• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar dan Pembelajaran

BAB II KAJIAN TEORI

A. Kajian Teori

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar dan Pembelajaran

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu:

26 Harjali, Penataan Lingkungan Belajar: strategi untuk Guru dan Sekolah, (Malang:

Seribu Bintang, 2019), hlm. 24.

27 Nana Syaodih Sukmadinata, Op. Cit., hlm. 5-6.

28 Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 57.

22

1. Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan atau kondisi jasmani dan rohani siswa. Faktor yang berasal dari dalam siswa sendiri meliputi dua aspek yakni:

a. Aspek fisiologis yang bersifat jasmaniah

Kondisi umum jasmani yang menandai tingkat kebugaran organ tubuh serta kondisi organ tubuh yang lemah dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ-organ siswa seperti tingkat kesehatan indera pendengar dan indera penglihat juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan.29

Dalam konteks jasmani keadaan jasmani yang segar dan kurang segar atau lelah dan tidak lelah akan berpengaruh terhadap belajar dan hasil yang dicapai. Setidaknya ada 2 hal yang harus diperhatikan yaitu nutrisi cukup dan macam penyakit yang bisa mengganggu aktivitas belajar.30

b. Aspek psikologis yang bersifat rohaniah

Seseorang yang sehat rohaninya adalah orang yang terbebas dari tekanan batin, gangguan perasaan, kebiasaan buruk yang mengganggu perasaan, dan konflik psikis. Seseorang yang sehat rohaninya akan merasa bahagia, dapat bergaul dengan orang lain, dapat bekerja sama dengan orang lain dan sebagainya.31 Menurut Muhibbin Syah aspek psikologis dapat dilihat dari beberapa aspek di bawah ini:

1. Tingkat kecerdasan / inteligensi siswa

Tingkat kecerdasan sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Semakin tinggi kemampuan inteligensi seorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih kesuksesan, sebaliknya semakin rendah kemampuan inteligensi seorang

29 Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm. 130.

30 Al-Rasyidin dan Wahyudin Nur Nasution, Op. Cit., hlm. 15-16.

31 Nana Syaodih Sukmadinata, Op. Cit., hlm. 162.

siswa maka semakin kecil peluangnya untuk memperoleh kesuksesan.

Oleh karenanya perlu bimbingan belajar dari orang lain seperti guru, orang tua, dan lain sebagainya. Pengetahuan dan pemahaman tentang kecerdasan perlu dimiliki oleh setiap calon guru dan guru profesional sehingga mereka dapat memahami tingkat kecerdasan siswanya, karena inteligensi dipandang sebagai faktor psikologis yang penting dalam mencapai kesuksesan belajar.32

Namun rendah tingginya kecerdasan bukan merupakan faktor satu-satunya untuk mencapai kesuksesan dalam pendidikan karena banyak faktor lain juga yang mempengaruhi.33

2. Sikap siswa

Sikap adalah gejala internal berupa kecenderungan untuk merespons dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang, dan sebagainya baik secara positif maupun negatif.34

Banyak pengaruh faktor sikap terhadap keberhasilan siswa dalam belajar. Sikap dapat menentukan apakah seseorang dapat belajar dengan lancar atau tidak, tahan lama atau tidak saat belajar, senang dengan pelajarannya atau tidak senang. Di antara sikap yang dimaksud disini adalah minat, prasangka atau kesetiaan, dan keterbukaan pikiran. Sikap yang positif merangsang tepatnya kegiatan belajar.35

3. Bakat siswa

Bakat diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya

32 Nasir, Op. Cit., hlm. 5.

33 Ibid., hlm. 9.

34 Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm, 132.

35 Nasir, Op. Cit., hlm. 10.

24

pendidikan dan pelatihan. Bakat akan mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu.36

4. Minat siswa

Minat berarti kecenderungan dan kegairahan atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang studi tertentu, misalnya siswa yang berminat terhadap mata pelajaran matematika akan memusatkan perhatiannya lebih banyak daripada siswa lainnya.37

Minat dapat muncul dalam diri seseorang apabila ada stimulus dari luar walaupun pada dasarnya minat berasal dari dalam diri. Kebutuhan anak untuk belajar timbul dari minat yang disebabkan perhatian, senang, dan lain sebagainya.38

5. Motivasi siswa

Motivasi merupakan dorongan dasar yang menggerakkan seseorang untuk bertingkah laku ke suatu tujuan tertentu.

