuliahan. Selain itu, juga ada mini flyer yang selalu dibagikan di setiap pintu masuk kampus dan pos parkir motor. Mini flyer ini juga kadang diletakkan di setiap motor yang diparkir di kampus.”82
Taktik yang digunakan adalah dengan mempublikasikan dan mensosialisasikan Kampanye Kampus Bebas Rokok Universitas Mercu Buana melalui berbagai media komunikasi, seperti poster, spanduk, X-Banner dan mini paper. Selain itu, juga menggunakan Duta Anti Rokok untuk membantu sosialisasi secara langsung ke seluruh ruangan.
81
Wawancara yang dilakukan dengan Irmulan Sati, SH., M.Si., Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana, Minggu, 10 Oktober 2010, pukul 10.00 WIB.
82Wawancara yang dilakukan dengan Nasha Suprapto, perwakilan mahasiswa Universitas Mercu Buana yang merokok tapi teratur, Minggu, 12 Desember 2010, pukul 15.00 WIB.
Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, satu buah poster “STOP MEROKOK MULAI DETIK INI” terlihat diletakkan di sebelah kanan mushola Gedung D lantai dasar dan dua buah poster yang sama diletakkan di dinding kiri dan kanan koridor sebelah Pusat Operasional Perkuliahan yang mengarah ke Atrium. Tiga buah poster ini juga diletakkan di sepanjang dinding Gedung D yang menghadap Atrium.
Spanduk “UMB Tanpa Asap Rokok. Smoking Area Kantin UMB Lantai 1” diletakkan di bagian luar Gedung D menghadap ke Gedung B.
4.2.6. Alokasi Waktu dan Sumber Daya
Sebuah kampanye membutuhkan sumber daya yang tepat. Dengan mengalokasikan sumber daya yang dimiliki dalam sebuah kampanye dengan tepat, tim kampanye dapat mengefektifkan dan mengefisiensikan kampanye dengan baik. Dengan biaya yang minimal, mencapai hasil yang maksimal.
Berdasarkan wawancara dengan Bapak Drs. A. Rahman, MM., selaku Kepala Biro Pengendalian Kegiatan dan Program Unggulan Universitas Mercu Buana, yaitu:
“Itu bareng-bareng. Sama-sama lah. Itu biasanya usul dari Humas kan tidak banyak juga kan. Paling anak sosialisasi kan. Kemahasiswaan juga masing-masing ada. Yaa itu… jadi ada program-program masing-masing unit itu berkaitan dengan penciptaan kampus anti rokok itu.”83
83Wawancara yang dilakukan dengan Drs. A. Rahman, MM., Kepala Biro Pengendalian Kegiatan dan Program Unggulan Universitas Mercu Buana, Rabu, 24 November 2010, pukul 10.00 WIB.
Alokasi sumber daya dilakukan oleh masing-masing unit yang berperan. Bagi unit yang memang membutuhkan sumber daya lebih dari seharusnya, akan membuat perencanaan alokasi tersebut.
Alokasi waktu juga diperlukan sehingga tim kampanye dapat mengetahui kapan deadline sebuah kampanye akan dilakukan, kapan harus dilakukan riset kembali untuk mengetahui keefektifannya, dan lainnya.
Untuk alokasi waktu, Ibu Irmulan Sati, SH., M.Si., selaku Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana menyebutkan dalam wawancaranya sebagai berikut:
“Saya sampai 30 Desember 2009 doank. (Dari?) 1 Mei 2009. (Dari 1 Mei 2009 sampai 31 Desember 2009?) Iya. 1 Januari sudah bukan lagi urusan saya dan itu keputusan top management. Itu yang harus kamu catat. Bukan keputusan saya sendiri.”84
Kampanye Kampus Bebas Rokok Universitas Mercu Buana dipegang oleh tim Humas untuk mensosialisasikannya kurang lebih dalam jangka waktu delapan bulan.
Untuk ke depannya, Kampanye Kampus Bebas Rokok Universitas Mercu Buana ini akan terus dijalankan hingga kampanye ini dihentikan karena dirasakan sudah tidak diperlukan lagi, dan akan diganti dengan kampanye lain yang masih sejalan dengan kampanye sebelumnya. Hal ini disampaikan oleh Bapak Ir.
