tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lain. Perbedaan itu terdapat pada: karakteristik psikis, kepribadian dan sifat-sifatnya.
Perbedaan individual ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya, perbedaan individual perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran. Dalam sistem klasikal, perbedaan individual ini kurang mendapat perhatian, pembelajaran lebih ditekahkan pada kemampuan rata-rata. Agar perbedaan individual ini terlayani sebagaimana mestinya, seorang guru dapat menggunakan strategi atau metode belajar mengajar yang bervariasi, penggunaan média pembelajaran, tugas-tugas disesuaikan dengan minât dan kemampuan siswa, bagi siswa yang relatif pandai diberi pelajaran tambahan bersifat pengayaan, sedangkan bagi siswa yang kemampuannya cenderung lemah diberikan brmbingan belajar.
C. PROSES PSIKOLOGI BELAJAR SISWA
Belajar merupakan proses dasar dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif sehingga tingkah Iakunya berkembang. Semua aktivitas dan prestasi hidup manusia tidak lain adalah hasil belajar. Oleh karena itu, belajar berlangsung secara aktif dan integrative dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai suatu tujuan, itulah sebabnya belajar disebut "suatu proses".
Secara khusus untuk pendidikan dasar (dalam hal ini sekolah dasar yang usianya sekitar 6,0 - 12,0 tahun) harus mendapat perhatian serius para pendidik dikaitkan dengan masa pra remaja. Baik dari segi pertumbuhan maupun perkembangan siswa usia SD ini merupakan titik tolak penanaman cara belajar yang tepat dan membantu mereka dengan strategi yang "memudahkan mereka belajar".
Ada beberapa hal yang berkaitan dengan proses psikologi belajar siswa khususnya usia sekolah dasar antara lain :
1. Faktor-faktor stimuli belajar
Yang dimaksud dengan stimuli belajar disini adalah: segala hal di luar individu yang merangsang mereka untuk melakukan perbuatan belajar, mencakup hal-hal seperti berikut :
a. Panjangnya bahan pelajaran: oleh panjangnya bahan pelajaran dan panjangnya waktu belajar dapat menimbulkan "interferensi = gangguan kesan ingatan) yang menyebabkan kelelahan dan kejemuan siswa.
mempengaruhi kecepatan belajar, oleh sebab itu tingkatan kesuhtan bahan pelajaran haras pula sesuai dengan kemampuan siswa.
c. Mengenal bahan pelajaran: artinya bahan pelajaran dapat dikenal, bahan yang memungkinkan individu belajar karena individu mengenalnya. Bahan pelajaran yang tidak dikenal oleh siswa akan sangat "tidak berarti" bagi siswa (verbal) sehingga tidak ada pengertian individu terhadap bahan tersebut.
d. Berat ringannya tugas : hal ini ada kecenderungan dengan usia siswa, namun demikian tugas yang ringan mengurangi tantangan belajar, sebaliknya tugas yang berat membuat siswa menjadi jera.
e. Suasana lingkungan eksternal: pengertian lingkungan eksternal menyangkut banyak hal antara lain: cuaca (suhu, mendung, hujan, lembab); waktu (pagi, siang, sore, malam); kondisi tempat (kebersihan, letak sekolah, pengaturan kelas, ketenangan, kegaduhan); penerangan (berlampu, bersinar matahari, gelap, remang-remang). Faktor-faktor ini mempengaruhi sikap dan reaksi individu dalam akrivitas belajarnya, sebab individu yang belajar adalah interaksi dengan lingkungannya.
2. Faktor-faktor Metode Belajar
a. Kegiatan berlatih/praktek
Berlatih yang dilakukan secara marathon dapat melelahkan dan membosankan, sehingga latihan yang terdistribusi menjamin terpeliharanya stamina dan kegairahan belajar.
b. Resitasi selama belajar
Untuk meningkatkan kemampuan membaca dengan jalan menghafal bahan bacaan. Apabila bahan tersebut telah hafal, akan dilanjutkan pada bahan berikutnya.
c. Pengenalan hasil belajar
Siswa perlu mengetahui kemajuan belajarnya, agar ia dapat meningkatkan upaya belajarnya.
d. Penggunaan media pembelajaran yang Iengkap:
Baik alat pembantu pembelajaran elektronik maupun non elektronik. e. Bimbingan belajar :
f. Pemberian insentif
Hal-hal berupa pujian maupun hadiah-hadiah.
3. Faktor-faktor Individual
a. Kematangan
Perubahan kuantitatif di dalam struktur jasmani dibarengi dengan perubahan kualitatif terhadap struktur tersebut. kematangan memberikan kondisi dimana fungsi-fungsi fisiologis termasuk sistem syaraf dan fungsi otak menjadi berkembang dan menumbuhkan kapasitas mental dan hal ini mempengaruhi belajar.
b. Usia Kronologis
Semakin tua usia siswa semakin meningkat pula kematangan berbagai fungsi fisiologisnya. Anak yang lebih tua lebih kuat, lebih sabar, lebih sanggup melaksanakan tugas-tugasnya, lebih mampu mengarahkan energi dan perhatiannya. c. Perbedaan jenis klamin
Adanya perbedaan pada pola tingkah laku dan peranan serta perhatian terhadap suatu pekerjaan.
d. Pengalaman siswa sebelumnya
Pengalaman yang diperoleh anak sebelumnya mempengaruhi belajar terutama pada transfer belajarnya, terbukti pada anak yang berasal dari kelas sosial ekonomi
menengah dan tinggi, mempunyai pengertian verbal yang lebih baik.
e. Kondisi kesehatan jasmani dan rohani
Kecacadap jasmani maupun rohani akan mengganggu perbuatan belajar seseorang.
