• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

E. Pembahasan Hasil Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai hubungan antara lingkungan belajar-mengajar dengan pendekatan belajar pada mata pelajaran biologi berdasarkan persepsi peserta didik di SMAN Kota Tangerang Selatan. Penelitian dilakukan di kelas XI IPA. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis sebelumnya dapat diperoleh kesimpulan bahwa H0

ditolak dan H1 diterima yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi peserta didik tentang lingkungan belajar-mengajar dengan pendekatan belajar peserta didik. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji hipotesis menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment dengan ketentuan apabila rhitung > rtabel maka H0 ditolak dan H1 diterima. Diperoleh rhitung > rtabel

yaitu rhitung (0,732) > rtabel (0,1764) maka H1 diterima.

Data yang diperoleh menunjukkan hubungan antara lingkungan belajar-mengajar dengan pendekatan belajar berdasarkan persepsi peserta didik termasuk dalam kategori korelasi kuat dimana nilai koefisien korelasinya sebesar 0,732. Hasil kuesioner persepsi lingkungan belajar-mengajar di kedua sekolah tidak jauh berbeda. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa di kedua sekolah, perolehan skor kuesioner persepsi lingkungan belajar-mengajar paling banyak berada pada kategori sedang.

Sedangkan frekuensi paling sedikit yaitu pada kategori rendah. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi peserta didik tentang lingkungan belajar-mengajar di kedua sekolah dominan positif.

Kuesioner persepsi peserta didik tentang lingkungan belajar-mengajar dan kuesioner pendekatan belajar pada penelitian ini dapat digunakan di masa pandemi maupun di masa bukan pandemi. Hal ini karena semua indikator kuesioner tidak mengarah pada salah satu kondisi saja, sehingga bisa digunakan di kedua kondisi tersebut. Seperti pada kuesioner persepsi

tentang lingkungan belajar-mengajar butir 2 yang berbunyi “materi-materi di pelajaran ini berhubungan satu sama lain secara logis (masuk akal)”, lalu butir 9 yang berbunyi “lembar kerja dan bahan ajar lain yang diberikan membantu saya untuk memahami materi ini”.

Kedua butir tersebut merupakan perwakilan butir lainnya yang menunjukkan tidak ada kaitan secara langsung antara butir penyataan instrumen dengan kondisi pandemi. Sehingga kuesioner bisa dipakai di masa pandemi maupun di masa non-pandemi.

Indikator persepsi lingkungan belajar-mengajar dalam penelitian ini terdiri dari empat indikator yaitu organisayion and structure, teaching and learning, students and teacher, dan assessments and other set work. Pada SMAN A perolehan persentase tertinggi yaitu pada indikator students and teachers. Berdasarkan hasil wawancara peserta didik dengan kategori rendah, sedang, dan tinggi pada SMAN A, mereka memiliki persepsi yang positif terhadap siswa lainnya di kelas dan terhadap guru biologi. Mereka berpendapat bahwa mereka merasa nyaman bekerja sama dengan siswa lain.

Mereka saling berdiskusi jika ada hal-hal yang mereka belum pahami, dengan mereka berdiskusi bersama, mereka merasa pengetahuan mereka bertambah.

Berdasarkan hasil wawancara di SMAN A, peserta didik memiliki persepsi yang positif terhadap guru biologi karena guru biologi yang suportif ke para siswanya. Guru selalu memberikan semangat kepada para siswanya. Guru juga sangat sabar saat sedang menjelaskan materi yang cukup sulit. Pendapat para siswa juga selalu diperhatikan dan dihargai oleh guru biologi mereka.

Pada SMAN B perolehan persentase tertinggi yaitu pada indikator assessments and other set work. Berdasarkan hasil wawancara dengan peserta didik, peserta didik merasa tugas yang diberikan oleh guru biologi sudah jelas dan sesuai dengan apa yang sedang mereka pelajari. Peserta didik merasa dengan mengerjakan tugas dapat membantu mereka untuk

92

lebih memahami materi pelajaran. Namun, terkait dengan penilaian, peserta didik menyatakan bahwa tugas yang sudah mereka kerjakan terkadang tidak dinilai atau tidak diberi umpan balik. Hal ini membuat peserta didik tidak dapat mengevaluasi hasil tugas yang sudah mereka kerjakan.

Indikator organisation and structure berkaitan dengan persepsi peserta didik terhadap materi di mata pelajaran biologi, pemahaman peserta didik di kelas biologi, dan kebebasan memilih strategi belajar. Berdasarkan hasil wawancara peserta didik di kedua sekolah, peserta didik berpendapat bahwa materi-materi di mata pelajaran biologi saling berhubungan satu sama lain.

