III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
3.3 Metode Penelitian
3.3.2. Faktor-faktor yang Berperan pada Tingkat Kerusakan Akibat Tsunami Tsunam
Pemilihan faktor yang diduga berperan dalam tingkat kerusakan akibat tsunami dilakukan berdasarkan analisis karakteristik spesifik lokasi dan beberapa hasil penelitian terkait tsunami dan faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut kemudian dikaji menggunakan analisis korelasi untuk menentukan faktor penentu tingkat kerawanan kerusakan akibat tsunami.
Kesemua faktor dianalisis dalam bentuk peta dengan menggunakan analisis SIG. Proses awal adalah penyiapan peta-peta input yang merupakan peta faktor- faktor yang akan dijadikan input model. Peta pendukung adalah peta dasar yang menjadi acuan bagi peta faktor dan mendukung analisis faktor.
Oleh karena lokasi penelitian merupakan wilayah pantai, maka semua peta dasar dan peta faktor direvisi garis pantainya berdasarkan garis pantai yang diperoleh dari penampakan citra satelit. Citra yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra Landsat TM tanggal 10 Oktober 2006 yaitu setelah kejadian tsunami. Citra ini juga digunakan untuk mendapatkan peta kerapatan vegetasi.
Peta pendukung mencakup peta administrasi dan peta sistem lahan. Peta administrasi mencakup batas desa, kecamatan dan kabupaten. Peta sistem lahan mencakup informasi tentang nama sistem lahan, karakteristik lahan dan kesesuaian lahan.
Faktor yang telah dikaji dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Faktor pembentuk model kerawanan kerusakan akibat tsunami
No Faktor-faktor yang dikaji
1 Bentuk Pantai (Sutowijoyo (2005), Chandrasekar et al. (2006), Diposaptono dan Budiman (2008)
2 Jarak dari garis pantai (Kumaraperal et al (2007))
3 Kemiringan (slope)
(Diposaptono dan Budiman (2008), Pribadi et al. (2006))
4 Ketinggian tempat
(Chandrasekar et al. (2006), Diposaptono dan Budiman (2008).
5 Tutupan lahan (Diposaptono dan Budiman (2008), Pribadi et al. (2006))
6 Vegetasi
(Diposaptono dan Budiman (2008), Harada dan Kawata (2004), Sudarmono (2005))
19
3.3.2.1. Kelas Bentuk Pantai
Input yang dipakai adalah peta garis pantai selatan Jawa Barat. Garis pantai diperoleh berdasarkan penampakan garis pantai pada citra Landsat TM bulan Oktober 2006. Pada pantai Kabupaten Ciamis terdapat bentuk pantai rata, lekuk, bentuk V atau tanjung dan bergerigi (gergaji).
Bentuk pantai menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi besarnya kerusakan akibat tsunami (Sutowijoyo 2005). Tinggi gelombang tsunami mencapai maksimum pada pantai dengan morfologi landai dan berlekuk seperti teluk, muara sungai dan tanjung karena adanya proses refraksi dan difraksi gelombang. Hal ini terlihat pada kasus tsunami di Teluk Lhoknga NAD 26 Desember 2004 dengan tinggi run up 31,5 m, Teluk Pancer Banyuwangi 2 Juni 1994 yang mencapai tinggi run up 14 m dan di Teluk Korim Biak 17 Pebruari 1996 dengan tinggi run up 12 m. Wilayah pesisir di Indonesia umumnya memiliki teluk berbentuk V yang berasosiasi dengan tanjung dan muara sungai yang banyak dan berderet satu sama lain sehingga menyerupai gigi gergaji. Kondisi ini menimbulkan gelombang tsunami di pantai semakin tinggi akibat adanya amplifikasi gelombang oleh teluk berbentuk V tersebut (Diposaptono dan Budiman (2008). Chandrasekar et al. (2006) membagi pantai kedalam beberapa zona berbeda berkaitan dengan fitur geomorfik pantai. Areal pantai dibagi kedalam zona pantai terbuka, zona estuari dan zona dataran tinggi.
3.3.2.2. Kelas Jarak dari Garis Pantai
Input yang dipakai adalah peta garis pantai selatan Jawa Barat. Garis pantai diperoleh berdasarkan penampakan garis pantai pada citra Landsat TM bulan Oktober 2006.
Masing-masing garis pantai dibuat buffer dengan jarak per 100 m dari pantai kemudian dilakukan pengkelasan berdasarkan kedekatan dari garis pantai. Prosesing data dilakukan dengan perangkat lunak ArcView.
3.3.2.3. Kelas Ketinggian Tempat
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Chandrasekar et al. (2006), daerah yang lebih tinggi mengalami jarak inundasi lebih pendek daripada daerah
20
yang lebih rendah. Pembuatan Digital Elevation Model (DEM) dan pengkelasan dilakukan dengan perangkat lunak ArcView.
