• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGUKURAN INTELIGENSI

Dalam dokumen Perkembangan Peserta Didik (Halaman 35-41)

Usaha-usaha untuk mengukur inteligensi sudah lama dilakukan. Salah satu usaha yang terkenal adalah dilakukan oleh Francis Galton (1822-1911). Pada tahun 1884 ia membuka stand pada sebuah pameran yang disebutnya Antroplogytrice Labroatory, yaitu tempat orang bisa minta diukur tinggi badannya, berat badannya, kekuatan otot, kejelian penglihatan, lebar  rentang lengan dan sebagainya. Namun dalam kenyataannya Galton menjadi kecewa, sebab kegiatan di laboratoriumnya itu tidak mempunyai korelasi dengan kecerdasan.

Pada tahun 1904 Alfred Binet dan Theodor Simon, dua orang psikolog Perancis telah mempelajari kecerdasan di salah satu lembaga pendidikan di Paris untuk merancang alat evaluasi yang dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas khusus (siswa-siswa yang kurang pandai). Tes ira disebut test Binet-Simon.

Mula-mula IQ diperhitungkan dengan membandingkan "umur mental (Mental Age = MA) dengan umur kronologis (Chronological AGE = CA)". Apabila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental)

tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya pada individu seumur dia saat itu (umur  kronologis), maka akan diperoleh skor 1 (satu). Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Bila MA lebih tinggi dari CA, akan diperoleh skor lebih tinggi dari 100 (yang mengindikasi kemajuan intelektual). Sebaliknya bila MA lebih rendah dari CA, akan diperoleh skor kurang dari 100 (yang mengindikasikan keterbelakangan mental).

Rumus:

Hasil Inteligensi dinyatakan dalam angka, yang menggambarkan perbandingan antar  umur kemampuan mental atau kecerdasan (Mental Age) dan umur Kalender (Chonological Age (C A)).

Apabila tes tersebut diberikan kepada anak umur tertentu dan ia dapat menjawab dengan betul seluruhnya, berarti umur kecerdasannya (MA) sama dengan umur kalender  (CA), maka nilai IQ yang didapat anak itu sama dengan = 100. Nilai ini menggambarkan kemampuan seseorang anak yang normal.

Anak yang berumur, misalnya = 6 tahun hanya dapat menjawab tes untuk anak 5 tahun, akan didapat nilai IQ dibawah = 100 dan dinyatakan sebagai anak kemampuan dibawah normal; sebaliknya bila umur = 5 tahun dapat menjawab dengan benar untuk umur = 6 tahun , maka nilai IQ anak itu di atas 100 , dan dikatakan sebagai anak yang cerdas.

Jalannya percobaan :

Mula-mula kita ajukan pertanyaan 5 pertanyaan yang sesuai dengan umur anak; misalnya umur anak 6 tahun. Kita ajukan pertanyaan yang untuk 6 tahun, kalau pertanyaan itu dapat dijawab semua, maka ajukan pertanyaan untuk umur diatasnya untuk umur 7 tahun dan seterusnya sampai pertanyaan itu tidak dapat dijawab, dan ajukan pertanyaan umur  dibawahnya (untuk 5 tahun dan seterusnya) sampai pertanyaan itu dapat dijawab.

Kemudian kita hitung umur kecerdasan dengan cara sebagai berikut :

Pertanyaan dijawab semua di nilai sama dengan umur pertanyaan itu.

Sedangkan jawaban-jawaban yang betul lainnya masing-masing di nilai = 1/5 kemudian semuanya dijumlahkan.

Jika jumlah semua tersebut kita bagi dengan umur kalender anak dikali 100 dapatlah IQ seseorang itu.

Contoh : Tanda X = betul, sedangkan tanda ( - ) adalah salah.

Pada tahun 1916 Lewis Terman seorang ahli psikolog Universitas Standord Amerika Serikat melakukan perbaikan tes Binet-Simon. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara Mental Age (MA) dan Chronological Age (CA) yang banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak sampai pada usia 13 tahun. Tes ini disebut test Stanford-Binet.

Dari hasil-hasil yang sudah ada, berkembanglah teori-teori yang berbeda mengenai kecerdasan. Salah satu reaksi atas test Binet-Simon ataupun Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum, dilakukan oleh Charles Sperman. Tokoh ini mengatakan inteligensi tidak  hanya terdiri dari satu faktor saja yang umum (G faktor) tetapi terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik (S faktor)/ teori ini disebut "Teori faktor (faktor Theory of ïnteligence)".