Penelitian di lakukan di kelas XI, peserta didik merasa materi tentang sistem organ tubuh di kelas XI saling berhubungan. Peserta didik juga merasa materi pelajaran biologi tersusun dengan baik dan kegiatan pembelajaran biologi secara umum sudah berjalan dengan lancar.

Indikator teaching and learning berkaitan dengan proses kegiatan belajar mengajar di kelas. Berdasarkan hasil wawancara peserta didik, proses pembelajaran dan pengajaran yang dilakukan di dalam kelas mereka sudah baik. Namun, mereka merasa berbeda saat pembelajaran di sekolah secara offline dengan pembelajaran yang sedang mereka lakukan secara daring di masa pandemi ini. Mereka merasakan proses belajar lebih aktif saat belajar di sekolah dibandingkan belajar daring.

Keempat indikator pada kuesioner persepsi peserta didik tentang lingkungan belajar-mengajar menunjukkan persentase yang cukup tinggi yaitu di atas 80%. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi peserta didik tentang lingkungan belajar-mengajar di mata pelajaran biologi sudah positif. Lingkungan belajar-mengajar yang diteliti di penelitian ini diantaranya masuk ke dalam lingkungan sosial peserta didik. Yang termasuk dalam lingkungan sosial peserta didik di kelas yaitu guru dan teman sejawatnya.

Seperti yang dijelaskan Muhibbin Syah yang menyatakan bahwa guru, para tenaga kependidikan, dan teman-teman sekelas merupakan salah satu

faktor lingkungan sosial peserta didik.6 Guru merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam pelaksanaan strategi pembelajaran. Keberhasilan implementasi suatu strategi pembelajaran tergantung pada guru dalam menggunakan metode pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, guru tidak hanya berperan sebagai model atau teladan bagi siswa yang diajarnya, tetapi juga sebagai pengelola pembelajaran.7

Lingkungan sebaya dan kelompok belajar peserta didik termasuk dalam lingkungan sosial yang juga mempengaruhi proses pembelajaran.

Dalam lingkungan yang kompetitif untuk belajar, seseorang yang berada dalam lingkungan tersebut, secara sadar atau tidak, akan terbawa lingkungannya menjadi orang yang giat belajar.8 Begitu pula sebaliknya, jika lingkungan sebayanya tidak kompetitif dalam hal belajar, maka orang tersebut juga akan mengikuti lingkungannya menjadi tidak komptetitif dalam hal belajar.

Pendekatan diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran. Pendekatan merupakan langkah awal pembentukan suatu ide dalam memandang suatu objek kajian. Pendekatan akan menentukan arah pelaksanaan ide tersebut untuk menggambarkan perlakuan yang diterapkan terhadap objek kajian yang akan dipelajari.9 Kuesioner pendekatan belajar dalam penelitian ini terdiri dari empat indikator yaitu deep approach, surface approach, organised studying, dan monitoring studying.

Peserta didik yang menggunakan deep approach (pendekatan mendalam) biasanya mempelajari materi karena memang tertarik dan merasa membutuhkannya. Oleh karena itu, gaya belajarnya serius dan berusaha memahami materi secara mendalam serta memikirkan cara

6 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosakarya Offset, 2010), hlm. 135.

7 Al-Rasyidin dan Wahyudin Nur Nasution, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Medan:

Perdana Publishing, 2011), hlm. 120.

8 Ali Imron, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 2010), hlm. 104.

9 Rusman, Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Pada Standar Proses Pendidikan, (Jakarta : Kencana, 2017), hlm. 209.

94

mengaplikasikannya. Peserta didik yang menggunakan surface approach (pendekatan permukaan), belajar karena dorongan dari luar (ekstrinsik) antara lain takut tidak lulus yang bisa membuat peserta didik tersebut malu.

Oleh karenanya, gaya belajarnya santai, asal hafal, dan tidak mementingkan pemahaman yang mendalam.10

Pengertian monitor menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yaitu pantau; cek secara cermat. Peserta didik yang menggunakan monitoring studying (pendekatan belajar termonitor) yaitu peserta didik yang berusaha memantau pengetahuan dan keterampilannya. Pengertian terorganisir menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yaitu telah disusun dan diatur dalam suatu kesatuan. Peserta didik yang menggunakan organised studying (pendekatan belajar terorganisir) berusaha mengatur waktu belajarnya sebaik mungkin dan belajar secara sistematis.

