HUBUNGAN ANTARA LINGKUNGAN BELAJAR DENGAN PENDEKATAN BELAJAR BERDASARKAN PERSEPSI
PESERTA DIDIK Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh
Anggit Trijuniarti NIM. 11160161000051
PROGRAM STUDI TADRIS BIOLOGI FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 2021
ii
Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dinyatakan LULUS dalam ujian Munaqasah pada tanggal 19 Juli 2021 di hadapan dewan penguji. Karena itu, penulis berhak memperoleh gelar sarjana S1 (S.Pd) dalam bidang Pendidikan Biologi.
Jakarta, 19 Juli 2021 Panitia Ujian Munaqosah
Ketua Panitia
(Ketua Program Studi Tadris Biologi) Dr. Yanti Herlanti, M. Pd.
NIP. 197101192008012010
Tanggal
05-08-21
……….
Tanda Tangan
……….
Penguji I
Drs. Ahmad Sofyan, M. Pd.
NIP. 196501151987031020
04-08-21
………. ……….
Penguji II
Dr. Yanti Herlanti, M. Pd.
NIP. 197101192008012010
03-08-21
………. ……….
Mengetahui,
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Dr. Sururin, M. Ag NIP. 197103191998032001
iii
LEMBAR PENGESAHAN BIMBINGAN SKRIPSI
Skripsi yang berjudul Hubungan Antara Lingkungan Belajar Dengan Pendekatan Belajar Berdasarkan Persepsi Peserta Didik disusun oleh Anggit Trijuniarti, NIM 11160161000051, Program Studi Tadris Biologi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta telah melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak diujikan pada sidang munaqasah sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh fakultas.
Jakarta, 6 Juli 2021 Yang Mengesahkan,
Dosen Pembimbing
Dr. Zulfiani, S.Si., M.Pd.
NIP. 19760309 200501 2 002
iv
v ABSTRAK
Anggit Trijuniarti, 11160161000051, Hubungan Antara Lingkungan Belajar Dengan Pendekatan Belajar Berdasarkan Persepsi Peserta Didik. Skripsi, Program Studi Tadris Biologi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2021.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lingkungan belajar dengan pendekatan belajar berdasarkan persepsi peserta didik. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif metode survei. Populasi penelitian ini yaitu seluruh peserta didik kelas XI SMA Negeri Tangerang Selatan. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Jumlah sampel yaitu sebanyak 144 peserta didik. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu instrumen non-tes berupa kuesioner dan wawancara. Kuesioner dalam penelitian ini mengadaptasi instrumen Experience of Teaching Learning Questionnaire (ETLQ) yang terdiri dari 2 bagian, yaitu kuesioner persepsi lingkungan belajar-mengajar dan kuesioner pendekatan belajar. Nilai reliabilitas cronbach’s alpha untuk masing-masing kuesioner yaitu sebesar 0,954 dan 0,826. Hasil penelitian persepsi peserta didik tentang lingkungan belajar-mengajar dan pendekatan belajar berada pada kategori sedang. Analisis data menggunakan statistic parametrik dengan uji korelasi Pearson karena uji normalitas menunjukkan sig. >0,05 yang menyatakan bahwa data berdistribusi normal. Hasil uji korelasi pada α=0,05 menunjukkan nilai probabilitas 0,00 < 0,05 dan rh 0,732 >
rt 0,1764, maka H1 diterima sehingga penelitian menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara lingkungan belajar-mengajar dengan pendekatan belajar berdasarkan persepsi peserta didik. Persepsi peserta didik tentang lingkungan belajarnya berhubungan dengan pendekatan belajar peserta didik tersebut, oleh karena itu saran dari penelitian ini yaitu sebaiknya guru dan peserta didik saling mendukung dan bekerjasama agar tercipta lingkungan pembelajaran yang positif sehingga peserta didik dapat menggunakan pendekatan belajar yang maksimal agar bisa meningkatkan hasil belajar.
Kata kunci : Persepsi, Lingkungan Belajar-Mengajar, Pendekatan Belajar, ETLQ
vi
This study aims to determine the relationship between the learning environment with a learning approach based on the perceptions of students. The research method uses a quantitative approach to survey methods. The population of this research is all students of class XI SMA Negeri Tangerang Selatan. Sample selection was done by purposive sampling technique. The number of samples is 144 students. The research instruments used were non-test instruments in the form of questionnaires and interviews. The questionnaire in this study adapted the Experience of Teaching Learning Questionnaire (ETLQ) instrument which consisted of 2 parts, namely the teaching-learning environment perception questionnaire and the learning approach questionnaire. The reliability value of Cronbach's alpha for each questionnaire is 0.954 and 0.826. The results of the study on students' perceptions of the teaching-learning environment and learning approaches were in the medium category. Data analysis used parametric statistics with the Pearson correlation test because the normality test showed sig. > 0.05 which means that the data is normally distributed. The results of the correlation test at = 0.05 showed a probability value of 0.00 < 0.05 and rh 0.732 > rt 0.1764, then H1 was accepted so that the study concluded that there was a relationship between the teaching-learning environment and a learning approach based on students' perceptions. Students' perceptions of their learning environment are related to the student's learning approach, therefore the suggestion from this study is that teachers and students should support each other and work together to create a positive learning environment so that students can use a maximum learning approach in order to improve results. study.
Keywords : Perception, Teaching-Learning Environment, Learning Approach, ETLQ
vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah SAW beserta seluruh keluarga, sahabat dan para pengikutnya sampai akhir zaman. Alhamdulillah dengan izin Allah SWT penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan (S.Pd) dari Program Studi Tadris Biologi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Proses penyusunan skripsi yang dilakukan oleh peneliti tidak terlepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak yang selalu memberikan arahan, bimbingan, serta motivasi kepada peneliti. Oleh karena itu, peneliti ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Prof. Dr. Amany Lubis, M.A. Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Dr. Sururin, M.Ag. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Dr. Yanti Herlanti, M. Pd. Selaku Ketua Program Studi Tadris Biologi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Dr. Zulfiani, M.Pd. selaku Dosen Penasehat Akademik (PA) dan Dosen Pembimbing yang telah membimbing peneliti selama mengikuti perkuliahan dan telah meluangkan banyak waktu, tenaga, dan pikiran dalam membimbing penulis sehingga skripsi ini dapat selesai dengan baik.
5. Seluruh Dosen dan staff prodi Tadris Biologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan mendidik dan memberikan ilmu selama peneliti mengenyam pendidikan.
6. Kepala SMAN 3 Tangerang Selatan dan SMAN 11 Kota Tangerang Selatan, seluruh guru dan staf TU, khususnya Ibu Rani Chairani dan Ibu Sukarlin selaku
viii
penulis, memberikan nasihat-nasihat serta menghibur sehingga penulis dapat bersemangat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
8. Partner terbaik yaitu Reza Putra Utomo yang sudah menemani penulis selama masa kuliah dan proses skripsi, selalu memberikan motivasi dan semangat, menjadi tempat pulang yang nyaman, dan mengarungi berbagai hal baik suka dan duka bersama-sama.
9. Sahabat penulis di bangku kuliah yaitu Afriani Afidah, Anggita Samiya, dan Fauzyah Hasanah dan sahabat “khadijah” yaitu Adetya, Indah, Fika, Nurul, Acha, Febi, dan Revinka yang telah menjadi tempat berbagi keluh kesah, selalu menasihati dan tak henti-hentinya memberikan semangat kepada penulis.
10. Keluarga Besar HMPS Tadris Biologi. Khususnya untuk partner penulis selama berproses di himpunan yaitu Saepul, Lu’lu, Diny, Balqis, dan Azizah yang sudah berjuang serta berproses bersama-sama di Himpunan.