Motivasi merupakan kekuatan baik dari dalam maupun dari luar diri seseorang yang mendorongnya untuk mencapai suatu tujuan.

Siswa yang termotivasi akan memperlihatkan minat, mempunyai perhatian, dan ingin berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran.39

Motivasi dibedakan menjadi dua macam yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah keadaan yang berasal dari dalam diri siswa yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Motivasi ekstrinsik adalah keadaan yang datang dari luar individu siswa yang juga

36 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung : Remaja Rosdakarya Offset, 2010), cet. 15, hlm, 133.

37 Ibid., hlm. 133-134.

38 Kompri, Belajar : Faktor-faktor yang mempengaruhinya, (Yogyakarta: Media Akademi, 2017), cet. 1, hlm. 143.

39 Alizamar, Teori Belajar dan Pembelajaran : Implementasi dalam Bimbingan KelompokBelajar di Perguruan Tinggi, (Yogyakarta : Media Akademi, 2016), cet. 1, hlm. 15-16.

mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Motivasi intrinsik contohnya perasaan minat terhadap materi dan kebutuhan terhadap materi tersebut. Motivasi ekstrinsik contohnya pujian, hadiah, peraturan, guru, dan lain-lain.40 6. Rasa Percaya Diri

Kepercayaan diri merupakan keyakinan seseorang akan kemampuan yang dimiliki untuk menampilkannya di hadapan orang lain. kepercayaan diri siswa bukan bakat, melainkan suatu kualitas mental. Artinya, semua siswa bisa dilatih dan dididik untuk menjadi lebih percaya diri sesuai dengan keadaannya.

Siswa yang mempunyai rasa percaya diri cenderung berhasil meraih kesuksesan dibanding dengan siswa yang kepercayaan dirinya rendah.41

Selain faktor-faktor yang sudah disebutkan di atas, Al-Rusyidin dan Wahyudin juga menyebutkan faktor-faktor psikologis yang berpengaruh terhadap aktivitas belajar yaitu : 1. Perhatian. Bila peserta didik memiliki perhatian yang

terarah, intensif, dan terpusat pada materi yang sedang dipelajarinya maka ia berpeluang besar mencapai hasil belajar yang maksimal.

2. Pengamatan. Pengamatan adalah kemampuan peserta didik dalam mencurahkan perhatiannya terhadap objek atau materi yang sedang dipelajari. Pengamatan muncul karena adanya objek yang menimbulkan stimulus indrawi atau karena adanya rasa ingin tahu yang kuat dalam diri peserta didik.

Selain itu kualitas pengamatan juga dipengaruhi oleh kesehatan alat indra.

3. Tanggapan. Tanggapan merupakan respon yang diberikan seseorang terhadap stimulus atau rangsangan yang diberikan

40 Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm. 134.

41 Muhammad Anwar, Menjadi Guru Profesional, (Jakarta : Prenamedia Group, 2018), hlm. 62.

26

oleh orang lain. Idealnya setiap peserta didik ,ampu memberikan tanggapan positif terhadap stimulus belajar yang diciptakan oleh guru. Tanggapan yang baik adalah respon yang berada dalam kesadaran dan di dukung oleh rasa suka dalam diri peserta didik.

4. Fantasi. Fantasi merupakan daya imajinasi yang dimiliki peserta didik. Peserta didik yang memanfaatkan daya imajinasinya dalam belajar akan mendorong munculnya inisiatif, yang pada gilirannya akan memunculkan kreativitas dalam belajar.

5. Ingatan. Ingatan berkaitan dengan kemampuan peserta didik menyimpan suatu informasi dalam struktur kognisinya.

Kemampuan ini berkaitan dengan upaya menghubungkan informasi dan pengalaman yang lalu dengan informasi dan pengalaman sekarang. Peserta didik yang kuat ingatannya akan mampu menyimpan informasi dan pengalaman tersebut dan suatu saat akan siap mereproduksi kembali semua informasi dan pengalaman itu.