84Wawancara yang dilakukan dengan Irmulan Sati, SH., M.Si., Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana, Minggu, 10 Oktober 2010, pukul 10.00 WIB.
Arissetyanto Nugroho, MM., selaku Rektor Universitas Mercu Buana dalam wawancara berikut ini:
“Yaa sebenarnya sudah mulainya dari tahun 2009 yaa. Kita inginnya kan mulai awal 2010 itu kan sudah mulai jalan yaa. Tadinya ada… kalau Anda perhatikan, kita ada empat daerah zona. Kemudian berkurang jadi satu. Nah, ke depan, zona satu itu ada tapi akan pindah gitu kan. Itu yang kita harapkan. Yaa memang yang jadi masalah yaa sosialisasi tadi yaa. Kadang-kadang ada yang memang benar-benar tahu tapi pura-pura tidak tahu, ada yang memang benar-benar gak tahu juga. (Kira-kira akan sampai kapan sih Pak kampanye ini terus dilakukan ? Seterusnya atau ada jangka waktu tertentu ?) Yaa sebetulnya itu tidak seterusnya. Yaa, kalau semua stakeholder itu sudah sadar, yaa kampanye itu akan… bukan kita hentikan tapi kampanye itu akan kita re-design. Jadi setelah orang tidak merokok, kampanye nanti, ‘Mari Kita Berolahraga’. Kampanye ke arah meningkatkan kesehatan.”85
4.2.7. Evaluasi dan Tinjauan
Evaluasi dan tinjauan merupakan tahap akhir dalam sebuah kampanye yang tidak kalah penting untuk dilakukan. Dengan melakukan evaluasi, tim kampanye dapat mengetahui sejauh mana kampanye tersebut telah efektif untuk dilakukan, apa kekurangan dan kelebihannya. Hasil evaluasi dapat dijadikan bahan pertimbangan dan masukan bagi perkembangan kampanye selanjutnya. Evaluasi ini dapat dilakukan dengan riset kuantitatif, berupa penyebaran kuesioner maupun dengan riset kualitatif, berupa observasi dan wawancara mendalam.
85Wawancara yang dilakukan dengan Ir. Arissetyanto Nugroho, MM., Rektor Universitas Mercu Buana, Jumat, 26 November 2010, pukul 10.00 WIB.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Ir. Arissetyanto Nugroho, MM., selaku Rektor Universitas Mercu Buana, yaitu:
“Evaluasi yaa… kita evaluasinya… kan selalu ada laporan dari staf Humas. Yaa kita akan melihat kenapa program ini tidak jalan, kenapa kok banyak orang yang ditemukan merokok tidak di kantin. Itukan beberapa hal yang menyebabkan itu. Sama yaa, dia tidak merasa ada penindakan dan didiemin aja. Yaa kalau didiemin, orang akan memilih tempat yang terdekatkan. Jadi yang kedua karena yang keliling itu juga tidak kontinu. Hari ini keliling, besok gak. Yaa jadi perilaku itu belum ada kesadaran.”86
Evaluasi tersebut memang dilakukan untuk kampanye ini dan secara teknisnya, dilakukan oleh tim Humas.
Berdasarkan wawancara dengan Ibu Irmulan Sati, SH., M.Si., selaku Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana, yaitu:
“Tidak ada. Kampanye kan selesai sampai Desember. Saya hanya memberikan rekomendasi saja hasil dari…. Kalau riset formal secara survey, tidak. Kecuali yang tadi di fact finding yang kita survey. Tapi kalau yang di akhir, saya sifatnya observasi saja. Observasi… Yaa sudah, kasih ke sana (red: top management) (Jadi tidak melakukan penyebaran kuesioner lainnya?) Tidak… Tidak… Observasi kan sudah bisa dilihat sebenarnya masih terdapat beberapa mahasiswa yang merokok tidak pada tempatnya, di luar area yang tadi. Karena kan masih empat area waktu itu.”87
86
Wawancara yang dilakukan dengan Ir. Arissetyanto Nugroho, MM., Rektor Universitas Mercu Buana, Jumat, 26 November 2010, pukul 10.00 WIB.
87Wawancara yang dilakukan dengan Irmulan Sati, SH., M.Si., Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana, Minggu, 10 Oktober 2010, pukul 10.00 WIB.
Riset yang dilakukan oleh tim Humas berupa riset kualitatif dengan menggunakan metode observasi.