11. Kawan-kawan Tadris Biologi 2016-2018 dan kawan-kawan Asisten Laboratorium Pendidikan Biologi yang telah menjadi keluarga harmonis ditengah tugas dan tanggung jawab sebagai mahasiswa.
Terimakasih penulis haturkan untuk pihak-pihak yang tidak penulis sebutkan satu per satu. Kepada semua pihak yang telah membantu peneliti, semoga Allah SWT membalas segala kebaikan yang telah diberikan. Akhir kata semoga karya ilmiah peneliti dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pengembangan pengetahuan ke depannya.
Jakarta, Juli 2021 Penulis
Anggit Trijuniarti
ix
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... v
ABSTRACT... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah ... 10
C. Tujuan Penelitian ... 12
D. Manfaat Penelitian ... 12
BAB II KAJIAN TEORI ... 13
A. Kajian Teori ... 13
1. Pembelajaran dan Pengajaran ... 13
2. Lingkungan Belajar... 20
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar dan Pembelajaran ... 21
4. Pendekatan Belajar ... 31
5. Peran Lingkungan Belajar ... 36
B. Hasil Penelitian yang Relevan ... 36
C. Kerangka Berpikir ... 38
D. Hipotesis Penelitian ... 41
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 42
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 42
B. Subjek Penelitian ... 42
C. Pendekatan dan Metode Penelitian ... 42
D. Populasi dan Sampel Penelitian ... 43
E. Variabel Penelitian ... 44
F. Teknik Pengumpulan Data ... 44
G. Instrumen Penelitian ... 45
x
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 63
A. Deskripsi Data ... 63
B. Hasil Uji Instrumen ... 79
C. Uji Prasyarat Analisis Data ... 80
D. Pengujian Hipotesis ... 82
E. Pembahasan Hasil Penelitian ... 90
BAB V PENUTUP ... 99
F. Kesimpulan ... 99
G. Saran ... 99
DAFTAR PUSTAKA ... 100
LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 106
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1 Perbedaan Istilah Pengajaran dan Pembelajaran ... 20
Tabel 2. 2 Perbedaan Deep Approach dan Surface Approach ... 34
Tabel 3. 1 Desain Penelitian ... 43
Tabel 3. 2 Sampel Penelitian ... 44
Tabel 3. 3 Kisi-kisi Instrumen Variabel X (Persepsi Peserta Didik tentang Lingkungan Belajar-Mengajar Biologi) ... 47
Tabel 3. 4 Skor Angket Kuesioner Persepsi Lingkungan Belajar-Mengajar ... 48
Tabel 3. 5 Kisi-kisi Instrumen Variabel Y (Pendekatan Belajar) ... 50
Tabel 3. 6 Skor Angket Pendekatan Belajar ... 51
Tabel 3. 7 Kategori Validitas Instrumen ... 53
Tabel 3. 8 Kriteria Realibilitas Instrumen ... 54
Tabel 3. 9 Hasil Uji Reliabilitas Kuesioner Persepsi Lingkungan Belajar- Mengajar ... 55
Tabel 3. 10 Hasil Uji Reliabilitas Kuesioner Pendekatan Belajar ... 55
Tabel 3. 11 Pedoman Kategori Pengukuran Hasil Kuesioner Persepsi ... 58
Tabel 3. 12 Pedoman Kategori Pengukuran Hasil Kuesioner Pendekatan Belajar 59 Tabel 3. 13 Interpretasi Koefisien Korelasi ... 61
Tabel 4. 1 Hasil Kuesioner Persepsi Lingkungan Belajar-Mengajar... 64
Tabel 4. 2 Interpretasi Kategori Kuesioner Persepsi Lingkungan Belajar-Mengajar ... 64
Tabel 4. 3 Hasil Kuesioner Persepsi Lingkungan Belajar-Mengajar Berdasarkan Indikator ... 65
Tabel 4. 4 Interpretasi Kategori Kuesioner Persepsi Lingkungan Belajar-Mengajar Per-Indikator ... 66
Tabel 4. 5 Hasil Kuesioner Pendekatan Belajar ... 73
Tabel 4. 6 Interpretasi Kategori Kuesioner Pendekatan Belajar ... 73
Tabel 4. 7 Hasil Kuesioner Pendekatan Belajar Berdasarkan Indikator ... 74
Tabel 4. 8 Interpretasi Kategori Kuesioner Pendekatan Belajar Per-Indikator ... 75
Tabel 4. 9 Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov Test ... 80
Tabel 4. 10 Ringkasan Hasil Uji Linearitas ... 81
Tabel 4. 11 Hasil Uji Korelasi ... 83
Tabel 4. 12 Hasil Koefisien Regresi ... 85
Tabel 4. 13 Hasil Perhitungan Koefisien Determinasi ... 87
Tabel 4. 14 Koefisien Korelasi dan Signifikansi Antar Indikator ... 88
xii
Gambar 4. 1 Jumlah Responden Per-Kategori Persepsi Lingkungan Belajar-
Mengajar ... 65 Gambar 4. 2 Persentase Perolehan Skor Per-Indikator Persepsi Lingkungan
Belajar-Mengajar ... 67 Gambar 4. 3 Jumlah Responden Per-Kategori Pendekatan Belajar ... 74 Gambar 4. 4 Grafik Persentase Pendekatan Belajar Peserta Didik Berdasarkan Hasil Belajar di SMAN A ... 76 Gambar 4. 5 Grafik Persentase Pendekatan Belajar Peserta Didik Berdasarkan Hasil Belajar di SMAN B ... 77
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Kuesioner Persepsi Peserta Didik Terhadap Lingkungan Belajar
Mengajar ... 107
Lampiran 2 : Kuesioner Pendekatan Belajar ... 112
Lampiran 3 : Pedoman Wawancara Peserta Didik ... 115
Lampiran 4 : Pedoman Wawancara Guru ... 119
Lampiran 5 : Profil Sekolah ... 122
Lampiran 6 : Data Mentah Kuesioner Persepsi Peserta Didik Terhadap Lingkungan Belajar-Mengajar... 123
Lampiran 7 : Data Mentah Kuesioner Pendekatan Belajar ... 130
Lampiran 8 : Hasil Uji Validitas dan Realibilitas Kuesioner Persepsi Peserta Didik Terhadap Lingkungan Belajar-Mengajar ... 137
Lampiran 9 : Hasil Uji Validitas dan Realibilitas Kuesioner Pendekatan Belajar ... 145
Lampiran 10 : Hasil Wawancara Peserta Didik ... 149
Lampiran 11 : Hasil Wawancara Guru ... 180
Lampiran 12 : Perhitungan Distribusi Kategori Kuesioner Persepsi Lingkungan Belajar-Mengajar ... 187
Lampiran 13 : Perhitungan Distribusi Kuesioner Persepsi Lingkungan Belajar- Mengajar per Indikator... 188
Lampiran 14 : Perhitungan Distribusi Kuesioner Pendekatan Belajar ... 192
Lampiran 15 : Perhitungan Distribusi Kuesioner Pendekatan Belajar per Indikator ... 193
Lampiran 16 : Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-smirnov ... 197
Lampiran 17 : Hasil Uji Linearitas dan Regresi ... 198
Lampiran 18 : Hasil Uji Hipotesis ... 199
Lampiran 19 : Dokumentasi Penelitian ... 203
Lampiran 20 : Surat Permohonan Izin Penelitian ... 205
Lampiran 21 : Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian ... 207
Lampiran 22 : Uji Referensi ... 209
1
BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pendidikan adalah upaya memuliakan kemanusiaan manusia. Tujuan pendidikan adalah terkembang dan terwujudkannya segenap komponen harkat dan martabat manusia.1 Tanpa pendidikan, harkat dan martabat manusia yang harusnya dimuliakan akan kehilangan arahnya.2 Pengertian pendidikan sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa:3
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.