6. Emotional Question (EQ). EQ yaitu kecerdasan emosi peserta didik yang mencakup kemampuan memahami dan menggunakan emosi diri sendiri dan orang lain untuk mendukung kegiatan belajar. Jika seorang peserta didik mampu mengenali emosional nya dengan baik maka ia berpotensi besar untuk berhasil dalam belajar.42

2. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yaitu kondisi lingkungan disekitar siswa. Faktor eksternal meliputi:

a. Lingkungan Sosial

Lingkungan sosial siswa meliputi guru, tenaga kependidikan, dan teman-teman sekelas, masyarakat, tetangga, teman-teman

42 Al-Rasyidin dan Wahyudin Nur Nasution, Op. Cit., hlm. 18.

sepermainan di sekitar rumah siswa tersebut, orang tua, dan keluarga siswa itu sendiri.43

1. Lingkungan Sosial Masyarakat

Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa akan mempengaruhi belajar siswa. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran, dan anak terlantar dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa. Siswa kesulitan ketika memerlukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilikinya.

2. Lingkungan Sosial Keluarga

Keluarga mempengaruhi kegiatan belajar siswa. Sifat-sifat orang tua, demografi keluarga (letak rumah), pengelolaan keluarga dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar siswa. Hubungan antara anggota keluarga yang harmonis akan membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik.44

Hubungan orang tua dan anak penting sekali dalam menentukan kemajuan belajar anak. Kasih sayang dari orang tua menimbulkan mental yang sehat bagi anak. Kurangnya kasih sayang akan menyebabkan emotional insecurity. Seorang anak akan mengalami kesulitan belajar apabila kurang kasih sayang dari orang tua.45

Suasana lingkungan rumah juga mempengaruhi belajar anak, rumah yang berada di sekitar pasar atau terminal berbeda dengan rumah yang berada di daerah pemukiman. Rumah yang berada di sekitar tempat ramai maka suasanya lebih ramai dan gaduh dibandingkan dengan rumah di daerah pemukiman.46

Lingkungan sosial keluarga meliputi :

43 Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm. 135.

44 Nasir, Op. Cit., hlm. 7.

45 Moh. Suardi, Belajar dan Pembelajaran, (Yogyakarta: Deepublish, 2015), ed. 1, cet. 1, hlm. 104.

46 Nana Syaodih Sukmadinata, Op. Cit., hlm. 163.

28

a. Orang Tua

Dalam kegiatan belajar, anak perlu diberi dorongan dan pengertian dari orang tua. Orang tua bisa membantu dalam memecahkan masalah yang dihadapi anak di sekolah.

b. Suasana Rumah

Hubungan antar anggota keluarga yang kurang harmonis akan menimbulkan suasana yang kurang baik sehingga menyebabkan anak kurang bersemangat untuk belajar. Sedangkan suasana rumah yang akrab, menyenangkan, dan penuh kasih sayang akan memberikan dukungan belajar yang kuat bagi anak.

c. Kemampuan Ekonomi Keluarga

Bagi orang tua yang keadaan ekonominya kurang memadai, mereka tidak bisa memberikan alat-alat pelajaran yang dibutuhkan oleh anaknya seperti buku, pensil, pena, bahkan buku bacaan. Keadaan seperti inilah yang mempengaruhi kegiatan belajar anak. Berbeda dengan orang tua yang mampu memfasilitasi anaknya secara baik, maka anak akan merasa mudah dalam saat belajar karena semua alat pelajaran dan buku bacaan sudah tersedia.47

3. Lingkungan Sosial Sekolah

Lingkungan sosial sekolah yaitu guru, administrasi, teman-teman sekelas dapat mempengaruhi proses belajar siswa.

Hubungan yang harmonis antara ketiganya dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baik. Para pendidik, orang tua, dan guru perlu memperhatikan dan memahami bakat yang dimiliki oleh anaknya dengan mendukung, mengembangkan, dan tidak memaksa anak untuk memilih jurusan yang tidak sesuai dengan bakatnya.48

47 Eveline Siregar dan Hartini Nara, Op. Cit., hlm. 177-178.

48 Nasir, Op. Cit., hlm. 8.

Di lingkungan sekolah terdapat lingkungan akademis.

Lingkungan akademis yaitu suasana dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar serta berbagai kegiatan kokurikuler.