D. TEORI-TEORI BELAJAR DAN IMPLIKASINYA
Ada beberapa teori belajar yang saat ini dipergunakan dalam kegiatan belajar dan pembelajaran antara lain :
1.
Teori koneksionisme oleh Edward Thorndike
-Behaviorisme
Landasan teori Thorndike mula-mula dilakukan dalam eksperimen-eksperimen pada hewan, dengan maksud untuk mengetahui apakah hewan dapat memecahkan masalah dengan jalan berpikir ataukah melalui proses yang lebih mendasar sifatnya (seperti dilatih
dalam jangka waktu yang lama).
Dari beberapa eksperimen yang dilakukan oleh Thorndike pada beberapa hewan kurungan, dimana hewan kurungan tersebut mempunyai kelakuan yang bermacam macam seperti: menggaruk-nggaruk sangkarnya, menggigit maupun mencakar sangkarnya, sebagai upaya agar bisa lepas dari sangkar menuju ke tempat penyimpanan makanan di sangkar sebelahnya.
Dalam satu penelitian Thorndike, dimana seekor kera dimasukkan ke dalam sebuah kurungan, di sebelahnya terdapat sebuah kotak berisi pisang, dan dikunci memakai palang pembatas. Pada hari pertama: kera memerlukan 36 menit untuk dapat membuka palang kunci agar dapat memperoleh pisang di dalam kotak. Pada hari kedua: kera tersebut hanya memerlukan 2 menit 30 detik saja, kera telah berhasil membuka palang kurungan untuk memperoleh pisang di dalam kotak.
Dari hasil penelitian Thorndike, dapat disimpulkan bahwa respons lepas dari kurungan, diasosiasikan sebagai stimulus dalam belajar coba-coba atau "trial and error".
Ditinjau hubungannya dengan dunia pendidikan, maka hasil penelitian Thorndike memberi sumbangan melalui hukum latihannya dan law effectnya, dimana Iatihan yang dilakukan secara berulang-ulang memberi peluang timbulnya respons yang berarti.
Dasar penelitian Thorndike, kemudian diteruskan oleh B. F. Skinner yang terkenal dengan "Teori Opérant Conditioning". Kalau pada penelitian Thorndike yang diberi kondisi adalah stimulusnya (melalui Iatihan), sedangkan pada Opérant Conditioning yang diperkuat adalah respons-nya. Siswa yang belajar sungguh-sungguh dan mendapat nilai yang baik Nilai yang baik itu mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang lebih baik itu merupakan Opérant Conditioning.
2. Teori Kondisioning Klasik - Ivan Petrovich
Pavlov
Penelitian ini menggunakan seekor anjing yang diikat menghadap cermin dan salah satu bagian pipinya dilobangi Ialu ditanamkan pipa dan sebuah mangkok untuk mengukur keluarnya air liur (saliva) sang anjing.
Sebelum eksperimen dimulai, Pavlov menaruh daging di mulut anjing, ternyata air liur anjing itu keluar. Menurut Pavlov air liur (saliva) anjing yang keluar itu adalah suatu respons "yang tidak dipelajari" yang diberinya istilah "Unconditioned Response = UR",
sedangkan daging yang diberikan disebutnya dengan istilah "Unconditioned Stimulus = US".
Berikutnya setiap kali anjing diberi daging (makan), bel dibunyikan. Bunyi bel ini disebut "Conditioning Stimulus = CS". Setiap kali memberi makan dan membunyikan bel disebut "satu trial". Jadi, satu trial adalah terdiri dari datangnya CS disertai US yang diikuti UR.
Setelah dilakukan kurang lebih 12 trial, maka terjadi sesuatu hal yang menarik. Pada saat bel dibunyikan (CS), makanan (daging) tidak diberikan, namun yang menarik anjing tersebut mengeluarkan aii liurnya (Saliva). Air liur (saliva) yang keluar tersebut disebut "Conditioned Responses". Keluarnya air liur tersebut disebabkan oleh bel yang berbunyi, sebab biasanya apabila bel berbunyi, maka makanan ada di tempatnya. Conditioned Response adalah hasil belajar, sedangkan pemberian makanan disebut sebagai penguatan, sedangkan makanan disebut penguat. Teori ini memberikan petunjuk praktis dalam merancang kegiatan belajar mengajar, menghindari perasaan-perasaan negatif, tindakan guru yang menimbulkan rasa takut pada siswa.
3. Teori Gestalt - Wolfgang Kohler
Konsep yang dikembangkan oleh teori ini terhadap belajar adalah "insight = pemahaman", yaitu pengamatan/pemahaman terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian dalam suatu permasalahan.
Wolfgang Kohlar telah mengadakan eksperimen pada seekor simpanse yang dimasukkan ke dalam sebuah kandang. Di atas kandang tergantung beberapa sisir pisang, dan terletak pula beberapa buah kota kayu secara sembarangan. Mula-mula simpanse itu berupaya dengan bermacam-macam perilaku untuk mendapatkan pisang itu, tetapi selalu gagal. Beberapa lama, rupanya simpanse itu tiba-tiba mengerti hubungan antara kotak-kotak kayu dengan pisang yang tergantung. Simpanse dapat menyusun kotak-kotak-kotak-kotak kayu tersebut sehingga ia dengan mudah dapat mengambil pisang.
Hubungan eksperimen ini dengan belajar adalah adanya 'pemahaman" atau "insight" yang terjadi sangat tergantung kepada kompleksitasnya situasi permasalahannya. Apabila permasalahan itu mirip dengan situasi terdahulu, maka insight akan lebih cepat terjadi. Dengan adanya insight, belajar dapat diulang-ulang. Selain itu, dengan adanya insight, dapat diterapkan pada situasi yang lain.