Secara nasional, pendidikan merupakan sarana yang dapat menyatukan setiap warga menjadi suatu bangsa. Setiap warga negara dibimbing, dibina, dan difasilitasi untuk menyadari dan merealisasikan bagaimana hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Apabila pengetahuan terkait hak dan kewajiban dimiliki secara kolektif oleh setiap warga negara maka akan mempersatukan mereka menjadi suatu bangsa. Pendidikan juga merupakan cara untuk mengembangkan sumber daya manusia yang diperlukan dalam pembangunan dan juga bagi setiap peserta didik untuk mengembangkan dirinya sesuai dengan potensi yang dimilikinya.4
Pendidikan merupakan kegiatan membantu mengembangkan peserta didik mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Inti kegiatan pendidikan yaitu interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber-sumber pendidikan lain yang berlangsung dalam suatu lingkungan pendidikan. Interaksi pendidikan dapat
1 Prayitno, Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, (Jakarta: Grasindo. 2009), hlm. 279.
2 Ibid., hlm. 427.
3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, hlm. 1, (http://lppks.kemdikbud.go.id/uploads/pengumuman/uu_no_20_tahun_2003.pdf).
4 Tim Pengembang Ilmu Pendidikan UPI, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan Bagian 1: Ilmu Pendidikan Teoritis, (Bandung: Imperial Bhakti Utama, 2009), hlm. 1.
2
berbentuk aktivitas pendidik dalam mendidik, dan/atau aktivitas peserta didik dalam belajar bersama pendidik atau belajar sendiri dengan menggunakan berbagai sumber pendidikan. Interaksi ini berlangsung dalam lingkungan pendidikan, yaitu lingkungan sekolah, keluarga, satuan masyarakat, satuan pekerjaan dan masyarakat secara umum.5
Kegiatan pembelajaran merupakan proses pendidikan yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan potensi yang dimiliknya agar terus meningkat dalam hal pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan untuk hidup dan bermasyarakat, berbangsa, serta berkontribusi terhadap kesejahteraan hidup umat manusia.6
Istilah pembelajaran tidak terlepas dari pengertian belajar. Belajar dan pembelajaran menjadi kegiatan yang tidak dapat dipisahkan. Pembelajaran berarti kegiatan belajar yang dilakukan oleh pembelajar dan guru. Sistem pembelajaran terdiri dari beberapa komponen yang saling berinteraksi hingga diperoleh interaksi.7
Proses pembelajaran adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru, dan interaksi antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri. Guru perlu mengarahkan siswa agar bisa mengembangkan kemampuan berpikirnya melalui interaksi tersebut.8
Guru memberikan bimbingan dan menyediakan berbagai kesempatan yang dapat mendorong siswa belajar dan untuk memperoleh pengalaman sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tercapainya tujuan pembelajaran ditandai oleh
5 Tim Pengembang Ilmu Pendidikan UPI, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan Bagian 2: Ilmu Pendidikan Praktis, (Bandung: Imperial Bhakti Utama, 2007), hlm 97-98.
6 Rusman, Belajar dan Pembelajaran : Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta:
Kencana: 2017), hlm. 10.
7 Ismail Makki dan Aflahah, Konsep Dasar Belajar dan Pembelajaran, (Pamekasan: Duta Media Publishing, 2019), hlm. 6.
8 Chomaidi dan Salamah, Pendidikan dan Pengajaran: Strategi Pembelajaran Sekolah, (Jakarta: Grasindo, 2018), hlm. 220.
tingkat penguasaan kemampuan dan pembentukan kepribadian. Proses tersebut dilaksanakan melalui interaksi antara siswa dengan lingkungannya.9
Keberhasilan pembelajaran tidak terpisahkan dari usaha dan semangat guru dalam menata lingkungan kelasnya. Dalam buku penataan lingkungan belajar disebutkan bahwa Good dan Brophy (1991) memperhatikan bahwa kegagalan guru dalam pembelajaran bukanlah karena mereka tidak menguasai mata pelajaran, melainkan karena mereka tidak mengerti siapa siswanya dan apa kelas itu sesungguhnya.10
Dwiyogo (2008) dalam buku penataan lingkungan belajar menyatakan bahwa proses belajar dan semangat pencapaian prestasi belajar yang tinggi tergantung pada pembiasaan sehari-hari atas kehidupan yang terjadi antara guru dan siswa di dalam kelas. Maka dari itu, guru harus mampu menata lingkungan sebagai sumber belajar sehingga terjadi proses belajar pada diri siswa.11
Dalam buku pengelolaan lingkungan belajar, Blocher (1974) menjelaskan bahwa lingkungan belajar merupakan suatu konteks fisik, sosial, dan psikologis yang dalam konteks tersebut anak belajar dan memperoleh perilaku baru.
Lingkungan belajar merupakan sarana dimana para pelajar dapat mencurahkan dirinya untuk beraktivitas, berkreasi, termasuk melakukan berbagai manipulasi banyak hal hingga mereka mendapatkan perilaku baru dari kegiatannya itu.12
Baik secara langsung maupun tidak langsung, lingkungan belajar memberikan pengaruh kepada proses dan hasil perilaku siswa. Lingkungan belajar merupakan faktor penentu keberhasilan dalam membangun kemampuan perilaku siswa. Lingkungan belajar adalah suatu tempat atau keadaan yang mempengaruhi proses perubahan tingkah laku manusia.13
Lingkungan belajar berkaitan dengan konsep lingkungan psikososial yang berkaitan dengan iklim kelas, iklim sekolah, dan etos kerja sekolah. Beberapa
9 Moh. Suardi, Belajar dan Pembelajaran, (Yogyakarta: Deepublish, 2018), hlm. 62.
10 Harjali, Penataan Lingkungan Belajar: strategi untuk Guru dan Sekolah, (Malang:
Seribu Bintang, 2019), hlm. 3.
11 Ibid., hlm. 4.
12 Rita Mariyana, dkk., Pengelolaan Lingkungan Belajar Edisi Pertama, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 17.
13 Harjali, Op. Cit., hlm. 24.
4
studi menunjukkan bahwa iklim psikososial memberikan efek pada siswa, studi yang menginvestigasi hubungan antara hasil pencapaian siswa dan lingkungan belajar menyimpulkan bahwa hasil belajar yang didapat siswa dapat ditingkatkan dengan membentuk lingkungan belajar yang kondusif. Lebih lanjut, meta analisis dari berbagai studi menyebutkan bahwa ada pengaruh iklim atau lingkungan kelas pada hasil pencapaian belajar siswa.14
Pandemi Covid-19 secara langsung merubah suasana lingkungan belajar bagi peserta didik dan guru, yang semula belajar di dalam kelas menjadi pembelajaran jarak jauh. Hal ini tentu saja mempengaruhi psikologis peserta didik maupun guru. Pandemi Covid-19 dan pemberlakuan pembatasan sosial telah menimbulkan rasa takut dan kecemasan di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Kebijakan pembatasan sosial yang dilaksanakan di bidang pendidikan dengan adanya pemberlakuan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi seluruh siswa di Indonesia menimbulkan berbagai polemik bagi para siswa dan orang tua siswa.