Alat tes inteligensi yang dikembangkan oleh teori faktor ini adalah "WAIS" (Wechsler  Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa dan "WISC" (Wechsler Intelligence Scale for  Children) untuk anak-anak. Bila dalam tes Binet-Simon maupun Stanford-Binet hanya memperoleh satu skor IQ, maka dengan WAIS dan WISC terdapat tiga macam skor yaitu: satu nilai total score dan dua subscale scores (verbal dan performance).

Penggolongan IQ

Interval IQ Penggolongannya

Diatas 180 • Genius/Luar biasa

140-179 Gifted, tidak Genius tetapi menonjol dan populer  130 -139 • Cerdas Sekali/Sangat superior (genius)

120 -129 • Cerdas/Superior   110 -119 • Pandai

90-109 • Rata-rata (average) atau sedang * 80-89 • Bodoh (dull = lambat belajar) 70-79 Batas bisa diajar (Inferior) 50-69 • Moron/ Dibil

-20-49 • Embisil

0-19 • Idiot

Jenjang Pendidikan tertinggi yang dapat dicapai dengan tingkat kecerdasan tertentu adalah sebagai berikut :

2. 90(sedang) - SMU

3. 80-89 (bodoh) - SLTP(kelas I kadang kelas H)

4. 70-79 (Inferior) - SD (kelas IV, kadang Kelas V)

5. 60-69 (Moron)-SD Kelas III

6. 50 - 59 (moron) - SD (kelas I, kadang Kelas H)

7. Dibawah 50 (Imbisil dan Idiot) - SD (tidak dapat ditempuh)

C. KECERDASAN INTELIGENSI DAN BAKAT

Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. Dalam kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan spesifik ini memberikan suatu kondisi yang memungkinkan individu untuk mencapai pengetahuan, kecakapan, keterampilan yang dicapai melalui suatu latihan. Inilah yang disebut bakat (aptitude). Bakat tidak dapat terlihat melalui tes inteligensi, tetapi melalui tes bakat secara tersendiri.

Alat yang dipergunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut "tes bakat = aptitude test". Karena sifatnya khusus, maka tes ini dirancang khusus untuk  mengungkapkan kemampuan yang amat spesifik. Tes bakat yang dirancang untuk  menggunakan prestasi dan yang dipakai di dalam bidang pekerjaan disebut vocational test dan interest inventory.

Contoh :

Scholastic Aptitude Test seperti Test Potensi Akademik (TPA) atau Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan untuk Vocational Aptitude test atau interest inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT)

D. HUBUNGAN INTELEKTUAL DENGAN TINGKAH LAKU

Kemampuan berpikir abstrak menunjukkan perhatian seseorang kepada kejadian dan peristiwa yang tidak konkret, misalnya pilihan pekerjaan, pilihan pasangan hidupnya, dan lainnya, yang sebenarnya masih jauh di depannya. Kemampuan abstraksi para remaja akan berperan dalam perkembangan pribadinya, tentu saja corak perilaku pribadi di hari depan dan corak tingkah lakunya sekarang pasti berbeda.

Pemikiran (intelek) itu terwujud dalam refleksi diri (bentuk tingkah laku) yang sering mengarah ke penilaian dan kritik diri. Hasil penilaian tentang dirinya tidak selalu diketahui orang lain, bahkan sangat dirahasiakan.

Pemikiran (intelek) remaja sering dipengaruhi oleh ide-ide dan teori-teori yang menyebabkan sikap kritis (tingkah laku) terhadap situasi dan orang tua. Setiap pendapat orang tua dibandingkan teori yang diikuti atau diharapkannya. Sikap kritis ini juga ditunjukkan dalam hal-hal yang sudah umum baginya pada masa sebelumnya, sehingga tata cara, adat istiadat, yang berlaku di kalangan keluarga sering terjadi/ada pertentangan dengan sikap kritis yang tampak pada perilakunya.

Disamping itu pengaruh egosentris masih terlihat pada pikiran anak seperti berikut ini :

• Cita-cita dan idéalisme yang baik, selalu menitikberatkan pada pikiran sendiri tanpa memikirkan akibatnya, dan tanpa memikirkan jalan keluar untuk menyelesaikan permasalahan.

• Kurang menghargai pendapat orang lain, karena pandangan dan penilaian terhadap dirinya sendiri dianggap sama dengan orang lain.

Egosentrisme inilah yang menyebabkannya "kekakuan" pada masa remaja dalam cara berpikir maupun bertingkah laku. Persoalan yang timbul pada masa remaja banyak bertalian dengan perkembangan fisik yang dirasakan menekan dirinya, karena disangka orang lain sepikiran dan ikut tidak puas mengenai penampilan dirinya. Hal ini menimbulkan perasaan "seperti" selalu diamati orang, perasaan malu dan membatasi gerak-geriknya. Akibatnya, akan terlihat pada tingkah laku yang kaku.