Hal senada juga dilengkapi oleh Bapak Drs. A. Rahman, MM., selaku Kepala Biro Pengendalian Kegiatan dan Program Unggulan Universitas Mercu Buana, yaitu:
“Pasti evaluasi… kita evaluasi… kita evaluasi melalui rapat koordinasi dengan semua tim tadi itu. Kemudian apa… Direktorat Kemahasiswaan kita rapat. Kemudian dengan pimpinan kita juga rapat. Jadi kita laporkan perkembangan-perkembangannya. Supaya kita tahu positioningnya ada dimana. (Berarti hanya diobservasi? Disurvei tidak, Pak? Pakai kuesioner gitu tidak, Pak?) Sementara ini kita masih observasi… observasi… dengan data-data yang ada, dengan fakta yang kita ambil dari mahasiswa yang merokok itu. Kemudian dari monitoring langsung. Dari perubahannya kan keliatan tuh. (Seluruh tim yaa yang melakukan evaluasi ini?) Sementara ini yang intensif itu karena yang bertanggungjawab itu di kemahasiswaan kan. Yang lain itu kan supporting. Nah, lebih spesifik lagi, kemahasiswaan menunjuk langsung Kepala Keamanan beserta staf nya untuk mengeksekusi.”88
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, ditemukan beberapa temuan terkait dengan Kampanye Kampus Bebas Rokok Universitas Mercu Buana yang dilakukan. Temuan-temuan ini menyatakan bahwa kampanye ini dapat dinyatakan berhasil jika dilihat dari sisi satunya dan dinyatakan tidak berhasil jika dilihat dari sisi lainnya. Berdasarkan wawancara dengan Bapak Ir. Arissetyanto Nugroho, MM., selaku Rektor Universitas Mercu Buana, yaitu:
88Wawancara yang dilakukan dengan Drs. A. Rahman, MM., Kepala Biro Pengendalian Kegiatan dan Program Unggulan Universitas Mercu Buana, Rabu, 24 November 2010, pukul 10.00 WIB.
“Yaa kalau sebenarnya kita melihat, ada yang berhasil, ada yang belum yaa. Kalau berhasil yaa itu tadi, dari orang yang daerah merokok empat jadi satu. Belum berhasil yaa itu, daerah merokoknya semakin kecil tapi orang yang merokok juga ternyata ada yang tidak mau diarahkan untuk merokok di tempat yang diperbolehkan. (Kalau diukur 100%, sudah berapa persen Pak berhasilnya?) Nah itu yang saya belum bisa menjawab karena kalau bicara angka itu detailnya ada di kemahasiswaan. Jadi berapa rokok yang bisa disita, kemudian dari berapa menjadi berapa. Karena ukuran keberhasilan itu juga salah satunya, misalnya tahun lalu ada 300 temuan, sekarang ada 200 temuan. Nah, itu peningkatan dan itu ada di kemahasiswaan.”89
Kampanye ini dinyatakan berhasil dalam menumbuhkan awareness atau pengetahuan seluruh target sasarannya mengenai bahaya merokok dan pengetahuan bahwa kampus Universitas Mercu Buana adalah lingkungan atau daerah dilarang merokok dan bila mereka ingin merokok, telah disediakan tempat untuk merokok. Hal ini dinyatakan dalam wawancara dengan Bapak Drs. A. Rahman, MM., selaku Kepala Biro Pengendalian Kegiatan dan Program Unggulan Universitas Mercu Buana, yaitu:
“Oh, udah… udah berhasil. Kita sudah menganggap ini sudah cukup berhasil. (Karena dilihat dari?) Tingkat pengetahuannya, pemahamannya, yaa kemudian dilihat dari tingkat aksinya. Itu sudah sangat maksimal. Bahwa ada satu atau dua, kita tidak begitu menganggap. Kita… kita… apa… kita terima masih ada satu atau dua, dia di pojok-pojok, tapi terang-terangan, buka-bukaan itu di tempat yang ditentukan… (Yaitu di kantin itu?) di kantin, di lantai dasar.”90
89
Wawancara yang dilakukan dengan Ir. Arissetyanto Nugroho, MM., Rektor Universitas Mercu Buana, Jumat, 26 November 2010, pukul 10.00 WIB.