Implementasi kebijakan pembatasan kegiatan pembelajaran di sekolah berdampak signifikan terhadap kesehatan mental para siswa meski dengan derajat yang bervariasi. Data survei penilaian cepat yang dilakukan oleh Satgas Penanganan Covid-19 (BNPB, 2020) menunjukkan bahwa 47% anak Indonesia merasa bosan di rumah, 35% merasa khawatir ketinggalan pelajaran, 15% anak merasa tidak aman, 20% anak merindukan teman-temannya, dan 10% anak merasa khawatir tentang kondisi ekonomi keluarga.15
Pemerintah telah menghapus Ujian Nasional (UN) dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) dengan asesmen nasional. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim menyatakan bahwa perubahan Ujian Nasional (UN) ke asesmen nasional merupakan perubahan paradigma evaluasi pendidikan. Instrumen asesmen nasional terdiri dari Asesmen Kompetensi Minimun (AKM), survei karakter, dan survei lingkungan
14 Ibid., hlm. 47
15 Yulina Eva Riany, Artikel “Ancaman Kesehatan Mental Siswa Selama Pandemi”, 2021, (https://nasional.sindonews.com/read/228580/18/ancaman-kesehatan-mental-siswa-pada-masa- pandemi-1605096692).
belajar. Keluaran dari asesmen nasional tidak digunakan sebagai ranking, tetapi untuk perbaikan kualitas belajar di sekolah yang dapat meningkatkan hasil belajar murid.16
Survei lingkungan belajar pada asesmen nasional mengukur kualitas iklim kelas dan sekolah yang mendukung kegiatan belajar. Survei lingkungan belajar mengevaluasi sejauh mana lingkungan sosial sekolah membantu pengembangan kesejahteraan peserta didik, secara fisik, sosial, dan psikologis.
Sehingga lingkungan belajar yang ramah, aman, dan nyaman dapat mendukung proses pembelajaran.17
Pendekatan dapat dipahami sebagai keefektifan cara atau strategi yang digunakan siswa dalam mempelajari materi tertentu. Strategi dalam hal ini yaitu langkah operasional yang dirancang sedemikian rupa untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan belajar tertentu.18 Pendekatan belajar (approach to learning), faktor eksternal siswa, dan faktor internal siswa mempengaruhi belajar siswa yang saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain.19
Studi menunjukkan bahwa kesadaran siswa terhadap lingkungan belajar mereka terkait dengan pendekatan belajar yang mereka adopsi. Artinya, pendekatan belajar bersifat relasional. Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang menanggapi penilaian (tes) hanya dengan menghafal atau mengingat, dan yang menganggap pelajaran hanya menjadi tuntutan dan beban, lebih mungkin untuk mengadopsi pendekatan permukaan. Pendekatan mendalam ditemukan terkait dengan persepsi pengajaran berkualitas tinggi, kemandirian dalam memilih apa yang akan dipelajari, dan kesadaran yang jelas tentang tujuan pembelajaran.20
16 Anatasia Anjani, Artikel “Begini Cara Pelaksanaan Asesmen Pengganti Ujian Nasional”, 2021, (https://www.detik.com/edu/sekolah/d-5562338/begini-cara-pelaksanaan- asesmen-pengganti-ujian-nasional)
17 Anita Lie, dkk., Mendidik Generasi Milenial Cerdas Berkarakter, (Yogyakarta:
Kanisius, 2020), hlm. 194.
18 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung : Remaja Rosdakarya Offset, 2010), cet. 15, hlm. 136.
19 Ibid., hlm. 129.
20 Keith Trigwell, dkk., Relations between teachers’ approaches to teaching and students’
approaches to learning, Higher Education, 1999, hlm. 58.
6
Secara garis besar, pendekatan belajar dapat dibagi menjadi pendekatan mendalam (deep approach) dan pendekatan dangkal/permukaan (surface approach). Biggs menyatakan bahwa pendekatan permukaan berkaitan dengan kuantitas tanpa kualitas, sedangkan pendekatan mendalam adalah tentang kualitas dan kuantitas.21 Selain deep approach dan surface approach, literatur pendidikan membahas pendekatan lainnya yaitu strategic approach (pendekatan strategis). Strategic approach berkaitan dengan strategi peserta didik untuk mencapai nilai yang tinggi.22
Pendekatan mendalam berkaitan dengan pengembangan pemahaman secara pribadi. Pendekatan permukaan berkaitan dengan menghafal rutin dan strategi belajar yang tidak sesuai, siswa yang menggunakan pendekatan permukaan belajar hanya untuk tuntutan ujian.23 Pendekatan mendalam dan pendekatan strategis cenderung dikaitkan dengan kinerja akademik yang baik, tetapi pendekatan permukaan cenderung dikaitkan dengan kinerja akademik yang buruk.24
Pendekatan pembelajaran dilihat terutama sebagai tanggapan siswa terhadap persepsi lingkungan belajar mereka. Misalnya, pendekatan yang mendalam dapat ditimbulkan oleh persepsi yang baik dari siswa terhadap lingkungan belajarnya.25 Persepsi positif terhadap lingkungan belajar terkait secara positif dengan pendekatan mendalam dan secara negatif terkait dengan pendekatan permukaan.26
21 Rhendy Wijayanto, dkk., Hubungan antara Persepsi Situasi Pembelajaran dengan Pendekatan Belajar Mahasiswa Blok Muskuloskeletal di Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan, Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia, Vol. 1 (3), 2012, hlm. 213.
22 Evangelia Karagiannopoulou and Fotios Milienos, Experiences of the Teaching- Learning Environment and Approaches to Learning: Testing the Structure of the “Experiences of Teaching and Learning” Inventory in Relation to Earlier Analyses, International Journal of Teaching and Learning in Higher Education, 2018, Vol. 30 (3), hlm. 506.
23 Evangelia Karagiannopoulou dan Fotios Milienos, Ibid.
24 Raza Ullah, dkk., Perceptions of the learning environment, learning preferences, and approaches to studying among medical students in Pakistan, Studies in Educational Evaluation, 50, 2016, hlm. 62.
25 Keith Trigwell, dkk., Evoked prior learning experience and approach to learning as predictors of academic achievement, British Journal of Educational Psychology, 83, 2013, hlm. 364.
26 Evangelia Karagiannopoulou dan Fotios Milienos, Loc. Cit.
Hanya ada sedikit penelitian empiris mengenai lingkungan belajar- mengajar sehingga tidak adanya gambaran yang kuat tentang proses dan praktik pembelajaran-pengajaran. Akibatnya sulit untuk mengidentifikasi cara-cara yang bisa memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kualitas pembelajaran siswa.27
Penelitian tentang lingkungan pembelajaran-pengajaran sudah dilakukan di program sarjana dan di berbagai bidang studi untuk memperoleh gambaran tentang proses belajar mengajar itu sendiri. Dewan Penelitian Ekonomi dan Sosial (ESRC) untuk Britania Raya membentuk program penelitian pengajaran dan pembelajaran. Tujuan utama dari Program Penelitian Pengajaran dan Pembelajaran adalah untuk mengeksplorasi ide untuk memperkuat lingkungan belajar-mengajar (Teaching-Learning Environment) yang dialami oleh mahasiswa sarjana, sehingga dapat meningkatkan keterlibatan, motivasi, proses pembelajaran dan hasil dan tingkat pencapaian. Dalam program itu salah satunya berfokus pada pengajaran dan pembelajaran di pendidikan tinggi.
Penelitian ini menilai pengalaman mahasiswa dan persepsi belajar mengajar, hubungan antara bagaimana dan apa yang dipelajari siswa dalam studi akademik sehari-hari mereka.28
Pembelajaran siswa dan hubungannya dengan persepsi siswa tentang lingkungan belajar-mengajar berkonsentrasi pada hubungan antara pembelajaran siswa dan pengalaman mereka tentang lingkungan belajar- mengajar di seluruh bidang studi. Universitas Helsinki telah menerapkan alat berbasis penelitian untuk mengeksplorasi efektivitas dan kualitas lingkungan belajar mengajarnya. Alat pengukuran yang valid yang dapat memberikan informasi tentang kualitas pembelajaran yang digunakan yaitu The Experiences of Teaching and Learning Questionnaire (ETLQ).