Berdasarkan pengertian pendekatan belajar di atas, di antara empat indikator, hanya surface approach (pendekatan permukaan) yang merupakan pendekatan belajar kurang maksimal.

Berdasarkan hasil perolehan skor kuesioner pendekatan belajar pada SMAN A, persentase tertinggi yaitu deep approach. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik pada SMAN A dominan deep approach saat belajar biologi. Sedangkan hasil pada SMAN B persentase tertinggi yaitu monitoring studying. Hal ini menunjukkan bahwa di kedua sekolah, peserta didik lebih banyak menggunakan pendekatan belajar yang maksimal saat belajar biologi.

Menurut penelitian Anna Parpala dkk., persepsi positif siswa terhadap lingkungan pembelajaran berhubungan pada pendekatan belajar mereka.11 Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa persepsi lingkungan belajar-mengajar berkorelasi kuat dengan pendekatan belajar. Tabel 4.14 menunjukkan hasil koefisien korelasi dan nilai signifikansi antar indikator

10 Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm. 126-127.

11 Anna Parpala, dkk., Assessing students’ experiences of teaching–learning environments and approaches to learning: Validation of a questionnaire in different countries and varying contexts, Learning Environ Res, 16, 2013, hlm. 206.

persepsi lingkungan belajar-mengajar dengan indikator pendekatan belajar.

Berdasarkan hasil perhitungan korelasi didapatkan hasil korelasi paling rendah yaitu antara persepsi lingkungan belajar-mengajar terhadap surface approach (pendekatan permukaan). Hasil korelasi paling tinggi yaitu antara persepsi lingkungan belajar-mengajar terhadap deep approach (pendekatan mendalam) dan monitoring studying (belajar termonitor). Hasil korelasi persepsi lingkungan belajar-mengajar dengan organised studying (belajar terorganisir) yaitu pada kategori sedang.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa terdapat korelasi yang positif dan signifikan secara statistik antara deep approach (pendekatan mendalam), organised studying (pembelajaran terorganisir) dengan persepsi lingkungan belajar-mengajar, sedangkan korelasi antara surface approach (pendekatan permukaan) dengan persepsi lingkungan belajar-mengajar yaitu negatif secara statistik.12 Hal ini menunjukkan bahwa persepsi positif dari peserta didik terhadap lingkungan belajar-mengajarnya berhubungan dengan pendekatan belajar yang maksimal yaitu dengan deep approach (pendekatan mendalam), monitoring studying (belajar termonitor), dan organised studying (belajar terorganisir).

Hasil wawancara peserta didik mengenai pendekatan belajar, peserta didik dengan kategori tinggi mengarah pada deep approach (pendekatan mendalam). Hal ini karena mereka memiliki minat besar terhadap pelajaran biologi. Saat belajar biologi, mereka berusaha mencari tahu informasi-informasi yang berkaitan dengan pelajaran secara mandiri. Mereka sering menghubungkan materi yang sedang dipelajari dengan konteks kehidupan nyata, terlebih materi biologi kelas XI mempelajari tentang sistem-sistem dalam tubuh. Mereka juga tidak sungkan bertanya ke guru saat ada hal yang tidak dimengerti. Pendekatan belajar peserta didik kategori tinggi juga

12 Ibid.

96

mengarah kepada organised studying (pendekatan belajar terorganisir) dan monitoring studying (belajar termonitor).

Kriteria pendekatan organised studying (belajar terorganisir) yaitu : 1) Siswa terbiasa berusaha belajar dengan giat. 2) Siswa sistematis dan terorganisir saat belajar. 3) Siswa mengatur waktunya sebaik mungkin saat belajar. 4) Siswa bisa berkonsentrasi saat belajar. Peserta didik kategori tinggi menerapkan organised studying (belajar terorganisir) saat belajar biologi karena mata pelajaran biologi merupakan salah satu pelajaran yang mereka minati. Alasan lainnya juga karena mereka memiliki minat jurusan kuliah di bidang biologi.

Kriteria pendekatan monitoring studying (belajar termonitor) yaitu: 1) siswa sering memeriksa ulang tugas yang sudah dikerjakan untuk melihat kembali jawaban. 2) siswa memikirkan seberapa baik mereka mengkomunikasikan suatu hal di depan kelas. 3) Siswa berusaha mendapatkan informasi yang relevan terkait dengan pelajaran. 4) Siswa mencoba metode belajar yang berbeda jika masih banyak hal yang belum dipahami. Hasil kuesioner dan wawancara menjelaskan peserta didik kategori sedang mengarah pada pendekatan monitoring studying (belajar termonitor).

