Permasalahan didalam rumah tangga sering kali terjadi, dan memang sudah menjadi bagian dalam lika-liku kehidupan didalam rumah tangga, dan dari sini dapat diketahui kasus “perceraian” yang kerap kali menjadi masalah dalam rumah tangga.52 Pada dasarnya faktor yang menyebabkan terjadinya perceraian sangat unik dan kompleks dan masing-masing keluarga berbeda satu dengan lainnya. Adapun faktor-faktor yang mengakibatkan perceraian dalam rumah tangga yang dapat dikemukakan adalah dikarenakan faktor ekonomi. Tingkat kebutuhan ekonomi di jaman sekarang ini memaksa kedua pasangan harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, sehingga seringkali perbedaan
52 Armansyah Matondang, Faktor-faktor Yang Mengakibatkan Perceraian dalam Perkawinan, Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Sosial Politik UMA ,Vol. 2, 2014, hal 143
dalam pendapatan atau gaji membuat tiap pasangan berselisih, terlebih apabila sang suami yang tidak memiliki pekerjaan.53
Selain faktor ekonomi, Naqiyah dalam Armansyah Matondang 54 menjelaskan bahwa penyebab perceraian juga dipicu maraknya pernikahan di bawah umur. Pernikahan di bawah umur membuat mereka belum siap mengatasi pernik-pernik pertikaian yang mereka jumpai. Pernikahan memerlukan kesatuan tekad, kepercayaan dan penerimaan dari setiap pasangan menjalani mahligai perkawinan. Ketidaksiapan pasangan tentu berhubungan dengan tingkat kedewasaan, mengatasi persoalan yang terkait dengan kehidupan, seperti keuangan, hubungan kekeluargaan, pekerjaan setiap pasangan. Cara mereka berpikir, bertindak menentukan cara mereka mengambil keputusan dalam hidup.
Menikah di bawah umur yang disertai pendidikan rendah menyebabkan tidak dewasa.
Faktor selanjutnya adalah faktor kurangnya pendidikan agama. Daradjat55 menyatakan bahwa orang yang melaksanakan ajaran agama dalam hidupnya, moralnya dapat dipertanggungjawabkan, sebaliknya orang yang akhlaknya merosot biasanya keyakinannya terhadap agama kurang atau tidak ada sama sekali. Demikian pula dalam keluarga bila tidak mengamalkan ilmu agama dengan segenap ajarannya, maka keluarga itu akan kehilangan arah dan pegangan dalam membina kehidupan keluarga. Hal senada dikatakan oleh Aziz dalam Armansyah Nasution 56 yang menyatakan bahwa banyak terjadi perceraian dikarenakan kurangnya pengajaran terhadap agama, dikarenakan ajaran agamalah
53 Ibid
54 Ibid
55 Z. Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, ( Jakarta:Bulan Bintang, 1991), hal 30
56 Armansyah Matondang, Op cit
yang dapat dijadikan pedoman dalam menetralkan suatu keluarga. Kemudian, George Levinger dalam Robby Darwis Nasution57 menyatakan bahwa penyebab perceraian disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut :
a. Pasangannya sering mengabaikan kewajibannya terhadap rumah tangga dan anak, seperti jarang pulang ke rumah, tidak adanya kedekatan emosional dengan anak dan pasangan;
b. Masalah keuangan yang tidak mencukupi untuk kebutuhan keluarga;
c. Adanya penyiksaan fisik terhadap pasangan;
d. Pasangan sering membentak dan mengeluarkan katakata kasar dan menyakitkan;
e. Tidak setia lagi, seperti mempunyai kekasih lain;
f. Ketidakcocokan dalam masalah hubungan seksual dengan pasangannya, seperti sering menolak dan tidak bisa memberikan kepuasan;
g. Sering mabuk;
h. Adanya keterlibatan atau campur tangan dan tekanan sosial dari pihak kerabat pasangannya;
i. Seringnya muncul kecurigaan, kecemburuan serta ketidak-percayaan dari pasangannya;
j. Berkurangnya perasaan cinta sehingga jarang berkomunikasi, kurang perhatian dan kebersamaan di antara pasangan;
k. Adanya tuntutan yang dianggap terlalu berlebihan sehingga pasangannya sering menjadi tidak sabar, tidak ada toleransi dan dirasakan terlalu menguasai
57 Robby Darwis Nasution, Upaya Pemerintah dalam Upaya Penanggulangan Perceraian di Kabupaten Ponorogo, (Ponorogo :Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Ponorogo, 2019), hal 5
Kemudian Dariyo dalam Robby Darwis58 menyatakan bahwa perceraian merupakan titik puncak dari pengumpulan berbagai permasalahan yang menumpuk beberapa waktu sebelumnya dan jalan terakhir yang harus ditempuh ketika hubungan perkawinan itu sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Faktor penyebab perceraian adalah Pertama, ketidaksetiaan salah satu pasangan hidup.
Kedua, tekanan kebutuhan ekonomi keluarga, ketiga, tidak mempunyai keturunan, keempat, perbedaan prinsip hidup dan agama. Yang kemudian dilengkapi dengan penjelasan Sulistyowati59 bahwa faktor yang mempengaruhi perceraian adalah kurangnya kesiapan mental, permasalahan ekonomi. kurangnya komunikasi antar pasangan, campur tangan keluarga pasangan; dan, perselingkuhan.