Experiences of Teaching and Learning Questionnaire (ETLQ) dipilih karena menggabungkan teori di balik pengajaran yang baik dan pendekatan
27 Dai Hounsell, dkk., Enhancing Teaching-Learning Environments In Undergraduate Courses, Final Report to the Economic and Social Research Council on TLRP Project, 2005, hlm.
2.
28 Ibid., hlm. 3.
8
pembelajaran. ETLQ berfokus pada pendekatan belajar siswa dalam satu unit materi dan pada persepsi mereka terhadap lingkungan belajar-mengajar.29
Hasil penelitian Kreber mengenai hubungan persepsi siswa terhadap lingkungan belajar-mengajar dengan pendekatan belajar menunjukkan bahwa ersepsi positif siswa terhadap lingkungan belajar mereka ditemukan berhubungan positif dengan pendekatan mendalam, tetapi berhubungan negatif dengan pendekatan permukaan.30
Studi selanjutnya juga menunjukkan bahwa persepsi siswa tentang lingkungan belajar-mengajar berhubungan positif dengan pendekatan mendalam dan berhubungan negatif dengan pendekatan permukaan.31 Dengan kata lain, siswa yang menerapkan pendekatan mendalam saat belajar cenderung mengalami semua faktor lingkungan belajar-mengajar lebih positif daripada siswa yang menerapkan pendekatan permukaan saat belajar.
Hasil penelitian Anna Parpala, dkk. menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran dipengaruhi oleh pengalaman siswa dalam lingkungan belajar- mengajar.32 Selanjutnya hasil penelitian Anna Parpala, dkk. (2013) menunjukkan korelasi yang signifikan secara statistik dan positif di antara pendekatan mendalam, belajar terorganisir, dan niat untuk memahami dengan enam faktor persepsi lingkungan belajar-mengajar. Pendekatan permukaan dan enam faktor persepsi lingkungan belajar-mengajar memiliki korelasi negatif yang signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi positif terhadap
29 Anna Parpala, dkk., Assessing students’ experiences of teaching–learning environments and approaches to learning: Validation of a questionnaire in different countries and varying contexts, Learning Environ Res, 16, 2013, hlm. 202.
30 Carolin Kreber, The relationship between students’ course perception and their approaches to studying in undergraduate science courses: A Canadian experience, Higher Education Research and Development, 22, 2003, hlm. 71-72.
31 John T. E Richardson, Investigating the relationship between variations in students’
perceptions of their academic environment and variations in study behaviour in distance education, British Journal of Educational Psychology, 76, 2006, hlm. 882-883.
32 Anna Parpala, dkk., Students’ approaches to learning and their experiences of the teaching–learning environment in different disciplines, British Journal of Educational Psychology, 80, 2010, hlm. 280.
lingkungan belajar-mengajar berhubungan positif dengan pendekatan mendalam dan berhubungan negatif dengan pendekatan permukaan.33
Penelitian pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD) Universitas Jambi menunjukkan 80% mahasiswa memiliki persepsi positif terhadap lingkungan pembelajaran. Lebih dari 50% mahasiswa PSPD UNJA menerapkan pendekatan mendalam. Terdapat hubungan yang bermakna antara persepsi mahasiswa terhadap lingkungan pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran yang digunakan (p= 0,001), semakin baik persepsi mahasiswa terhadap lingkungan pembelajaran, maka mahasiswa lebih banyak menggunakan pendekatan mendalam.34
Penelitian pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung mengenai hubungan pendekatan belajar dengan hasil belajar, menunjukkan bahwa hubungan pendekatan belajar dengan hasil belajar tidak signifikan.
Tetapi pada pendekatan deep approaches mahasiswa yang lulus ujian sebanyak 80,2% dan pada pendekatan surface approaches mahasiswa yang lulus 57,1%.
Hal ini menunjukan bahwa mahasiswa yang belajar dengan deep approaches lebih banyak yang berhasil dalam pencapaian hasil belajar.35
Penelitian pada mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan menunjukkan hasil sebagian besar mahasiswa memiliki persepsi yang baik terhadap kualitas pengajaran, kejelasan tujuan belajar, dan kemampuan belajar yang diperoleh di blok muskuloskeletal. Mahasiswa cenderung memiliki persepsi yang kurang baik terhadap kejelasan assessment dan kesesuaian beban belajar. Pada blok muskuloskeletal mahasiswa lebih cenderung menerapkan pendekatan belajar mendalam. Namun, tidak terdapat hubungan yang signifikan
33 Anna Parpala, dkk., Assessing students’ experiences of teaching–learning environments and approaches to learning: Validation of a questionnaire in different countries and varying contexts, Learning Environ Res, 16, 2013, hlm. 206.
34 Nyimas Natasha Ayu Shafira, dkk., Hubungan Persepsi Lingkungan Pembelajaran Dengan Strategi Pembelajaran Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Universtas Jambi, Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia, Vol. 3 (1), 2014, hlm. 34-36.
35 Rika Lisiswanti, dkk., Hubungan Pendekatan Belajar dan Hasil Belajar Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan, Vol. 2 (1), 2015, hlm. 82.
10
secara statistik antara persepsi mahasiswa terhadapsituasi pembelajaran dengan pendekatan belajar yang diterapkan.36
Penelitian pada mahasiswa farmasi di Pakistan menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan secara statistik, yang menunjukkan hubungan yang jelas antara persepsi mahasiswa terhadap lingkungan belajar mereka, preferensi belajar mereka, dan pendekatan belajar. Terdapat korelasi antara keterampilan umum, penilaian yang tepat, dan pengajaran yang baik dengan pendekatan pembelajaran terorganisir (organised studying). Dengan kata lain, siswa yang menilai lingkungan belajar-mengajar mereka secara positif pada tiga subskala cenderung mengadopsi pendekatan yang terorganisir dalam pembelajaran mereka. Mahasiswa yang merasa bahwa penilaian dan beban kerja mereka tidak sesuai lebih memilih mengadopsi pendekatan permukaan saat belajar. Mahasiswa yang lebih menyukai pembelajaran student-centered cenderung mengadopsi pendekatan yang mendalam saat belajar.37
Penelitian mengenai hubungan persepsi lingkungan belajar-mengajar dengan pendekatan belajar sudah diteliti di berbagai negara pada tingkatan perguruan tinggi. Sejauh ini peneliti belum menemukan penelitian mengenai hal di atas pada tingkatan Sekolah Menengah Atas (SMA), oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti dan menggali lebih jauh tentang hubungan antara lingkungan belajar dengan pendekatan belajar berdasarkan persepsi peserta didik di tingkat SMA.
Hal ini diaktualisasikan dalam bentuk tulisan berupa skripsi dengan judul
“Hubungan Antara Lingkungan Belajar Dengan Pendekatan Belajar Berdasarkan Persepsi Peserta Didik”.
B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, dapat diidentifikasi beberapa masalah yaitu:
36 Rhendy Wijayanto, dkk., Hubungan antara Persepsi Situasi Pembelajaran dengan Pendekatan Belajar Mahasiswa Blok Muskuloskeletal di Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan, Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia, Vol. 1 (3), 2012, hlm. 221.
37 Raza Ullah, dkk., Op. Cit., hlm. 67-68.
a. Proses, hasil perilaku siswa, dan keberhasilan siswa, baik secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh lingkungan belajar.
Hal ini menjadikan survei lingkungan belajar merupakan hal yang penting dilakukan di lingkungan kelas.
b. Pendekatan pembelajaran dilihat sebagai tanggapan siswa terhadap persepsi lingkungan belajar mereka. Survei pendekatan belajar peserta didik penting dilakukan untuk mengidentifikasi cara-cara belajar peserta didik.
c. Penelitian tentang lingkungan belajar-mengajar dan pendekatan belajar sudah banyak dilakukan di program sarjana, namun hanya ada sedikit penelitian tersebut di tingkat sekolah khususnya tingkat SMA (Sekolah Menengah Atas), akibatnya sulit untuk mengidentifikasi cara-cara yang bisa memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kualitas pembelajaran siswa.
2. Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah dalam penelitian yang berjudul “Hubungan Antara Lingkungan Belajar dengan Pendekatan Belajar Berdasarkan Persepsi Peserta Didik” yaitu:
a. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas XI pada mata pelajaran biologi di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Kota Tangerang Selatan.
b. Persepsi peserta didik tentang lingkungan belajar-mengajar yang diteliti terdiri dari 4 indikator yaitu: Organisation and Structure, Teaching and Learning, Students and Teacher, dan Assessments and Other Set Work yang diadaptasi dari kuesioner ETLQ (Experience of Teaching Learning Questionnaire)
c. Pendekatan belajar peserta didik yang diteliti terdiri dari 4 indikator yaitu: pendekatan mendalam (deep approach), pendekatan permukaan (surface approach), belajar termonitor (Monitoring Studying), dan belajar terorganisir (Organised Studying) yang diadaptasi dari kuesioner ETLQ (Experience of Teaching Learning Questionnaire)
3. Perumusan Masalah
12
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
“Apakah terdapat hubungan antara lingkungan belajar-mengajar dengan pendekatan belajar pada mata pelajaran biologi berdasarkan persepsi peserta didik?”
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara lingkungan belajar-mengajar dengan pendekatan belajar pada mata pelajaran Biologi berdasarkan persepsi peserta didik.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis bagi berbagai pihak yaitu:
1. Bagi Siswa
Sebagai informasi bagi siswa terkait lingkungan belajar dan pendekatan belajar sehingga siswa dapat mengadopsi suatu pendekatan belajar yang baik untuk mencapai prestasi belajar yang baik.
2. Bagi Guru
Guru memperoleh informasi mengenai persepsi peserta didik tentang lingkungan belajar-mengajar dan pendekatan belajar tiap peserta didik.
Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi guru untuk bisa meningkatkan kualitas pembelajaran agar tercipta lingkungan belajar- mengajar yang positif.
3. Bagi Peneliti Lain
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan pemikiran dan dapat dijadikan acuan serta masukan dalam penelitian sejenis.
13
BAB II KAJIAN TEORI A. Kajian Teori
1. Pembelajaran dan Pengajaran a. Pengertian Belajar
Menurut Witherington (1952) seperti dikutip Sukmadinata (2009), belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagi pola-pola respons yang baru yang berbentuk sikap, keterampilan, kebiasaan, kecakapan, dan pengetahuan. Proses belajar ditandai karena adanya perubahan pada perilaku individu, akan tetapi tidak semua perubahan individu karena belajar.1
Menurut Gagne (1984) diikuti oleh Dahar (2011), belajar didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Belajar menyangkut perubahan dalam suatu organisme. Perubahan yang terjadi ialah perubahan perilaku. Perilaku menyangkut aksi atau tindakan, hal yang menjadi perhatian ialah perilaku verbal manusia sebab dari tindakan-tindakan menulis dan berbicara manusia, dapat kita tentukan apakah perubahan dalam perilaku telah terjadi.2
Menurut perspektif behavioristik, belajar adalah proses perubahan perilaku yang bisa diamati, diukur, dan dinilai secara konkret melalui rangsangan yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum mekanistik. Para behaviorist menyebut tingkah laku sebagai tanggapan (respon) dan lingkungan yang disebut rangsangan (stimuli). Berbeda dengan behavioristik, menurut perspektif kognitif belajar didefinisikan sebagai suatu proses yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri
1 Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 155-158.
2 Ratna Wilis Dahar, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta : Erlangga, 2011), hlm. 2-3.
14
manusia, sebagai akibat dari proses interaksi dengan lingkungan untuk memperoleh perubahan dalam bentuk pemahaman, tingkah laku, keterampilan, atau sikap yang bersifat relatif dan berbekas.3
Berbeda dengan dua perspektif di atas, dalam perspektif humanis memaknai belajar sebagai suatu proses pengembangan potensi individu peserta didik, baik potensi berpikir maupun tingkah laku. Peserta didik dikatakan berhasil jika mampu menggunakan potensi berpikir dan berbuat untuk aktualisasi diri.4
Belajar adalah suatu proses yang berkesinambungan yang berlangsung sejak lahir hingga akhir hayat. Dalam belajar ada perubahan tingkah laku yang bersifat relatif permanen. Hasil belajar ditunjukkan dengan tingkah laku. Dalam belajar ada aspek yang berperan yaitu motivasi, emosional, sikap, dan yang lainnya.5
Secara institusional belajar dipandang sebagai proses validasi terhadap penguasaan siswa atas materi yang sudah mereka pelajari. Bukti institusional yang menunjukkan siswa sudah belajar dapat diketahui sesusai proses mengajar.
Pengertian belajar secara kualitatif adalah proses memeroleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsrikan dunia di sekeliling siswa. Belajar dalam pengertian ini difokuskan pada tercapainya daya pikir dan tindakan yang berkualitas untuk memecahkan masalah-masalah kini dan nanti. Belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.6
Belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut tampak dalam bentuk peningkatan
3 Rasyidin dan Wahyudin Nur Nasution, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Medan : Perdana Publishing, 2011), hlm. 6.
4 Ibid., hlm. 7.
5 Nasir, Belajar dan Pembelajaran, (Yogyakarta : K-Media, 2016), hlm. 12.
6 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung : Remaja Rosdakarya Offset, 2010), cet. 15, hlm. 90.
kualitas dan kuantitas tingkah laku. Peningkatan tersebut meliputi peningkatan kecakapan, pengetahuan, keterampilan, pemahaman, daya pikir, dan kemampuan lainnya.7
Belajar pada hakikatnya merupakan suatu usaha dan suatu proses perubahan pada tingkah laku individu sebagai hasil pengalaman dari interaksi dengan lingkungannya.8 Belajar merupakan suatu proses dan aktivitas yang melibatkan seluruh indra yang mampu mengubah perilaku seseorang terhadap dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungannya. Belajar juga merupakan proses pengeksplorasian terhadap suatu obyek yang dapat disintesis.9
Konsep belajar mencakup 3 unsur utama yaitu berkaitan dengan perubahan tingkah laku, perilaku mengacu pada tindakan, perilaku yang tampak seperti berbicara, menulis, dapat memberi pemahaman tentang perubahan perilaku seseorang.10
b. Pengertian Pembelajaran
Secara sederhana pembelajaran dapat didefinisikan sebagai aktivitas menyampaikan informasi dari pengajar kepada pelajar.
Menurut Azhar (2011) dalam buku Albert Efendi menjelaskan bahwa pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat membawa informasi dan pengetahuan dalam interaksi yang berlangsung antara pendidik dengan peserta didik. Menurut undang-undang nomor 20 Tahun 2003 pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.11
7 Thursan Hakim, Belajar Secara Efektif, (Jakarta: Puspa Swara, 2005), cet. 1, hlm. 1
8 Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan :Bagian 3 Pendidikan Disiplin Ilmu, (Bandung: Imperial Bahkti Utama, 2009), cet. 1, hlm. 328.
9 Lefudin, Belajar dan Pembelajaran, (Yogyakarta : Deepublish, 2014), hlm. 4-5.
10 Firmina Angela Nai, Teori Belajar dan Pembelajaran: Implementasinya dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP, SMA, dan SMK, (Yogyakarta: Deepublish, 2017), hlm. 6.
