Henry V. Surya, Sarjana Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan dari Universitas Indonesia, mengawali karir sebagai asisten pengajar pada Fakultas Ekonomi
FAKTOR-FAKTOR RISIKO
Investasi di Instrumen EBA Kelas A memiliki Risiko. Berikut ini adalah ringkasan dari Risiko–Risiko yang mungkin dapat timbul dan menyebabkan ketidakmampuan KIK DSMF I untuk melakukan pembayaran pokok dan bunga secara penuh pada saat atau sebelum tanggal jatuh tempo. Calon investor diharapkan membaca dengan seksama dan memahami Risiko-Risiko yang terkait dengan investasi pada EBA Kelas A.
1. RISIKO KREDIT ASET KEUANGAN DALAM PORTOFOLIO DANAREKSA EFEK BERAGUN ASET SEBELUM JATUH TEMPO
Risiko yang berkaitan dengan kredit pembiayaan perumahan, dimana masing masing dari Risiko yang disebutkan dibawah dapat menyebabkan kegagalan penagihan kredit KPR dari debitur dimana akhirnya akan mempengaruhi kemampuan untuk membayar pokok hutang dan bunga secara penuh atas EBA Kelas A pada saat jatuh tempo atau pada saat waktu pembayaran kepada pemegang EBA Kelas A. Dalam kondisi tertentu, pemegang EBA Kelas A pun dapat mengalami kerugian pokok nilai investasi.
Tidak ada jaminan bahwa Debitur akan memenuhi kewajibannya sesuai dengan ketentuan perjanjian pinjamannya dan tidak ada jaminan bahwa aliran kas yang diperoleh dari pembayaran debitur ini dapat memenuhi pembayaran pokok pinjaman dan bunga.
Kemampuan dari debitur untuk membayar tergantung dari banyak faktor, tanpa batasan, seperti misalnya kemampuan keuangan masing-masing individu didalam memenuhi kewajibannya, kondisi ekonomi, kondisi politik, perubahan regulasi dan lain hal.
Barang yang dijadikan agunan di dalam EBA Kelas A ini adalah aset fisik tanah dan bangunan dimana terkandung risiko harga yang berfluktuasi. Fluktuasi dari harga asset ini menimbulkan risiko tidak terpenuhinya pembayaran pokok dan bunga atau bahkan risiko kehilangan sebagian atau seluruh pokok nilai investasi yang disebabkan karena tidak tercukupinya nilai dari jaminan yang diambil alih.
Risiko terbesar dari aset yang disekuritisasi yang berasal dari kredit perumahan yang dimiliki oleh BTN sebagai suatu bank adalah risiko kredit yang timbul apabila kelancaran pembayaran kembali pokok pinjaman dan/atau bunga pinjaman mengalami gangguan. Apabila jumlah kredit yang tidak dapat dikembalikan cukup material, termasuk eksekusi terhadap jaminan kredit yang bersangkutan (jika ada), maka akan menurunkan kinerja aset yang disekuritisasi yang pada gilirannya dapat menurunkan imbal hasil investasi dari EBA Kelas A.
2. RISIKO LIKUIDITAS EFEK BERAGUN ASET
Risiko likuiditas adalah risiko finansial yang dimiliki EBA Kelas A sebagai instrumen investasi pasar modal. Risiko yang dapat menyebabkan investor tidak dapat menjual kepemilikan EBA Kelas A di pasar dengan mudah yang bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor seperti kondisi pasar dan kondisi ekonomi.
Meskipun diperdagangkan di bursa, instrumen EBA adalah instrumen baru yang
likuid. Hal ini dapat menjadi hambatan dari pemegang EBA Kelas A untuk dapat menjual kembali EBA Kelas A-nya melalui mekanisme pasar di bursa. Didalam kondisi kredit macet yang menyebabkan eksekusi jaminan terhutang, dimana didalam proses tersebut membutuhkan waktu, dapat mengakibatkan tidak tercapainya pembayaran pokok hutang ataupun bunga kepada investor sesuai jadwal.
3. RISIKO PEMBAYARAN ATAS ASET KEUANGAN DALAM PORTOFOLIO KONTRAK INVESTASI KOLEKTIF EFEK BERAGUN ASET SEBELUM JATUH TEMPO (PREPAYMENT RISK)
Prepayment risk atau pelunasan lebih awal adalah risiko yang diasosiasikan dengan pembayaran atau pelunasan lebih awal, dimana pelunasan tersebut menyimpang dari jadwal pembayaran atau pelunasan yang sebelumnya telah ditentukan. Risiko seperti ini pada umumnya terdapat pada instrumen obligasi seperti efek beragun asset dimana debitur KPR memiliki opsi untuk melakukan pelunasan lebih awal.