Lingkungan sekolah yang kaya dengan aktivitas belajar, diliputi suasana akademis yang wajar, sangat mendorong semangat belajar para siswanya.49

Dalam buku Nasir disebutkan bahwa faktor guru berpengaruh terhadap keberhasilan belajar peserta didik.

Kepribadian guru, hubungan guru dengan siswa, kemampuan guru mengajar, dan perhatian guru turut mempengaruhi keberhasilan belajar.

Guru yang kurang mampu dalam mengajar dan yang kurang menguasai bahan yang diajarkan dapat menimbulkan rasa tidak suka kepada yang diajarkan dan kurangnya dorongan untuk menguasainya di pihak siswa. Sebaliknya guru yang pandai mengajar dapat menimbulkan rasa gemar pada diri siswa terhadap materi yang sedang dipelajarinya. Guru juga dapat menimbulkan semangat belajar yang tinggi dan dapat juga mengendorkan keinginan belajar siswa.50

Menurut Ar-Rasyidin dan Wahyudin, selain guru, siswa juga merupakan faktor yang dapat mempengaruhi sistem pembelajaran. Faktor yang dilihat dari aspek siswa yaitu aspek latar belakang serta sifat yang dimiliki siswa. Aspek latar belakang meliputi jenis kelamin, tempat tinggal, tingkat sosial ekonomi, dan dari keluarga yang bagaimana siswa berasal.

Sedangkan dilihat dari sifat meliputi kemampuan dasar pengetahuan dan sikap.

Kemampuan siswa dapat dibedakan menjadi kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Siswa yang berkemampuan tinggi

49 Nana Syaodih Sukmadinata, Op. Cit., hlm. 164-165.

50 Nasir, Op. Cit., hlm. 11.

30

memiliki motivasi yang tinggi dalam belajar, keseriusan dalam mengikuti pelajaran, dan lain-lain. Sebaliknya siswa yang tergolong pada kemampuan rendah memiliki motivasi pelajaran yang rendah dan keseriusan yang rendah dalam mengikuti pelajaran maupun tugas. Perbedaan semacam ini menuntut perlakuan yang berbeda pula baik dalam penempatan atau pengelompokan siswa maupun dalam perlakuan guru dalam menyesuaikan gaya belajar.51

b. Lingkungan Non-sosial

Lingkungan non-sosial disebut juga dengan lingkungan fisik.

Lingkungan fisik adalah tempat di mana pembelajar tersebut belajar.

Lingkungan fisik berpengaruh terhadap motivasi belajar seseorang.

Nyaman atau tidak nyamannya tempat, rapi atau tidak rapinya suatu tempat, akan mendorong dan berpengaruh terhadap kegairahan belajar seseorang.52

Faktor yang termasuk lingkungan non sosial ialah gedung sekolah, letak gedung sekolah, rumah tempat tinggal siswa, alat-alat belajar keadaan cuaca, dan waktu belajar. Faktor ini dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa.53

Sarana dan prasarana juga berpengaruh terhadap proses pembelajaran. Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses pembelajaran, misalnya media, alat-alat perlengkapan sekolah, dan lain-lain. Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak langsung dapat mendukung keberhasilan proses pembelajaran, misalnya jalan menuju sekolah, kamar kecil, penerangan sekolah dan lain-lain. Kelengkapan sarana dan prasarana dapat membantu guru dalam penyelenggaraan proses belajar dengan demikian sarana dan prasarana merupakan

51 Al-Rasyidin dan Wahyudin Nur Nasution, Op. Cit., hlm. 120-121.

52 Ali Imron, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1996), hlm. 103.

53 Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm. 135.

komponen penting yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran.54

Lingkungan alamiah juga termasuk dalam lingkungan non-sosial seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, tidak terlalu silau atau tidak terlalu gelap, suasana yang sejuk dan tenang.

Lingkungan tersebut merupakan faktor yang juga dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa.

Nasir dalam bukunya juga menyebutkan yang termasuk ke dalam lingkungan non sosial yaitu faktor instrumental yaitu merupakan perangkat belajar yang bisa digolongkan menjadi dua.

Pertama, hardware seperti gedung sekolah, fasilitas belajar, dan sebagainya. Kedua, software seperti kurikulum sekolah, peraturan sekolah, buku panduan, silabus dan lain sebagainya.55

Dokumen terkait