11 Albert Effendi, Konsep Pembelajaran Daring Berbasis Pendekatan Ilmiah, (Purwodadi : Sarnu Untung, 2020), hlm. 1.
16
Pengertian pembelajaran tidak terlepas dari pengertian belajar. Pembelajaran berarti kegiatan belajar yang dilakukan oleh pembelajar dan guru. Proses belajar menjadi satu sistem dalam pembelajaran. Dick dan Carey dikutip oleh Ismail Makki, menjelaskan komponen dalam sistem pembelajaran adalah pembelajar, isntruktur (guru), bahan pembelajaran, dan lingkungan pembelajaran. Komponen dalam upaya pembelajaran merupakan upaya menciptakan kondisi (lingkungan eksternal) yang konduktif agar terjadi proses belajar (kondisi internal) pada diri siswa.12
Slavin (2011) dikutip oleh Firmina mengatakan bahwa pembelajaran didefinisikan sebagai perubahan di dalam diri seseorang yang disebabkan oleh pengalaman. Degeng (2013) dikutip olehFirmina mendefinisikan pembelajaran sebagai upaya membelajarkan siswa. Pengertian ini sejalan dengan proses belajar sebagai pengaitan pengetahuan baru pada struktur kognitif yang sudah dimiliki si belajar.13
Menurut Gagne dan briggs (1979) dikutip oleh Lefudin menjelaskan bahwa pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal.
Menurut Knirk dan Gustafson pembelajaran merupakan suatu proses yang sistematis melalui tahap rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pembelajaran melalui tahapan perancangan pembelajaran.
Aktivitas pembelajaran dalam bentuk interaksi belajar mengajar dalam suasana interaksi edukatif yang sudah dirancang untuk suatu tujuan tertentu.14
12 Ismail Makki dan Aflahah, Konsep Dasar Belajar dan Pembelajaran, (Pamekasan : Duta Media Publishing, 2019), hlm. 6-7.
13 Firmina Angela Nai, Op. Cit., hlm. 65.
14 Lefudin, Op. Cit., hlm. 13-14.
Pembelajaran dapat didefiniskan sebagai suatu proses membelajarkan peserta didik yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar peserta didik dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.15
Pembelajaran merupakan suatu sistem yang didalamnya terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan satu sama lain. Komponen tersebut meliputi tujuan, materi, metode, strategi, dan pendekatan yang digunakan dalam suatu pembelajaran.
Pembelajaran merupakan kegiatan interaksi antara guru dengan siswa, baik itu secara langsung maupun secara tidak langsung dengan berbagai media pembelajaran.16
Menurut Winkel (1991) dikutip olehEveline pembelajaran merupakan seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar siswa, dengan memperhitungkan kejadian ekstrem yang berperan terhadap kegiatan intern yang dialami siswa.
Beberapa ciri pembelajaran yaitu merupakan upaya sadar dan disengaja, pembelajaran harus membuat siswa belajar, tujuan harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum pembelajaran dimulai, dan pelaksanaanya terkendali, baik isinya, waktu, proses, dan hasilnya.17
Belajar dan pembelajaran merupakan dua kegiatan yang tidak dapat dipisahkan karena saling mempengaruhi satu sama lain.
Belajar merupakan salah satu bagian dari kegiatan pembelajaran, sedangkan pembelajaran itu sendiri merupakan usaha untuk menciptakan pengalaman belajar pada siswa. Pembelajaran merupakan proses interaksi antara siswa dengan lingkungan,
15 Nasir, Op. Cit., hlm. 13.
16 Rusman, Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Pada Standar Proses Pendidikan, (Jakarta : Kencana, 2017), hlm. 84-85.
17 Eveline Siregar dan Hartini Nara, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Bogor : Ghalia Indonesia, 2010), hlm. 12-13.
18
sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik pada diri siswa.18
c. Pengertian Pengajaran
Istilah “pengajaran” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (1991) berasal dari kata “ajar” yang artinya petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui. Kata
“mengajar” berarti memberi pelajaran. Istilah pengajaran dalam bahasa Inggris disebut instruction atau teaching. Akar kata instruction adalah to instruct yang artinya to direct to do something;
to teach to do something; to furnish with information, yang maknanya memberi pengarahan agar melakukan sesuatu, mengajar agar melakukan sesuatu, dan memberi informasi.19
Pengajaran dilaksanakan dalam suatu kegiatan bernama mengajar. Pengajaran amat dekat dengan istilah pedagogi. Pedagogi adalah seni atau ilmu untuk menjadi guru. Istilah ini mengacu kepada strategi pengajaran atau gaya mengajar. William H. Burton, seorang behavioris, menyatakan bahwa mengajar adalah upaya memberikan stimulus, bimbingan, pengarahan, dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar.20
Biggs (1991) seorang pakar psikologi kognitif masa kini, membagi konsep mengajar dalam tiga macam pengertian: 1) pengertian kuantitatif yang menyangkut jumlah pengetahuan yang diajarkan, 2) pengertian institusional yang menyangkut kelembagaan atau sekolah, 3) pengertian kualitatif yang menyangkut mutu hasil yang ideal. Dalam pengertian kuantitatif mengajar yaitu penularan pengetahuan. Guru hanya perlu menguasai
18 Nasir, Op. Cit., hlm. 13.
19 Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm. 33.
20 Suyono dan Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran : Teori dan Konsep Dasar, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 16.
pengetahuan bidang studinya dan menyampaikan kepada siswa sebaik-baiknya.21
Dalam pengertian institusional mengajar yaitu penataan segala kemampuan mengajar secara efisien. Guru dituntut selalu siap mengadaptasi berbagai teknik mengajar untuk bermacam- macam siswa dengan bakat, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda-beda. Dalam pengertian kualitatif mengajar yakni upaya membantu memudahkan kegiatan belajar siswa. Guru berinteraksi sedemikian rupa dengan siswa sesuai dengan konsep kualitatif, yaitu agar siswa belajar dalam arti membentuk pemahamannya sendiri.22
Mengajar merupakan segala upaya yang disengaja dalam rangka menyampaikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik untuk menjadi manusia berpengetahuan, memberi kemungkinan terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan untuk peserta didik yaitu membentuk manusia yang berkualitas di masa mendatang.23
Yusufhadi Miarso dikutip olehDina Gasong menjelaskan tentang pembelajaran dengan membedakan antara pembelajaran (instruction) dan pengajaran (teaching). Menurutnya kedua istilah ini berbeda, pembelajaran adalah usaha mengelola lingkungan belajar dengan sengaja agar seseorang membentuk diri secara positif dalam kondisi positif tertentu. Sedangkan pengajaran (teaching) adalah usaha membimbing dan mengarahkan pengalaman belajar kepada peserta didik yang biasanya berlangsung dalan situasi formal.24
Istilah belajar mengajar sudah tidak asing lagi. Ada dua istilah yaitu belajar dan mengajar. Proses belajar dapat terjadi kapan
21 Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm. 180.
22 Ibid.
23 Chomaidi dan Salamah, Pendidikan dan Pengajaran : Strategi Pembelajaran Sekolah, (Jakarta : Grasindo, 2018), hlm. 180-182.
24 Dina Gasong, Belajar dan Pembelajaran, (Yogyakarta : Deepublis, 2018), hlm. 65.
20
saja terlepas dari ada yang mengajar atau tidak. Proses belajar terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya, karena itu istilah pembelajaran mengandung makna yang lebih luas daripada mengajar. Pembelajaran merupakan usaha yang dilaksanakan secara sengaja, terarah, terencana, dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelum proses dilaksanakan, dan pelaksanaannya terkait dengan maksud agar terjadi belajar pada diri seseorang.