90Wawancara yang dilakukan dengan Drs. A. Rahman, MM., Kepala Biro Pengendalian Kegiatan dan Program Unggulan Universitas Mercu Buana, Rabu, 24 November 2010, pukul 10.00 WIB.
Sementara itu, kampanye ini dinyatakan belum berhasil karena belum mampu merubah perilaku para perokok untuk tidak lagi merokok di lingkungan kampus Universitas Mercu Buana. Hal ini disebabkan karena belum adanya punishment yang tegas dari pihak kampus kepada para perokok yang tertangkap tangan sedang merokok di lingkungan kampus. Hal ini juga dinyatakan oleh Ibu Irmulan Sati, SH., M.Si., selaku Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana dalam wawancara sebagai berikut:
“Oh, saya melihat belum yaa. Saya sendiri melihat kalau kampanye kampus bebas rokok itu tidak berhasil malah. Kenapa? Karena memang tidak keberlanjutan tadi karena sebuah kampanye bisa dianggap berhasil kalau ada perubahan perilaku kan. Nah, perubahan perilaku itu kan belum sampai ke tahapan situ masalahnya. Sehingga di sini nih, ada kepotong nih. Kalau saya pribadi sih melihat, kalau angkanya 100%, mungkin masih 70% berhasil. 30% nya ini yang masih perlu adanya keberlanjutan kampanye dan awareness dan sama punishment. Gitu aja. (Punishment yang disebutkan tadi yaa) Awareness nya bisa didapatkan dari mana kalau tidak ada punishment. Makanya percuma dan biayanya mahal juga kampanye itu.”91
Hal senada juga disampaikan oleh Sdr. Nasha Suprapto, selaku perwakilan mahasiswa Universitas Mercu Buana yang merokok yang diwawancarai, yaitu:
“Saya kurang tahu berapa apa saja kriteria yang ingin dicapai dalam mengukur efektifitas kampanye ini. Namun, menurut penilaian saya secara subjektif, kampanye UMB bebas rokok belum berhasil, dikarenakan masih banyaknya mahasiswa yang merokok di koridor-koridor depan pintu masuk kelas, di tangga-tangga, atrium, dan sebagainya. Hal tersebut mereka lakukan, termasuk saya, hehehe…
91Wawancara yang dilakukan dengan Irmulan Sati, SH., M.Si., Kepala Biro Humas Universitas Mercu Buana, Minggu, 10 Oktober 2010, pukul 10.00 WIB.
karena tidak adanya sanksi yang jelas karena melanggar merokok di sembarang tempat. Selain itu pengawasan dilakukan juga hampir tidak ada, hanya beberapa dosen yang secara proaktif menindak mahasiswa atau orang yang merokok di sembarang tempat seperti menyuruh untuk mematikan rokok, memperingatkan untuk merokok di kantin, bahkan sampai menarik sendiri dan mematikan rokok yang sedang dinikmati para perokok. Saya yakin, jika sosialisasi sanksi pelanggaran merokok di sembarang tempat dan pengawasan terhadap penyelenggaran peraturan dilakukan secara optimal, kampanye UMB bebas rokok bisa lebih efektif dan berhasil.”92
Didukung juga oleh Sdri. Horidatul Bakiyah, selaku perwakilan mahasiswa Universitas Mercu Buana yang tidak merokok yang diwawancarai, yaitu:
“Belum, karena masih banyak civitas akademik yg merokok. Butuh waktu yang cukup lama untuk merubah perokok aktif supaya mereka bisa aware, paham, dan patuh akan himbauan pembatasan tempat bahkan pelarangan merokok. Terus kalau menurut aku, petugasnya harus lebih tegas, bukan sekedar satpam saja. Ada yang harus menegur yang ditakuti oleh mahasiswa, atau bekerja sama dengan setiap fakultas memberikan sanksi yang harus benar-benar tegas. Tapi sebelumnya harus disosialisasiin dulu kak, misalnya menyangkut mata kuliah bahkan berhubungan dengan nilai. Merokok boleh saja, tapi harus patuh akan peraturan yaitu merokok pada tempat yang disediakan. Untuk sementara itu kak. Kalau untuk merubah semua mahasiswa agar tidak merokok itu sulit kak. Semuanya butuh proses. Pasti ada pro dan kontra kalau UMB memang benar-benar bersih tanpa asap rokok.”93
Bahkan, Sdr. Yunas Permana, selaku perwakilan mahasiswa Universitas Mercu Buana yang merokok yang diwawancarai, menyebutkan:
92
Wawancara yang dilakukan dengan Nasha Suprapto, perwakilan mahasiswa Universitas Mercu Buana yang merokok tapi teratur, Minggu, 12 Desember 2010, pukul 15.00 WIB.