Monitoring studying (belajar termonitor) yaitu cara belajar peserta didik dengan memantau pemahaman dan keterampilan mereka. Contoh dari memantau pemahaman yang dimaksud yaitu peserta didik meninjau kembali tugas yang sudah mereka kerjakan sebelum diserahkan ke guru mereka. Salah satu upaya memonitor pengetahuan mereka juga yaitu dengan mencoba belajar dengan cara lain apabila mereka merasa kesulitan memahami materi pelajaran.

Pendekatan monitoring studying (belajar termonitor) selain dengan memantau pemahaman, juga dengan cara memantau keterampilan mereka.

Keterampilan yang dimaksud di kuesioner ini yaitu kemampuan berkomunikasi. Berdasarkan hasil wawancara, terdapat siswa yang memikirkan seberapa baik mereka menyampaikan sesuatu, terdapat juga

siswa yang tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Contohnya jika ada presentasi di depan kelas, peserta didik yang memantau kemampuan komunikasinya akan menyiapkan bahan presentasi dengan sebaik mungkin dan latihan sebelum maju presentasi di depan kelas. Peserta didik yang tidak memantau keterampilannya, mereka tidak menyiapkan dan tidak merasa perlu latihan sebelum maju presentasi.

Berdasarkan hasil wawancara peserta didik kategori rendah, pendekatan belajar yang mereka gunakan mengarah ke surface approach (pendekatan permukaan). Kriteria pendekatan permukaan yaitu: 1) Kesulitan dalam memahami suatu materi pelajaran. 2) Tidak tahu tujuan pembelajaran yang sedang dipelajari. 3) Banyak hal yang sudah dipelajari tidak berhubungan di pikiran. 4) Cenderung menerima apa yang telah diajarkan tanpa banyak mempertanyakannya. Peserta didik kategori rendah belajar biologi dengan pendekatan surface approach karena mereka memang tidak menyukai pelajaran biologi. Mereka merasa materi biologi terlalu banyak sehingga mereka merasa kesulitan saat harus memahami materinya.

Berdasarkan hasil kuesioner dan wawancara dengan peserta didik, dapat diketahui bahwa persepsi peserta didik tentang lingkungan belajar-mengajarnya berhubungan terhadap pendekatan belajar mereka. Persepsi lingkungan belajar-mengajar pada mata pelajaran biologi di dua sekolah yang diteliti sudah mengarah positif. Lingkungan belajar yang positif akan mendorong peserta didik untuk memaksimalkan pendekatan belajar mereka.

Penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan persepsi lingkungan belajar-mengajar dan pendekatan belajar pada tahun 2014 yang dilakukan di tingkat sarjana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penelitian ini menekankan pentingnya organised studying (belajar terorganisir) yaitu pengaturan diri siswa, seperti manajemen waktu dan keterampilan mengorganisir, dan usaha saat belajar. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa mahasiswa yang menggunakan deep approach (pendekatan

98

mendalam) mengarah pada keberhasilan yang lebih baik dalam studi mereka.13

Hasil penelitian Anna Parpala, dkk. yang dilakukan di tingkat universitas juga menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa terhadap lingkungan belajar-mengajarnya memiliki korelasi dengan pendekatan belajar. Persepsi mahasiswa terhadap lingkungan belajar-mengajarnya berbeda-beda dari tiap jurusan. Hasil juga menunjukkan bahwa mahasiswa setiap jurusan juga menggunakan pendekatan belajar yang berbeda pula.14

Proses pengajaran harus mendorong siswa untuk menghubungkan apa yang telah mereka pelajari dengan masalah di dunia yang lebih luas.

Proses pembelajaran juga harus membantu siswa untuk memikirkan fakta-fakta yang mendukung pembelajaran. Metode pengajaran yang mendukung konstruksi pengetahuan siswa, berfikir kritis, dan keterampilan memecahkan masalah, seperti pembelajaran berbasis masalah, harus diintegrasikan ke dalam kurikulum dari awal studi mereka untuk mendukung pengembangan deep approach (pendekatan mendalam) untuk belajar selama studi mereka.15 Dari hasil penelitian ini dan hasil penelitian sebelumnya dapat diketahui bahwa persepsi peserta didik tentang lingkungan belajar-mengajar yang positif akan mengarahkan peserta didik untuk belajar dengan menggunakan pendekatan belajar yang maksimal.