Pelunasan lebih awal ini bisa terjadi kapan saja dan Apabila pelunasan lebih awal ini terjadi, maka aliran kas masa depan akan berubah sehingga dapat mempengaruhi performa EBA Kelas A karena proyeksi arus kas imbal hasil investasi menjadi tidak tercapai.
Tingkat pelunasan lebih awal bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor seperti faktor kondisi perekonomian secara umum, mobilitas Debitur dari lembaga pembiayaan satu ke lembaga pembiayaan yang lainnya atau bisa juga disebabkan oleh kondisi kelayakan kredit dari Debitur, tingkat suku bunga dan berbagai macam faktor lainnya.
Setiap bagian dari kredit perumahan yang masuk dalam aset yang disekuritisasi memiliki potensi untuk dilunasi lebih awal oleh para Debitur-nya.
Instrumen EBA Kelas A ini pun memiliki risiko pelunasan lebih awal yang disebabkan karena hak atau opsi yang dimiliki oleh Penyedia Jasa untuk melakukan Clean-up Call apabila Jumlah Pokok Terhutang atas Kumpulan Tagihan telah berkurang sampai 10% (sepuluh persen) atau kurang dari Jumlah Pokok Terhutang atas Kumpulan Tagihan pada Tanggal Cut-Off Final.
Pelaksanaan Clean-up Call oleh Penyedia Jasa sebagai mana tertera dalam prospektus ini memiliki pengaruh sama seperti pelunasan dini KPR.
4. RISIKO YANG BERKAITAN DENGAN SEGI HUKUM
Transaksi sekuritisasi Kumpulan Tagihan KPR BTN ini mempunyai risiko hukum yang mungkin terjadi sehubungan dengan (i) belum pernah adanya struktur transaksi serupa di Indonesia yang menggunakan struktur KIK-EBA dalam transaksi sekuritisasi di Indonesia, dan (ii) risiko hukum secara umum yang dapat terjadi sehubungan adanya perselisihan di antara para Pihak Bertransaksi dan perselisihan dengan para Debitur.
Apabila terjadi risiko di atas, maka hal ini dapat mengurangi performa EBA tersebut.
5. RISIKO OPERASIONAL DALAM PELAKSANAAN KEGIATAN MANAJER INVESTASI, BANK KUSTODIAN DAN PENYEDIA JASA
Risiko Operasional Bank Kustodian
Bank Kustodian, dalam hal ini PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., adalah bank umum yang dalam menjalankan usahanya tidak terlepas dari risiko operasional.
(dijabarkan sesuai di KIK) Risiko Penyedia Jasa
BTN sebagai bank umum memiliki risiko operasional terjadi karena tidak lengkapnya dan tidak berfungsinya sistem, prosedur dan pengawasan dalam lingkungan BTN sehingga akan menimbulkan dampak negatif terhadap kinerja BTN. Di samping itu risiko ini juga timbul karena kurang tersedianya tenaga yang terampil dan berpengalaman serta sarana komunikasi atau infrastruktur yang kurang menunjang jaringan operasi BTN.
Perkembangan bisnis dan operasional perbankan sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi. Efektifitas operasional BTN tergantung dari kemampuan mendapatkan akses yang akurat dan dapat dipercaya serta tepat waktu, seperti pengelolaan likuiditas dan operasional produk consumer banking. Ketidakmampuan BTN dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi mengganggu kelancaran operasional dan mutu pelayanan kepada nasabah di samping menciptakan kondisi rawan terhadap kejahatan perbankan sehingga mempengaruhi pendapatan usaha BTN.
Risiko-risiko tersebut di atas akan mempengaruhi hasil pemeringkatan oleh Lembaga Pemeringkat.
Dengan membeli EBA, pemegang EBA menyadari dan memahami serta bersedia menanggung risiko-risiko tersebut diatas.
XII
RENCANA PENGGUNAAN DANA HASIL PENAWARAN UMUM EBA
Penggunaan dana yang diperoleh dari hasil penawaran umum EBA Kelas A, bersama dengan hasil penjualan EBA Kelas B akan digunakan untuk melakukan pembelian Kumpulan Tagihan Kredit Pemilikan Rumah BTN yang terpilih berdasarkan Kriteria Seleksi dalam jumlah Rp. 111.111.108.501,00 (seratus sebelas miliar seratus sebelas juta seratus delapan ribu lima ratus satu rupiah) dari Kreditur Awal yang akan menjadi aset yang disekuritisasi dalam portofolio KIK-DSMF-I.