Ketinggian wilayah dibagi kedalam kelas yang lebih rinci dengan interval tinggi 2,5 m. Hal ini dilakukan untuk lebih memperdalam hubungan antara faktor ketinggian dengan kerawanan kerusakan akibat tsunami.
3.3.2.4. Kelas Kemiringan lereng
Tinggi gelombang tsunami mencapai maksimum pada pantai yang landai. Tsunami tertahan pada pantai yang terjal (Diposaptono dan Budiman 2006). Pribadi et al. (2006) mengamati wilayah pesisir dengan tebing–tebing pasir relatif aman dibandingkan pantai dengan topografi landai. Dampak tsunami lebih terlihat pada pantai dengan topografi datar dibandingkan daerah dengan topografi bergelombang (Chandrasekar et al. 2006).
Input yang digunakan adalah peta kontur dengan perangkat lunak ArcView bagian Spatial Analyst. Pengkelasan kemiringan lereng dilakukan dengan interval 4%. Dengan interval kemiringan lereng lebih rinci hubungan antara kemiringan lereng dengan kerawanan kerusakan akibat tsunami dapat lebih terlihat. Hal ini berguna untuk memperoleh informasi lebih mengenai peran kemiringan lereng terhadap kerusakan akibat tsunami.
3.3.2.5. Kelas Kerapatan Vegetasi
Sudarmono (2005) menyatakan bahwa jajaran pohon yang cukup banyak dan berlapis-lapis dapat memecah gelombang dan memperlemah daya dorongnya. Penelitian Harada dan Kawata (2004) menunjukkan bahwa dalam kasus tsunami dengan tinggi gelombang 3 m, hutan pantai dengan kerapatan hutan 30 m per 100 m2, diameter batang 15 cm, dan lebar hutan 200 m dapat mengurangi kedalaman inundasi hingga 50-60% dan kecepatan aliran hingga 40-60%.
Peta kerapatan vegetasi dibuat melalui klasifikasi citra Landsat menggunakan perhitungan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Band yang dipakai adalah band infra merah dekat (near infra red/NIR) dan merah (red). Indeks ini memiliki kisaran nilai antara -1 dan +1. Vegetasi lebat akan mendekati nilai 1 (Jaya 2009). Rumus dari indeks vegetasi ini adalah:
NIR – RED NIR + RED NDVI =
21
Hasil klasifikasi citra dikelaskan kedalam kelas kerapatan vegetasi.
Kerapatan vegetasi dibagi kedalam tiga kelas, yaitu “Kerapatan Tinggi”, “Kerapatan Sedang”, dan “Kerapatan Rendah”. Pembagian kelas tersebut didapat dengan membagi rentang nilai NDVI kedalam tiga kelas.
3.3.2.6. Kelas Tutupan Lahan
Informasi tutupan lahan diperoleh dari peta tutupan lahan Badan Planologi tahun 2006. Kelas tutupan lahan yang ada di wilayah pantai Ciamis adalah Hutan Lahan Kering Sekunder, Semak/Belukar, Perkebunan, Tanah Terbuka, Hutan Mangrove Sekunder, Hutan Rawa Sekunder, Semak/Belukar Rawa, Pertanian Lahan Kering dengan Semak, Pertanian Lahan Kering Bercampur Semak, Sawah, Tambak, Tubuh Air dan Permukiman. Peta tersebut dikelaskan kembali dengan mengelompokkan kelas kedalam kelas lebih umum.
Vegetasi mempunyai tingkat reduksi tertentu saat terkena gelombang tsunami di suatu daerah. Dalam kaitannya dengan kepekaan terhadap tsunami, hutan dikategorikan sebagai jenis vegetasi yang sangat tidak peka diikuti oleh semak belukar, dan kebun. Ladang agak peka terhadap tsunami diikuti oleh rumput yang peka terhadap tsunami, sedangkan sawah sangat peka dan rawa sangat peka sekali. Pasir pantai juga dikatakan sangat peka terhadap tsunami (Diposaptono dan Budiman 2008).
Melalui penelitian ini ingin diketahui bagaimana faktor biofisik kawasan pantai Ciamis berperan dalam kerusakan akibat tsunami sehingga diketahui bagaimana hubungan masing-masing faktor dengan kerusakan akibat tsunami. Kajian faktor biofisik yang berperan dalam kerusakan akibat tsunami akan memberikan informasi mengenai faktor mana saja yang berpengaruh dalam kerusakan akibat tsunami khususnya di kawasan pantai Ciamis. Informasi ini sangat penting bagi pemodelan spasial kerawanan kerusakan akibat tsunami yang nantinya berguna bagi upaya perlindungan wilayah dan rehabilitasi kawasan pantai.