13 Henna Asikainen, dkk., The Development of Approaches to Learning and Perceptions of the Teaching-Learning Environment During Bachelor Level Studies and Their Relation to Study Success, Higher Education Studies, Vol. 4 (4), 2014, hlm. 32.

14 Anna Parpala, dkk., Students’ approaches to learning and their experiences of the teaching learning environment in different disciplines, British Journal of Educational Psychology, 80, 2010, hlm. 278-279.

15 Henna Asikainen. Op. Cit., hlm. 33-34.

99 BAB V PENUTUP F. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, hasil uji hipotesis dengan uji korelasi Pearson Product Moment menunjukkan hasil perolehan rhitung > rtabel yaitu 0,732 > 0,1764.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara persepsi peserta didik tentang lingkungan belajar-mengajarnya dengan pendekatan belajar.

G. Saran

Saran dari penelitian ini, antara lain:

1. Persepsi peserta didik tentang lingkungan belajar-mengajar yang digunakan di penelitian ini diadaptasi dari instrumen ETLQ. Persepsi peserta didik mengenai lingkungan belajar tidak terbatas pada salah satu instrumen saja. Terdapat banyak instrumen yang sudah dikembangkan oleh peneliti-peneliti sebelumnya yang bisa digunakan untuk meneliti dan mengukur persepsi peserta didik mengenai lingkungan belajar.

2. Lingkungan pembelajaran merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan keberhasilan peserta didik. Oleh karena itu, sebaiknya guru maupun peserta didik bisa saling mendukung dan bekerjasama agar tercipta lingkungan pembelajaran yang positif sehingga bisa memaksimalkan hasil belajar.

3. Pendekatan belajar tidak cukup diukur menggunakan kuesioner karena kuesioner tidak bisa menggambarkan keseluruhan pendekatan belajar peserta didik. Oleh karena itu, dapat dilengkapi dengan menggunakan pedoman wawancara atau observasi.

100

DAFTAR PUSTAKA

Agustina, Crystha, dan Pipit. 2020. Praktikum Statistik. Malang: Ahlimedia Press.

Ali Imron. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.

Alizamar. 2016. Teori Belajar dan Pembelajaran : Implementasi dalam Bimbingan Kelompok Belajar di Perguruan Tinggi. Yogyakarta : Media Akademi.

Al-Rasyidin dan Nasution, Wahyudin Nur. 2011. Teori Belajar dan Pembelajaran, Medan : Perdana Publishing.

Artikel “Ancaman Kesehatan Mental Siswa Selama Pandemi” diakses dari https://nasional.sindonews.com/read/228580/18/ancaman-kesehatan-mental-siswa-pada-masa-pandemi-1605096692 pada 10 Februari 2021.

Artikel “Begini Cara Pelaksanaan Asesmen Pengganti Ujian Nasional” diakses dari https://www.detik.com/edu/sekolah/d-5562338/begini-cara-pelaksanaan-asesmen-pengganti-ujian-nasional pada tanggal 16 Februari 2021 pada pukul 21.05 WIB.

Artikel “Our Students as Learners” diakses dari https://www.queensu.ca/teachingandlearning/modules/students/13_appro ach_to_learning.html pada 16 Februari 2021.

Asikainen, Henna, dkk. 2014. The Development of Approaches to Learning and Perceptions of the Teaching-Learning Environment During Bachelor Level Studies and Their Relation to Study Success. Higher Education Studies.

Vol. 4 (4).

Asrori, Mohammad. 2009. Psikologi Pembelajaran. Bandung: Wacana Prima.

Azwar, Saifuddin. 2018. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bambang dan Lina. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Brown, George. 2016. How Do Students Learn.

(https://www.researchgate.net/publication/29940222).

Chomaidi dan Salamah. 2018. Pendidikan dan Pengajaran : Strategi Pembelajaran Sekolah. Jakarta : Grasindo.

Dahar, Ratna Wilis. 2011. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Erlangga.

Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta, Rineka Cipta.

Djaali dan Pudji Muljono. 2008. Pengukuran dalam Bidang Pendidikan. Jakarta:

Grasindo.

Dolet, Dominikus. 2019. Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Unika Atma Jaya.

Effendi, Albert. 2020. Konsep Pembelajaran Daring Berbasis Pendekatan Ilmiah.

Purwodadi : Sarnu Untung.

ETL Project. 2002. Experiences of Teaching & Learning Questionnaire, Economic and Social Research Council Teaching and Learning Research Programme, Enhancing Teaching-Learning Environments in Undergraduate Courses.