93Wawancara yang dilakukan dengan Horidatul Bakiyah, perwakilan mahasiswa Universitas Mercu Buana yang tidak merokok, Senin, 13 Desember 2010, pukul 14.00 WIB.
Belum. Karena kurangnya sosialisasi dan ketegasan dari pihak kampus. Kalau mau memberlakukan larangan, dibutuhkan sanksi agar program kampanye tersebut berjalan. (Jadi yang kurang adalah sanksi?) Iya, dan sosialisasinya tadi itu.94
Peneliti juga melakukan pengamatan langsung di lapangan untuk melihat pelaksanaan kampanye Kampus Bebas Rokok Universitas Mercu Buana. Hal ini juga dapat menjadi perbandingan atas apa yang telah disebutkan dalam wawancara dengan narasumber kunci sebelumnya dan menjadi proses evaluasi.
Pada hari Rabu, 15 Desember 2010 pukul 10.00 – 11.00 WIB di koridor Gedung D lantai dasar, terlihat lima mahasiswa sedang duduk di kursi di depan ruang POP (Pusat Operasional Perkuliahan). Dua dari lima mahasiswa tersebut terlihat sedang merokok. Mereka saling berbicara dengan asyik dan mahasiswa yang merokok tetap merokok. Ketiga temannya yang lain pun tidak merasa terganggu. Padahal, tepat di bagian atas kursi tempat mereka duduk dan bercengkerama, terdapat sebuah spanduk besar yang bertuliskan “UMB Tanpa Asap Rokok. Smoking Area Kantin UMB Lantai 1”.
Sementara, di koridor di sebelah ruang POP yang menuju ke atrium, terdapat empat kelompok mahasiswa yang duduk dan bercengkerama di masing-masing kursi besar. Beberapa di antara mereka terlihat sedang memainkan laptop dan saling mengobrol. Salah satu mahasiswa terlihat sedang merokok dan tidak peduli dengan
94Wawancara yang dilakukan dengan Yunas Permana, perwakilan mahasiswa Universitas Mercu Buana yang merokok tapi tidak terautr, Sabtu, 19 Februari 2011, pukul 15.00 WIB.
lingkungannya. Di bagian dinding sebelah kiri dan kanan masing-masing terdapat poster “STOP MEROKOK MULAI DETIK INI”.
Di bagian ujung koridor dekat mushola, terlihat sekitar lima orang mahasiswa sedang duduk di lantai dan bercengkerama. Mereka tidak ada yang terlihat sedang merokok. Di dinding bagian luar sebelah kanan mushola juga terdapat sebuah poster “STOP MEROKOK MULAI DETIK INI”.
Di depan POP sendiri terletak sebuah banner yang berisikan proses untuk mengajukan komplain. Banner ini merupakan banner yang digunakan untuk mengganti banner kampanye Kampus Bebas Rokok yang juga diletakkan di tempat yang sama sebelumnya. Banner kampanye Kampus Bebas Rokok yang dimaksud adalah banner yang bergambar paru-paru perokok yang berwarna hitam, sebagai pertanda bahwa merokok itu berbahaya.
Pada hari Rabu, 15 Desember 2010 pukul 11.00 – 12.00 WIB di ujung koridor Gedung A dekat pintu masuk, terlihat banyak mahasiswa sedang duduk di setiap kursi yang terdapat di koridor gedung A. Beberapa di antara mereka terlihat duduk di anak tangga yang terdapat di sana.
Juga terlihat beberapa mahasiswa yang sedang mengurusi administrasi perkuliahan di Tata Usaha Fakultas Ekonomi, Biro Administrasi Keuangan dan Biro Adminitrasi Akademik. Di ujung koridor A yang mengarah ke atrium, terlihat beberapa mahasiswa sedang melakukan aktivitas fotokopi di Koperasi Karyawan. Di koridor gedung A tidak terlihat mahasiswa yang merokok.