Goode, dan Scanzoni menyatakan bahwa perubahan pada tingkat perceraian merupakan indikasi terjadinya perubahan-perubahan lainnya didalam masyarakat yakni :60
1. Berkaitan dengan perubahan pada nilai dan norma tentang perceraian, masyarakat pada umumnya tidak lagi memandang perceraian sebagai suatu hal yang memalukan dan mentoleransi perceraian sebagai suatu alternatif jalan terbaik bagi pasangan itu
2. Adanya perubahan pada tekanan-tekanan sosial dari lingkungan keluarga atau kerabat, teman-teman dan lingkungan ketetanggaan terhadap ketahanan sebuah perkawinan
58 Ibid
59 Ibid
60 Fachrina dan Rinaldi Eka Putra, Upaya Pencegahan Perceraian Berbasis Keluarga Luas dan Institusi Lokal dalam Masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat, Jurnal Antroplogi Indonesia, Vol. 34 No.2, 2013, hal 103
3. Menguatnya gejala individualis dan menjadikan persoalan rumah tangga adalah urusan pribadi
4. Peralihan fungsi-fungsi keluarga kepada lembaga lainnya di luar keluarga dan
5. Adanya etos kesamaan derajat dan tuntutan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan.
Pendapat-pendapat sebagaimana yang dikemukakan di atas diperjelas dalam sebuah pernyataan bahwa penyebab terjadinya perceraian disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :61
1. Penyebab kemungkinan terjadinya perceraian di tengah masyarakat yang pertama adalah status sosial ekonomi. Pasangan yang memiliki income atau pendapatan yang rendah adalah golongan yang lebih gampang bercerai.
2. Penyebab kedua kemungkinan terjadinya perceraian adalah usia saat menikah. Usia saat menikah adalah prediksi yang sangat kuat kemungkinannya untuk bercerai. Berdasarkan berbagai penelitian didapati fakta bahwa pasangan yang menikah di usia 20 atau pada usia yang lebih muda memiliki kemungkinan perceraian lebih tinggi terutama selama 5 tahun pertama usia pernikahan.
3. Penyebab kemungkinan selanjutnya tentang perceraian adalah tidak dipunyainya keturunan/anak. Tidak dipunyainya keturunan/anak merupakan alasan terjadinya perceraian.
61http://etheses.uin-malang.ac.id/276/6/12780011%20Bab%202.pdf, diakses pada tanggal 04-01-2020, pukul 13.18
4. Penyebab kemungkinan terjadinya perceraian karena perceraian saat ini sudah menjadi hal yang sudah sangat dimaklumi dan gampang diterima oleh masyarakat. Berbeda dengan beberapa dasawarsa lalu, bahwa perceraian merupakan hal yang sangat tabu, dan layak untuk dihindari, tetapi kini zaman telah berubah. Fakta seperti yang disebutkan di atas mendorong banyak orang menggampangkan menyelesaiakan suatu pertengkaran dengan perceraian.
5. Penyebab kemungkinan terjadinya perceraian adalah permasalahan perbedaan keyakinan antara suami dan istri yang memang pada dasarnya rentan dengan hal perceraian.
Selain beberapa pendapat yang telah diuraikan sebelumnya dalam beberapa peraturan perundang-undangan, telah dirumuskan hal-hal yang menyebabkan terjadinya perceraian, salah satunya terdapat dalam Pasal 9 Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksana atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang menyatakan bahwa penyebab terjadinya perceraian disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut:
a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemandat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disebuhkan.
b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya.
c. Salah satu pihak mendapatkan hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.
d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain.
e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami istri.
f. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan hidup rukun lagi dalam rumah tangga
Ketentuan yang terdapat dalam Peraturan Presiden tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang terdapat dalam Kompilasi Hukum Islam yang menyatakan bahwasanya perceraian dapat terjadi karena alasan sebaga berikut:62
a. salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
b. salah satu pihak mninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya;
c. salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
d. salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain;
e. salah satu pihak mendapat cacat badab atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau isteri;
f. antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga;
g. Suami melanggar taklik talak;
62 Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam
h. peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga.
Selain itu dalam Kompilasi Hukum Islam disebutkan bahwa perkawinan dapat putus karena kematian, perceraian, dan atas putusan pengadilan.63 Jadi perceraian dalam Kompilasi Hukum merupakan salah satu penyebab putusnya perkawinan sama seperti yang diuraikan pada Pasal 38 Undang-Undang Perkawinan.
Dari dua ketentuan tersebut yakni antara Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 1975 dengan Kompilasi Hukum Islam, terdapat banyak kesamaan, hanya saja yang membedakannya adalah dua point tambahan dalam Kompilasi Hukum Islam yang menyatakan bahwa perceraian dapat terjadi dikarenakan suami melanggar taklik talak dan peralihan agama.
Sebagai tambahan, sesuai perkara perceraian yang ditangani oleh Pengadilan Agama Binjai pada tahun 2019 diperoleh rincian penyebab perkara perceraian yakni dikarenakan poligami tidak sehat, krisis moral, mabuk, kawin paksa, ekonomi, tidak ada tanggung jawab, kawin dibawah umur, menyakiti jasmani, menyakiti mental, dihukum, cacat biologis, poligami, gangguan pihak ketiga, gangguan pihak ketiga, tidak ada keharmonisan, dan lain-lain.