(Durham and Coventry: Universities of Edinburgh.

(http://www.ed.ac.uk/etl).

Fitrah, Muh. dan Luthfiyah. 2017. Metodologi Penelitian : Penelitian Kualitatif, Tindakan Kelas, dan Studi Kasus. Sukabumi: Jejak.

Gasong, Dina. 2018. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta : Deepublish

Ghony, M. Djunaidi dan Fauzan Almanshur. 2016. Metodologi Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif. Malang: UIN-Malang Press.

Ghufron, M. Nur. 2019. Hubungan antara Kepercayaan Epistemologi dan Pendekatan Belajar: Studi Metaanalisis. Jurnal Psikologi. Vol. 36 (2).

Gunawan, Ce. 2018. Mahir Menguasai SPSS : Mudah Mengolah Data dengan IBM Statistics 25. Yogyakarta: Deepublish.

Hakim, Thursan. 2005. Belajar Secara Efektif. Jakarta: Puspa Swara.

Hamalik, Oemar. 2010. Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Harjali. 2019. Penataan Lingkungan Belajar: strategi untuk Guru dan Sekolah.

Malang: Seribu Bintang.

Hardisman. 2020. TANYA JAWAB ANALISIS DATA: Prinsip Dasar dan Langkah-Langkah Aplikasi Praktis pada Penelitian Kesehatan. Padang: Guepedia.

Herlina, Vivi. 2019. Panduan Praktis Mengolah Data Kuesioner Menggunakan SPSS. Jakarta: Media Elex Komputindo.

Hidayat, Aziz Halimul. 2021. Menyusun Instrumen Penelitian & Uji Validitas-Reliabilitas. Surabaya: Health Books Publishing.

Hounsell, Dai, dkk. 2005. Enhancing Teaching-Learning Environments In Undergraduate Courses. Final Report to the Economic and Social Research Council on TLRP Project.

102

Imron, Ali. 1996. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.

Indriana, Nurfianti dan Novianto, Muhammad Rizal. 2020. Hubungan Persepsi Terhadap Lingkungan Pembelajaran Dengan Hasil Belajar Mahasiswa Pendidikan Dokter Fkik Uin Maulana Malik Ibrahim Malang. Journal of Islamic Medicine. Vol. 4 (1).

Ismail, Fajri. 2018. Statistika untuk Penelitian Pendidikan dan Ilmu-ilmu Sosial.

Jakarta: Prenadamedia Group.

Jackson, Michael. 2012. Deep Approaches to Learning in Higher Education.

(https://link.springer.com/referenceworkentry/10.1007%2F978-1-441914286_1843#:~:text=Definition,seeks%20principles%20to%20organ ize%20information).

Jaya, Indra. 2019. Penerapan Statistik untuk Penelitian Pendidikan. Jakarta:

Prenadamedia Group.

Karagiannopoulou, Evangelia dan Fotios Milienos. 2018. Experiences of the Teaching-Learning Environment and Approaches to Learning: Testing the Structure of the “Experiences of Teaching and Learning” Inventory in Relation to Earlier Analyses. International Journal of Teaching and Learning in Higher Education. Vol. 30 (3).

Kompri. 2017. Belajar : Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Yogyakarta: Media Akademi.

Kreber, C. 2003. The relationship between students’ course perception and their approaches to studying in undergraduate science courses: A Canadian experience. Higher Education Research and Development. 22.

Kristanto, Vigih Hery. 2018. Metodologi Penelitian : Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Yogyakarta: DEEPUBLISH.

Kurniawan, Robert dan Budi Yuniarto. 2016. Analisis Regresi: Dasar dan Penerapannya dengan R Edisi Pertama. Jakarta: Kencana.

Lefudin. 2014. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta : Deepublish.

Lie, Anita, dkk. 2020. Mendidik Generasi Milenial Cerdas Berkarakter.

Yogyakarta: Kanisius.

Lisiswanti, Rika, dkk. 2015. Hubungan Pendekatan Belajar dan Hasil Belajar Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan. Vol. 2 (1).

Makki, Ismail dan Aflahah. 2019. Konsep Dasar Belajar dan Pembelajaran.

Pamekasan : Duta Media Publishing.

Mamik. 2015. Metodologi Kualitatif. Sidoarjo: Zifatama Publisher.

Mariyana, Rita, dkk. 2010. Pengelolaan Lingkungan Belajar Edisi Pertama.

Jakarta: Kencana.

Jakarta: Kencana.

Dokumen terkait