Egosentris dapat menimbulkan reaksi lain, dimana remaja justru melebih-lebihkan diri dalam penilaian dirinya. Mereka merasa dirinya "hebat" atau "ampuh" sehingga berani menantang malapetaka dan menceburkan diri dalam aktivitas berbahaya. Misalnya: seorang remaja yang menghajar seorang pencopet di tempat yang ramai tanpa memperhitungkan resiko bahwa pada suatu saat pencopet itu mengadakan perlawanan.

Melalui banyak pengalaman dan menghargai pendapat orang lain, lambat laun egosentris semakin berkurang, dan semakin kecil sehingga remaja dapat berpikir abstrak  dengan mengikutsertakan pendapat dan pandangan orang lain.

E.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN INTELEK 

Sejauh manakah perkembangan inteligensi dipengaruhi oleh faktor-faktor dasar, sejauh mana dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan? Bagaimana sifat inteligensi itu ? apakah inteligensi merupakan faktor bakat ? Adalah pandangan yang sangat keliru jika IQ bisa ditingkatkan. Menurut Andi Mapiare (1982), mengetengahkan hal-hal yang

mempengaruhi perkembangan intelek antara lain:

• Bertambahnya informasi yang disimpan (dalam otak) seseorang sehingga ia mampu berpikir reflektif.

• Banyaknya pengalaman-pengalaman dan Iatihan-Iatihan memecahkan masalah sehingga seseorang dapat berpikir proporsional (sebanding atau seimbang).

• Adanya kebebasan berpikir, menimbulkan keberanian seseorang dalam menyusun hipotesis-hipotesis yang radikal, kebebasan menjajaki masalah secara keseluruhan, dan menarik kesimpulan yang benar.

Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan intelek adalah seperti berikut ini :

1. Pengaruh pengalaman :

Bahwa anak-anak yang pernah mengikuti pra-sekolah (misalnya Taman Kanak-Kanak) menunjukkan perbedaan kemajuan belajar atau "gained" yang lebih baik dari pada anak-anak yang tidak pernah mengalaminya.

2. Pengaruh lingkungan :

Beberapa pendataan yang telah dilakukan terbukti bahwa: semakin tinggi kualitas lingkungan rumah, mendorong semakin tinggi pula IQ anak.

Penelitian ini menemukan 3 unsur penting dalam keluarga yang amat berpengaruh, yaitu :

Jumlah buku, majalah, dan materi belajar lainnya yang terdapat dalam lingkungan keluarga.

Jumlah ganjaran dan pengakuan yang diterima oleh anak dari orang tua atau prestasi akademiknya.

Harapan orang tua akan prestasi akademik anaknya

F. BAKAT KHUSUS

Dalam bidang tertentu manusia mungkin menunjukkan keunggulannya dîbandingkan dengan orang lain. Oleh sebab itu, program pendidikan yang dirancang tidak hanya memperhatikan kemampuan untuk belajar saja, tetapi perlu pula diperhitungkan kecakapan khusus atau bakat yang dimiliki peserta didik.

Jadi, apakah sebetulnya yang disebut dengan istilah ''bakat" atau aptitude"? bagaimana dengan kemampuan (ability)?. Bagaimana dengan kapasitas (capacity), serta "insting"? Bakat dapat diartikan sebagai kemampuan bawaan yang merupakan potensi (potential ability) yang masih perlu dikembangkan atau dilatih. Kemampuan adalah daya untuk melakukan suatu

tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Kemampuan menunjukkan bahwa suatu tindakan dapat dilaksanakan sekarang, sedangkan bakat memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu tindakan dapat dilakukan dimana yang akan datang.

Kapasitas sering digunakan sebagai minomim untuk kemampuan dan biasanya diartikan sebagai kemampuan yang dapat dikembangkan sepenuhnya di masa mendatang apabila latihan dilakukan secara optimal. Dalam praktik, kapasitas seseorang jarang tercapai. Insting, umumnya terdapat pada hewan, dimana dengan insting itu hewan dapat melakukan sesuatu tanpa latihan sebelumnya.

Jadi, pengertian bakat adalah kemampuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan atau keterampilan yang relatif bisa bersifat umum (misalnya bakat intelektuai umum) maupun bakat khusus (bakat akademis). Bakat khusus atau talent disini dimaksudkan seseorang yang mempunyai kemampuan bawaan untuk bidang tertentu, misalnya bakat menggambar, menyanyi dan sebagainya (Conny Semiawan, 1997).

Dalam dokumen Perkembangan Peserta Didik (Halaman 35-41)

Dokumen terkait