Perbedaan antara istilah “pengajaran” dan “pembelajaran”
bisa dilihat pada tabel 2.1 berikut ini.25
Tabel 2. 1 Perbedaan Istilah Pengajaran dan Pembelajaran
No. Pengajaran Pembelajaran
1. Dilaksanakan oleh mereka yang berprofesi sebagai pengajar
Dilaksanakan oleh mereka yang dapat membuat orang belajar
2. Tujuannya menyampaikan informasi kepada si pelajar
Tujuannya agar terjadi belajar pada pelajar
3. Merupakan salah satu penerapan strategi pembelajaran
Merupakan cara untuk mengembangkan rencana yang terorganisir untuk keperluan belajar
4. Kegiatan belajar
berlangsung bila ada guru
Kegiatan belajar dapat berlangsung dengan atau tanpa hadirnya guru
2. Lingkungan Belajar
a. Pengertian Lingkungan Belajar
Lingkungan belajar merupakan hal-hal yang ada di sekitar kita, baik kondisi fisik, psikologi (emosional) maupun budaya yang dapat
25 Eveline Siregar dan Hartini Nara, Op. Cit., hlm. 13.
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan orang dewasa di bidang pendidikan.26
Proses pendidikan selalu berlangsung dalam suatu lingkungan yaitu lingkungan pendidikan yang mencakup lingkungan fisik, sosial, intelektual, dan nilai-nilai. Lingkungan fisik terdiri atas lingkungan alam dan lingkungan buatan manusia, yang merupakan tempat sekaling memberikan dukungan maupun hambatan bagi berlangsungnya proses pendidikan. Lingkungan sosial merupakan lingkungan pergaulan antar manusia, pergaulan antara pendidik dengan peserta didik, serta orang- orang lainnya yang terlibat dalam interaksi pendidikan.
Lingkungan intelektual merupakan kondisi dan iklim sekitar yang mendorong pengembangan kemampuan berpikir. Lingkungan ini mencakup perangkat lunak seperti sistem dan program-program pengajaran, perangkat keras seperti media dan sumber belajar, serta aktivitas-aktivitas pengembangan dan penerapan kemampuan berpikir.
Lingkungan nilai yang merupakan tata kehidupan nilai, baik nilai kemasyarakatan, ekonomi, sosial, politik, estetika, etika, dan keagamaan yang dianut dalam suatu kelompok tertentu.27
Ada dua kecenderungan interaksi individu dengan lingkungan yaitu menerima lingkungan atau menolak lingkungan. Sesuatu yang datang dari lingkungan mungkin diterima oleh individu sebagai sesuatu yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, menguntungkan atau merugikan. Sesuatu yang menyenangkan akan diterima, tetapi yang tidak menyenangkan akan ditolak atau dihindari.28
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar dan Pembelajaran
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu:
26 Harjali, Penataan Lingkungan Belajar: strategi untuk Guru dan Sekolah, (Malang:
Seribu Bintang, 2019), hlm. 24.
27 Nana Syaodih Sukmadinata, Op. Cit., hlm. 5-6.
28 Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 57.
22
1. Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan atau kondisi jasmani dan rohani siswa. Faktor yang berasal dari dalam siswa sendiri meliputi dua aspek yakni:
a. Aspek fisiologis yang bersifat jasmaniah
Kondisi umum jasmani yang menandai tingkat kebugaran organ tubuh serta kondisi organ tubuh yang lemah dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ-organ siswa seperti tingkat kesehatan indera pendengar dan indera penglihat juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan.29
Dalam konteks jasmani keadaan jasmani yang segar dan kurang segar atau lelah dan tidak lelah akan berpengaruh terhadap belajar dan hasil yang dicapai. Setidaknya ada 2 hal yang harus diperhatikan yaitu nutrisi cukup dan macam penyakit yang bisa mengganggu aktivitas belajar.30
b. Aspek psikologis yang bersifat rohaniah
Seseorang yang sehat rohaninya adalah orang yang terbebas dari tekanan batin, gangguan perasaan, kebiasaan buruk yang mengganggu perasaan, dan konflik psikis. Seseorang yang sehat rohaninya akan merasa bahagia, dapat bergaul dengan orang lain, dapat bekerja sama dengan orang lain dan sebagainya.31 Menurut Muhibbin Syah aspek psikologis dapat dilihat dari beberapa aspek di bawah ini:
1. Tingkat kecerdasan / inteligensi siswa
Tingkat kecerdasan sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Semakin tinggi kemampuan inteligensi seorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih kesuksesan, sebaliknya semakin rendah kemampuan inteligensi seorang
29 Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm. 130.
30 Al-Rasyidin dan Wahyudin Nur Nasution, Op. Cit., hlm. 15-16.
31 Nana Syaodih Sukmadinata, Op. Cit., hlm. 162.
siswa maka semakin kecil peluangnya untuk memperoleh kesuksesan.
Oleh karenanya perlu bimbingan belajar dari orang lain seperti guru, orang tua, dan lain sebagainya. Pengetahuan dan pemahaman tentang kecerdasan perlu dimiliki oleh setiap calon guru dan guru profesional sehingga mereka dapat memahami tingkat kecerdasan siswanya, karena inteligensi dipandang sebagai faktor psikologis yang penting dalam mencapai kesuksesan belajar.32
Namun rendah tingginya kecerdasan bukan merupakan faktor satu-satunya untuk mencapai kesuksesan dalam pendidikan karena banyak faktor lain juga yang mempengaruhi.33
2. Sikap siswa
Sikap adalah gejala internal berupa kecenderungan untuk merespons dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang, dan sebagainya baik secara positif maupun negatif.34
Banyak pengaruh faktor sikap terhadap keberhasilan siswa dalam belajar. Sikap dapat menentukan apakah seseorang dapat belajar dengan lancar atau tidak, tahan lama atau tidak saat belajar, senang dengan pelajarannya atau tidak senang. Di antara sikap yang dimaksud disini adalah minat, prasangka atau kesetiaan, dan keterbukaan pikiran. Sikap yang positif merangsang tepatnya kegiatan belajar.35
3. Bakat siswa
Bakat diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya
32 Nasir, Op. Cit., hlm. 5.
33 Ibid., hlm. 9.
34 Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm, 132.
35 Nasir, Op. Cit., hlm. 10.
24
pendidikan dan pelatihan. Bakat akan mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu.36
4. Minat siswa
Minat berarti kecenderungan dan kegairahan atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang studi tertentu, misalnya siswa yang berminat terhadap mata pelajaran matematika akan memusatkan perhatiannya lebih banyak daripada siswa lainnya.37
Minat dapat muncul dalam diri seseorang apabila ada stimulus dari luar walaupun pada dasarnya minat berasal dari dalam diri. Kebutuhan anak untuk belajar timbul dari minat yang disebabkan perhatian, senang, dan lain sebagainya.38
5. Motivasi siswa
Motivasi merupakan dorongan dasar yang menggerakkan seseorang untuk bertingkah laku ke suatu tujuan tertentu.
Motivasi merupakan kekuatan baik dari dalam maupun dari luar diri seseorang yang mendorongnya untuk mencapai suatu tujuan.
Siswa yang termotivasi akan memperlihatkan minat, mempunyai perhatian, dan ingin berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran.39
Motivasi dibedakan menjadi dua macam yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah keadaan yang berasal dari dalam diri siswa yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Motivasi ekstrinsik adalah keadaan yang datang dari luar individu siswa yang juga
36 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung : Remaja Rosdakarya Offset, 2010), cet. 15, hlm, 133.
37 Ibid., hlm. 133-134.
38 Kompri, Belajar : Faktor-faktor yang mempengaruhinya, (Yogyakarta: Media Akademi, 2017), cet. 1, hlm. 143.
39 Alizamar, Teori Belajar dan Pembelajaran : Implementasi dalam Bimbingan KelompokBelajar di Perguruan Tinggi, (Yogyakarta : Media Akademi, 2016), cet. 1, hlm. 15-16.